Arsip Bulanan: Desember 2011

Macam-macam Tes Inventori Kepribadian

Contoh tes inventori Kepribadian yang telah terstandarisasi antara lain :

  1. MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventories)

MMPI  telah direvisi dan disusun ulang menjadi dua versi yang berbeda, MMPI-2 (Butcher, Dahlstrom, Graham, Tellegen, dan Kaemmer, 1989) dan MMPI-Adolescent (MMPI-A – Buchler et al., 1992). Pada tahun  1960-an, MMPI dipandang sebagai tes kepribadian terkemuka dan digunakan sesering atau lebih, pada subjek-subjek yang normal dalam lingkungan konseling, pekerjaan, medis, militer, dan forensik seperti pasien psikiatris.

Instrumen yang sudah tidak tepat lagi karena norma-norma yang berdasar sempit dan kadaluwarsa dari tes perlu diperbaharui dan direstandardisasi demi kesinambungan MMPI.

Minnesota Multiphasis Personality Inventory-2. Butir-butir soal MMPI-2 terdiri dari 567 pernyataan afirmatif yang ditanggapi peserta tes “Benar” atau “Salah”, 370 butir soal pertama, pada dasarnya sama dengan butir-butir soal pada MMPI kecuali dalam hal perubahan editorial dan pengaturan kembali, menyediakan semua respons yang dibutuhkan untuk memberi skor 10 skala “klinis” yang asli dan tiga skala “validitas”, 197  butir soal tersisa (107 di antaranya baru) diperlukan untuk menskor seluruh komplemen yang terdiri dari 104 validitas baru, yang direvisi dan dipertahankan , serta skala dan sub skala suplementer yang membangun inventori secara lengkap. Dahsltrom (1993a) telah mempersiapkan suplemen manual yang menyediakan semua informasi yang perlu untuk membandingkan butir-butir soal MMPI-2 dengan butir-butir soal asli.

Minnesota Multiphasic Personality Inventory-Adolescent (MMPI-A) adalah bentuk baru yang dikembangkan secara spesifik untuk digunakan pada remaja.  MMPI-A memuat hampir semua segi MMPI dan MMPI-2, mencakup 13 skala dasar namun dilakukan pengurangan panjang keseluruhan inventori menjadi hanya 478 butir soal, dimasukkan butir-butir soal yang relevan dengan remaja, seperti masalah sekolah dan keluarga, dan di atas segala-galanya persyaratan norma kecocokan usia.

Dalam perkembangannya maju sejalan dengan MMPI-2 dan             MMPI-A, sebagaimana dengan kebanyakan rangkaian tes lainnya, komputerisasi prosedur untuk administrasi, penentuan skor dan interpretasi inventori serta pengembangan penerjemahan instrumen ke dalam berbagai bahasa. (Roper, Ben-Porath dan Butcher, 1991, 1995).

2. CPI (California Psychological Inventory)

CPI dikembangkan secara khusus pada populasi orang dewasa. Dalam revisi terakhir CPI terdiri dari 434 butir soal yang harus dijawab “Benar” atau “Salah” dan menghasilkan skor pada 20 skala (Gough dan Bradly, 1996). CPI pada awal diterbitkan tahun 1956. Pada awalnya terdiri dari 480 butir soal, diturunkan menjadi 462 butir soal dan terakhir 434 butir soal

3. PIC (Personality Inventory for Children)

Dikembangkan melalui 20 tahun riset oleh sekelompok peneliti di Universitas Minnesota yang secara mendalam terpengaruh oleh dasar pemikiran dan penggunaan klinis MMPI. PIC dirancang untuk anak dan remaja usia 3 sampai 16 tahun. PIC awalnya terdiri dari 600 butir soal, yang dikelompokkan ke dalam tiga skala validitas (skala kebohongan, skala frekuensi dan skala sikap defensif), sebuah skala penyaringan umum dan 12 skala klinis. PIC direvisi menjadi PIC-R dan jumlah butir soalnya dikurangi dari 600 butir soal menjadi 420. PIC-R bukanlah laporan inventori diri melainkan inventori perilaku teramati. (hasil pelaporan orang tua).  Personality Inventory for Youth (PIY) (Lachar dan Gruber, 1993), terdiri atas 280 butir soal yang direvisi menjadi 270 butir soal, dikembangkan sebagai ukuran laporan diri yang sejajar dengan PIC-R.

Kedua alat ini menyediakan seperangkat alat multidimensi terpadu yang secara khusus dirancang untuk digunakan pada anak-anak dan remaja.

4. 16 PF (Sixteen Personality Factor Questionnaire)

Disusun oleh : Cattell dan rekan-rekan kerjanya yang sekarang sudah memasuki edisi kelima (1993). Pertama kali diterbitkan tahun 1949. 16 PF (sixteen Personality Factor Questionnaire)

16 PF dirancang untuk umur 16 tahun ke atas dan menghasilkan 16 skor dalam ciri-ciri, seperti : keberanian sosial, dominasi, kewaspadaan, stabilitas emosional, dan kesadaran peraturan.

5. MCMI (Millon Clinical Multiaxial Inventory)

Mengikuti tradisi MMPI dan dirancang untuk maksud yang sama. MCMI-III-Million, Million and Davis, 1994) Diterbitkan pertama kali tahun 1977. Belakangan dikembangkan menjadi 2 . Salah satunya adalah Million Adolescent Clinical Inventory (MACI-Million, Million dan Davis, 1993) digunakan untuk anak usia 13 dan 19 tahun dalam lingkup klinis. Sedangkan Million Indenx of Personality Styles (MIPS-Million, 1994) untuk orang dewasa.

6. EPPS (Edward Personal Preference Schedule)

Dirancangkan untuk menaksir sistem kebutuhan nyata dikemukakan oleh Murray dan rekan-rekannya di Harvard Psychological Clinic (Murray, et.al., 1938) Yang akhirnya dibuatlah Edward Personal Preference Schedule (EPPS-Edward, 1959). Dimulai dari 15 kebutuhan yang berasal dari daftar Murray. Inventori ini terdiri atas 210 pasang pernyataan dimana butir soal dari 12 skala lainnya.

EPPS perlu direvisi untuk menghapus kelemahan teknis terkait butir soal dan interpretasi skornya. Aspek need yang diungkap, diantaranya;

-         Kemampuan untuk berprestasi

-         Kemampuan menyesuaikan diri

-         Kemampuan menunaikan tugas

-         Kebutuhan untuk menunjukan diri

-         Kebutuhan untuk mandiri

-         Kebutuhan untuk berempati

-         Kebutuhan perhatian terhadap sesama

-         Kebutuhan akan hubungan sosial

-         Keinginan untuk memimpin

-         Keinginan untuk kompromi

-         Kebutuhan memberikan perhatian

-         Kebutuhan akan stimulasi dari luar

-         Kemampuan mengahadapi berbagai rintangan

-         Kebutuhan memberikan perhatian dari lawan jenis

-         Kebutuhan untuk bertentangan dengan orang lain

Cukup banyak sekali aspek yang diungkap EPPS, namun pada dasarnya tes ini akan dikelompokan menjadi tiga aspek, yaitu sikap kerja, aspek sosial, dan aspek emosi.

7. PRF (Personality Research Form) (Costa dan McCrae, 1988)

PRF mencontoh pendekatan Douglas N Jackson terhadap pengembangan tes kepribadian. Tersedia dalam lima pilihan berbeda, termasuk dua rangkaian form paralel (A,B dan AA, BB) dari 300 dan 400 butir soal. Teknik analisis lebih canggih menggunakan komputer terdiri dari 352 butir soal dari butir-butir soal terbaik. Seperti instrumen kepribadian lainnya PRF mengambil teori kepribadian Murray sebagai titik tolak.

8. Jackson’s Basic Personality Inventory

Jackson Personality Inventory Revised (JPI-R) dikembangkan setelah PRF melalui prosedur penyusunan skala yang sama dengan PRF namun lebih sempurna (Jackson, 1976, 1994a) Jackson menggunakan standar ketat yang sama pada penyusunan Basic Personality Inventory (BPI-Jackson, 1989a). BPI sudah tampak menjanjikan untuk digunakan secara klinis pada bidang kenakalan remaja (Holden & Jackson, 1992)

9. TAT (Thematic Apperception Test)

Pertama kali dikembangkan oleh Henry Murray dan stafnya di Harvard Psychological Clinic (Murray, et al., 1938). Materi-materi TAT terdiri dari 19 kartu yang memuat gambar-gambar kabur dalam warna hitam dan putih serta kartu kosong. Responden diminta mengarang cerita sesuai dengan tiap gambar, menceriterakan apa yang mengarah pada peristiwa sebagaimana tergambar dalam gambar itu, mendeskripsikan apa yang terjadi waktu itu, kemudian membuat cerita tentang hal itu.

TAT telah disiapkan dalam survei atas sikap buruh, kelompok minoritas, otoritas dsb.(D.T. Campbell, 1950; R Harrison, 1965).  Dalam perkembangannya tes yang lebih baru dikembangkan, Apperception Tes for Children (RATC) oleh (Mc Arthur dan Roberts, 1982), masih dalam bentuk kartu gambar. RATC menyediakan 16 kartu stimulus.  Gambar-gambar itu diplih untuk melukiskan  situasi antarpribadi yang telah dikenal dimana ada anak-anak  dalam hubungannya dengan orang dewasa  atau anak-anak lainnya.

sumber :

Anne Anastasi dan Susana Urbina. Tes PsikologiPsychological Testing”. PT Indeks, Jakarta : 2007. Alih bahasa oleh Robertus Hariono dan  Imam, MA

Learning Disorder

Gangguan/Kesulitan Belajar (Learning Disorder) adalah suatu gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan informasi. Anak dengan Learning Disorder mungkin mempunyai tingkat intelegensia yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya, tetapi seringberjuang untuk belajar secepat orang di sekitar mereka.

Masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan gangguan belajar yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, mengingat, penalaran, serta keterampilan motorik dan masalah dalam matematika.

Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang besar untuk orang dewasa.

Jenis-jenis Learning Disorder :

  • Disleksia (Dyslexia) : adalah gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan /atau kemampuan menulis. Ini adalah cacat bahasa berbasis di mana seseorang memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis.
  • Diskalkulia (Dyscalculia) : adalah gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang dengan diskalkulia sering mengalami kesulitanmemecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep dasar aritmatika.
  • Disgrafia (Dysgraphia) : adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas darikemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang denganmenulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus.
  • Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders) : adalah gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun anak tersebut mungkin dapat melihat dan / atau mendengar secara normal, gangguan ini menyulitkan mereka dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan seringmemiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya).
  • Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities) : adalahgangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi. Umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi nonverbal dan interaksi, yang dapat mengakibatkan masalah sosial.
  • Gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment (SLI)) : adalahgangguan perkembangan yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan.

Beberapa Problem yang timbul pada anak dengan gangguan belajar:

1. Kognisi

  • Rentang atensi pendek
  • Mudah teralihkan
  • Gangguan memory jangka pendek
  • Kesulitan dalam orientasi waktu, tempat, dan jarak
  • Kesulitan mengerti konsep warna, bentuk, ukuran, angka, dll

2. Motorik

  • Gangguan koordinasi mata-tangan
  • Lambat dalam gerakan motorik kasar, seperti fungsi jalan, lari, lompat, lempar-tangkap bola
  • Kesulitan dalam ketrampilan motorik halus dan manipulasi tangan yang berefek pada kontrol pegang pensil, masalah pada kemampuan menulis, dan menggunting.
  • Masalah pada perencanaan gerak
  • Si anak kemungkinan hyperaktif atau hypoaktif
  • Mungkin bisa bermasalah dengan keseimbangan

3. Intrapersonal

  • Kelemahan dalam persepsi diri (menganggap diri sendiri buruk)
  • Kelemahan dalam kontrol diri/emosi
  • Ada masalah perilaku

4. Interpersonal

  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Beberapa ada gangguan bicara ringan

5.  Sensory

  • Bermasalah dalam persepsi visual, terutama figure ground (membedakan depan-belakang) dan posisi dalam ruangan
  • Gangguan proprioceptif (rasa tubuh)
  • Kemungkinan ada masalah persepsi auditory (fokus pendengaran bukan organ)
  • Gangguan persepsi tubuh/body image
  • Bereaksi hyper atau hypo terhadap stimulasi vestibular

6. Selfcare/perawatan diri

  • Kesulitan pada beberapa aktivitas sehari-hari

7. Produktifitas dan Leisure anak

  • Kesulitan dalam beberapa aktivitas bermain

Penyebab Gangguan Belajar (Learning Disorder)

Penelitian telah menunjukan bahwa ada sejumlah faktor yang mungkin berperan penyebab gangguan belajar :

  • Genetik : Gangguan belajar cenderung ada pada keluarga
  • Perkembangan otak dan gangguannya : beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan belajar mungkin disebabkan oleh gangguan pada otak baik sebelum kelahiran atau setelah kelahiran. Lahir berat badan rendah, kekurangan oksigen, ibu mengkonsumsi obat atau alkohol, ibu merokok selama kehamilan, kelahiran prematur, kekurangan gizi, serta minimnya perawatan pra kelahiran. Anak-anak yang mengalami cedera kepala cenderung untuk mempunyai gangguan belajar.
  • Faktor lingkungan : racun yang ada dilingkungan juga merupakan penyebab gangguan belajar. Janin yang berkembang, bayi, dan anak-anak sangat rentan terhadap racun lingkungan. Beberapa racun yang sering kita dapati dilingkungan yaitu zat aditif makanan tertentu, pengawet, asap rokok, merkuri, dan timah. Gizi buruk pada awal kehidupan juga berpengaruh untuk penyebab gangguan belajar di kemudian hari.

Sumber :

Reed, K.L.1991.  Quick Reference To Occupational Therapy.Maryland: Aspen Publisher,Inc.

http://sasanachildcare.wordpress.com/2011/09/19/learning-disorder-gangguan-belajar-pada-anak/

http://maharokupasiterapi.blogspot.com/2011/11/gangguankesulitan-belajar-learning.html

 

Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Aaron T. Beck (1964) mendefinisikan CBT sebagai pendekatan konseling yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan konseli pada saat ini dengan cara melakukan restrukturisasi kognitif dan perilaku yang menyimpang. Pedekatan CBT didasarkan pada formulasi kognitif, keyakinan dan strategi perilaku yang mengganggu. Proses konseling didasarkan pada konseptualisasi atau pemahaman konseli atas keyakinan khusus dan pola perilaku konseli. Harapan dari CBT yaitu munculnya restrukturisasi kognitif yang menyimpang dan sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi dan perilaku ke arah yang lebih baik.

Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan definisi cognitive-behavior therapy yaitu pendekatan dengan sejumlah prosedur yang secara spesifik menggunakan kognisi sebagai bagian utama konseling. Fokus konseling yaitu persepsi, kepercayaan dan pikiran. Para ahli yang tergabung dalam National Association of Cognitive-Behavioral Therapists (NACBT), mengungkapkan bahwa definisi dari cognitive-behavior therapy yaitu suatu pendekatan psikoterapi yang menekankan peran yang penting berpikir bagaimana kita merasakan dan apa yang kita lakukan. (NACBT, 2007)

Teori Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 6) pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak. Sementara dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, di mana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku yang menyimpang, maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, konseli diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif. Berdasarkan paparan definisi mengenai CBT, maka CBT adalah pendekatan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. CBT merupakan konseling yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mental. Konseling ini akan diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisa, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Sedangkan, pendekatan pada aspek behavior diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Tujuan dari CBT yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan CBT diharapkan dapat membantu konseli dalam menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak.

Tujuan Konseling CBT

Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.

Dalam proses konseling, beberapa ahli CBT (NACBT, 2007; Oemarjoedi,2003) berasumsi bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalamkonseling. Oleh sebab itu CBT dalam pelaksanaan konseling lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu. CBT tetap menghargai masa lalu sebagai bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya, untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di waktu yang akan datang. Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status kognitif negatif menjadi status kognitif positif.

Fokus Konseling

CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa depan dibanding masa lalu. Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif. Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas.

Prinsip – Prinsip Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Walaupun konseling harus disesuaikan dengan karakteristik atau permasalahan konseli, tentunya konselor harus memahami prinsip-prinsip yang mendasari CBT. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah konselor dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling dari setiap sesi, serta penerapan teknik-teknik CBT.

Berikut adalah prinsip-prinsip dasar dari CBT berdasarkan kajian yang diungkapkan oleh Beck (2011):

Prinsip nomor 1: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada formulasi yang terus berkembang dari permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif konseli. Formulasi konseling terus diperbaiki seiring dengan perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor mengkoordinasikan penemuan-penemuan konseptualisasi kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berfikir, merasa dan bertindak.

Prinsip nomor 2: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang sama antara konselor dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Melalui situasi konseling yang penuh dengan kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan membuat pemahaman yang sama terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Kondisi tersebut akan menunjukan sebuah keberhasilan dari konseling.

 Prinsip nomor 3: Cognitive-Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan partisipasi aktif. Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling maka keputusan konseling merupakan keputusan yang disepakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.

Prinsip nomor 4: Cognitive-Behavior Therapy berorientasi pada tujuan dan berfokus pada permasalahan. Setiap sesi konseling selalu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya, dengan kata lain tetap berfokus pada permasalahan konseli.

Prinsip nomor 5: Cognitive-Behavior Therapy berfokus pada kejadiansaat ini. Konseling dimulai dari menganalisis permasalahan konseli pada saat ini dan di sini (here and now). Perhatian konseling beralih pada dua keadaan. Pertama, ketika konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya. Kedua, ketika konseli terjebak pada proses berfikir yang menyimpang dan keyakinan konseli dimasa lalunya yang berpotensi merubah kepercayaan dan tingkahlaku ke arah yang lebih baik.

Prinsip nomor 6: Cognitive-Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan. Sesi pertama CBT mengarahkan konseli untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk proses konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT meyakini bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan perilaku. Konselor membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi proses berfikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah lakunya.

Prinsip nomor 7: Cognitive-Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang terbatas. Pada kasus-kasus tertentu, konseling membutuhkan pertemuan antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan waktu yang panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan melatih konseli untuk melakukan self-help.

Prinsip nomor 8: Sesi Cognitive-Behavior Therapy yang terstruktur.Struktur ini terdiri dari tiga bagian konseling. Bagian awal, menganalisis perasaan dan emosi konseli, menganalisis kejadian yang terjadi dalam satu minggu kebelakang, kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling. Bagian tengah, meninjau pelaksanaan tugas rumah (homework asigment), membahas permasalahan yang muncul dari setiap sesi yang telah berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru yang akan dilakukan. Bagian akhir, melakukan umpan balik terhadap perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur ini membuat proses konseling lebih dipahami oleh konseli dan meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukan self-help di akhir sesi konseling.

Prinsip nomor 9: Cognitive-Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggapi pemikiran disfungsional dan keyakinan mereka. Setiap hari konseli memiliki kesempatan dalam pikiran-pikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati, emosi dan tingkah laku mereka. Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan dengan kondisi realita serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik secara emosional, tingkahlaku dan mengurangi kondisi psikologis negatif. Konselor juga menciptakan pengalaman baru yang disebut dengan eksperimen perilaku. Konseli dilatih untuk menciptakan pengalaman barunya dengan cara menguji pemikiran mereka (misalnya: jika saya melihat gambar labalaba, maka akan saya merasa sangat cemas, namun saya pasti bisa menghilangkan perasaan cemas tersebut dan dapat melaluinya dengan baik). Dengan cara ini, konselor terlibat dalam eksperimen kolaboratif. Konselor dan konseli bersama-sama menguji pemikiran konseli untuk mengembangkan respon yang lebih bermanfaat dan akurat.

Prinsip nomor 10: Cognitive-Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik untuk merubah pemikiran, perasaan, dan tingkah laku. Pertanyaanpertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan konselor dalam melakukan konseling cognitive-behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik merupakan inti atau kunci dari proses evaluasi konseling. Dalam proses konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor menggunakan teknik-teknik dalam konseling lain seperti kenik Gestalt, Psikodinamik, Psikoanalisis, selama teknik tersebut membantu proses konseling yang lebih saingkat dan memudahkan konelor dalam membantu konseli. Jenis teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor tehadap konseli, masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor dalam sesi konseling tersebut.

sumber :

Makalah “Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling
di Indonesia” oleh  Idat Muqodas

Teori-Teori Kebenaran

1)      Teori Koresponden  menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Dengan kata lain, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaran dengan realitas yang serasi dengan sitasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu :

  • Pernyataan (statement)
  • Persesuaian (agreemant)
  • Situasi (situation)
  • Kenyataan (realitas)
  • Putusan (judgements)

2)      Teori Konsistensi  Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap reliable jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Dengan kata lain, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.

3)      Teori Pragmatisme  Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode project atau metode problem solving dalam pengajaran. Mereka dinyatakan benar hanya jika mereka mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia di dalamvkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.

4)      Kebenaran Religius/Kebenaran Performatif  Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasio dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oksiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu. Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.

5)      Teori Kebenaran Konsensus   Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut.

 

sumber :

Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Syam, Muhammad Noor. 1988. Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional

http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/

 

TEORI KARIER HOLLAND

Kepribadian seseorang menurut John Holland merupakan hasil dari keturunan dan pengaruh lingkungan .Winkel & Hastuti (2005 ; 634-635) menjelaskan bahwa pandangan Holland mencakup tiga ide dasar, yaitu :
Semua orang dapat digolongkan menurut patokan sampai berapa jauh mereka mendekati salah satu di antara enam tipe kepribadian, yaitu : Tipe Realistik (The Realistic Type), Tipe Peneliti/Pengusut (The Investigative Type), Tipe Seniman (The Artistic Type), Tipe Sosial (The Social Type), Tipe Pengusaha (The Enterprising Type), dan Tipe Orang Rutin (Conventional Type). Semakin mirip seseorang dengan salah satu di antara enam tipe itu, makin tampaklah padanya ciri-ciri dan corak perilaku yang khas untuk tipe bersangkutan. Setiap tipe kepribadian adalah suatu tipe teoritis atau tipe ideal, yang merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor internal dan eksternal.
Berbagai lingkungan yang di dalamnya orang hidup dan bekerja, dapat digolongkan menurut patokan sampai berapa jauh suatu lingkungan tertentu mendekati salah satu model lingkungan (a model environment), yaitu : Lingkungan Realistik (The Realistic Environment), Lingkungan Penelitian/Pengusutan (The Investigative Environment), Lingkungan Kesenian (The Artistic Environment), Lingkungan Pengusaha (The Enterprising Environment), Lingkungan Pelayanan Sosial (The Social Environment), Lingkungan Bersuasana Kegiatan Rutin (The Conventional Environment). Semakin mirip lingkungan tertentu dengan salah satu di antara enam model lingkungan, makin tampaklah di dalamnya corak dan suasana kehidupan yang khas untuk lingkungan bersangkutan.
Perpaduan antara tipe kepribadian tertentu dan model lingkungan yang sesuai menghasilkan keselarasan dan kecocokan okupasional (occupational homogeneity), sehingga seseorang dapat mengembangkan diri dalam lingkungan okupasi tertentu dan merasa puas. Perpaduan dan pencocokan antara tiap tipe kepribadian dan suatu model lingkungan memungkinkan meramalkan pilihan okupasi, keberhasilan, stabilitas seseorang dalam okupasi yang dipangku.

Untuk lebih jelas berkaitan dengan tipe kepribadian yang dikemukakan oleh Holland dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel Tipe Kepribadiaan

TypeJenis

Kepribadian

Realistis Memiliki kemampuan mekanikal dan atletik dan tidak memiliki kompetensi sosial, nilai uang, kekuasaan, status dan hal-hal konkret lainnya. Cenderung menjadi asosial, sesuai, jujur, asli, materialistis, gigih.Panggilan yang dipilih: insinyur Otomotif, pembuat Boiler, Electrician; Petani
 Investigative Memiliki kemampuan matematis dan ilmiah dan tidak memiliki kemampuan kepemimpinan: nilai ilmu pengetahuan. Cenderung menjadi analitis, hati-hati, kritis, kompleks, penasaran, independen, intelektual, introspektif, tepat, rasional, dan sederhana.Panggilan yang dipilih: Chemist; Komputer operator, teknisi laboratorium; Matematika guru
Artistic Memiliki kemampuan seni dan musik; nilai kualitas estetika. Cenderung menjadi emosional, ekspresif, idealis, imajinatif, impulsif, intuitif, asli, dan sensitif.Panggilan yang dipilih: Aktor / Aktris, Artis, dekorator Interior; Photographer
Social Memiliki kompetensi sosial; suka membantu orang lain. Memiliki kemampuan mengajar dan ilmiah, kemampuan mekanis; nilai-nilai dan etika kegiatan sosial dan masalah. Cenderung bersikap kooperatif, empati, ramah, dermawan, membantu, idealis, sabar, ramah, bijaksana, dan hangat.Panggilan yang dipilih: direktur Pemakaman, Pustakawan, Menteri / Imam; Ilmu Sosial guru
Enterprising Memiliki kepemimpinan dan kemampuan berbicara dan tidak memiliki kemampuan ilmiah, nilai-nilai dan prestasi ekonomi politik. Cenderung menjadi petualang, ramah, ambisius, energik, terbuka, optimis, percaya diri, dan ramah.Panggilan yang dipilih: Kontraktor, Pengacara, Radio / TV penyiar; Entertaiment.
Konvensional Memiliki dan kemampuan numerik klerus; bisnis nilai-nilai dan prestasi ekonomi. Cenderung akan sesuai, teliti, defensif, tidak fleksibel, metodis, taat, tertib, hemat, dan imajinatif.Panggilan yang dipilih: Pembukuan; Kunci punch operator; kantor panitera Post; pengetik

Holland juga berefleksi tentang jaringan hubungan antara tipe-tipe kepribadian dan antara model-model lingkungan, yang dituangkan dalam bagan yang disebut Hexagonal Model dan model ini menggambarkan aneka jarak psikologis antara tipe-tipe kepribadian dan model-model lingkungan, makin pendek jarak (menurut garis-garis dalam model) antara dua tipe kepribadian maka makin dekat kedua tipe itu dalam makna psikologisnya dan makin panjang jarak (menurut garis-garis dalam model) maka makin jauh kedua tipe itu dalam makna psikologisnya (Winkel & Hastuti, 2005 : 637).

sumber :

Winkel, W.S & Sri Hastuti . 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan . Jakarta: PT. Grasindo

http://japung-net.blogspot.com/2011/03/teori-karier-holland.html

Rational Emotive Behavioural Therapy (REBT)

a. Pengertian REBT

Pendekatan konseling rational emotive behavioural therapy merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengubah keyakinan irrasional yang dimiliki klien (yang memberikan dampak pada emosi dan perilaku) menjadi rasional. Teori REBT membagi 4 keyakinan yang irrasional dan 4 keyakinan rasional sebagai alternative. Tuntutan merupakan keyakinan irrasional yang pertama dan utama. Terdapat 3 macam tuntutan, terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Tuntutan merupakan akar dari munculnya keyakinan irrasional yang lain meliputi yakin akan sangat menderita, yakin tidak dapat mentolerir frustasi, dan yakin pasti mengalami depresi. Keyakinan irrasional sebenarnya dapat diganti dengan keyakinan rasional ketika individu memiliki keinginan yang tidak dogmatis (lawan dari tuntutan). Keyakinan individu untuk memiliki keinginan yang tidak dogmatis merupakan akar dari munculnya keyakinan rasional yang lain, meliputi; yakin tidak akan sangat menderita, yakin dapat mentolerir frustasi, dan yakin dapat menerima kenyataan.

b. Teori ABC

Teori ABC merupakan bagian penting dalam pendekatan REBT. Teori ABC merupakan teori yang menjelaskan mengenai hubungan antara sebuah peristiwa, keyakinan yang dimiliki terhadap peristiwa tersebut, dan konsekuensi yang muncul atas keyakinan tersebut (sudrajat,2008;DHIYAN (2008); banks &zionts,2009;web ellis,2010). Mulhauser, 2005 menyatakan dalam tulisannya bahwa dalam peristiwa (A), individu juga membuat interpretasi terhadap peristiwa tersebut, akan tetapi Mulhauser tetap mengemukakan skema AàBàC. Dalam bukunya, Dryden & Neenan mengemukakan konsep yang lebih rinci mengenai teori ABC. Dryden & Neenan (2005) menyatakan bahwa “masalah (emosi,pikiran, perilaku) yang disebut Consequences(Cs) yang ada pada manusia bukan disebabkan oleh peristiwa yang dialami (disebut Actuals event (As), akan tetapi disebabkan oleh keyakinan/pemaknaan terhadap peristiwa tersebut (disebut Beliefs (Bs).

As merupakan kependekan dari actuating event (situasi A). situasi A dapat berupa kejadian yang bersumber pada orang lain atau bersumber pada diri sendiri. Individu terkadang melakukan sangkaan (cognitive hunch) terhadap actual event (situasi A) yang disebut critical A. padahal bisa saja seseorang melakukan non-critical A (kebalikan critical A). pada terapi REBT therapist mendorong klien untuk berasumsi bahwa critical A adalah benar meskipun kenyataannya dengan itu klien menderita. Kondisi ini dimaksudkan agar therapist dapat mengidentifikasi penyebab dari klien memiliki critical A dan mendorong klien untuk merasa ada masalah dengan pikirannya itu sehingga pemaknaan kembali terhadap situasi A dapat dilakukan.

Bs merupakan kependekan dari beliefs atau keyakinan yang terbentuk secara alamiah berdasarkan evaluasi individu terhadap peristiwa. Keyakinan dapat rasional dan irrasional. Berikut 4 kondisi yang membedakan keyakinan rasioanal dan irrasional

- Kekakuan dan fleksibilitas

- Kesesuaian dengan realitas

- Penggunaan logika

- Keberfungsian diri sebagai konsekuensi

Teori REBT membagi 4 keyakinan yang irrasional dan 4 keyakinan rasional sebagai alternative. Tuntutan merupakan keyakinan irrasional yang pertama dan utama. Terdapat 3 macam tuntutan, terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Tuntutan merupakan akar dari munculnya keyakinan irrasional yang lain meliputi yakin akan sangat menderita, yakin tidak dapat mentolerir frustasi, dan yakin pasti mengalami depresi. Keyakinan irrasional sebenarnya dapat diganti dengan keyakinan rasional ketika individu memiliki keinginan yang tidak dogmatis (lawan dari tuntutan). Keyakinan individu untuk memiliki keinginan yang tidak dogmatis merupakan akar dari munculnya  keyakinan rasional yang lain, meliputi; yakin tidak akan sangat menderita, yakin dapat mentolerir frustasi, dan yakin dapat menerima kenyataan.

Cs merupakan kependekan dari Consequence atau akibat dari adanya keyakinan yang irrasional. Konsekuensi ini dapat berupa kognitif, perasaan, serta perilaku (baik yang tampak atau tidak tampak).

c. Teknik dalam REBT

Berbagai teknik dapat digunakan dalam konseling melalui pendekatan REBT. Sejumlah teknik tersebut dapat dikelompokkan pada 3 aspek, yaitu kognitif, emotif, dan perilaku. Berikut teknik-teknik yang dapat digunakan dalam konseling REBT (Corey, 2005).

• Metode Kognitif

– Mempertanyakan keyakinan irrasional

– Pekerjaan rumah kognitif

– Mengubah gaya berbahasa

– Humor

• Metode Emotif

– Imajinasi rasional-emotif

– Bermain peran

– Latihan menyerang rasa malu

– Penggunaan kekuatan dan ketegaran

• Metode Perilaku

– Kondisioning operan

– Prinsip mengatur diri

– Disentisisasi sistemik

– Teknik bersantai

– Permodelan

d. Langkah-langkah konseling

Dryden & Neenan (2005) mengemukakan bahwa langkah-langkah terapi dapat dikelompokkan lagi berdasarkan tahapannya, yaitu awal, tengah, dan akhir.

Tahap awal (beginning stage)

Pada tahap pertama terapi diarahkan untuk membangun keakraban dan kesepahaman yang menjadi landasan kegiatan terapi berikutnya. Terdapat tiga langkah dalam tahap ini, langkah pertama adalah memapankan kesepakatan dalam terapi. Kesepakatan yang dimaksud meliputi kesepakatan berkaitan dengan keterikatan antara terapis dan klien (bond), penetapan tujuan(goals), dan tugas yang harus dilakukan terapis dan klien. Langkah kedua adalah terapis mengajarkan klien mengenai teori ABC. Cara yang baik dalam mengajarkan teori ABC adalah dengan metode didaktik dibandingkan dengan metode Socrates. Pada langkah kedua ini, terapis harus dapat membawa klien pada tiga insight utama (three main insight), meliputi; bahwa gangguan pada individu bukan disebabkan oleh peristiwa tetapi pikiran tentang peristiwa tersebut, individu terus bermasalah karena terus memelihara pikiran irrasional tersebut, cara mengatasinya adalah keluar dari pikiran irrasional tersebut dan menggantikannya dengan pikiran rasional.langkah yang ketiga adalah mendiskusikan keraguan klien berkenaan dengan pendekatan REBT. Klien yang ragu akan pendekatan REBT tentunya perlu terlebih dahulu diyakinkan dengan membenarkan salah konsep (miskonsepsi) mengenai REBT) apabila klien masih ragu, maka dorong klien untuk melakukannya dalam beberapa sesi, apabila masih ragu juga maka lakukanlah referral. Penting untuk dicatat bahwa bisa jadi klien tidak ragu dengan pendekatan REBT akan tetapi ragu dengan teknik yang digunakan terapis. Jika begitu, maka terapis perlu mencari teknik yang lebih tepat untuk kliennya.

Tahap tengah (middle stage)

Tahap kedua merupakan tahap yang banyak menyita waktu dan tenaga. Pada tahap ini terapis dan klien bekerja keras mengidentifikasi masalah, dan berupaya mengatasinya. Terdapat 10 langkah dalam tahap tengah ini. Langkah pertama adalah berdamai dengan banyaknya masalah yang dialami klien. Idealnya memang konselor focus membahas dan menuntaskan 1 masalah baru kemudian pindah pada masalah yang lain. Akan tetapi pada beberapa kondisi bisa tidak seperti itu. Untuk itu, maka konselor perlu mendiskusikannya dengan klien apakah perlu untuk menyelesaikan masalah tersebut dahulu atau melanjutkannya. Perlu diingat bahwa apabila memang perlu dibahas, maka terapis jangan memaksakan kembali ada masalah yang pertama. Langkah yang kedua adalah mengidentifikasi inti keyakinan irrasional. Pada langkah ini terapis melakukan eksplorasi. Langkah yang ketiga adalah membantu klien memahami mengapa ia memelihara keyakinannya yang irrasional. Terdapat 3 alasan, pertama mungkin karena ia senang dengan situasi dan kondisi dimana ia terus memelihara keyakinan irasional. Kedua, mungkin ia menghindari keyakinan irrasionalnya sehingga melakukan perbuatan yang berlawanan. Ketiga, bisa jadi pikiran irrasional tersebut tampak pada perbuatan yang merupakan kompensasi. Langkah keempat adalah mendorong klien terlibat dalam mengerjakan tugas di rumah. Tugas yang diberikan tentunya harus menantang tetapi tidak berlebihan, sesuaikan dnegan kemampuan klien. Tugas yang telah dikerjakan klien tentunya perlu untuk direview dalam sesi konseling. Langkah yang kelima adalah berdamai dengan hambatan dalam perubahan. Mungkin saja klien tidak mengerjakan tugas rumahnya sehingga perubahan tidak optimal. Untuk itu, maka terapis perlu berdamai dengan hambatan-hambatan yang ada dan mencari jalan keluar dari hambatan tersebut. Langkah yang keenam adalah mendorong klien untuk menjaga dan meningkatkan capaian terapetiknya. Langkah yang ketujuh adalah membuat generalisasi perubahan-perubahan psikoterapetik. Setelah klien mampu membuat generalisasi maka langkah yang kedelapan adalah menjadikan klien sehat secara psikologi. Artinya klien didorong untuk menggunakan capaian-capaian dalam terapi pada keadaan/situasi lain dalam hidup klien. Langkah kesembilan adalah menjadikan klien lebih dapat mengaktualisasikan diri. Dan langkah yang kesepuluh (terakhir pada tahap tengah) adalah mendorong klien untuk menjadi konselor untuk dirinya sendiri.

Tahap Akhir

Tahap akhir dalam proses terapi adalah tahap dimana konselor akan mengakhiri sesi konseling. Tahap ini memiliki dua langkah. Pertama adalah memberikan gambaran kepada klien mengenai bagaimana mencegah agar klien tidak mengulangi

kesalahannya. Dan kedua mengakhiri sesi konseling. Terdapat 5 keadaan prasyarat dimana konselor dapat mengakhiri sesi terapi, meliputi; 1. Sudah menginternalisasikan teknik REBT dan tampak adanya perubahan, 2. Kesuksesan pengentasan masalah dengan REBT berdampak pada area lain dalam hidup klien, 3. Klien berhasil mengidentifikasi, menantang, dan mengubah keyakinannya yang irrasional, 4. Membangun kompetesi dan kepercayaan diri menjadi seorang terapis bagi dirinya sendiri, dan 5. Setuju untuk mengakhiri sesi terapi

sumber : makalah PENGGUNAAN PENDEKATAN RATIONAL EMOTIF BEHAVIOUR THERAPY (REBT) PADA SETTING SEKOLAH DI INDONESIA oleh Aip Badrujaman, M.Pd. Dosen Jurusan BK FIP UNJ. di sampaikan dalam  International Seminar & Workshop Contemporary and Creative Caunseling Techniques : How to Improve Your Counseling Skills and to be More Creative In Counseling Sessions

TEORI KONSTITUSI SHELDON

Ada dua definisi yang sering dijumpai dalam psikologi. Dalam definisi pertama, istilah kon­stitusi digunakan untuk menunjuk faktor-faktor yang terberi atau sudah ada pada waktu lahir. Di sini istilah konstitusi sema­ta-mata merupakan cara singkat untuk menunjukkan sumbang­an gen-gen plus lingkungan rahim. Definisi kedua menyamakan istilah itu dengan struktur tubuh yang paling dasar. Menurut kata-kata Sheldon, “konstitusi adalah aspek-aspek individu yang relatif tetap dan tidak berubah morfologi., fisiologi, fungsi endokrin dan sebagainya dan dapat dipertentangkan dengan aspek-aspek individu yang relative lebih labil dan mudah berubah karena tekanan-tekanan lingkungan, seperti kebiasaan-kebia­saan, sikap-sikap sosial, pendidikan, dan sebagainya” . Sebagaimana tersirat dalam definisi ini, maka psikologi konstitusi merupakan “studi tentang aspek-aspek psikologis tingkah laku manusia sejauh aspek-aspek itu berhubungan dengan morfologi dan fisiologi tubuh” (Sheldon, 1940, hlm. 1). Jelaslah bahwa kedua definisi ini memiliki banyak kesamaan karena baik struktur jasmaniah maupun fungsi biologisnya biasanya berhubungan erat dengan faktor-faktor tingkah laku prenatal.

Orang yang meneliti hubungan anta­ra tingkah laku dan aspek-aspek yang dapat diukur dari sistem saraf otonom atau sistem endokrin harus dipandang sebagai “psikolog konstitusi”, sama seperti seorang ahli bidang jasmani. Akan tetapi. kalau dilihat dari fakta sejarah, istilah itu biasanya dipakai untuk para teoretikus atau peneliti-peneliti yang me­nekankan hubungan antara aspek-aspek struktural tubuh (jas­mani atau bangun tubuh) dan tingkah laku. Maka dalam pemba­hasan kita sekarang, psikolog konstitusi, adalah orang yang memandang substratum biologis individu sebagai faktor-faktor penting untuk menjelaskan tingkah laku manusia.

Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani psikolog dapat menemukan satuan-satuan konstan, sub‑sub struktur kokoh yang sangat dibutuhkan untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi tentang tingkah laku manusia

  Analisis Tingkah Laku (Kepribadian)

Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek ­aspek jasmaniah tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau meminjam suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini, Sheldon mulai dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel lahiriah yang dapat di pakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik se­mua itu terdapat sejumlah kecil komponen dasar yang diharap­kan dapat menjelaskan segala kompleksitas dan varitas lahiriah tersebut. Mulailah ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen-komponen dasar ini dengan mengambil hikmah dari penelitian-penelitian kepribadian di masa lampau dan menggabungnannya dengan pengetahuan klinis dan pengalaman induktifnya sendiri.

Dimensi-Dimensi Temperamen

Mula-mula kepustakaan mengenai kepribadian, khususnya yang berhubungan dengan penentuan sifat-sifat manusia, dipe­riksanya dengan teliti, dan diperoleh sebanyak 650 sifat. Jumlah tersebut meningkat karena ditambah dengan variabel-variabel yang diperoleh dari observasi-observasi peneliti sendiri, dan ke­mudian berkurang lagi secara tajam setelah dimensi-dimensi yang tumpang-tindih digabungkan sedangkan dimensi-dimensi yang kurang penting dihilangkan. Akhirnya Sheldon dan teman­ teman sekerjanya mendapat 50 sifat yang mereka anggap men­cakup semua gejala spesifik yang dijelaskan oleh ke-650 sifat asli tersebut.

Langkah berikutnya adalah memilih suatu kelompok yang terdiri atas 33 subjek, sebagian terbesar adalah mahasiswa ­mahasiswa tingkat sarjana dan para dosen, yang diteliti selama satu tahun dengan cara observasi dalam kegiatan profesional mereka sehari-hari maupun dalam interviu klinis. Masing-masing subjek dinilai oleh peneliti menggunakan pengukur berskala 7 pada masing-masing dari ke-50 sifat, dan skor-skor hasilnya di­interkorelasikan dengan tujuan untuk menemukan gugus-gugus atau kelompok-kelompok  sifat yang terkorelasi secara positif yang dapat dianggap menunjukkan variabel dasar yang sama. Secara sembarang diputuskan bahwa agar daunt dimasukkan ke dalam suatu kelompok atau komponen, maka suatu sifat harus menunjukkan angka korelasi positif sekurang-kurangnya 0,60 dengan masing-masing sifat lain dalam kelompok dan harus menunjukkan angka korelasi negatif sekurang-kurangnya -0,30 dengan semua sifat yang terdapat pada kelompok-kelompok lain.

Komponen-Komponen Primer Tcmperamen

Hasil hasil analisis korelasi menunjukkan adanya tiga kelom­pok sifat utama yang mencakup 22 dari 50 sifat asli manusia. Kelompok pertama meliputi sifat-sifat: santai (relaxation), suka kenyamanan, gemar makan-makan, tergantung pada penerimaan orang lain, tidur nyenyak, membutuhkan orang lain bila menghadapi kesukaran. Sifat-sifat yang tergolong dalam kelompok  kedua meliputi sikap tegas (assertive), perkasa (energetic), kebu­tuhan untuk aktif, suka berterus terang, suara lantang, sifat tampang lebih tua daripada yang sebenarnya, kebutuhan untuk bertindak bila menghadapi kesukaran. Akhirnya, kelompok  sifat yang ketiga meliputi sifat serba terhambat, reaksi yang sangat cepat, kurang berani bergaul (sociofobia), kurang berani berbi­cara di depan orang banyak, kebiasaan tetap, suara kurang bebas, sulit tidur, bersemangat muda, kebutuhan untuk menyendiri bila menghadapi kesukaran.

Komponen pertama temperamen dinamakan viskerotonia. Individu yang tinggi dalam komponen ini memiliki ciri-ciri antara lain cinta atau suka akan kenyamanan, pergaulan, makanan, orang-orang, dan kasih sayang. Sikap tubuhnya santai, bereaksi pelan, ber­watak tenang, bersikap terbuka dalam pergaulan dengan orang orang lain, dan umumnya seorang yang mudah untuk diajak bergaul. Sheldon mengemukakan: “Kepribadian jenis ini tam­pannya berpusat di sekitar visnera atau organ-organ di dalam rongga perut. Sistem pencernaan makanan adalah rajanya, dan kemaslahatan sistem itu tampaknya merupakan tujuan hidup yang utama” (1944, hlm. 543).

Komponen kedua dinamakan somalotonia. Skor yang tinggi dalam komponen ini biasanya disertai dengan sifat-sifat suka petualangan fisik, suka mengambil risiko, sangat membutuhkan kegiatan otot dan fisik yang berat. Orang ini bersifat agresif, tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih mating dari sebenarnya, suka ribut, pemberani, dan mudah ta­kut bcrada dalam ruangan yang sempit dan tertutup (klaustro­fobia). Tindakan, kekuatan, dan kekuasaan sangat penting bagi orang sernacam ini.

Komponen ketiga dinamakan serebrotonia. Skor yang tinggi pada komponen menunjukkan sifat mengendalikan diri, menahan diri, suka menyembunyikan diri. Orang ini bersifat ter­tutup, pemalu, kelihatan muda, takut pada orang, dan paling su­ka berada di tempat-tempat yang sempit dan tertutup. Ia bereaksi luar biasa cepat, sukar tidur, dan senang menyendiri, khususnya kalau menghadapi kesukaran. Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Kotiga komponen umum itu, di susun dalam sebuah skala yang disebut Scale for Temperament, yakni suatu cara penilaian terinci untuk mendapatkan skor-skor pada masing-masing komponen primer. Dalam memanai Skala ter­sebut, Sheldon menganjurkan supaya sedapat mungkin: untuk mengamati subjek dengan teliti sekurang-kurangnya selama satu tahun dalam sebanyak mungkin situasi yang berbeda. Lakukanlah interview analitis terhadapnya sebanyak tidak kurang dari duapu­luh kali dengan cara yang paling cocok dengan situasi, dan dengan temperamen serta kepentingan dari kedua belah pihak. Setelah masing-masing interview ….ambillah lembar penskoran dan buat‑lah penilaian pada sebanyak mungkin sifat. Ulangilah pengamat­an, interview, dan revisi-revisi penilaian, sampai benar-benar puas bahwa seluruh 60 sifat telah dipertimbangkan dan dinilai secara memadai

NO

VISKEROTONIA

SOMATOTONIA

CEREBROTONIA

1.

Santai dalam postur dan gerak Tegas dalam postur  dan gerak Tertekan, kaku dalam postur dan gerak

2.

Senang dengan kenyamanan fisik Senang petualangan fisik Senang responsif secara fisik

3.

Reaksi lamban Gerak bertenaga Reaksi sangat cepat

4.

Senang makan Senang latihan fisik Senang berrahasia pribadi

5.

Senang kencan sebagai pengalaman sosial Senang menguasai, memiliki kekuatan Mental sangat intensif, perhatian berlebihan

6.

Senang pesta Senang mengambil resiko, mengejar peluang Tertekan secara emosional

7.

Senang ritual sosial dan upacara penuh aturan Senang bicara langsung pada permasalahan Tatapan mata yang tajam dan waspada

8.

Senang bergaul Senang berkelahi secara fisik Takut terlibat dalam kegiatan sosial

9.

Ramah, tidak membeda-bedakan orang Berkompetisi secara agresif Tidak tenang, tidak PD

10.

Haus kasih sayang dan penerimaan Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain Bertahan dengan kebiasaan dan rutinitas

11.

Berorientasi kepada orang lain Benci berada pada ruang tertutup Benci tempat yang bebas

12.

Emosi seimbang Kejam, tidak pilih-pilih Sikap dan tingkah laku yang tidak dapat diduga

13.

Toleran Tidak menahan suaranya Suaranya tertahan

14.

Puas dengan dirinya sendiri Tahan terhadap rasa sakit Peka dengan rasa sakit

15.

Tidur nyenyak Senang bersuara keras, ribut Sukar tidur, kelelahan kronis

16.

Tidak bertujuan, tidak mudah terangsang Tampil lebih tua dari usia sebenarnya Tampil lebih muda dari usianya

17.

Ekstravensi, tidak ada hambatan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain Ekstraversi, terpisah dari kesadaran, perhatian dan aksi berorientasi ke dunia luar Introvensi dalam perasaan dan perbuatan, orientasi ke kesadaran diri, kurang peduli terhadap lingkungan, penyesuaian diri

18.

Sosialis dan hangat bertambah saat mabuk alkohol Agresif dan keinginan berkuasa bertambah kuat ketika mabuk alkohol Tertekan, lelah, dan depresi bertambah kuat ketika mabuk alkohol

19.

Membutuhkan orang saat menghadapi masalah Membutuhkan aktivitas saat menghadapi masalah Butuh mengasingkan diri saat mengalami masalah

20.

Berorientasi pada hubungan masa kecil dan keluarga Berorientasi kepada tujuan dan aktivitas remaja Berorientasi kepada periode terakhir hidupnya

 

 

sumber :

Pathfinders of the Heart: The History of Cardiology at the Cleveland Clinic

Oleh William C. Sheldon, M.d.

goegle … teori kepribadian Wiliam sheldon….

 

 

 

TEORI KEPRIBADIAN ROGERS

Salah satu tokoh penting dalam teori humanistik adalah Carl Rogers.  Beliau adalah seorang ahli terapi yang dididik secara psikodinamika dan peneliti psikologi yang dididik secara teori perilaku, dia tidak sepenuhnya merasa nyaman dengan dua aliran Freud dan Winnicot, teori-teori Rogers diperoleh secara klinis yaitu berdasarkan pada apa yang dikatakan pasien dalam terapi.

Teori Rogers sangat bersifat klinis, karena didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun tentang bagaimana seharusnya seorang terapis menghadapi seorang kliennya. Dalam dunia psikologi teori ini disebut dengan teori teori yang berpusat pada klien dalam istilah carl rogers disebut sebagai “client centered theraphy” atau “person-centered psychotherapy”.

Maksud dari berpusat pada klien adalah karena teori ini terapis harus mampu masuk pada hubungan yang s angat pribadi dan subjektif dengan klien, yang hubungannya tersebut bukan seperti ilmuan dengan objek penelitian namun lebih pada antara pribadi dengan pribadi. Terapis memandang bahwa klien; memiliki pribadi, memiliki harga diri tanpa sarat,  memiliki nilai nilai tak peduli bagaimana keadaannya, tingkah lakunya atau perasaannya.

1.      Struktur Kepribadian (Self)

Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian, Sejak awal Rogers mengurusi cara bagaimana kepribadian berubah dan berkembang, Rogers tidak menekankan aspek struktural kepribadian. Namun demikian, dari 19 rumusannya mengenai hakekat  pribadi, diperoleh tiga konstruk yang menjadi dasa penting dalam teorinya yitu Self, organisme dan medan fenomena.

Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan struktur kepribadian yang sebenarnya. Self atau konsep self adalah konsep menyeluruh yang ajeg dan terorganisir tersusun dari persepsi ciri-ciri tentang “I” atau “me” (aku sebagai subyek atau aku sebagai obyek) dan persepsi hubungan “I” atau “me” dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan, berikut nilai-nilai yang terlibat dalam persepsi itu. Konsep self menggambarkan konsepsi orang tentang dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya.  Konsep self juga menggambarkan pandangan diri dalam kaitannya dengan berbagai perannya dalam kehidupan dan dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.

Carl Rogers mendeskripsikan the self  atau self-structure sebagai sebuah konstruk yang menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Self ini dibagi 2 yaitu : Real Self dan Ideal Self. Real Self adalah keadaan diri individu saat ini, sementara Ideal Self adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut.

Perhatian Rogers yang utama adalah bagaimana organisme dan self dapat dibuat lebih kongruen/ sebidang. Artinya ada saat dimana self berada pada keadaan inkongruen,  kongruensi self ditentukan oleh kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental, self yang kongruen adalah yang mampu untuk menyamakan antara interpretasi dan persepsi self I dan self me sesuai dengan  realitas dan interpretasi self yang lain. Semakin lebar jarak antara keduanya, semakin lebar ketidaksebidangan ini.  Semakin besar ketidaksebidangan, maka semakin besar pula penderitaan yang dirasakan Jika tidak mampu maka akan terjadi ingkongruensi atau maladjustment atau neurosis.Organisme. Pengertian organisme mencakup tiga hal:

  1. Makhluk hidup; Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar setiap saat
  2. Realitas subyektif; organisme menanggapi dunia seperti yang siamati atau dialaminya. Jadi realita bukan masalah benar atau salah melainkan masalah persepsi yang sifatnya subjekstif.
  3. Holisme; organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perybahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri
  1. Medan fenomena. Keseluruhan pengalaman itu, baik yang internal maupun eksternal, disadari maupun tidak disadari dinamakan medan fenomena. Medan fenomena adalah seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya di dunia, sebagaimana persepsi subyektifnya.

 2.      Dinamika kepribadian

Menurut roger organisme memiliki satu motivasi utama yaitu kecenderungan untuk aktualisasi diri dan tujuan utama hidup manusia adalah untuk menjadi manusia yang bisa mengaktualisasikan diri, dapat diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap makhluk hidup yang bertujuan mengembangkan seluruh potensi-potensinya sebaik mungkin.  Pada dasarnya manusia memiliki dua kebutuhan utama yaitu kebutuhan untuk penghargaan positif baik dari orang lain maupun dari diri sendiri.

Rogers percaya, manusia memiliki satu motif dasar, yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasi diri.  Kecendeurngan ini adalah keinginan untuk memenuhi potensi yang dimiliki dan mencapai tahap “human-beingness” yang setinggi-tingginya.  Kita ditakdirkan untuk berkembang dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan kepribadian kita.  Proses penilaian (valuing process)  bawah sadar memandu kita menuju perilaku yang membantu kita mencapai potensi yang kita miliki.  Rogers percaya, bahwa manusia pada dasarnya baik hati dan kreatif. Mereka menjadi destruktif hanya jika konsep diri yang buruk atau hambatan-hambatan eksternal mengalahkan proses penilaian.

Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin matang dalam bersosialisasi. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan.

Untuk bergerak ke arah mendapatkan tujuannya manusia harus mampu untuk membedakan antara perilaku yang progresif yaitu perilaku yang mengarahkan pada aktualisasi diri dan perilaku yang regresif yaitu perilaku yang menghalangi pada tercapainya aktualisasi diri. Manusia harus memilih dan mampu membedakan mana yang regresif dan mana yang progresif. Dan memang dorongan utama manusia adalah untuk progresif dan menuju aktualisasi diri.

 3.      Perkembangan Kepribadian

Rogers tidak memfokuskan diri untuk mempelajari “tahap”  pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, namun dia lebih tertarik untuk meneliti dengan cara yang lain yaitu dengan bagaimana evaluasi dapat menuntun untuk membedakan antara pengalaman dan apa yang orang persepsikan tentang pengalaman itu sendiri.

Contoh sederhana dapat dilihat sebagai berikut: seorang gadis kecil yang memiliki konsep diri bahwa ia seorang gadis yang baik, sangat dicintai oleh orangtuanya, dan yang terpesona dengan kereta api kemudian menungkapkan pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi insinyur mesin dan akhirnya menjadi kepala stasiun kereta api. Orang tua gadis tersebut sangat tradisional, bahkan tidak mengijikan ia untuk memilih pekerjaan yang diperutukan laki-laki. Hasilnya gadis kecil itu mengubah konsep dirinya. Dia memutuskan bahwa dia adalah gadis yang “tidak baik” karena tidak mau menuruti keinginan orang tuanya. Dia berfikir bahwa orang tuanya tidak menyukainya atau mungkin dia memutuskan bahwa dia tidak tertarik pada pekerjaan itu selamanya.

Beberapa pilihan sebelumnya akan mengubah realitas seorang anak karena ia tidak buruk dan orangtuanya sangat menyukai dia dan dia ingin menjadi insinyur. Self image dia akan keluar dari tahapan pengalaman aktualnya. Rogers berkata jika gadis tersebut menyangkal nilai-nilai kebenarannya dengan membuat pilihan yang ketiga – menyerah dari ketertarikannya – dan jika ia meneruskan sesuatu sebagai nilai yang di tolak oleh orang lain, dirinya akan berakhir dengan melawan dirinya sendiri. Dia akan merasa seolah-olah dirinya tidak mengetahui dengan jelas siapa dirinya sendiri dan apa yang dia inginkan, maka ia akan berkepribadian keras, tidak nyaman,

Jika penolakan menjadi style, dan orang tidak menyadari ketidaksesuaian dalam dirinya maka kecemasan dan ancaman muncul akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu. Sedikit saja seseorang menyadari bahwa perbedaan antara pengalaman organismik dengan konsep diri yang tidak muncul ke kesadaran telah membuatnya merasakan kecemasan. Rogers mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya tidak diketahui. Ketika orang semakin menyadari ketidaksesuaian antara pengalaman dengan persepsi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri yang sesuai. Kecemasan dan ancaman yang menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian diri dengan pengalaman membuat orang berada dalam perasaan tegang yang tidak menyenangkan namun pada tingkat tertentu kecemasan dan ancaman itu dibutuhkan untuk mengembangkan diri memperoleh jiwa yang sehat.

Bila seseorang, antara “self concept”nya dengan organisme mengalami keterpaduan, maka hubungan itu disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya maka disebut Inkongruen (tidak cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami sakit mental, seperti merasa terancam, cemas, defensive dan berpikir kaku serta picik. Sedangkan ciri-ciri orang yang mengalami sehat secara psikologis (kongruen), dalam Syamsu dan Juntika (2010:145) disebutkan sebagai berikut :

  1. Seseorang mampu mempersepsi dirinya, orang lain dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya secara objektif
  2. Terbuka terhadap semua pengalaman, karena tidak mengancam konsep dirinya
  3. Mampu menggunakan semua pengalaman
  4. Mampu mengembangkan diri ke arah aktualisasi diri (fully functioning person). Orang yang telah mencapai fully functioning person ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

«  Memiliki kesadaran akan semua pengalaman. Bersikap terbuka terhadap perasaan positif(keteguhan dan kelembutan hati) maupun negative (rasa takut dan sakit).

«  Mengalami kehidupan secara penuh dan pantas setiap saat.

«  Memiliki rasa percaya diri atau memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan pengalaman yang pernah di alaminya.

«  Memiliki perasaan bebas untuk memilih tanpa hambatan apapun

«  Berpikir kreatif dan mampu menjalani kehidupan secara konstruktif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya.

sumber :

Jarvis, Matt. (2006). Teori-Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media dan Nuansa.

Mahmud. (2005). Psikologi Pendidikan Mutakhir. Bandung:Sahiva

Samsyu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda

KONSELING PANCAWASKITA (KOPASTA)

Konselor profesional dituntut mengintegrasikan lima faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu yaitu pancasila, pancadaya ( Takwa, Cipta, Rasa, Karsa, Karya),  lirahid/ lima ranah  kehidupan ( Jasmanah-rohaniah, social-material, Spiritual dunia, akherat, lokal-global/universal), lika lidu/ lima kekuatan di luar individu( gizi, pendidikan, sikap, perlakuan orang lain, budaya dan kondisi insidensial) , dan masidu/lima kondisi yang ada pada diri individu( rasa aman, kompetensi, aspirasi, semangat, pengunaan kesempatan). Pengaruh faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan secara cermat dan dilakukan pembinaan melalui konseling sehingga perkembangan dan kehidupan individu menjadi lebih membahagiakan. Kebahagan ini akan menjelma melalui kehidupan individu yang mandiri.

Ditilik dari isinya konseling merupakan proses membangun pribadi yang mandiri. Sebelum seorang konselor membangun hal itu terlebih dahulu ia perlu membangun pribadinya yang mandiri terlebih dahulu. Konselor yang mandiri itu akan mampu  dari segi tekhnis dan psikologisnya menyelengarakan konseling elektik dengan wawasan pancawaskita. Waskita merupakan sifat yang terpancar dari kiat dan kinerja yang penuh dengan keunggulan semangat disertai dengan :

  1. Kecerdasan , bahwa konseling adalah pekerjaan yang diselenggarakan atas dasar teori dan tekhnologi yang tinggi serta pertimbngan akal yang jernih, matang dan kreatif.
  2. Kekutan, bahwa konselor adalah pribadi yang tanguh baik dalam keluasan dan kedalaman wawasan, pengetahuan serta keerampilanya, maupun dalam kemauan dan ketekunanya melayani klien
  3. Keterarahan, bahwa kegiatan konseling berorientasi kepada keberhasilan klien mengoptimalkan perkembangan dirinya dan mengatasi permasalahanya
  4. Ketelitian bahwa konselor bekerja dengan cermat dan hati0hati serta berdasarkana data dalam memilih dan menerpka teori dan tekhnologi konseling
  5. Kearifbijaksanaan, bahwa konselor dalam menyikapi dan bertindak didasarkan pada peninjauan dan pertimbangan yang matang, kelembutan dan kesantunan terhadap klien dan orang lain pada umumnya sesuai dengan nilai moral dan norma-norma yang berlaku serta kode etik konseling.

Itulah panca waskita , kewaskitaan yang didalamnya terkandung  lima faktor yang akan menjadi andalan bagi keberhasilan konselor.

Sumber:

Prof Prayitno, M.Sc.Ed. 1998. Konseling PancaWaskita : kerangka konseling eklektik. Padang. IKIP padang.

Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)

Attention Deficit and Hyperactive Disorder (ADHD) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah gangguan perkembangan saraf yang diperkirakan  mempengaruhi  3% sampai 7% anak-anak usia sekolah dan didiagnosis 2 sampai 9 kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan (Thompson, Morgan, & Urquhart, 2003).

Menurut DSM-IV, Diagnostic and Statistical Martual of Mental Disorder, 4th Ed., diterbitkan oleh American Psychiatric Association (1994), kriteria penandaan ADHD meliputi simtom yang berkaitan dengan kurang mampu memperhatikan dan hiperaktivitas-impulsivitas. Untuk dipertimbangkan sebagai ADHD, simtomnya harus tampak sebelum usia tujuh tahun bertahan selama paling sedikit enam bulan, dan tidak konsisten dengan tingkat pertumbuhan seorang anak. Dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (2002) gangguan ini disebut Gangguan Hiperkinetik. Ciri utama ialah berkurangnya perhatian dengan aktivitas berlebihan; kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu tempat, misalnya di rumah dan di sekolah.

Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya tugas dan ditinggalkannya suatu kegiatan sebelum selesai dikerjakan. Kehilangan minat pada tugas yang satu karena perhatiannya tertarik pada kegiatan lainnya. Hiperaktivitas dinyatakakan dalam kegelisahan yang berlebihan, khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan relatif tenang. Hal ini tergantung dari situasinya, mencakup anak berlari, melompat sekeliling ruang, bangun dari duduk/kursi dalam situasi yang menghendaki anak untuk tetap duduk, terlalu banyak dalm berbicara dan ribut,  atau gugup/gelisah dan berputar/berbelit. Secara umum ADHD berkaitan dengan gangguan tingkah laku dan aktivitas kognitif seperti berfikir, mengingat, menggambar, merangkum, mengorganisasikan dan lain-lain. Karakteristik ini sebenarnya mulai muncul pada masa kanak-kanak awal, bersifat kronis dan tidak diakibatkan oleh kelainan fisik yang lain, retardasi mental ataupun masalah emosional.

ADHD adalah sebuah kondisi yang amat kompleks yang gejalanya berbeda-beda. Para ahli mempunyai perbedaan pendapatmengenai hal ini, akan tetapi mereka menggunakan jenis ADHD berikut ini:

1.    Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada ìdi awang-awangî.

2.    Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak- anak kecil.

3.    Tipe gabungan mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif. Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini.

Penyebab ADHD sampai saat ini belum diketahui secara pasti, dan tampaknya ada pengaruh dari faktor biologis dan lingkungan (Nevid, Rathus & Green, 2005). Para peneliti yakin bahwa faktor genetis memberikan sumbangan yang cukup berarti pada ADHD. Orang tua yang memiliki simtom ADHD akan memiliki kecenderungan memiliki anak dengan gangguan ADHD juga (Pliffner, McBurnett, Rathouz & Judice, 2005). Para peneliti mencoba menemukan bagian-bagian otak yang mempengaruhi ADHD yaitu kurang aktifnya otak bagian depan dari korteks otak depan, bagian otak yang menghantarkan impuls-impuls dan mempertahankan kontrol diri (Barkley, dalam Nevid dkk, 2005). Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak dengan gangguan ADHD adalah seperti tingginya konflik dalam rumah tangga, stres emosional selama kehamilan, dan buruknya penanganan orang tua menangani perilaku anak dapat semakin memperburuk permasalahan yang dialami oleh anak.Selain itu, interaksi antara genetis-lingkungan juga sangat penting (Bradley & Golden, dalam Nevid, 2005).

sumber :

http://rinisetyowati.blog.uns.ac.id/