Konseling Kelompok

  1. Pengertian Konseling Kelompok

Menurut Shertzer dan Stone (dalam W.S. Winkel & M.M. Sri Hastuti, 2007 : 590) konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.

Menurut Rochman Natawidjaja (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 32) yang mengemukakan bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya.

2. Tujuan Konseling Kelompok

Menurut Gerald Corey (dalam W.S. Winkel & M.M Sri Hastuti, 2007 : 592) tujuan secara umum dari konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.
  2. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain, sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk fase perkembangan mereka.
  3. Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontak antar pribadi  di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkunagn kelompoknya.
  4. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain.
  5. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif.

Menurut Hansen dkk (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan kari.

3. Proses Konseling Kelompok

Gerald Corey (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 85) mendefinisikan proses konseling kelompok sebagai tahap-tahap perkembangan suatu kelompok dan karakteristik setiap tahap.

Terdapat keragaman dalam mengklasifikasikan dan menamai tahapan-tahapan dalam proses konseling kelompok oleh beberapa para ahli yaitu antara lain:

Menurut Gerald Corey ada 4 tahapan dalam proses konseling kelompok yaitu

  1. Tahap orientasi
  2. Tahap transisi
  3. Tahap kerja
  4. Tahap konsolidasi

Menurut Jacobs, Harvill & Masson mengelompokkan tahapan proses konseling kelompok menjadi 3 tahap yaitu :

  1. Tahap permulaan
  2. Tahap pertengahan atau tahap kerja
  3. Tahap pengakhiran atau tahap penutupan

Menurut Gibson & Mitchell mengklasifikasikan proses konseling kelompok kedalam 5 tahap yaitu :

  1. Tahap pembentukan kelompok
  2. Tahap identifikasi
  3. Tahap produktivitas
  4. Tahap realisasi
  5. Tahap terminasi

Meskipun para ahli berbeda dalam mengklasifikasikan tahapan proses konseling kelompok, penjelasan mereka tentang tahap-tahap tersebut menunjukkan adanya kesamaan, yaitu menggambarkan kemajuan dinamika proses kelompok yang dialami oleh kelompok konseling, yaitu mulai dari suasana yang umumnya penuh kekakuan, kebekuan, keraguan, dalam interaksi menuju ke kerjasama dan saling  berbagi pengalaman sampai pada akhirnya sama-sama berupaya mengembangkan perilaku baru yang lebih tepat berkenaan dengan persoalan masing-masing.

4. Etika dalam Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 341) etika dalam konseling kelompok adalah etika yang disetujui yang konsisten dengan komitmen etika dalam arti yang lebih luas (politik, moral dan agama) yang kita anggap masuk akal dan yang bisa diterapkan oleh klien maupun pihak pemberi bimbingan. Etika tidak bersifat absolut. Etika bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Jika tidak demikian etika-etika bisa menjadi penghambat dan bukan lagi sebagai suatu penuntun untuk pengembangan kerja dan pengembangan diri. Karena ada beberapa etika yang bersifat universal (tidak berubah) dalam bidang hubungan antar manusia. kode etik untuk bidang tersebut diterima sepanjang waktu

.5. Kekuatan dan Keterbatasan Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 :41) ada beberapa kekuatan konseling kelompok yaitu antara lain :

  1. Kepraktisan, yaitu dalam waktu yang relative singkat konselor dapat berhadapan dengan sejumlah siswa di dalam kelompok dalam upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pencegahan, pengembangan pribadi dan pengentasan masalah.
  2. Dalam konseling kelompok anggota akan belajar untuk berlatih tentang prilaku yang baru.
  3. Dalam konseling kelompok terdapat kesempatan luas untuk berkomunikasi dengan teman-teman mengenai segala kebutuhan yang terfokus pada pengembangan pribadi, pencegahan, dan pengentasan masalah yang dialami oleh setiap anggota.
  4. Konseling kelompok member kesempatan para anggota untuk mempelajari keterampilan sosial.
  5. Anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling memberi bantuan, menerima bantuan dan berempati dengan tulus didalam konseling kelompok.
  6.  Motivasi manusia muncul dari hubungan kelompok kecil. Manusia membutuhkan penerimaan, pengakuan, dan afiliasi, apabila unsur-unsur tersebut terpenuhi semua, maka perilaku, sikap, pendapat dan apa yang disebut cirri-ciri pribadi sebagai ciri unik individu yang berakar dari pola afiliasi kelompok yang menentukan konteks sosial seseorang hidup dan berfungsi dapat mewujudkan melalui intervensi konseling kelompok.
  7. Melalui konseling kelompok, individu-individu mencapai tujuannya dan berhubungan dengan individu-individu lain dengan cara yang produktif dan inovatif.

 

Selain memiliki kekuatan, konseling kelompok juga memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut :

  1. Tidak semua siswa cocok berada dalam kelompok, beberapa diantaranya membutuhkan perhatian dan intervensi individual.
  2. Tidak semua siswa siap atau bersedia untuk bersikap terbuka dan jujur mengemukakan isi hatinya terhadap teman-temannya di dalam kelompok, lebih-lebih yang akan dikatakan terasa memalukan bagi dirinya.
  3. Persoalan pribadi satu-dua anggota kelompok makin kurang mendapat perhatian dan tanggapan bagaimana mestinya, karena perhatian kelompok terfokus pada persoalan pribadi anggota yang lain, sebagai akibatnya siswa tidak akan merasa puas.
  4. Sering siswa mengharapkan terlalu banyak bantuan dari kelompok, sehingga tidak berusaha untuk berubah.
  5. Sering kelompok bukan dijadikan sarana untuk berlatih melakukan perubahan, tapi justru dipakai sebagai tujuan.

sumber :

Gerald Coray. 2009. Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Munggin Eddy Wibowo. 2002. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UPT UNNES.

W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2007. Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: PT. Grasindo.

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s