Arsip Harian: Oktober 19, 2012

Role Play Dalam Bimbingan Kelompok

Metode permainan (games), bermain peran atau yang dalam bahasa Inggrisnya adalah Role Playing dan dalam bahasa Prancis di kenal dengan Jeu de rôle, merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga disampaikan oleh Martini dalam tesisnya beliau mengatakan “Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan metode bermain peran sangat efektif di gunakan dalam meningkatkan minat belajar siswa” (http ://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0210106-100554/).
Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa (http://gurupkn.wordpress.com).
Dalam buku kumpulan metode pembelajaran pendamping juga mendefinisikan tentang bermain peran dengan definisi sebagai berikut “Metode bermain peran sebagai penyampaian materi pembelajaran dengan menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar siswa memberi penilaian.”(www.media.diknas.go.id).
Selanjutnya definisi Role Playing atau bermain peran adalah “Role Playing methode is an unstructured simulation and the performance is impromptu” (Lewis, 1969: 304) atau metode bermainan peran adalah metode pembelajaran yang dilakukan tanpa persiapan terlebih dahulu. Metode bermain peran dapat pula dikatakan sebagai “Suatu metode pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep” (http://smacepiring.wordpress.com), selanjutnya Sanjaya menyatakan bahwa “bermaian peran atau role playing adalah metode pembelajaran yang diarahkan untuk mengkreasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan kita” (2006:161).
Kemudian Martawidenda dan Amalia menyebutkan “Teknik bermain peran yang merupakan bagian dari metode komunikatif bisa digunakan dan dikembangkan sesuai dengan materi pembelajaran yang diberikan” (http://www.apfi-pppsi.com/cadence24/pdf/24-9.pdf), atau pernyataan Azies dan Alwasilah (1996: 95-101) “Teknik bermain peran banyak dipakai dalam pengajaran bahasa karena kegiatan belajar dan mengajar dengan teknik ini sangat menyenangkan.”
Beberapa sumber juga berpendapat tentang role play atau bermain peran seperti kutipan berikut :

1. Role-play is a classroom activity in which learners are invited to take part in a scenario. They can do this as themselves or as an invented character.
2. Situations can vary from the everyday (shopping and travel for example) to the imaginative (solving a mystery, taking part in a courtroom drama).
3. Role-plays can take place between two people, a small group of learners or the whole group.
4. Role-plays can be used for all levels of language learning, including beginners.
5. Role-play can be a very short activity lasting a few minutes, or a complex simulation which requires detailed preparation.
6. Role-play is an ideal activity to practise speaking and listening but it can also include practice in reading and writing. It also encourages non-verbal communication, mime and gestures, to “get the message across”.
7. It provides a way of reinforcing and assessing learners’ use of language functions such as: asking questions, stating preferences and opinions, giving and receiving instructions, complaining, debating, persuading.

1. Bermain peran adalah kegiatan kelas di mana peserta didik diajak untuk ambil bagian dalam skenario. Mereka dapat melakukan hal ini sendiri atau sebagai karakter diciptakan.
2. Situasi dapat bervariasi dari sehari-hari (belanja dan perjalanan misalnya) ke imajinatif (pemecahan misteri, mengambil bagian dalam drama ruang sidang).
3. Bermain peran dapat terjadi antara dua orang, sekelompok kecil peserta didik atau seluruh kelompok.
4. Bermain peran dapat digunakan untuk semua tingkat pembelajaran bahasa, termasuk pemula.
5. Bermain peran bisa menjadi kegiatan yang sangat singkat yang berlangsung beberapa menit, atau simulasi kompleks yang memerlukan persiapan rinci.
6. Bermain peran adalah kegiatan yang ideal untuk berlatih berbicara dan mendengarkan tetapi juga dapat mencakup praktek dalam membaca dan menulis. Hal ini juga mendorong komunikasi non-verbal, pantomim dan gerak tubuh, untuk “mendapatkan pesan di seberang”.
7. Menyediakan cara memperkuat dan menilai penggunaan pelajar fungsi bahasa seperti: mengajukan pertanyaan, yang menyatakan preferensi dan pendapat, memberi dan menerima instruksi, mengeluh, berdebat, membujuk.

Selanjutnya Role Playing juga dapat didefinisikan sebagai situasi suatu masalah diperagakan secara singkat dengan tekanan utama pada karakter/sifat orang-orang, kemudian diikuti oleh diskusi tentangn masalah yang baru diperagakan tersebut. Tujuannya adalah untuk memecahakan masalah dan agar memperoleh kesempatan untuk merasakan perasaan orang lain (Sutikno, 2009:97)
Disebutkan juga bahwa role playing merukapan bermain peranan, para siswa berkompetensi untuk mencapai tujuan tertentu melalui permainan dengan memenuhi peraturan yang ditetapkan ( Nana, 1987:90).
Dari keseluruhan definisi yang dipaparkan di atas penulis menyimpulkan bahwa bermain peran adalah suatu metode penyampaian informasi atau materi pembelajaran dengan cara bermain peran untuk menghadirkan peran-peran yang ada di dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan untuk dijadikan bahan diskusi.
A role is “a patterned sequence of feelings, word, and actions…it is a unique and accustomed manner of relating to others” (Chelsler and Fox,1966,PP5,8) dalam Bruce Joys dan Marsha Weil, 1988 : 57). Unless people are looking for them, it is sometimes hard to perceive consistencies and patterns in behavior. But ther are usually there. Terms such as friendly, bully, snobby, know it-all, and grouch are convenient for describing and how he or she plays them.

Peran adalah “urutan bermotif perasaan, kata, dan tindakan … itu adalah cara yang unik dan terbiasa berhubungan dengan orang lain” (Chelsler dan Fox, 1966, PP5, 8) dalam Bruce sukacita Dan Marsha Weil, 1988: 57). Kecuali orang mencari mereka, kadang-kadang sulit untuk melihat konsistensi dan pola perilaku. Tapi mereka biasanya ada. Istilah-istilah seperti ramah, pengganggu, tinggi hati, tahu-semua, dan penggerutu yang nyaman untuk menggambarkan dan bagaimana ia memainkan mereka.
Bermain peran memiliki peran dan fungsi yang sangat signifikan dalam menggambarkan kondisi seorang individu. Peran individu bermain ditentukan oleh beberapa faktor selama bertahun-tahun. Jenis individu dalam memenuhi kebutuhannya menentukan perasaan nya secara umum tentang orang yang berada disekitarnya. Bagaimana orang-orang bertindak terhadap individu dan bagaimana individu memandang perasaan mereka terhadap orang-orang disekitar individu mempengaruhi perasaan individu tentang diri mereka sendiri. Aturan budaya tertentu seseorang dan institusi membantu untuk menentukan peran seseorang mengasumsikan dan bagaimana ia memainkan mereka.