Motivasi

a. Pegertian Motivasi
Sebelum membicarakan tentang motivasi belajar, terlebih dahulu kita menelaah pengidentifikasian kata motif dan kata motivasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008: 930), “motif adalah kata benda yang artinya pendorong, sedangkan motivasi adalah kata kerja yang artinya mendorong”. Menurut Sardiman (2008:73) kata motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sementara kata motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telak aktif.
Menurut Alex Sobur (2003:266) pada dasarnya motif merupakan pengertian yang melingkup penggerak. Motif manusia merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak lainnya, yang berasal dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Jadi, istilah motif sangat erat kaitannya dengan gerakan yang dilakukan oleh manusia yang dapat diamati melalui perbuatan atau tingkah laku.
Menurut pendapat Berelson dan Steiner (dalam Alex Sobur, 2003:267) motif is an inner state that energizes, activates, or moves (hence ‘motivation’), and that directs or channels behavior toward goals”. pendapat tersebut mengemukakan bahwa motif adalah sesuatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan, yang menggiatkan atau yang menggerakkan, sehingga disebut penggerak atau motivasi, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku ke arah tujuan-tujuan.
Menurut Mc. Donald (dalam Djamarah, 2008:148) motivasi merupakan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi individu akan mengawali terjadinya perubahan energi pada diri individu tersebut yang secara nyata dapat kita amati melalui kegiatan fisiknya. Motivasi merupakan potensi yang dimiliki oleh seorang individu sebagai kodratnya untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Kegiatan-kegiatan tersebut dilandasi adanya motif yang terkait dengan kebutuhan, sehingga individu terdorong untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan timbul dan berkembangnya motif-motif tersebut yang direalisasikan ke dalam bentuk motivasi.
Menurut Oemar Hamalik (2001:158) “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Selanjutnya Hamzah B. Uno (2009:9) mengemukakan bahwa:
Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/ aktivitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat berperan penting terhadap perilaku yang ditampilkan individu, sehingga apabila individu tidak memiliki motivasi maka kecil kemungkinan dia akan mencapai tujuan. Hal itu sesuai dengan pendapat Handoko (1986:252) bahwa “Motivasi diartikan sebagai keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan”.
Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Bisa juga dikatakan bahwa motivasi berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan.

b. Fungsi Motivasi
Setiap individu memiliki alasan dan tujuan tertentu dalam melaksanakan kegiatanya. Tujuan-tujuan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kepuasan yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Menurut Maslow (1994:36) tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu dan kebutuhan-kebutuhan tersebutlah yang mampu memotivasi tingkah laku individu.
Giddens (2001:67) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan tujuan. Individu yang memiliki tujuan untuk menjadi seseorang yang sukses maka dia akan termotivasi untuk giat bekerja. Tujuan akan menentukan seberapa aktif individu akan betingkah laku. Jika tujuannya menarik, maka individu akan lebih aktif bertingkah laku.
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 2008:74) motivasi berfungsi sebagai energi penggerak dalam diri individu yang mengawali terjadinya perubahan-perubahan dana dapat diamati dari kegiatan fisik manusia tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, Oemar Hamalik (2002:175) mengemukakan bahwa fungsi motivasi, yaitu: 1) mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, 2) sebagai pengarah dan 3) sebagai penggerak. Dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak bagi individu dalam melakukan suatu kegiatan.
Menurut Oemar Hamalik (2002:174) motivasi memiliki dua komponen utama, yakni: komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam merupakan kebutuhan-kebutuhan yang hendak dipuaskan sedangkan komponen luar merupakan tujuan yang hendak dicapai. Komponen dalam dari motivasi berfungsi sebagai penggerak terjadiya perubahan dalam diri seseorang. Perubahan-peruabahan tersebut muncul sebagai akibat adanya perasaan belum puas dan ketegangan-ketegangan psikologis lainnya. Keinginan-keinginan untuk mengadakan perubahan tersebut akan menciptakan aktifnya komponen luar motivasi, sehingga akan timbul tujuan-tujuan yang menjadi arah kelakuannya.
Sebagai individu yang menjalani proses pendidikan di sekolah, siswa memiliki berbagai tujuan. Dalam usaha mencapai tujuan-tujuan tersebut tidak jarang siswa mengalami permasalahan-permasalahan yang akan menjadi penghambat bagi terwujudnya tujuan yang diinginkan. Idealnya setiap individu yang memiliki permasalahan memiliki kebutuhan dan tujuan-tujuan untuk segera mengentaskan permasalahan ataupun membntuk tingkah laku baru.
Bimbingan dan konseling memiliki peran yang sangat besar bagi terwujudnya tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Salah satu layanan yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mencapai usaha pemenuhan kebutuhan, tujuan dan pengentasan masalahnya adalah layanan konseling perorangan. Menurut Patterson (1980:8) layanan konseling perorangan berupaya mempengaruhi terjadinya perubahan tingkah laku secara sadar pada diri klien. Melalui layanan konseling perorangan, siswa diajak untuk ikut berfikir mengenai cara-cara atau solusi dari pengentasan permasalahannya.
Siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk memperoleh tujuannya akan memanfaatkan pelayanan bimbingan dan konseling secara optimal. Motivasi tersebut terwujud dengan terlihatnya keaktifannya secara sukarela datang meminta bantuan kepada guru pembimbing untuk memanfaatkan layanan konseling perorangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prayitno (2004:11) yang menyatakan bahwa kesukarelaan siswa datang kepada guru pembimbing untuk meminta bantua sangat berpengaruh positif terhadap capaian keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

Ketentuan Pemerintah tentang Bimbingan dan Konseling

Didalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling disekolah pemerintah mengelurakan beberapa peraturan baik yang berdasarkan Undang-undang atau permen tentang penyelengaraan layanan bimbingan dan konseling disekolah. Antara laian sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimana dalam UU sisdiknas disampaikan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan menegaskan bahwa konselor adalah pendidik. Selain itu dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa paradigm pembiasaan yang harus dibangun adalah pemberian keteladanan, pembangunan kemauan dan pengembangan kreativitas dalam konteks kehidupan sosial kultural sekolah. Dan Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana.
2. UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen yang secara eksplisit menekankan perlunya profesionalisme kedua jenis pendidikan itu. Dalam undang-undang ini konselor belum diposisikan, kecuali hanya disebutkan kembali sehubungan dengan jenis-jenis tenaga pendidik.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan, mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan harus menyusun kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP. Pada penerapan KTSP, Guru Bimbingan Konseling di sekolah memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam memfasilitasi “Pengembangan Diri” siswa sesuai minat, bakat serta mempertimbangkan tahapan tugas perkembangannya. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar isi, standar proses, standar kompetensi, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
4. Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang didalamnya memuat struktur kurikulum, telah mempertajam perlunya disusun dan dilaksanakannya program pengembangan diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
5. Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses pendidikan dimana setiap sekolah dasar dan menengah harus mengadakan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan ppengawasan proses pembelajaran.
6. Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 dirumuskan SKL yang harus dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran bidang studi, maka kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yag dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Sebaliknya, kesuksesan peserta didik dalam mencapai SKL akan secara signifikan menunjang terwujudnya pengembangan kemandirian.
7. Permendiknas 27 tahun 2008 Tentang standar kulaifikasi akademik dan kopetensi konselor. Setiap satuan pendidikan wajib mempekerjakan konselor yang memiliki standar kualifikasi akademik dan kopetensi konselor yang berlaku secara nasional.
8. Peremendiknas no 24 tahun 2007 Tentang standar sarana prasarana dimana disebutkan sekolah secara standar sarana prasarana harus memiliki ruang konseling dengan luas minimum 9 M persegi.
9. Permendiknas no 19 tahun 2007. Tentang standar pengelolaan dimana sekolah harus memiliki rencana kerja sekolah (RKS). Yang disana terdapat program pengembangan diri yang mencakup tugas pelayanan bimbingan dan konseling
10. PP no 48 tahun 2008 Tentang standar pembiayaan pendidikan. Tentang standar pembiayaan pelaksanaan bimbingan dan konseling
11. Permendiknas no 20 tahun 2007 Tentang standar penilaian pendidikan. Tentang standar pelaksanaan penilaian di dalam pendidikan dimana konselor juga merupakan pendidik.
12. Permendiknas No. 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/ Madrasah yang mengisyaratkan adanya pembinaan dari pengawas terhadap layanan bimbingan dan konseling.
13. PP No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru, yang mencantumkan beban kerja guru bimbingan dan konseling / konselor.
14. Permendiknas No. 16 Tahun 2009, tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya .yang menyebutkan konselor juga sebagai guru, menangani 150 siswa dan tugas guru BK.

KONSEP DAN PERMASALAHAN MENEJEMEN BK DI SEKOLAH

A. Konsep Manajemen
Istilah manajemen sekarang sudah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia, bahkan sudah tercantum sebagai salah satu entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata itu berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata manajemen. Dalam kamus itu juga dijelaskan bahwa kata manajemen mempunyai dua arti, yaitu (1) proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran, dan (2) pejabat pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan dan organisasi
Menurut Terry dan Rue (1992), manajemen merupakan suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang. Sedangkan Nanang Fattah (2008) menyatakan bahwa menejemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Dikatakan sebagaia ilmu oleh luther gulick karena menegemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Dikatakan kiat oleh follet Karena menejemen mencapai sasaran melalui cara-cara mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai proesi karena menejemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi menejer, danpara profesioanl dituntut oleh kode etik.
Manajemen diartikan sebagai upaya pengaturan sesuatu untuk mencapai tujuan melalui fungsi manajemen, yakni fungsi planning, organizing, actuating, controlling, dan melalui adminstrasi, yakni men, method, money, material, machine, and market ini merupakan defensisi secara luas.
Berdasarkan pengertian diatas maka manajemen bimbingan konseling dapat diartikan sebagai upaya pengaturan untuk mencapai tujuan dari bk tersebut melalui fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, aplikasi, pengawasan, dan melalui administrasi yaitu konselor, metode, sumber dana, materi dan perlengkapan/ peralatan
B. Fungsi Manajemen
Menurut T. Hani Handoko fungsi manajemen (pengelolaan) adalah: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Koordinator bimbingan dan konseling yang merupakan manajer sekaligus administrator bimbingan dan konseling di sekolah akan menggunakan fungsi-fungsi manajemen ini dalam melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolahnya
1. Fungsi perencanaan (planning). Koordinator BK di sekolah harus menentukan tujuan yang hendak dicapai selama waktu tertentu dan menentukan kegiatan untuk mencapai tujuan dan hal ini terkait dengan program BK
2. Fungsi pengorganisasian (organizing). Koordinator BK akan mengelompokan dan menentukan kegiatan penting untuk memberikan kekuasaan kepada orang-orang tertentu (guru pembimbing/wali kelas) untuk melaksanakan kegiatan itu
3. Fungsi pelaksanaan (actuating). Koordinator BK harus mendorong kinerja guru pembimbing dengan memberikan motivasi dalam merealisasikan tujuan yang diharapkan sesuai dengan program
4. Fungsi pengawasan (controlling). Pengawasan dilakukan oleh seorang pengawas di bidang BK, kemudian koordinator BK juga menggunakan administrasi, yaitu: men (sumber daya manusia/personil), material (bahan-bahan), machines (peralatan, sarana dan prasarana), method (metode/ layanan), money ( sumber dana) dan market (siswa)

C. Syarat Manajemen
Untuk dapat berhasil dengan baik proses dari majemen maka harus ada syarat-syarat manajemen yang harus dipenuhi, meliputi :

1. Harus ada pembagian kerja
mengandung pengertian bahwa suatu pekerjaan itu bila dibagi sesuai dengan bakat dan kemampuan anggota organisasi akan lebih berhasil bila dibandingkan dengan tidak adanya pembagian kerja.
2. Kekuasaan dan pertanggung jawaban
Dalam sebuah organisasi harus ada kejelasan tentang kekuasaan dan pertanggung jawaban antara masing-masing staf dalam organisasi.
3. Disiplin
Semua lini dalam sebuah organisasi harus mempunyai disiplin dengan menaati peraturan yang ditetapkan.
4. Kesatuan komando
Kesatuan komando perlu untuk menjaga kesimpang siuran perintah di dalam organisasi, karena organisasi mempunyai tujuan yang sama.
5. Kesatuan arah
Kesatuan arah diperlukan untuk menghindari masing-masing anggota mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Perintah hanya datang dari satu orang saja.
6. Tujuan organisasi sesuai dengan tujuan anggotanya
Antara tujuan organisasi dan tujuan anggotanya harus sejalan, karena apabila terdapat perbedaan tujuan maka organisasi akan mengalami kesulitan.
7. Pemberian upah/gaji
Harus didasarkan pada kebutuhan anggota organisasi dan keluarganya secara adil.
8. Sentralisasi
Memberikan suatu gambaran bahwa di dalam suatu organisasi memerlukan suatu pemusatan tanggung jawab untuk menghindari bawahan tidak dibebani dengan tangung jawab yang lebih besar.
9. Jenjang jabatan
Urutan-urutan hubungan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain harus saling bersambung. Kejelasam hubungan ini perlu untuk menentukan kearah mana seseorang harus bertanggung jawab dan ke arah jenjang mana seseorang kelak di promosikan.
10. Keteraturan
Keteraturan diperlukan agar tidak terjadi kelambatan di dalam proses manajemen.
11. Keadilan
Keadilan diperlukan di dalam segala aspek agar semua komunikasi yang lancer diantara anggota merasa puas dan bekerja dengan penuh semangat.
12. Kestabilan di dalam organisasi
Para anggota harus merasa stabil kedudukannya di dalam oaganisasi.
13. Inisiatif
Tanpa inisiatif akan menjurus kepada hal-hal yang bersifat rutin dan organisasi akan mengalami sebuah kerugian.
14. Semangat korps
Adanya komunikasi yang lancer diantara pimpinan dan bawahan akan menambah semangat kerja bawahan.

D. Organisasi dan Personalia
1. Organisasi
Menurut Nanang Fattah (2008:71) Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelopok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
Sejalan dengan itu Sutarto (1995: 40) menyatakan organisasi adalah sistem saling pengaruh antara orang dalam kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan definisi ini ditemukan adanya tiga faktor yang dapat menimbulkan organisasi, yaitu: (1) orang-orang, (2) kerja sama, (3) tujuan tertentu. Berbagai faktor tersebut tidak dapat saling lepas/berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan merupakan suatu kebulatan, maka dalam pengertian organisasi digunakan sebutan sistem yang berarti kebulatan dari berbagai faktor yang terikat oleh berbagai asas yang ditentukan oleh masing-masing organisasi
Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling yang hendak dibangun pada suatu sekolah hendaknya mempertimbangkan sumber tenaga yang tersedia, besarnya sekolah, jumlah siswa dan jumlah guru pembimbing yang ada, dan bagaimana kualifikasi dan pangkat atau jabatannya dapat disesuaikan dengan pengaturan atau pembagian tugas di sekolah.

2. Personalia
Herber G. Kicks (dalan Sutarto, 1995) menyatakan faktor inti organisasi adalah orang-orang (personil) sebagai faktor yang membentuk organisasi, sedangkan yang termasuk faktor kerja yang menentukan berjalannya organisasi adalah daya manusia (kemampuan untuk bekerja, kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, kemampuan untuk melaksanakan asas-asas organisasi) dan daya manusia lain, seperti alam, iklim dan sebagainya
Secara operasional pelaksana utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing dan koordinator bimbingan, tetapi personil sekolah yang lain diharapkan juga berperan agar program bimbingan dapat terselenggara dengan baik. Personil itu mencakup: kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, Kadin pendidikan, komite sekolah, koordinator BK, guru praktek, pengawas BK, siswa, staf administrasi, orang tua siswa, tata usaha, dan cleaning servis
Sedangkan dewa ketut sukardi (2003) menyatakan bahwa menejemen bimbingan konseling disekolah diselenggarakan oleh suatu organisasi dengan sejumlah personalia. Organisasi ini mencerminkan keterkaitan berbagai komponen dalam bimbingan konseling disekolah. Komponen pokok dalam bimbingan konselig dan personalianya disekolah adalah :
1. Guru BK yang merupakan pelaksana utama kegiatan bimbingan dan konseling disekolah
2. Koordinator Bimbingan Konseling sebagai penangung jawab utama pengelolaan bimbingan konseling disekolah
3. Kepala sekolah sebagai penangung jawabseluruh kegiatan sekolah termasuk kegiatan bimbingan dan konseling
4. Wali kelas sebagai pengelola khusus sekelompok siswa dalam satu kelasa sebagai kelompok sasaran pokok bimbingan dan konseling
5. Guru matapelaajaran dan gurur praktikan sebagai mitra kerja guru BK dan saling menunjuang demi suksesnya programpengajaran dan program bimbingan dan konseling
6. Pengawas sekolah bidang bimbingan dan konseling dalam ragka meningkatkan kinerja bimbingan konseling disekolah.
7. Siswa disekolah yang bersangkutan sebagai kelompok sasaran langsung kegiatan bimbingan dan konseling.

E. Program
Prayitno (2001) menyatakan bahwa program bimbingan dan konseling adalah satuan besar atau kecil rencana kegiatan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan pada periode tertentu. Program-program bimbingan dan konseling merupakan isi dari keseluruhan organisasi bimbingan dan konseling di sekolah. Program-program ini perlu disusun dengan memperhatikan pola umum bimbingan dan konseling dan berbagai kondisi yang terdapat di lapangan
Setiap satuan pendidikan atau sekolah perlu membuat rencana program bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. Rencana program itu dijadikan acuan pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah masing-masing. Thantawi R,MA (1995: 99) membagi dua macam perencanaan yang perlu disiapkan, yaitu:
1. Perencanaan tahunan sebagai program sekolah, rencana ini disusun menurut alokasi waktu seperti catur wulan/semester, rencana bulanan, bahkan rencana mingguan dan harian. Dalam program ini dicantunkan substansi kegiatan, jenis layanan menurut alokasi waktu
2. Perencanaan kegiatan layanan bagi setiap guru pembimbing sesuai dengan pembagian tugas di sekolah

F. Fasilitas
Agar dapat terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya, maka disamping membentuk dan mengatur organisasinya secara baik, dan penugasan tenaga personil sesuai dengan kemampuan masing-masing, perlu ada sarana dan prasarana atau fasilitas yang menunjang terselenggaranya pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik dan efisien. Sarana dan prasarana bimbingan dan konseling merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena pelayanan bimbingan dan konseling merupakan bagian dari pendidikan yang dijalankan di suatu sekolah
Sarana yang diperlukan sebagai penunjang pelayanan bimbingan dan konseling (Thantawi, 1995) adalah:
1. Instrumen pengumpulan data
2. Alat penyimpan data
3. Perlengkapan teknis
4. Beberapa alat perlengkapan administrasi bimbingan yang perlu disediakan di ruang bimbingan, yaitu: blangko surat-surat, kartu laporan konseling, catatan konferensi kasus, keterangan pemberian layanan, buku tamu, kotak masalah dan papan pengumuman
Menurut Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi (2001) yang juga menjadi sarana BK adalah perangkat elektronik, seperti:
1. Komputer untuk mengolah data hasil aplikasi instrumentasi
2. Program-program khusus pengolahan hasil instrumentasi melalui komputer
3. Program-program khusus bimbingan dan konseling melalui komputer, seperti bimbingan belajar melalui program komputer
Sedangkan prasarana merupakan perlengkapan fisik yang diperlukan untuk pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Prasarana yang diperlukan dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling (Thantawi, 1995) adalah:
1. Ruang kerja guru pembimbing
2. Ruang konseling
3. Tuang tunggu/ruang tamu
4. Ruang perlengkapan/dokumentasi
5. Ruang bimbingan kelompok
Sedangkan dewa ketut sukardi (2003)mengatakan fasilitas pokok yang diperlukasn dalam bimbingan dan konseling adalah
1. Tempat bekerja dan melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling
2. Peralatan instrument bimbingan dan konseling, termasuk instrument pengungkapan masalah dan kondisi siswa, baik yang bersifat tes maupun non tes.
3. Bahan-bahan informasi seperti informasi pendidikan atau jabatan.
4. Buku-buku untuk bimbingan kepustakaan.
5. Pedoman kegiatan meliputi SK dan ketentuan kebijakan pemerintah tentang bimbingan konseling dan pendidikan pada umumnya, serta panduan operasioan berkaitan dengan penyusunan program, penilaian, pelaksanaan bimbingan dan konseling.
6. Peralatan adminitrasi baik yang berupa alat tulis kantor maupun yang bersifat keras seperti komputer dll
7. Dukungan dan kesempatan dari semua pihak untuk melaksanakan bimbingan
8. Pengembangan professional melalui MGBK dan organisasi keprofesian.

G. Akuntabilitas Program
Akuntabilitas program mengacu pada pertanggungjawaban berkenaan dari hasil kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan. Hal ini akan berkaitan erat dengan rencana program yang disusun sebelumnya dan juga akan menampilkan akuntabilitas proses yang berhubungan dengan proses pelaksanaan kegiatan
Akuntabilitas program merupakan hal yang sangat penting menjadi perhatian guru pembimbing dan para konselor. Karena sebelum melakukan berbagai kegiatan konseling, guru pembimbing harus memahami unjuk kerja dan hal-hal yang akan dipertanggungjawabkannya, sesuai dengan standar program bimbingan dan konseling, dengan demikian diharapkan keberadaan bimbingan dan konseling mendapat kepercayan dari masyarakat luas
Guru pembimbing sangat perlu menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Adanya program yang sistematis, memerlukan suatu kondisi tertentu unruk dipertanggungjawabkan, sedangkan kondisi untuk dipertanggungjawabkan memerlukan standar sebagai ukuran keberhasilan atau prestasi yang dicapai oleh guru pembimbing
Menurut A. Muri Yusuf (2002), manajemen dalam suatu organisasi akan dikatakan akuntabel apabila kegiatan pelaksanaannya telah:
1. Menentukan tujuan yang tepat
2. Mengembangkan standar yang dibutuhkan untuk pencapaian tujuan tersebut
3. Secara efektif mempromosikan penerapan pemakaian standar
4. Mengembangkan standar organisasi dan operasi secara efektif, ekonomis dan efisien
Oleh karena itu, pelayanan bimbinngan dan konseling yang baik, benar, efektif dan efisien dalam mengembang misi bimbingan dan konseling yang telah disepakati adalah hal yang sangat esensial, sehinga pengakuan dan kepercayaan masyarakat akan bertambah. Apabila akuntabilitas atau pertanggungjwaban bimbingan dan konseling dilakukan secara periodik dan sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku, tentu saja keberadaan bimbingan dan konseling merupakan kebutuhan pokok yang harus diprioritaskan dalam kehidupan masyarakat

H. Kepengawasan
Robert J. Mockler dalam T. Hani Handoko (1996: 360), mengemukakan bahwa pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpanan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya diperlukan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
Dalam kegiatan bimbingan dan konseling pengawasannya diselenggarakan oleh pengawas sekolah dengan tugas pokok mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling dan pembinaan terhadap guru pembimbing melalui pemberian arahan, bimbingan, contoh, dan saran kepada guru pembimbing untuk meningkatkan mutu pelaksaan bimbingan dan konseling di sekolah (sesuai SK menpan No. 118/1996 dan Petunjuk Pelaksanaan).
Menurit Prayitno (2001: 24) kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling di sekolah dapat diartikan sebagai kegiatan pengawas sekolah yang menyelenggarakan kepengawasan dengan tugas pokok mengadakan penilaian dan pembinaan melalui arahan, bimbingan, contoh, dan saran kepada guru pembimbingan tenaga lain dalam bidang bimbingan dan konseling di sekolah.

I. Pengembangan
Munandir (2001: 268) menyatakan bahwa pengembangan merupakan berbagai cara atau pendekatan yang bertujun untuk menciptakan situasi agar guru dan staf sekolah lainnya meningkatkan kompetensi dan keterampilannya serta tumbuh secara profesional selama berdinas.
Kemudian Prayitno dkk (2002) mengemukakan bahwa pengembangan BK diarahkan kepada semakin meningkatnya mutu pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa oleh guru pembimbing, dengan indikator meningkatnya:
1. Kemampuan guru pembimbing dalam melaksanakan layanan dan kegaitan pendukung bimbingan dan konseling
2. Fasilitas untuk pelayanan (tempat kegiatan, instrumen BK, Perangkat elektronik, buku panduan dan lain-lain)
3. Kerja sama antar personil sekolah
4. Pemanfaatan pelayanan oleh siswa
5. Jumlah guru pembimbing (bagi sekolah-sekolah yang masih memerlukan penambahan)
Pengembangan dilaksanakan melalui:
1. Kerjasama antar guru pembimbing
2. Kerjasama antar personil sekolah
3. Kegiatan pengawasan oleh pangawas sekolah bidang bimbingan dan konseling
4. Pengembangan fasilitas layanan
5. Pertemuan kesejawatan profesional (MGBK), penataran, lokakarya, pertemuan ilmiah, keikutsertaan dalam organisasi profesi BK (ABKIN) dan studi lanjutan

tri

KONSELING ADALAH PELAYANAN

Pelayanan adalah tindakan yang sifat dan arahnya menuju kepada kondisi lebih baik yang membahagiakan bagi pihak yang dilayani. Siapapun juga yang hendak atau bahkan sedang melayani seseorang atau subjek lainnya pastilah berkehendak agar orang atau subjek yang dilayaninya itu mengarah atau menjadi lebih baik/bahagia daripada kondisinya sebelumnya. Dengan kata lain, orang yang sedang dilayani memiliki prospek untuk menjadi lebih baik, lebih bahagia. Bukanlah namanya pelayanan kalau di dalamnya tidak ada arah untuk lebih baik atau lebih membahagiakan bagi yang dilayani.

Konsep Dasar Pelayanan

Konsep tentang pelayanan dapat ditarik dari pemahaman yang sangat mendasar, yaitu bagaimana manusia memperoleh pelayanan yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana manusia harus melayani diri sendiri dan orang-orang di luar dirinya.
Tuhan Sang Maha Pencipta “melayani” manusia sejak penciptaan manusia itu sendiri, orang perorang. Melalui kenikmatan hubungan suami istri yang sedang melakukan kegiatan saling melayani, Tuhan menciptakan janin di perut seorang ibu. Dengan kondisi pelayanan yang penuh dan luar biasa, janin itu menjadi bayi yang akhirnya terlahir menjadi seorang anak. Melalui pelayanan yang luar biasa pula anak yang baru lahir itu dibesarkan oleh ibu/ayah kandungnya dan orang-orang lain di sekitarnya. Maka berkat pelayanan, si janin menjadi bayi, menjadi anak, dan menjadi individu dewasa. Selanjutnya, individu dewasa itu pada gilirannya harus mampu memberikan pelayanan, yaitu terutama kepada diri sendiri, dan selebihnya kepada orang lain.
Demikianlah asal-muasal pelayanan yang awal datangnya dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Tuhan adalah Zat Yang Maha Melayani manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakannya. Bukankah seluruh ciptaan Tuhan, dari bumi dan air serta kekayaan alam yang ada di sekitar tempat tinggal manusia orang-perorang itu sendiri sampai dengan segenap isi langit dan benda-benda antariksa adalah seluruhnya untuk manusia? Ya, untuk kebahagiaan orang perorang manusia, dan untuk seluruh umat manusia.
Diyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak lain adalah agar manusia itu berbahagia dalam hidupnya di dunia dan akhirat. Bukanlah kehendak Tuhan apabila manusia itu menjadi sengsara atau menderita, atau menjdai mangsa atau korban dari sesuatu yang menjadikan manusia itu tidak bahagia, melainkan hal itu semua karena manusia lalai dalam melayani diri sendiri dan melayani sesamanya. Tuhan telah secara tersurat maupun tersirat, lansung maupun tidak langsung memberikan petunjuk dan peringatan, memperlihatkan jalan lurus/benar dan jalan yang bengkok/salah, menegaskan hukum-hukum yang pasti berlaku, mengingatkan tentang bala yang bisa terjadi apabila petunjuk/jalan lurus/hukum-hukum itu dilanggar. Hebatnya lagi, Tuhanpun menyediakan segala segala bentuk kemungkinan pembebasan atas segala perbuatan manusia yang menyimpang dari segenap pelanggaran itu; termasuk di dalamnya pengampunan yang yang dapat menjadikan manusia kembali fitrah sebagaimana sewaktu dilahirkan. Demikianlah pelayanan yang tiada bertepi dari Tuhan Yang Maha Suci dan Terpuji.
Apa artinya melayani diri sendiri dan melayani sesama? Seseorang yang mengikuti, menerapkan dan menepati petunjuk dan peringatan, serta jalan lurus dan hukum-hukum Tuhan tersebut di atas untuk diri sendiri, agar dirinya tetap hidup dan berkembang, agar dirinya memperoleh manfaat dari apa-apa yang ada pada dirinya sendiri dan alam sekitarnya, dan agar dirinya sejahtera serta bahagia tanpa dosa hidup di dunia dan di akhirat, maka dapat dikatakan orang itu melayani diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Semua perbuatan yang sesuai dan menjunjung tinggi segenap petunjuk/jalan lurus/hukum yang ditetapkan (terutama yang ditetapkan oleh Tuhan, dan juga yang ditetapkan oleh manusia sepanjang tidak bertentangan dengan ketetapan Tuhan) merupakan perbuatan yang sifat, arah dan tujuannya adalah melayani diri sendiri.

Sifat, arah dan tujuan melayani orang lain atau melayani sesama sejalan dengan melayani diri sendiri dengan sasaran yang berbeda. Melayani diri sendiri sasarannya adalah aku, sedangkan melayani orang lain sasarannya adalah kamu dan dia. Demikianlah, pelayanan sejati, yang idealnya dapat dilakukan oleh setiap orang, adalah ibarat mata uang dengan dua sisinya yang amat berharga, yaitu pelayanan untuk diri sendiri di satu sisi dan pelayanan kepada orang lain di sisi yang satu lagi. Pelayanan untuk diri sendiri dan untuk orang lain oleh manusia itu semuanya sejalan dengan dan berakar dari pelayanan oleh Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Ditilik lebih teliti, dalam pelayanan yang digambarkan di atas, di dalamnya ada cinta. Betapa agung, indah dan tanpa batasnyalah cinta Tuhan kepada manusia dan semua makhluk-Nya. Dalam pelayanan itu melekat erat rasa cinta. Bahkan dapat pula diibaratkan bahwa antara pelayanan dan cinta merupakan dua sisi mata uang. Pelayanan tanpa cinta adalah pelayanan yang tandus atau mungkin tidak tulus, atau pelayanan basa-basi; bukan pelayanan sejati atau pelayaan sebenarnya. Demikian juga, cinta tanpa pelayanan adalah cinta hampa atau cinta yang mengada-ada; bukan cinta sejati atau cinta yang timbul dari lubuk hati.
Pelayanan yang ada cinta di dalamnya memerlukan tindakan bukan sekedar angan-angan ataupun omongan belaka; bahkan tindakan dengan kompetensi yang tinggi atau bahkan tindakan profesional. Luar biasa dan tak terbayangkan, betapa maha sempurnanya “keprofesionalan” Tuhan dalam pelayanan penuh cinta kepada manusia dan makhluk-makhluk lainnya, dalam kondisi seperti bencana gempa dahsyat sekalipun. Coba kita bayangkan, dalam kondisi musibah hebat pun pelayanan yang penuh cinta dari Tuhan Seru Sekalian Alam tidak pernah berkurang kepada manusia.

Trilogi Pelayanan

Bagaimanan pelayanan manusia kepada dirinya sendiri dan sesamanya? Manusia sebagai makhluk yang berderajat paling tinggi dan paling sempurna diciptakan oleh Tuhan, dan diarahkan untuk hidup berbahagia di dunia dan di akhirat, sesungguhnyalah diharapkan dapat

memberikan pelayanan kepada diri sendiri dan sesamanya, yaitu pelayanan sejati yang dasar dan akar-akarnya sejalan dengan pelayanan Tuhan Yang Maha Pengasih kepada umatnya. Yaitu pelayanan sejati yang penuh cinta dalam bentuk tindakan dengan kompetensi profesional. Demikianlah hendaknya pelayanan konseling.

This slideshow requires JavaScript.


sumber:
Prayitno, 2009 .Wawasan Profesional konseling, UNP .

AKUNTABILITAS BK

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa konseling merupakan sistem penyampaian treatmen yang efektif. Agar konseling tetap dihargai oleh masyarakat dan berharga (dibayar) oleh pihak ketiga dan klien, konselor profesional harus memberikan bukti yang menunjukkan bahwa pekerjaannya bermanfaat dan menghasilkan produk-produk.

Konselor sekolah yang profesional harus menunjukkan bahwa mereka adalah pusat dari kesuksesan dengan segala upayanya. Demikian juga pihak ketiga wajib asuransi telah membuat peningkatan tuntutan  untuk kinerja konselor yang efektif dengan kliennya. Konselor profesional yang menunjukkan keefektivan menerima alih tangan dan mengembangkan reputasi untuk keterampilan dan efisiensinya.

Menurut berbagai penulis (Erford, 2007; Issacs, 2003; Loesch & Ritchie, 2004; Myrick, 2003), akuntabilitas biasanya melibatkan hal-hal berikut:

  • Mengidentifikasi dan berkolaborasi dengan kelompok stakeholder (seperti komite penasehat, klien, para orang tua, guru dan siswa)
  • Mengumpulkan data dan menilai kebutuhan para klien, staf dan komunitas
  • Menyusun tujuan dan menetapkan kebutuhan berdasarkan data dan ketentuan
  • Mengimplementasi intervensi yang efektif untuk mengatasi tujuan dan sasaran
  • Mengukur hasil intervensi
  • Menggunakan hasil penelitian untuk pengembangan program
  • Menyampaikan hasil tersebut kepada para stakeholder (seperti klien, administratur, para guru dan staf, orang tua dan wali, siswa, dewan sekolah, komunitas dan para pemimpin bisnis/pengusaha, konselor profesional dan pengawas.

Akuntabilitas, meskipun dibahas sebagai istilah tunggal, dapat dimaknai dengan cara yang berbeda.  Stone &  Dahir ( dalam  diltz and kimberly, 2010) mendefinisikan  akuntabilitas sebagai kemampuan untuk menyediakan dokumentasi tentang efektivitas hasil kegiatan profesional.

Myrick, 2003 (dalam diltz and kimberly, 2010)  mendefinisikan akuntabilitas sebagai jawaban atas tindakan seseorang, terutama dalam hal menetapkan tujuan, melaksanakan prosedur, dan menggunakan hasil untuk perbaikan program. Ini melibatkan pengaturan tujuan, mendefinisikan apa yang sedang dilakukan untuk menemui mereka, dan mengumpulkan informasi yang mendukung setiap hasil prestasi yang diklaim.

Studer dan Sommers, 2000 ( dalam diltz and kimberly, 2010) mendefinisikan akuntabilitas  dengan tiga jenis evaluasi: (a) program yang meliputi survei untuk menilai tujuan, dan kegiatan program, (b) personil, yang mencakup daftar periksa pada portofolio untuk menentukan kinerja konselor sekolah untuk mempertahankan pekerjaan nya, dan (c) evaluasi pelayanan individual, yang meliputi penilaian obyektif berdasarkan pada indikator dari siswa atau perubahan perilaku kelompok yang baru.

Indonesia mulai mengenal Bimbingan dan Konseling sekitar tahun 1960an, tertinggal sekitar 40 tahun lebih dari negara pencetusnya yaitu Amerika, dilihat dari perkembangannya , memang bisa dimaklumi jika praktik akuntabilitas di Indonesia belum semaju di Amerika, namun dari perkembangan Akuntabilitas yang ada di Amerika yang telah di bahs di atas, mempunyai beberapa implikasi terhadap pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Indonesia:

  1. Kompetensi Konselor

Konselor di Indonesia harus memiliki kompetensi untuk bisa melaksanakan praktik akuntabilitas, Seperti yang diamanatkan oleh permendiknas 27 tahun 2008 bahwa kompetensi profesional konselor meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan akuntabilitas diantaranya adalah: poin 15: menilai proses dan hasil kegiatan BK; melakukan evaluasi proses, hasil, dan program BK, menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan BK kepada pihak terkait,menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program BK; dan juga ada di poin 17: yang berbunyi menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling.

Untuk itu konselor harus aktif untuk mencari dan menambah pengetahuan yang diperlukan dengan mengikuti workshop, seminar, dan sumber lain yang bisa meningkatkan keterampilan konselor dan berimplikasi pada kinerja konselor dan akuntabilitas.

Konselor harus mampu menyediakan data hasil konerja, tidak ada kata hasil kinerja hanya dilaporkan tanpa berbasis bukti dalam era data seperti ini.

Konselor harus mampu menyediakan data tentang efektifitas konseling dalam mengubah siswa, dan membuktikan bahwa perubahan positif siswa memang karena efek dari bimbingan dan konseling.

2. Perguruan Tinggi dan Atau Pendidikan Profesi

Perguruan Tinggi sedianya sudah membaca potensi tersebut, sehingga mempersiapkan kurikulum yang tepat  untuk menyiapkan mahasiswa dengan kompetensi untuk melaksanakan praktik konseling yang akuntabel. PT juga harus mampu secara proaktif menyelenggarakan pelatihan, mengadakan penelitian yang berkaitan dengan akuntabilitas, harus disadari pula bahwa saat ini PT belum bisa menyediakan model akuntabilitas konseling yang aktual untuk kondisi di Indonesia.

3. Dukungan Organisasi Profesi

Organisasi konseling atau ABKIN dapat berperan aktif dengan mengadakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota ABKIN  terkait dengan pelaksanaan Konnseling  yang akuntabel. Termasuk mengadakan pertemuan yang intens untuk bisa memproduksi naskah-naskah yang lebih produktif, misalnya panduan untuk melkasanakan BK yang akuntabel, panduan untuk mengevaluasi Program BK, dan sebagainya.

4. Pelaksanaan Penelitian Bagi Praktisi dan Akademisi

Banyak ide yang bisa diambil dari akuntabilitas, karena isu tentang akuntabilitas akan selalu ada selama profesi ini ada, maka tebntunya akan selalu ada potensi untuk melaksanakan penelitian tentang akuntabilitas.

sumber :

Diltz , Dilani M Perera&  Kimberly L Mason: 2010. “Exploration of Accountability Practices of School Counselor : A National Study”:Journal of Professional Counseling, Practice, Theory, & Research. Austin: 38 Spring .1st ed; pg. 52, 19 pgs

Erford, Bradley T(ed). 2010. Orientation To The Counseling Profession Advocacy, Ethics, and essential Profession Foundation.New Jersey: Pearson Education Ltd

ASSESMEN DALAM BK

Asesmen merupakan salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung (Ratna Widiastuti, 2010). Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika  dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, namun juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah klien.

Asesmen merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/ kompetensi yang dimiliki oleh klien dalam memecahkan masalah.  Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi  beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan indikator-indikator yang  ditetapkan dan dikembangkan  oleh  Guru BK/ Konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada klien merupakan pengembangan  dari area kompetensi dasar pada diri klien yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri, performance test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya.

Dalam pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus  dilakukan dengan berhati-hati sesuai dengan kaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah karena asesmen yang tidak memadai  akan menyebabkan tritmen gagal; atau bahkan dapat memicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri klien.  Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada klien, tidak berarti konselor harus menilai (to assess) semua latar belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu. Kadangkala konselor menemukan bahwa ternyata   “hidup” klien sangat menarik. Namun demikian tidaklah efisien dan tidak etis untuk menggali semuanya selama hal tersebut tidak relevan dengan tritmen yang diberikan untuk mengatasi masalah klien. Karena itu, setiap guru pembimbing/ konselor perlu berpegang pada pedoman pertanyaan sebelum melakukan asesmen; yaitu “Apa saja yang perlu kuketahui mengenai klien?”. Hal itu berkaitan dengan apa saja yang relevan untuk mengembangkan intervensi atau tritmen yang efektif, efisien, dan berlangsung lama bagi klien.

Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:

1.  Menstimulasi klien maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan

2.  Menjelaskan masalah yang senyatanya

3.  Memberi alternatif solusi untuk masalah

4.  Menyediakan metode untuk memperbandingkan alternatif sehingga dapat diambil keputusan

5.  Memungkinkan evaluasi efektivitas konseling

Selain itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara apa ini (what is) dengan apa yang  diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil  konseling.

Asesmen memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model pendekatan konseling. Jika kedua komponen tersebut didesain dengan pendekatan “client centered” atau “bottom up”,  asesmen akan mengarah pada inovasi. Hal ini memiliki makna bahwa  asesmen tidak hanya berorientasi pada hasil/ produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses konseling, yaitu mulai dari membuka konseling sampai dengan mengakhiri konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling dengan  hasil konseling. Dengan demikian asesmen akan benar-benar bisa memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan diambil oleh klien dapat benar-benar sesuai dengan kemampuan diri  klien itu sendiri.

Asesmen yang tidak dilakukan secara objektif, akan berpengaruh pada pelayanan konseling oleh konselor sekolah/ Guru BK.  Hal ini akan berakibat tidak baik pada diri klien, bahkan terhadap konselor itu sendiri untuk  jangka panjang maupun jangka pendek. Asesmen dalam bimbingan dan konseling adalah asesmen yang berbasis individu dan  berkelanjutan. Semua indikator bukan diukur dengan soal seperti dalam pembelajaran, tetapi diukur secara kualitatif, kemudian hasilnya dianalisis untuk mengetahui kemampuan klien dalam mengambil keputusan pada akhir konseling, dalam melaksanakan keputusan setelah  konseling, serta melihat kendala/ masalah yang dihadapi klien dalam proses konseling maupun kendala dalam melaksanakan keputusan yang telah ditetapkannya.

Hood & Johnson (1993) menjelaskan ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan konseling ada lima, yaitu:

1.   Systems assessment, yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai  status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what is it) dengan apa yang  diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.

2.    Program planning, yaitu perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk menyeleksi bagian–bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan klien; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang memberikan informasi-informasi  nyata  yang potensial. Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat klien mampu  membedakan  latihan yang dilakukan pada saat konseling dan penerapannya di kehidupan
nyata dimana klien harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.

3. Program Implementation, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.

4.  Program Improvement, dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan: (a) evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan dicapai dalam program, (c)  program-progam yang berhasil, dan (d) informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.

5.     Program certification, yang merupakan akhir kegiatan. Menurut Center for the Study of Evaluation (CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasi sumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan  dilakukan evaluasi akhir  sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepada klien. Dalam hal ini evaluator berfungsi  pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan  sebagai dasar untuk mengambil keputusan.

Apapun bentuk dan jenis asesmen yang dilakukan, hal ini tetap menuntut suatu perencanaan, termasuk pada saat melakukan analisis. Dengan demikian maka akan diperoleh alat ukur atau instrumen yang benar-benar dapat diandalkan (valid) dan  dapat dipercaya (reliabel) dalam mengukur apa yang seharusnya diukur. Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan asesmen:

1.    Perencanaan

Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen  adalah:

a.    Memilih fokus asesmen pada aspek tertentu dari diri klien

Salah satu penentu keberhasilan konseling adalah kemauan dan kemampuan klien itu sendiri. Dalam konseling, keputusan akhir untuk pemecahan masalah yang dihadapi ada pada diri klien. Konselor/ guru BK bukan pemberi nasihat, bukan pengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan  klien dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

Karena itu, untuk keberhasilan konseling, klien dapat bekerjasama dengan guru BK/konselor, dan dengan bantuan guru BK maka klien diharapkan mampu memunculkan ide-ide pemecahan masalah, dan klien memiliki keberanian serta kemampuan untuk mengambil keputusan, mampu memahami diri sendiri,  dan mampu menerima dirinya sendiri. Berdasarkan  hal tersebut di atas, maka konselor menentukan akan melakukan asesmen  dengan memfokuskan  pada salah satu aspek  dalam diri klien saja.

b.   Memilih instrumen   yang akan digunakan.

Setelah ditentukan fokus area asesmen, Anda dapat merencanakan instrumen yang akan digunakan dalam asesmen. Banyak instrumen yang dapat digunakan dalam asesmen seperti tes psikologis, observasi, inventori, dan sebagainya. Tetapi untuk menentukan instrumen sangat  tergantung pada aspek apa yang akan diasesmen. Misalnya Anda akan melihat kerjasama klien dalam konseling, maka instrumen dapat menggunakan checklist, tetapi apabila Anda memfokuskan  asesmen tentang kemampuan klien dalam memecahkan masalah, maka Anda dapat  mempergunakan tes psikologis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih instrumen dalam asesmen diantaranya yaitu: (1) kemampuan guru BK sendiri, (2) kewenangan guru BK (baik dalam mengadministrasikan maupun dalam interpretasi hasilnya), (3) ketersediaan instrumen, (4) waktu yang tersedia, dan (5) dana yang tersedia.

c.    Penetapan waktu

Perencanaan waktu yang dimaksud adalah kapan asesmen akan dilakukan. Penetapan waktu ini sangat erat berhubungan dengan persiapan pelaksanaan asesmen. Persiapan akan banyak menentukan keberhasilan suatu asesmen, misalnya mempersiapkan  instrumen, tempat, dan peralatan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan asesmen. Apalagi jika pelaksana asesmen tersebut bukan guru BK itu sendiri, misalnya karena instrumen yang digunakan untuk asesmen adalah tes psikologis (tes intelegensi, inventori kepribadian, tes minat jabatan, dan sebagainya). Dalam hal ini apabila guru BK tidak memiliki kewenangan, maka guru BK dapat  minta bantuan orang yang memiliki kewenangan, misalnya psikolog atau orang yang telah memiliki sertifikasi yang memberikan kewenangan untuk mengadministrasikan tes dimaksud.

d.    Validitas dan reliabilitas

Apabila instrumen yang kita gunakan adalah buatan sendiri atau dikembangkan sendiri, maka instrumen itu  perlu diuji validitas dan reliabilitasnya. Karena validitas dan reliabilitas merupakan suatu syarat mutlak  suatu instrumen asesmen.  Namun apabila kita menggunakan instrumen yang sudah terstandar, Anda tidak perlu mencari validitas dan reliabilitas karena instrumen tersebut sudah jelas  memenuhi persyaratan sebagai suatu instrumen.

2.  Pelaksanaan             

Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan asesmen adalah pelaksanaannya harus sesuai dengan manual masing-masing instrumen. Manual suatu instrumen biasanya memuat:

  1. cara mengerjakan
  2. waktu yang digunakan untuk mengerjakan asesmen
  3. kunci  jawaban
  4. cara analisis
  5. interpretasi.

 

3.   Analisis data

Langkah selanjutnya adalah analisis data, yaitu melakukan analisis terhadap data yang diperoleh  melalui instrumen yang digunakan untuk mengambil data. Analisis dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing-masing  instrumen.  Metode analisis data dalam asesmen konseling sangat tergantung data yang diperoleh. Misal data yang diperoleh berbentuk kualitatif atau data kuantitatif.

Apabila data bersifat kualitatif, maka kita melakukan analisis data kualitatif. Metode analisis data kualitatif misalnya deskriptif naratif. Wilcox (dalam Ratna Widiastuti, 2010) misalnya menggunakan pendekatan  ”key incident” dalam analisis deskripsi kualitatif tentang kegiatan pendidikan. Pendekatan key incident memungkinkan bagi kita untuk memasukkan sejumlah besar kesimpulan dari bermacam-macam data yang berasal dari berbagai sumber, misalnya dari catatan lapangan, dokumen informasi demografi, atau wawancara. Apabila banyak data kualitatif yang dianalisis sementara asesmen masih berlangsung maka beberapa analisis dapat ditunda pelaksanaannya sampai evaluator selesai melakukan asesmen. Saat melakukan analisis data kualitatif, perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: a) yakinkan semua data telah tersedia, b) buatlah salinan data untuk berjaga-jaga kalau ada yang hilang, c) aturlah data dalam judul dan masukkan dalam file, d) gunakan sistem kartu-kartu dalam map, e) periksa kebenaran hasil asesmen.

Apabila data bersifat kuantitatif maka analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik. Dalam bimbingan konseling, statistik biasa digunakan untuk analisis data hasil tes psikologis, misalnya tes inteligensi, tes bakat, dan sebagainya. Dewasa ini, program statistik dapat dengan mudah dilakukan dengan bantuan komputer, seperti program excel, LISREL, SPSS, dan sebagainya.

4.  Interpretasi data

Interpretasi diartikan sebagai  upaya mengatur dan menilai fakta, menafsirkan pandangan, dan merumuskan kesimpulan yang mendukung. Penafsiran harus dirumuskan dengan hati-hati, jujur, dan terbuka. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ada dalam interpretasi, yaitu:

  1. Komponen untuk menafsirkan / interpretasi hasil analisis data

Interpretasi berarti menilai objek asesmen  dan menentukan dampak
asesmen tersebut. Pandangan evaluator juga mempengaruhi penafsiran/ interpretasi  data. Untuk asesmen yang akan digunakan  untuk membantu  fungsi pendidikan, maka hasil asesmen harus diinterpretasikan sebagai sarana untuk mengetahui kebaikan klien, dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam tindakan berikutnya bagi orang-orang lain yang berkepentingan/ berwenang (Cronbach dalam Ratna Widiastuti, 2010)).

2. Petunjuk untuk menafsirkan analisis data

Worthen dkk. dalam Ratna Widiastuti, 2010) menyatakan bahwa para evaluator telah mengembangkan metode yang sistematik untuk melakukan interpretasi.  Diantara metode-metode tersebut yang sering dipakai akhir-akhir ini adalah:                      (1) menentukan apakah tujuan telah dicapai, (2) menentukna apakah hukum, norma-norma, demokrasi aturan, dan prinsip-prinsip etik tidak dilupakan, (3) menentukan apakah analisis kebutuhan telah dikurangi, (4) menentukan nilai pencapaian, (5) bertanya kepada kelompok  penilai, melihat kembali data, menilai keberhasilan dan kegagalan, menilai kelebihan dan kelemahan penafsiran, (6) membandingkan variabel-variabel penting dengan hasil yang diharapkan, (7) membandingkan analisis yang dilaporkan oleh program yang usahanya sama, dan (8) menafsirkan hasil analisis  dengan prosedur  yang menghasilkannya. Namun demikian, menginterpretasikan data bukan hanya  pekerjaan evaluator saja, akan tetapi evaluator hanya memberikan pandangan saja dari sekian banyak pandangan.

5.   Tindak lanjut

Tindak lanjut adalah menindak lanjuti hasil  asesmen atau penggunaan hasil asesmen dalam konseling. Beberapa kegiatan tindak lanjut  diantaranya adalah apakah konselee perlu melakukan konseling yang memfokuskan pada aspek yang berbeda lainnya, apakah klien perlu mendapatkan tritmen tertentu, atau bahkan bisa jadi konselee perlu mendapatkan rujukan (refferal) kepada pihak ketiga. Rujukan diperlukan jika guru pembimbing/ konselor tidak mempunyai kewenangan atau tidak mempunyai kemampuan untuk menangani masalah yang dihadapi klien. Misalnya jika klien sudah mengalami gangguan psikotik, maka klien perlu dirujuk ke psikiater; jika klien mengalami gangguan dislesia maka perlu dirujuk ke terapis khusus yang menangani gangguan tersebut.

Untuk konseling yang berbasis individu, maka langkah-langkah khusus peerlu dilakukan, yaitu dengan cara:

  1. menentukan fokus yang akan dinilai (misal cara klien dalam merespon, ide-ide pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan sebagainya)
  2. menentukan teknik untuk penilaian (misal dengan observasi, konferensi kasus, atau  wawancara)
  3. menggunakan teknik penilaian yang telah ditentukan
  4. melakukan analisis data yang diperoleh dan membicarakan hasilnya dengan klien
  5. menanggapi data dengan cermat, dan
  6. melaporkan data yang telah diolah (laporan hasil konseling)

Sumber:

Hood, A.B., & Johnson, R.W., 1993. Assessment in Counseling: a Guide to the Use Psychological Assessment Procedures. American Counseling Assocition

Ratna Widiastuti. 2010. “Asessmen Intrumen Untuk Melakukan Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling”. (online),

 

ANALISIS TEORI (CARL R. ROGERS) DALAM ATTENDING

Ide pokok dari teori-teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah-masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak – kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda-beda tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

Carl Rogers sebenarnya tidak begitu banyak memfokuskan kepribadian. Teknik terapi lebih banyak mewarnai berbagai karya akademiknya. Mula-mula corak konseling ini disebut konseling non direktif, kemudian digunakan Client Centered Counseling dengan maksud individualitas konseling yang setaraf dengan individualitas konselor.

Menurut Rogers, dalam teknik ini ingin diciptakan suasana pembicaraan yang permisif. Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah perkembangannya dan menciptakan kesehatan dan menyeesuaikannya. Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan tendensi perkembangan helpee tidak secara langsung tetapi dengan menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif. Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan sebagainya. Dengan cara ini, konselor dapat membantu helpee untuk mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya. Untuk memungkinkan pemahaman ini konselor diharapkan bersifat dan bersikap :

a)      Menerima (Acceptance). Sikap terapis yang ditujukan agar helpee dapat melihat
dan mengembangkan diri apa adanya.

b)      Kehangatan (Warmth). Ditujukan agar helpee merasa aman dan memiliki
penilaian yang lebih positif tentang dirinya.

c)      Tampil apa adanya (Genuine). Kewajaran yang perlu ditampilkan oleh terapis
agar helpee memiliki helpee positif.

d)     Empati (Emphaty). Menempatkan diri dalam kerangka acuan batiniah (internal
frame of reference), helpee akan memberikan manfaat besar dalam memahami
diri dan problematikanya.

e)      Penerimaan tanpa syarat (Unconditional positive regard). Sikap penghargaan
tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada helpee, betapapun negatif perilaku
atau sifat helpee, yang kemudian sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah.

f)       Transparansi (Transparancy). Penampilan terapis yang transparan atau tanpa
topeng pada saat terapi berlangsung maupun dalam kehidupan keseharian
merupakan hal yang penting bagi helpee untuk mempercayai dan menimbulkan
rasa aman terhadap segala sesuatu yang diutarakan.

g)      Kongruensi (Congruensi). Konselor dan konseli berada hubungan sejajar
dalam relasi terapeutik yang sehat. Terapis bukanlah orang yang memiliki
kedudukan lebih tinggi dari helpeenya.

 

Kondisi-kondisi yang memungkinkan helpee mengubah diri secara konstruktif mengharuskan helpee dan terapis berada dalam kontak psikologis. Dengan demikian, akan dapat dilihat perubahan yang terjadi dalam proses terapi antara lain :

  • Helpee akan mengekspresikan pengalaman dan perasaannya tentang kehidupan, dan problem yang dihadapi.
  • Helpee akan berkembang menjadi orang yang dapat menilai secara tepat makna perasaannya.
  • Helpee mulai merasakan self concept antara dirinya dan pengalaman mereka.
  • Helpee sadar penuh akan perasaan yang mengganggu.
  • Helpee mampu mengenal konsep diri dengan terapi yang tidak mengancam.
  • Ketika terapi dilanjutkan, konsep dirinya menjadi congruence.
  • Mereka mengembangkan kemampuan dengan pengalaman yang dibentuk oleh unconditional positive regard.
  • Mereka akan mengevaluasi pengalaman-pengalamannya sehingga mempu berelasi sosial dengan baik.
  • Mereka menjadi positif dalam menghargai diri sendiri.

Setelah terapi, helpee akan mendapatkan insight secara mendalam terhadap diri dan permasalahannya.

  • Mereka menjadi terbuka terhadap pengalaman dan perasaannya sendiri.
  • Dalam pengalamannya sehari-hari mereka bisa mentransendensikan, jika diperlukan.
  • Mereka menjadi kreatif.
  • Mereka merasa dalam hidup menjadi lebih baik, juga dalam hubungan dengan orang lain

Dengan metode Client Centered akan membuat helpee memberikan pendapat, pengalaman, dan mencari pemecahan sendiri tanpa disadari yang menjadikan dia mandiri. Menimbulkan konsep diri yang congruence dalam diri helpee untuk lebih mengembangkan kepribadiannya. Karena pada dasarnya dalam diri individu sudah ada konsep diri.

Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat). Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

  1. Keterbukaan pada pengalaman

Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatif.

2. Kehidupan Eksistensial

Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan Bebas

Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.

5. Kreativitas

Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri-ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.

 

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.

Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis. Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positif.

ETIKA DALAM KONSELING

Kode etik merupakan seperangkat aturan atau kaidah – kaidah, nilai-nilai yang mengatur segala perilaku (tindakan dan perbuatan serta perkataan) suatu profesi atau organisasi bagi para anggotanya. Kode etik profesi merupakan salah satu aspek standarisasi profesi BK sebagai kesepakatan profesional mengenai rujukan etika perilaku. Pekerjaan bimbingan dan konseling tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang berlaku. Atas dasar nilai yang dianut oleh pembimbing/konselor dan terbimbing/klien, maka kegiatan layanan bimbingan dapat berlangsung dengan arah yang jelas dan atas keputusan-keputusan yang berlandaskan nilai-nilai. Para pembimbing/konselor seyogianya berfikir dan bertindak atas dasar nilai-nilai, etika pribadi dan profesional, dan prosedur yang legal. Dalam hubungan inilah para pembimbing/konselor seharusnya memahami dasar-dasar kode etik bimbingan dan konseling.           Etika konseling berarti suatu aturan yang harus dilakukan oleh seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Ada empat etika yang penting:

  1. Profesional Responsibility. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Responding fully, artinya konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling.

Terminating appropriately. Kita harus bisa melakukan terminasi (menghentikan proses konseling) secara tepat.

Evaluating the relationship. Relasi antara konselor dan klien haruslah relasi yang terapeutik namun tidak menghilangkan yang personal.

Counselor’s responsibility to themselves. Konselor harus dapat membangun kehidupannya sendiri secara sehat sehingga ia sehat secara spiritual, emosional dan fisikal.

2. Confidentiality. Konselor harus menjaga kerahasiaan klien.

Ada beberapa hal yang perlu penjelasan dalam etika ini, yaitu yang dinamakan previleged communication.Artinya konselor secara hukum tidak dapat dipaksa untuk membuka percakapannya dengan klien, namun untuk kasus-kasus yang dibawa ke pengadilan, hal seperti ini bisa bertentangan aturan dari etika itu sendiri. Dengan demikian tidak ada kerahasiaan yang absolute.

3. Conveying Relevant Information to The Person In Counseling. Maksudnya klien berhak mendapatkan informasi mengenai konseling yang akan mereka jalani.

Informasi tersebut adalah:

Counselor qualifications: konselor harus memberikan informasi tentang kualifikasi atau keahlian yang ia miliki.

Counseling consequences : konselor harus memberikan informasi tentang hasil yang dicapai dalam konseling dan efek samping dari konseling

Time involved in counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien berapa lama proses konseling yang akan dijalani oleh klien. Konselor harus bisa memprediksikan setiap kasus membutuhkan berapa kali pertemuan. Misalnya konselor dan  klien bertemu seminggu sekali selama 15 kali, kemudian sebulan sekali, dan setahun sekali.

Alternative to counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien bahwa konseling bukanlah satu-satunya jalan untuk sembuh, ada faktor lain yang berperan dalam penyembuhan, misalnya: motivasi klien, natur dari problem, dll.

4. The Counselor Influence. Konselor mempunyai pengaruh yang besar dalam relasi konseling, sehingga ada beberapa hal yang perlu konselor waspadai yang akan mempengaruhi proses konseling dan mengurangi efektifitas konseling.

Hal-hal tersebut adalah:

  • The counselor needs : kebutuhan-kebutuhan pribadi seorang konselor perlu dikenali dan diwaspadai supaya tidak mengganggu efektifitas konseling.
  • Authority: pengalaman konselor dengan figur otoritas juga perlu diwaspadai karena akan mempengaruhi proses konseling jika kliennya juga figur otoritas.
  • Sexuality: konselor yang mempunyai masalah seksualitas yang belum terselesaikan akan mempengaruhi pemilihan klien, terjadinya bias dalam konseling, dan resistance atau negative transference.
  • The counselor `s moral and religius values: nilai moral dan religius yang dimiliki konselor akan mempengaruhi persepsi konselor terhadap klien yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia pegang.

Konseling merupakan proses bantuan yang sifatnya profesional. Setiap pekerjaan yang sifatnya profesional tentu memiliki seperangkat aturan atau pedoman yang mengatur arah dan gerak dari pekerjaan profesi tersebut. Hal ini sering disebut etika. Konselor sebagai pelaksana dari pekerjaan konseling juga terikat dengan etika. Etika merupakan standard tingkah laku seseorang, atau sekelompok orang yang didasarkan atas nilai-nilai yang disepakati. Ada beberapa aspek dalam membahas etika konseling antara lain:

  • Aspek kesukarelaan
  • Aspek Kerahasiaan
  • Aspek Keputusan Oleh Klien Sendiri
  • Aspek Sosial Budaya

Hubungan konselor dan klien adalah hubungan yang menyembuhkan. Sekalipun profesional, kita tidak boleh menghilangkan relasi personal, misalnya berelasi sebagai teman. Kita harus mengetahui batasnya. Jika relasi kita sebatas personal, kita hanya menjadi pendengar curahan hati. Relasi antara konselor dan klien tidak boleh terlalu personal yang menjadikan klien “over dependent”, atau terjadi relasi yang saling memanfaatkan. Jika demikian, mengingat konselor adalah penanggungjawabnya, ia harus menghentikan proses konseling itu. Konselor sebaiknya berhati-hati juga ketika menyikapi hubungan pribadi dengan klien. Kedekatan yang berlebihan dengan klien sering menjadikan dia sangat bergantung kepada kita. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jarak. Kita harus mengetahui tanda-tanda klien mulai bergantung kepada kita. Jika itu sudah terjadi, kita bisa tidak objektif lagi. Kita akan kesulitan dalam melihat masalah klien dan merefleksikan perasaannya ketika relasi tersebut sudah menjadi terlalu personal. Jadi, relasi yang dibangun di antara konselor dan klien haruslah bersifat terapeutik. Karakteristik Terapis yang Efektif

  • Beritikad baik: prihatin terhadap keadaan orang lain dan bersedia membantunya (termasuk memperhadapkan dia dengan hal-hal yang belum disadarinya).
  • Bersedia dan dapat hadir bersama klien dalam pengalaman hidupnya, entah suka maupun duka
  • Menyadari dan menerima kelebihannya bukan dengan maksud untuk menguasai atau mendominasi orang lain atau mengecilkan orang lain.
  • Menggunakan metode dan gaya berkonseling yang sesuai dengan kepribadiannya sendiri.
  • Bersedia menanggung risiko, rela menjadi contoh, dalam hal ini bagi kliennya. Bersedia disentuh secara emosional dan menyampaikannya kepada klien pada saat itu diperlukan.
  •  Menghargai diri sendiri sehingga mampu berhubungan dengan orang lain. Menggunakan kelebihannya dalam hal berhubungan dengan orang lain.
  • Bersedia menjadi contoh bagi klien dan tidak menuntut klien melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu lakukan. Dituntut kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan mengoreksi diri sendiri.
  • Berani mengambil risiko untuk membuat kekeliruan dan berani mengakuinya pula. Bersedia belajar dari kekeliruan itu tanpa mencela diri sendiri.
  • Berorientasi pada pertumbuhan: tidak menganggap diri telah

Corey (2009) menjelaskan beberapa bahasan penting dalam etika konseling, diantaranya:

  • Etika dalam menggunakan tape recorder dalam proses wawancara. Beberapa konselor kadang tidak menggunakan tape recorder karena befikiran akan menimbulkan ketidakpercayaan dan ketidaknyamanan pada klien. Hasil rekaman wawancara yang dihasikan dapat membantu klien dalam menurunkan sedikit kecemasan yang dialaminya.
  • Adanya kecenderungan pihak tertentu untuk lebih mengutamakan perlindungan hukum terhadap klien dibanding berusaha secara baik untuk membantu mereka melewati krisis. Pada poin ini sebetulnya menegaskan bahwa sebaiknya konselor mengkomunikasikan batasa-batasan proses konseling, sehingga klien dapat memutuskan sejauh mana informasi yang akan diberikan.
  • Proses konseling yang dijalani oleh klien sebaiknya dilakukan karena kemauan klien itu sendiri, tanpa ada unsur perintah ataupun paksaan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh konselor agar klien bersedia bekerjasama dengan baik dalam proses konseling yakni menghadirkan kemungkinan-kemungkinan kepada klien akan sesuatu yang akan dicapai dalam konseling.

sumber : Julianto Simanjuntak, 2007. Perlengkapan Seorang Konselor , Penerbit: Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3): Jakarta Corey, G. 2009. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. PT. Refika Aditama: Bandung.

KONSELING PANCAWASKITA (KOPASTA)

Konselor profesional dituntut mengintegrasikan lima faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu yaitu pancasila, pancadaya ( Takwa, Cipta, Rasa, Karsa, Karya),  lirahid/ lima ranah  kehidupan ( Jasmanah-rohaniah, social-material, Spiritual dunia, akherat, lokal-global/universal), lika lidu/ lima kekuatan di luar individu( gizi, pendidikan, sikap, perlakuan orang lain, budaya dan kondisi insidensial) , dan masidu/lima kondisi yang ada pada diri individu( rasa aman, kompetensi, aspirasi, semangat, pengunaan kesempatan). Pengaruh faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan secara cermat dan dilakukan pembinaan melalui konseling sehingga perkembangan dan kehidupan individu menjadi lebih membahagiakan. Kebahagan ini akan menjelma melalui kehidupan individu yang mandiri.

Ditilik dari isinya konseling merupakan proses membangun pribadi yang mandiri. Sebelum seorang konselor membangun hal itu terlebih dahulu ia perlu membangun pribadinya yang mandiri terlebih dahulu. Konselor yang mandiri itu akan mampu  dari segi tekhnis dan psikologisnya menyelengarakan konseling elektik dengan wawasan pancawaskita. Waskita merupakan sifat yang terpancar dari kiat dan kinerja yang penuh dengan keunggulan semangat disertai dengan :

  1. Kecerdasan , bahwa konseling adalah pekerjaan yang diselenggarakan atas dasar teori dan tekhnologi yang tinggi serta pertimbngan akal yang jernih, matang dan kreatif.
  2. Kekutan, bahwa konselor adalah pribadi yang tanguh baik dalam keluasan dan kedalaman wawasan, pengetahuan serta keerampilanya, maupun dalam kemauan dan ketekunanya melayani klien
  3. Keterarahan, bahwa kegiatan konseling berorientasi kepada keberhasilan klien mengoptimalkan perkembangan dirinya dan mengatasi permasalahanya
  4. Ketelitian bahwa konselor bekerja dengan cermat dan hati0hati serta berdasarkana data dalam memilih dan menerpka teori dan tekhnologi konseling
  5. Kearifbijaksanaan, bahwa konselor dalam menyikapi dan bertindak didasarkan pada peninjauan dan pertimbangan yang matang, kelembutan dan kesantunan terhadap klien dan orang lain pada umumnya sesuai dengan nilai moral dan norma-norma yang berlaku serta kode etik konseling.

Itulah panca waskita , kewaskitaan yang didalamnya terkandung  lima faktor yang akan menjadi andalan bagi keberhasilan konselor.

Sumber:

Prof Prayitno, M.Sc.Ed. 1998. Konseling PancaWaskita : kerangka konseling eklektik. Padang. IKIP padang.

Karakteristik AUM UMUM

Pada dasarnya AUM umum ini berfungsi untuk mengungkapkan masalah-masalah yang bersifat umum yang masing-masing terbentuk kedalam beberapa format yaitu :

  • Format 1 untuk Mahasiswa
  • Format 2 untuk SLTA
  • Format 3 untuk SLTP
  • Format 4 untuk SD
  • Format 5 untuk masyarakat
  1. Komposisi

Dengan memperhatikan ruang lingkup dan kondisi kehidupan siswa maka AUM seri umum memuat berbagai masalah yang mungkin dialami oleh siswa yang meliputi sejumlah item yang memuat berbagai masalah yang mungkin dialami oleh siswa yang semuanya dikelompokan kedalam 10 bidang sebagai berikut :

1). Jasmani dan kesehatan

2). Diri Pribadi

3). Hubungan Sosial

4). Ekonomi dan Keuangan

5). Karir dan Pekerjaan

6). Pendidikan dan Pelajaran

7). Agama, Nilai dan Moral

8). Hubungan muda-mudi

9). Keadaan dan hubungan dalam keluarga

10). Waktu sengang.

2. Kesahihan

Kesahehan AUM umum diperiksa dengan cara mencocokkan jenis-jenis masalah yang dikemukakan oleh siswa tanpa mempergunakan AUM dengan masalah-masalah siswa yang sama yang dinyatakan melalui AUM. Prosedur menuliskan jenis-jenis masalah pada kertas kosong dilakukan sebelum siswa yang bersangkutan mengisi AUM.

3. Keterandalan

Keterandalan AUM UMUM ini diperiksa melalui prosedur “test retest”. Dalam prosedur ini jarak pengadminitrasian pertama dan kedua untuk siswa yang sama diperbandingkan untuk melihat apakah masalah-masalah yang terungkap melalui pengadminitrasian yang pertama tetap muncul pada pengadmintrasian yang kedua.

4. Keefektifan

Keefektifan AUM umum diliat dengan membandingkan kesesuaian jumlah masalah yang dikemukakan siswa dengan cara non-AUM (yaitu dengan menuliskan masalah-masalah yang dialami pada selembar kertas kosong) dengan masalah-masalah yang terungkap melalui AUM umum .

5. Variasi masalah

Masalah-masalah siswa yang terungkap melalui AUM umum ternyata sangat bervariasi. Seluruh item yang berjumlah 225 buah yang tercantum dalam buku AUM umum  semuanya pernah dipilih sebagai masalah siswa. Dari masalah-masalah tersebut ada yang dialami oleh sejumlah besar siswa, adapula yang dialami oleh sejumlah kecil siswa saja.

Contoh AUM umum format SMA  sebagai berikut  (alat-ungkap-masalah-siswa-sma)