ETIKA DALAM KONSELING

Kode etik merupakan seperangkat aturan atau kaidah – kaidah, nilai-nilai yang mengatur segala perilaku (tindakan dan perbuatan serta perkataan) suatu profesi atau organisasi bagi para anggotanya. Kode etik profesi merupakan salah satu aspek standarisasi profesi BK sebagai kesepakatan profesional mengenai rujukan etika perilaku. Pekerjaan bimbingan dan konseling tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang berlaku. Atas dasar nilai yang dianut oleh pembimbing/konselor dan terbimbing/klien, maka kegiatan layanan bimbingan dapat berlangsung dengan arah yang jelas dan atas keputusan-keputusan yang berlandaskan nilai-nilai. Para pembimbing/konselor seyogianya berfikir dan bertindak atas dasar nilai-nilai, etika pribadi dan profesional, dan prosedur yang legal. Dalam hubungan inilah para pembimbing/konselor seharusnya memahami dasar-dasar kode etik bimbingan dan konseling.           Etika konseling berarti suatu aturan yang harus dilakukan oleh seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Ada empat etika yang penting:

  1. Profesional Responsibility. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Responding fully, artinya konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling.

Terminating appropriately. Kita harus bisa melakukan terminasi (menghentikan proses konseling) secara tepat.

Evaluating the relationship. Relasi antara konselor dan klien haruslah relasi yang terapeutik namun tidak menghilangkan yang personal.

Counselor’s responsibility to themselves. Konselor harus dapat membangun kehidupannya sendiri secara sehat sehingga ia sehat secara spiritual, emosional dan fisikal.

2. Confidentiality. Konselor harus menjaga kerahasiaan klien.

Ada beberapa hal yang perlu penjelasan dalam etika ini, yaitu yang dinamakan previleged communication.Artinya konselor secara hukum tidak dapat dipaksa untuk membuka percakapannya dengan klien, namun untuk kasus-kasus yang dibawa ke pengadilan, hal seperti ini bisa bertentangan aturan dari etika itu sendiri. Dengan demikian tidak ada kerahasiaan yang absolute.

3. Conveying Relevant Information to The Person In Counseling. Maksudnya klien berhak mendapatkan informasi mengenai konseling yang akan mereka jalani.

Informasi tersebut adalah:

Counselor qualifications: konselor harus memberikan informasi tentang kualifikasi atau keahlian yang ia miliki.

Counseling consequences : konselor harus memberikan informasi tentang hasil yang dicapai dalam konseling dan efek samping dari konseling

Time involved in counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien berapa lama proses konseling yang akan dijalani oleh klien. Konselor harus bisa memprediksikan setiap kasus membutuhkan berapa kali pertemuan. Misalnya konselor dan  klien bertemu seminggu sekali selama 15 kali, kemudian sebulan sekali, dan setahun sekali.

Alternative to counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien bahwa konseling bukanlah satu-satunya jalan untuk sembuh, ada faktor lain yang berperan dalam penyembuhan, misalnya: motivasi klien, natur dari problem, dll.

4. The Counselor Influence. Konselor mempunyai pengaruh yang besar dalam relasi konseling, sehingga ada beberapa hal yang perlu konselor waspadai yang akan mempengaruhi proses konseling dan mengurangi efektifitas konseling.

Hal-hal tersebut adalah:

  • The counselor needs : kebutuhan-kebutuhan pribadi seorang konselor perlu dikenali dan diwaspadai supaya tidak mengganggu efektifitas konseling.
  • Authority: pengalaman konselor dengan figur otoritas juga perlu diwaspadai karena akan mempengaruhi proses konseling jika kliennya juga figur otoritas.
  • Sexuality: konselor yang mempunyai masalah seksualitas yang belum terselesaikan akan mempengaruhi pemilihan klien, terjadinya bias dalam konseling, dan resistance atau negative transference.
  • The counselor `s moral and religius values: nilai moral dan religius yang dimiliki konselor akan mempengaruhi persepsi konselor terhadap klien yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia pegang.

Konseling merupakan proses bantuan yang sifatnya profesional. Setiap pekerjaan yang sifatnya profesional tentu memiliki seperangkat aturan atau pedoman yang mengatur arah dan gerak dari pekerjaan profesi tersebut. Hal ini sering disebut etika. Konselor sebagai pelaksana dari pekerjaan konseling juga terikat dengan etika. Etika merupakan standard tingkah laku seseorang, atau sekelompok orang yang didasarkan atas nilai-nilai yang disepakati. Ada beberapa aspek dalam membahas etika konseling antara lain:

  • Aspek kesukarelaan
  • Aspek Kerahasiaan
  • Aspek Keputusan Oleh Klien Sendiri
  • Aspek Sosial Budaya

Hubungan konselor dan klien adalah hubungan yang menyembuhkan. Sekalipun profesional, kita tidak boleh menghilangkan relasi personal, misalnya berelasi sebagai teman. Kita harus mengetahui batasnya. Jika relasi kita sebatas personal, kita hanya menjadi pendengar curahan hati. Relasi antara konselor dan klien tidak boleh terlalu personal yang menjadikan klien “over dependent”, atau terjadi relasi yang saling memanfaatkan. Jika demikian, mengingat konselor adalah penanggungjawabnya, ia harus menghentikan proses konseling itu. Konselor sebaiknya berhati-hati juga ketika menyikapi hubungan pribadi dengan klien. Kedekatan yang berlebihan dengan klien sering menjadikan dia sangat bergantung kepada kita. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jarak. Kita harus mengetahui tanda-tanda klien mulai bergantung kepada kita. Jika itu sudah terjadi, kita bisa tidak objektif lagi. Kita akan kesulitan dalam melihat masalah klien dan merefleksikan perasaannya ketika relasi tersebut sudah menjadi terlalu personal. Jadi, relasi yang dibangun di antara konselor dan klien haruslah bersifat terapeutik. Karakteristik Terapis yang Efektif

  • Beritikad baik: prihatin terhadap keadaan orang lain dan bersedia membantunya (termasuk memperhadapkan dia dengan hal-hal yang belum disadarinya).
  • Bersedia dan dapat hadir bersama klien dalam pengalaman hidupnya, entah suka maupun duka
  • Menyadari dan menerima kelebihannya bukan dengan maksud untuk menguasai atau mendominasi orang lain atau mengecilkan orang lain.
  • Menggunakan metode dan gaya berkonseling yang sesuai dengan kepribadiannya sendiri.
  • Bersedia menanggung risiko, rela menjadi contoh, dalam hal ini bagi kliennya. Bersedia disentuh secara emosional dan menyampaikannya kepada klien pada saat itu diperlukan.
  •  Menghargai diri sendiri sehingga mampu berhubungan dengan orang lain. Menggunakan kelebihannya dalam hal berhubungan dengan orang lain.
  • Bersedia menjadi contoh bagi klien dan tidak menuntut klien melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu lakukan. Dituntut kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan mengoreksi diri sendiri.
  • Berani mengambil risiko untuk membuat kekeliruan dan berani mengakuinya pula. Bersedia belajar dari kekeliruan itu tanpa mencela diri sendiri.
  • Berorientasi pada pertumbuhan: tidak menganggap diri telah

Corey (2009) menjelaskan beberapa bahasan penting dalam etika konseling, diantaranya:

  • Etika dalam menggunakan tape recorder dalam proses wawancara. Beberapa konselor kadang tidak menggunakan tape recorder karena befikiran akan menimbulkan ketidakpercayaan dan ketidaknyamanan pada klien. Hasil rekaman wawancara yang dihasikan dapat membantu klien dalam menurunkan sedikit kecemasan yang dialaminya.
  • Adanya kecenderungan pihak tertentu untuk lebih mengutamakan perlindungan hukum terhadap klien dibanding berusaha secara baik untuk membantu mereka melewati krisis. Pada poin ini sebetulnya menegaskan bahwa sebaiknya konselor mengkomunikasikan batasa-batasan proses konseling, sehingga klien dapat memutuskan sejauh mana informasi yang akan diberikan.
  • Proses konseling yang dijalani oleh klien sebaiknya dilakukan karena kemauan klien itu sendiri, tanpa ada unsur perintah ataupun paksaan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh konselor agar klien bersedia bekerjasama dengan baik dalam proses konseling yakni menghadirkan kemungkinan-kemungkinan kepada klien akan sesuatu yang akan dicapai dalam konseling.

sumber : Julianto Simanjuntak, 2007. Perlengkapan Seorang Konselor , Penerbit: Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3): Jakarta Corey, G. 2009. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. PT. Refika Aditama: Bandung.

KONSELING PANCAWASKITA (KOPASTA)

Konselor profesional dituntut mengintegrasikan lima faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu yaitu pancasila, pancadaya ( Takwa, Cipta, Rasa, Karsa, Karya),  lirahid/ lima ranah  kehidupan ( Jasmanah-rohaniah, social-material, Spiritual dunia, akherat, lokal-global/universal), lika lidu/ lima kekuatan di luar individu( gizi, pendidikan, sikap, perlakuan orang lain, budaya dan kondisi insidensial) , dan masidu/lima kondisi yang ada pada diri individu( rasa aman, kompetensi, aspirasi, semangat, pengunaan kesempatan). Pengaruh faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan secara cermat dan dilakukan pembinaan melalui konseling sehingga perkembangan dan kehidupan individu menjadi lebih membahagiakan. Kebahagan ini akan menjelma melalui kehidupan individu yang mandiri.

Ditilik dari isinya konseling merupakan proses membangun pribadi yang mandiri. Sebelum seorang konselor membangun hal itu terlebih dahulu ia perlu membangun pribadinya yang mandiri terlebih dahulu. Konselor yang mandiri itu akan mampu  dari segi tekhnis dan psikologisnya menyelengarakan konseling elektik dengan wawasan pancawaskita. Waskita merupakan sifat yang terpancar dari kiat dan kinerja yang penuh dengan keunggulan semangat disertai dengan :

  1. Kecerdasan , bahwa konseling adalah pekerjaan yang diselenggarakan atas dasar teori dan tekhnologi yang tinggi serta pertimbngan akal yang jernih, matang dan kreatif.
  2. Kekutan, bahwa konselor adalah pribadi yang tanguh baik dalam keluasan dan kedalaman wawasan, pengetahuan serta keerampilanya, maupun dalam kemauan dan ketekunanya melayani klien
  3. Keterarahan, bahwa kegiatan konseling berorientasi kepada keberhasilan klien mengoptimalkan perkembangan dirinya dan mengatasi permasalahanya
  4. Ketelitian bahwa konselor bekerja dengan cermat dan hati0hati serta berdasarkana data dalam memilih dan menerpka teori dan tekhnologi konseling
  5. Kearifbijaksanaan, bahwa konselor dalam menyikapi dan bertindak didasarkan pada peninjauan dan pertimbangan yang matang, kelembutan dan kesantunan terhadap klien dan orang lain pada umumnya sesuai dengan nilai moral dan norma-norma yang berlaku serta kode etik konseling.

Itulah panca waskita , kewaskitaan yang didalamnya terkandung  lima faktor yang akan menjadi andalan bagi keberhasilan konselor.

Sumber:

Prof Prayitno, M.Sc.Ed. 1998. Konseling PancaWaskita : kerangka konseling eklektik. Padang. IKIP padang.

Karakteristik AUM UMUM

Pada dasarnya AUM umum ini berfungsi untuk mengungkapkan masalah-masalah yang bersifat umum yang masing-masing terbentuk kedalam beberapa format yaitu :

  • Format 1 untuk Mahasiswa
  • Format 2 untuk SLTA
  • Format 3 untuk SLTP
  • Format 4 untuk SD
  • Format 5 untuk masyarakat
  1. Komposisi

Dengan memperhatikan ruang lingkup dan kondisi kehidupan siswa maka AUM seri umum memuat berbagai masalah yang mungkin dialami oleh siswa yang meliputi sejumlah item yang memuat berbagai masalah yang mungkin dialami oleh siswa yang semuanya dikelompokan kedalam 10 bidang sebagai berikut :

1). Jasmani dan kesehatan

2). Diri Pribadi

3). Hubungan Sosial

4). Ekonomi dan Keuangan

5). Karir dan Pekerjaan

6). Pendidikan dan Pelajaran

7). Agama, Nilai dan Moral

8). Hubungan muda-mudi

9). Keadaan dan hubungan dalam keluarga

10). Waktu sengang.

2. Kesahihan

Kesahehan AUM umum diperiksa dengan cara mencocokkan jenis-jenis masalah yang dikemukakan oleh siswa tanpa mempergunakan AUM dengan masalah-masalah siswa yang sama yang dinyatakan melalui AUM. Prosedur menuliskan jenis-jenis masalah pada kertas kosong dilakukan sebelum siswa yang bersangkutan mengisi AUM.

3. Keterandalan

Keterandalan AUM UMUM ini diperiksa melalui prosedur “test retest”. Dalam prosedur ini jarak pengadminitrasian pertama dan kedua untuk siswa yang sama diperbandingkan untuk melihat apakah masalah-masalah yang terungkap melalui pengadminitrasian yang pertama tetap muncul pada pengadmintrasian yang kedua.

4. Keefektifan

Keefektifan AUM umum diliat dengan membandingkan kesesuaian jumlah masalah yang dikemukakan siswa dengan cara non-AUM (yaitu dengan menuliskan masalah-masalah yang dialami pada selembar kertas kosong) dengan masalah-masalah yang terungkap melalui AUM umum .

5. Variasi masalah

Masalah-masalah siswa yang terungkap melalui AUM umum ternyata sangat bervariasi. Seluruh item yang berjumlah 225 buah yang tercantum dalam buku AUM umum  semuanya pernah dipilih sebagai masalah siswa. Dari masalah-masalah tersebut ada yang dialami oleh sejumlah besar siswa, adapula yang dialami oleh sejumlah kecil siswa saja.

Contoh AUM umum format SMA  sebagai berikut  (alat-ungkap-masalah-siswa-sma)

Kode Etik Profesi konselor Indonesia

PENDAHULUAN

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) adalah suatu organisasi profesi yang beranggotakan guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan kualifikasi pendidikan akademik strata satu (S-1) dari Program Studi Bimbingan dan Konseling dan Program Pendidikan Konselor (PPK). Kualifikasi yang dimiliki konselor adalah kemampuan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling dalam ranah layanan pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir bagi seluruh konseli.

Konselor profesional memberikan layanan berupa pendampingan (advokasi) pengkoordinasian, mengkolaborasi dan memberikan layanan konsultasi yang dapat menciptakan peluang yang setara dalam meraih kesempatan dan kesuksesan bagi konseli berdasarkan prinsip-prinsip pokok profesionalitas

Untuk lebih lengkapnya Syamsu Yusuf- KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA

POLA 17 PLUS LENGKAP

Karena sering terjadi kesalahan mengenai jumlah dan bentuk pola 17 plus yang ada saat ini sudah berjumlah 28 hal, maka kami mencoba menampilkannya dan mohon konfirmasinya jika ternyata jumlah pola ini ada kekeliruan…

Pengertian

Tujuan

Fungsi  

Prinsip

Asas

Bidang Pelayanan

1.          Bidang Pengembangan Pribadi

2.          Bidang Pengembangan Sosial

3.          Bidang Pengembangan Kegiatan Belajar

4.          Bidang Pengembangan Karir

5.          Bidang Pelayanan Kehidupan Keluarga

6.          Bidang Pelayanan Kehidupan Bekerja

7.          Bidang Pelayanan Kehidupan Kewarganegaraan

8.          Bidang Pelayanan Kehidupan Beragama

Jenis Layanan

  1. Layanan Orientasi
  2. Layanan Informasi’
  3. Layanan Penempatan/Penyaluran
  4. Layanan Penguasaan Konten
  5. Layanan Konseling Perorangan
  6. Layanan Bimbingan Kelompok
  7. Layanan Konsleing Kelompok
  8. Layanan Konsultasi
  9. Layanan Mediasi


Kegiatan Pendukung

  1. Instrumentasi
  2. Himpunan Data
  3. Konferensi Kasus
  4. Kunjungan Rumah
  5. Tampilan Kepustakaan
  6.  Alih Tangan Kasus

Konseling Kelompok

  1. Pengertian Konseling Kelompok

Menurut Shertzer dan Stone (dalam W.S. Winkel & M.M. Sri Hastuti, 2007 : 590) konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.

Menurut Rochman Natawidjaja (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 32) yang mengemukakan bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya.

2. Tujuan Konseling Kelompok

Menurut Gerald Corey (dalam W.S. Winkel & M.M Sri Hastuti, 2007 : 592) tujuan secara umum dari konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.
  2. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain, sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk fase perkembangan mereka.
  3. Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontak antar pribadi  di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkunagn kelompoknya.
  4. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain.
  5. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif.

Menurut Hansen dkk (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan kari.

3. Proses Konseling Kelompok

Gerald Corey (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 85) mendefinisikan proses konseling kelompok sebagai tahap-tahap perkembangan suatu kelompok dan karakteristik setiap tahap.

Terdapat keragaman dalam mengklasifikasikan dan menamai tahapan-tahapan dalam proses konseling kelompok oleh beberapa para ahli yaitu antara lain:

Menurut Gerald Corey ada 4 tahapan dalam proses konseling kelompok yaitu

  1. Tahap orientasi
  2. Tahap transisi
  3. Tahap kerja
  4. Tahap konsolidasi

Menurut Jacobs, Harvill & Masson mengelompokkan tahapan proses konseling kelompok menjadi 3 tahap yaitu :

  1. Tahap permulaan
  2. Tahap pertengahan atau tahap kerja
  3. Tahap pengakhiran atau tahap penutupan

Menurut Gibson & Mitchell mengklasifikasikan proses konseling kelompok kedalam 5 tahap yaitu :

  1. Tahap pembentukan kelompok
  2. Tahap identifikasi
  3. Tahap produktivitas
  4. Tahap realisasi
  5. Tahap terminasi

Meskipun para ahli berbeda dalam mengklasifikasikan tahapan proses konseling kelompok, penjelasan mereka tentang tahap-tahap tersebut menunjukkan adanya kesamaan, yaitu menggambarkan kemajuan dinamika proses kelompok yang dialami oleh kelompok konseling, yaitu mulai dari suasana yang umumnya penuh kekakuan, kebekuan, keraguan, dalam interaksi menuju ke kerjasama dan saling  berbagi pengalaman sampai pada akhirnya sama-sama berupaya mengembangkan perilaku baru yang lebih tepat berkenaan dengan persoalan masing-masing.

4. Etika dalam Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 341) etika dalam konseling kelompok adalah etika yang disetujui yang konsisten dengan komitmen etika dalam arti yang lebih luas (politik, moral dan agama) yang kita anggap masuk akal dan yang bisa diterapkan oleh klien maupun pihak pemberi bimbingan. Etika tidak bersifat absolut. Etika bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Jika tidak demikian etika-etika bisa menjadi penghambat dan bukan lagi sebagai suatu penuntun untuk pengembangan kerja dan pengembangan diri. Karena ada beberapa etika yang bersifat universal (tidak berubah) dalam bidang hubungan antar manusia. kode etik untuk bidang tersebut diterima sepanjang waktu

.5. Kekuatan dan Keterbatasan Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 :41) ada beberapa kekuatan konseling kelompok yaitu antara lain :

  1. Kepraktisan, yaitu dalam waktu yang relative singkat konselor dapat berhadapan dengan sejumlah siswa di dalam kelompok dalam upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pencegahan, pengembangan pribadi dan pengentasan masalah.
  2. Dalam konseling kelompok anggota akan belajar untuk berlatih tentang prilaku yang baru.
  3. Dalam konseling kelompok terdapat kesempatan luas untuk berkomunikasi dengan teman-teman mengenai segala kebutuhan yang terfokus pada pengembangan pribadi, pencegahan, dan pengentasan masalah yang dialami oleh setiap anggota.
  4. Konseling kelompok member kesempatan para anggota untuk mempelajari keterampilan sosial.
  5. Anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling memberi bantuan, menerima bantuan dan berempati dengan tulus didalam konseling kelompok.
  6.  Motivasi manusia muncul dari hubungan kelompok kecil. Manusia membutuhkan penerimaan, pengakuan, dan afiliasi, apabila unsur-unsur tersebut terpenuhi semua, maka perilaku, sikap, pendapat dan apa yang disebut cirri-ciri pribadi sebagai ciri unik individu yang berakar dari pola afiliasi kelompok yang menentukan konteks sosial seseorang hidup dan berfungsi dapat mewujudkan melalui intervensi konseling kelompok.
  7. Melalui konseling kelompok, individu-individu mencapai tujuannya dan berhubungan dengan individu-individu lain dengan cara yang produktif dan inovatif.

 

Selain memiliki kekuatan, konseling kelompok juga memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut :

  1. Tidak semua siswa cocok berada dalam kelompok, beberapa diantaranya membutuhkan perhatian dan intervensi individual.
  2. Tidak semua siswa siap atau bersedia untuk bersikap terbuka dan jujur mengemukakan isi hatinya terhadap teman-temannya di dalam kelompok, lebih-lebih yang akan dikatakan terasa memalukan bagi dirinya.
  3. Persoalan pribadi satu-dua anggota kelompok makin kurang mendapat perhatian dan tanggapan bagaimana mestinya, karena perhatian kelompok terfokus pada persoalan pribadi anggota yang lain, sebagai akibatnya siswa tidak akan merasa puas.
  4. Sering siswa mengharapkan terlalu banyak bantuan dari kelompok, sehingga tidak berusaha untuk berubah.
  5. Sering kelompok bukan dijadikan sarana untuk berlatih melakukan perubahan, tapi justru dipakai sebagai tujuan.

sumber :

Gerald Coray. 2009. Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Munggin Eddy Wibowo. 2002. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UPT UNNES.

W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2007. Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: PT. Grasindo.

 

 

 

 

LANDASAN PELAYANAN KONSELING

  1. Landasan religius. Sebagaimana telah diungkapkan di atas, segenap komponen dan unsur-unsur HMM sepenuhnya berdasarkan kaidah-kaidah keagamaan. Dalam kaitan ini segenap aspek pelayanan konseling secara kental mengacu kepada terwujudnya HMM yang seluruhnya bersesuain dengan kaidah-kaidah agama.
  2. Landasan psikologis. Berbicara tentang kondisi dan karakteristik individu, perkembangan, permasalahan, kemandirian, KES dan KES-T dengan berbagai kontekstualnya, semuanya itu terkait dengan kaidah-kaidah psikologi. Hal ini berarti bahwa konselor dipersyaratkan memahami dan menerapkan berbagai kaidah psikologi, meskipun ia tidak perlu menjadi psikolog, karena keduanya (konsleor dan psikolog) berada pada bidang profesi yang berbeda. Konselor bukan psikolog, dan psikolog bukan konselor.
  3.  Landasan pedagogis. Sudah amat jelas bahwa konselor adalah pendidik. Oleh karenanya segenap kaidah pokok pendidikan harus dikuasai dan terapkan oleh konselor dalam pelayanan konseling.
  4. Landasan sosio-kultural. Adalah kenyataan bahwa individu, dalam hal ini subjek yang dilayani merupakan bagian integral dari lingkungannya, terutama lingkungan sosio-kultural. Oleh karenanya, pelayanan terhadap subjek dalam konseling haruslah secara cermat memperhitungkan aspek-aspek sosio-kultural yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi kehidupannya. KES dan KES-T subjek yang dilayani terkait secara kental dengan lingkungan sosio-kulturalnya itu.
  5. Landasa keilmuan – teknologis. Pelayanan konseling bukanlah pelayanan seadanya; bukan pula pelayanan yang bisa dilaksanakan oleh siapa saja; melainkan pelayanan profesional dengan ciri-ciri keilmuan dan teknologis sebagaimana diuraikan terdahulu. Dasar kelimuan dan teknologi terwujud dalam kompetensi konselor sebagai pelaksana pelayanan profesional  konseling.

Tidak diragukan lagi, kelima landasan tersebut di atas juga terpadu menjadi satu. Dipilah oke, dipisah tidak mungkin. Dalam hal ini, konselor harus menguasai semua landasan itu untuk suksesnya pelayanan profesional yang menjadi tugas dan kewajibannya.

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP