Arsip Kategori: Dasar-dasar BK

Kode Etik Profesi konselor Indonesia

PENDAHULUAN

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) adalah suatu organisasi profesi yang beranggotakan guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan kualifikasi pendidikan akademik strata satu (S-1) dari Program Studi Bimbingan dan Konseling dan Program Pendidikan Konselor (PPK). Kualifikasi yang dimiliki konselor adalah kemampuan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling dalam ranah layanan pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir bagi seluruh konseli.

Konselor profesional memberikan layanan berupa pendampingan (advokasi) pengkoordinasian, mengkolaborasi dan memberikan layanan konsultasi yang dapat menciptakan peluang yang setara dalam meraih kesempatan dan kesuksesan bagi konseli berdasarkan prinsip-prinsip pokok profesionalitas

Untuk lebih lengkapnya Syamsu Yusuf- KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA

POLA 17 PLUS LENGKAP

Karena sering terjadi kesalahan mengenai jumlah dan bentuk pola 17 plus yang ada saat ini sudah berjumlah 28 hal, maka kami mencoba menampilkannya dan mohon konfirmasinya jika ternyata jumlah pola ini ada kekeliruan…

Pengertian

Tujuan

Fungsi  

Prinsip

Asas

Bidang Pelayanan

1.          Bidang Pengembangan Pribadi

2.          Bidang Pengembangan Sosial

3.          Bidang Pengembangan Kegiatan Belajar

4.          Bidang Pengembangan Karir

5.          Bidang Pelayanan Kehidupan Keluarga

6.          Bidang Pelayanan Kehidupan Bekerja

7.          Bidang Pelayanan Kehidupan Kewarganegaraan

8.          Bidang Pelayanan Kehidupan Beragama

Jenis Layanan

  1. Layanan Orientasi
  2. Layanan Informasi’
  3. Layanan Penempatan/Penyaluran
  4. Layanan Penguasaan Konten
  5. Layanan Konseling Perorangan
  6. Layanan Bimbingan Kelompok
  7. Layanan Konsleing Kelompok
  8. Layanan Konsultasi
  9. Layanan Mediasi


Kegiatan Pendukung

  1. Instrumentasi
  2. Himpunan Data
  3. Konferensi Kasus
  4. Kunjungan Rumah
  5. Tampilan Kepustakaan
  6.  Alih Tangan Kasus

Konseling Kelompok

  1. Pengertian Konseling Kelompok

Menurut Shertzer dan Stone (dalam W.S. Winkel & M.M. Sri Hastuti, 2007 : 590) konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.

Menurut Rochman Natawidjaja (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 32) yang mengemukakan bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya.

2. Tujuan Konseling Kelompok

Menurut Gerald Corey (dalam W.S. Winkel & M.M Sri Hastuti, 2007 : 592) tujuan secara umum dari konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.
  2. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain, sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk fase perkembangan mereka.
  3. Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontak antar pribadi  di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkunagn kelompoknya.
  4. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain.
  5. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif.

Menurut Hansen dkk (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  2. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan karir.
  3. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar dan kari.

3. Proses Konseling Kelompok

Gerald Corey (dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005 : 85) mendefinisikan proses konseling kelompok sebagai tahap-tahap perkembangan suatu kelompok dan karakteristik setiap tahap.

Terdapat keragaman dalam mengklasifikasikan dan menamai tahapan-tahapan dalam proses konseling kelompok oleh beberapa para ahli yaitu antara lain:

Menurut Gerald Corey ada 4 tahapan dalam proses konseling kelompok yaitu

  1. Tahap orientasi
  2. Tahap transisi
  3. Tahap kerja
  4. Tahap konsolidasi

Menurut Jacobs, Harvill & Masson mengelompokkan tahapan proses konseling kelompok menjadi 3 tahap yaitu :

  1. Tahap permulaan
  2. Tahap pertengahan atau tahap kerja
  3. Tahap pengakhiran atau tahap penutupan

Menurut Gibson & Mitchell mengklasifikasikan proses konseling kelompok kedalam 5 tahap yaitu :

  1. Tahap pembentukan kelompok
  2. Tahap identifikasi
  3. Tahap produktivitas
  4. Tahap realisasi
  5. Tahap terminasi

Meskipun para ahli berbeda dalam mengklasifikasikan tahapan proses konseling kelompok, penjelasan mereka tentang tahap-tahap tersebut menunjukkan adanya kesamaan, yaitu menggambarkan kemajuan dinamika proses kelompok yang dialami oleh kelompok konseling, yaitu mulai dari suasana yang umumnya penuh kekakuan, kebekuan, keraguan, dalam interaksi menuju ke kerjasama dan saling  berbagi pengalaman sampai pada akhirnya sama-sama berupaya mengembangkan perilaku baru yang lebih tepat berkenaan dengan persoalan masing-masing.

4. Etika dalam Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 341) etika dalam konseling kelompok adalah etika yang disetujui yang konsisten dengan komitmen etika dalam arti yang lebih luas (politik, moral dan agama) yang kita anggap masuk akal dan yang bisa diterapkan oleh klien maupun pihak pemberi bimbingan. Etika tidak bersifat absolut. Etika bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Jika tidak demikian etika-etika bisa menjadi penghambat dan bukan lagi sebagai suatu penuntun untuk pengembangan kerja dan pengembangan diri. Karena ada beberapa etika yang bersifat universal (tidak berubah) dalam bidang hubungan antar manusia. kode etik untuk bidang tersebut diterima sepanjang waktu

.5. Kekuatan dan Keterbatasan Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 :41) ada beberapa kekuatan konseling kelompok yaitu antara lain :

  1. Kepraktisan, yaitu dalam waktu yang relative singkat konselor dapat berhadapan dengan sejumlah siswa di dalam kelompok dalam upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pencegahan, pengembangan pribadi dan pengentasan masalah.
  2. Dalam konseling kelompok anggota akan belajar untuk berlatih tentang prilaku yang baru.
  3. Dalam konseling kelompok terdapat kesempatan luas untuk berkomunikasi dengan teman-teman mengenai segala kebutuhan yang terfokus pada pengembangan pribadi, pencegahan, dan pengentasan masalah yang dialami oleh setiap anggota.
  4. Konseling kelompok member kesempatan para anggota untuk mempelajari keterampilan sosial.
  5. Anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling memberi bantuan, menerima bantuan dan berempati dengan tulus didalam konseling kelompok.
  6.  Motivasi manusia muncul dari hubungan kelompok kecil. Manusia membutuhkan penerimaan, pengakuan, dan afiliasi, apabila unsur-unsur tersebut terpenuhi semua, maka perilaku, sikap, pendapat dan apa yang disebut cirri-ciri pribadi sebagai ciri unik individu yang berakar dari pola afiliasi kelompok yang menentukan konteks sosial seseorang hidup dan berfungsi dapat mewujudkan melalui intervensi konseling kelompok.
  7. Melalui konseling kelompok, individu-individu mencapai tujuannya dan berhubungan dengan individu-individu lain dengan cara yang produktif dan inovatif.

 

Selain memiliki kekuatan, konseling kelompok juga memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut :

  1. Tidak semua siswa cocok berada dalam kelompok, beberapa diantaranya membutuhkan perhatian dan intervensi individual.
  2. Tidak semua siswa siap atau bersedia untuk bersikap terbuka dan jujur mengemukakan isi hatinya terhadap teman-temannya di dalam kelompok, lebih-lebih yang akan dikatakan terasa memalukan bagi dirinya.
  3. Persoalan pribadi satu-dua anggota kelompok makin kurang mendapat perhatian dan tanggapan bagaimana mestinya, karena perhatian kelompok terfokus pada persoalan pribadi anggota yang lain, sebagai akibatnya siswa tidak akan merasa puas.
  4. Sering siswa mengharapkan terlalu banyak bantuan dari kelompok, sehingga tidak berusaha untuk berubah.
  5. Sering kelompok bukan dijadikan sarana untuk berlatih melakukan perubahan, tapi justru dipakai sebagai tujuan.

sumber :

Gerald Coray. 2009. Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Munggin Eddy Wibowo. 2002. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UPT UNNES.

W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2007. Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: PT. Grasindo.

 

 

 

 

LANDASAN PELAYANAN KONSELING

  1. Landasan religius. Sebagaimana telah diungkapkan di atas, segenap komponen dan unsur-unsur HMM sepenuhnya berdasarkan kaidah-kaidah keagamaan. Dalam kaitan ini segenap aspek pelayanan konseling secara kental mengacu kepada terwujudnya HMM yang seluruhnya bersesuain dengan kaidah-kaidah agama.
  2. Landasan psikologis. Berbicara tentang kondisi dan karakteristik individu, perkembangan, permasalahan, kemandirian, KES dan KES-T dengan berbagai kontekstualnya, semuanya itu terkait dengan kaidah-kaidah psikologi. Hal ini berarti bahwa konselor dipersyaratkan memahami dan menerapkan berbagai kaidah psikologi, meskipun ia tidak perlu menjadi psikolog, karena keduanya (konsleor dan psikolog) berada pada bidang profesi yang berbeda. Konselor bukan psikolog, dan psikolog bukan konselor.
  3.  Landasan pedagogis. Sudah amat jelas bahwa konselor adalah pendidik. Oleh karenanya segenap kaidah pokok pendidikan harus dikuasai dan terapkan oleh konselor dalam pelayanan konseling.
  4. Landasan sosio-kultural. Adalah kenyataan bahwa individu, dalam hal ini subjek yang dilayani merupakan bagian integral dari lingkungannya, terutama lingkungan sosio-kultural. Oleh karenanya, pelayanan terhadap subjek dalam konseling haruslah secara cermat memperhitungkan aspek-aspek sosio-kultural yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi kehidupannya. KES dan KES-T subjek yang dilayani terkait secara kental dengan lingkungan sosio-kulturalnya itu.
  5. Landasa keilmuan – teknologis. Pelayanan konseling bukanlah pelayanan seadanya; bukan pula pelayanan yang bisa dilaksanakan oleh siapa saja; melainkan pelayanan profesional dengan ciri-ciri keilmuan dan teknologis sebagaimana diuraikan terdahulu. Dasar kelimuan dan teknologi terwujud dalam kompetensi konselor sebagai pelaksana pelayanan profesional  konseling.

Tidak diragukan lagi, kelima landasan tersebut di atas juga terpadu menjadi satu. Dipilah oke, dipisah tidak mungkin. Dalam hal ini, konselor harus menguasai semua landasan itu untuk suksesnya pelayanan profesional yang menjadi tugas dan kewajibannya.

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

ASAS PELAYANAN KONSELING

Asas konseling merupakan kondisi yang mewarnai suasana jalannya pelayanan. Apabila asas yang dimaksudkan tidak terwujud akan sangat dikhawatirkan layanan konseling yang terselenggara akan mengalami berbagai kekurangan atau bahkan kesulitan, misalnya kurang terarah, kurang gairah, kurang berhasil, atau bahkan mubazir. Berbagai asas dapat diidentifikasi, di sini hanya dikemukakan lima yang pokok-pokok saja.

1.      Asas kerahasiaan, menekankan pentingnya komitmen konselor untuk menyimpan hal-hal yang menurut subjek yang dilayani sebagai sesuatu rahasia pribadinya. Konselor harus merahasiakan rahasia subjek yang dilayani. Konsleor harus mampu berkomitmen sebagai berikut:

Saya, ……… (nama konselor)

Mampu dan bersedia, menerima, menyimpan, menjaga, memelihara dan merahasiakan semua data dan keterangan dari klien saya atau dari siapapun juga, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan/atau tidak layak diketahui oleh orang lain.

Komitmen konselor tersebut harus diyakini oleh subjek yang dilayani, dengan kata lain, subjek yang dilayani dibuat benar-benar yakin bahwa konselor akan merahasiakan rahasia-rahasia pribadi subjek yang dilayani itu.

2.      Asas kesukarelaan, menekankan pentingnya kemauan subjek yang dilayani untuk mengikuti kegiatan pelayanan. Makin tinggi tingkat kemauan atau motivas untuk memperoleh layanan, makin tinggi pula tingkat keterlibatan subjek dalam layanan konseling. Kondisi yang ideal ialah apabila subjek benar-benar sukarela dengan kemauan sendiri (self-referal). Untuk bisa sukarela seperti itu subjek yang dilayani, selain memahami dengan baik tujuan pelayanan konseling, terlebih lagi meyakini adanya jaminan dari konmselor tentang diberlakukannya asas kerahasiaan.

3.      Asas kegiatan, menekankan pentingnya peran aktif subjek yang dilayani dalam pelaksanaan layanan konseling. Bukan konselor saja yang aktif, namun terlebih lagi subjek yang dilayani. Makin aktif subjek yang dilayani makin ada jaminan layanan itu akan sukses.

4.      Asas kemandirian, menekankan pentingnya arah pengembangan diri subjek yang dilayani, yaitu pribadi yang mandiri dengan kelima ciri yang telah dikemukakan sebelumnya. Lebih konkrit, pribadi yang mandiri itu terwujud dalam KES dan terhindar dari KES-T.

5.      Asas keobjektifan, menekankan pentingnya  kejelasan dan keterjangkauan semua hal yang menjadi materi layanan konsleing. Di samping itu, hal-hal yang objektif itu juga terukur dan dapat dijalani oleh subjek yang dilayani.

Seperti kaidah-kaidah terdahulu, asas-asas konseling juga terpadu menjadi satu. Semuanya adalah demi suksesnya pelayanan untuk sebesar-besarnya memenuhi tuntutan pengembangan diri subjek yang dilayani

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:  Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

 

PRINSIP PELAYANAN KONSELING

Prinsip merupakan kaidah dasar yang perlu selalu diperhatikan dalam penyelenggaraan pelayanan konseling. Apabila orientasi konseling yang dikemukakan di atas memberikan arah perhatian dan fokus dasar tentang ke mana layanan konseling ditujukan, prinsip konseling menekankan pentingnya kaidah-kaidah pokok yang secara langsung dan konkrit mendasari seluruh praktik pelayanan konseling.

1.      Prinsip integrasi pribadi, menekankan pada keutuhan pribadi subjek yang dilayani dari segenap sisi dirinya dan berbagai kontekstualnya. Dari sisi hakikat manusia misalnya, unsur-unsur berikut mendapat penekanan :

  •  Keimanan dan ketakwaan                      ditunaikan
  •  Kesempurnaan penciptaan                  diwujudkan
  •  Ketinggian derajat                                   ditampilkan
  •  Kekhalifahan                                              diselenggarakan
  •  HAM                                                              dipenuhi

Aktualisasi unsur-unsur hakikat manusia itu seluruhnya berada dalam pengembangan pancadaya (daya takwa, cipta, rasa, karsa dan karya) serta dalam bingkai kelima dimensi kemanusiaan (dimensi kefitrahan, keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman). Ketiga orientasi pelayanan konseling (orientasi individual, perkembangan dan permasalahan) sepenuhnya diarahkan bagi terbentuknya pribadi yang terintegrasikan itu melalui ditegakkannya fungsi-fungsi pemahaman, pemeliharaan dan pengembangan, pencegahan, pengentasan, dan advokasi.

2.      Prinsip kemandirian, menekankan pengembangan pribadi mandiri subjek yang dilayani. Kelima ciri kemandirian tersebut pada bab terdahulu menjadi arah pelayanan konseling.

3.      Prinsip sosio-kultural, menekankan pentingnya subjek yang dilayani berintegrasi dengan lingkungan, yaitu lingkungan yang langsung terkait dengan  kehidupannya sehari-hari, serta berbagai kontekstual dalam arti yang seluas-luasnya. Pelayanan konseling mengintegrasikan dan mengharmonisasikan subjek yang dilayani dengan lingkungan sosio-budayanya.

4.      Prinsip pembelajaran, menekankan bahwa layanan konseling adalah proses pembelajaran. Subjek yang dilayani menjalani proses pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar  tertentu yang berguna dalam rangka terkembangnya KES dan  tertanganinya KES-T.

5.      Prinsip efektif/efisien, menekankan bahwa upaya pelayanan yang diselenggarakan oleh konselor harus menghasilkan sesuatu untuk pengembangan KES dan penanganan KES-T subjek yang dilayani. Pelayanan konseling terarah pada keberhasilan yang optimal. Termasuk ke dalam upaya optimalisasi pelayanan konseling adalah kerjasama dengan pihak-pihak lain sehingga berbagai sumber daya dapat dikerahkan untuk kepentingan subjek yang dilayani.

Kelima prinsip di atas terpadu menjadi satu, tidak diterapkan secara terpisah, meskipun kelimanya bisa dipilah

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:  Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

FUNGSI PELAYANAN KONSELING

  1. Pemahaman, yaitu fungsi layanan konseling agar subjek yang dilayani (dan pihak-pihak terkait) memahami kondisi dirinya sendiri dan lingkungannya serta berbagai kontekstualnya. Fungsi ini secara langsung mendasari teraktualisasikannya fungsi:
  2. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi layanan konseling untuk memelihara dan mengembangkan kondisi positif (dalam kaitannya dengan pancadaya) yang ada pada diri subjek yang dilayani dan mengarahkannya kepada kehidupan perilaku KES. Dengan dipahami, dipelihara dan dikembangkannya kondisi positif pada diri subjek yang dilayani sehingga menjadi KES, akan dapat diwujudkan fungsi:
  3.  Pencegahan, yaitu fungsi layanan konseling untuk mencegah timbul/berkembangnya kondisi negatif pada diri subjek yang dilayani (yang mengakibatkan KES-T). Apabila kondisi negatif KES-T sudah telebih dahulu dialami dan/atau dirasakan dapat terjadi pada diri subjek yang dilayani, perlu diupayakan tegaknya fungsi:
  4. Pengentasan, yaitu fungsi pelayanan konseling untuk mengatasi kondisi negatif/KES-T pada diri subjek yang dilayani sehingga menjadi positif/KES (kembali). Fungsi pencegahan dapat secara khusus terfokus pada fungsi:
  5.  Advokasi, yaitu  fungsi layanan konseling untuk menegakkan kembali hak (hak-hak) subjek yang dilayani yang  terabaikan dan/atau dilangar/dirugikan pihak lain.

Kelima fungsi konseling di atas hampir selalu tidak pernah berjalan sendiri-sendiri, melainkan dalam kombinasi yang satu dengan lainnya. Dalam hal itu, fungsi pertama, yaitu fungsi pemahaman menjadi pengawal terwujudnya fungsi-fungsi lainnya.

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:   Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

ORIENTASI PELAYANAN KONSELING

Yang dimaksud dengan orientasi di sini adalah arah perhatian dan fokus dasar yang setiap kali harus menjadi pokok perhatian dalam pelaksanaan pelayanan konseling. Ada tiga orientasi yang menjadi perhatian utama, yaitu:

1.      Orientasi individual, artinya setiap layanan konseling terutama tertuju kepada subjek yang dilayani sebagai individu. Perorangan subjek yang dilayani dengan segenap keindividualannya itulah titik tuju layanan. Dalam layanan melalui format kelompok dan klasikal pun, arah kepada perorangan itu menjadi fokus. Lebih lanjut, hasil layanan juga terfokus kepada perolehan masing-masing perorangan subjek yang dilayani.

2.      Orientasi perkembangan, artinya setiap layanan konseling memperhatikan karakteristik subjek yang dilayani dari sisi tahap perkembangannya. Anak-anak usia dini misalnya tidak boleh disamaratakan dengan anak usia SD, anak usia SD dengan SMP, demikian seterusnya untuk segenap tahap perkembangan. Untuk itu perlu dipahami bahwa setiap  tahap perkembangan memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu meskipun dua orang subjek berada pada tahap perkembangan yang sama, aspek keindividualan (individual differences) tetap harus diperhatikan. Dengan demikian orientasi perkembangan dan orientasi individual dipadukan menjadi satu.

3.      Orientasi permasalahan, artinya setiap layanan konseling terfokus pada permasalahan yang sedang dialami dan/atau yang mungkin (dapat) dialami oleh subjek yang dilayani. Hal ini secara langsung terkait dengan konsep KES dan KES-T. Pelayanan konseling tidak lain adalah mengembangan KES dan mencegah terjadinya KES-T, serta menangani KES-T apabila permasalahan memang sedang dialami oleh subjek. Terkait dengan orientasi terdahulu, maka ketiga orientasi, yaitu orientasi individual, perkembangan dan permasalahan dipadukan menjadi satu.

sumber :

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.

Jakarta:Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP