Dasar Teori Assertive Training

Kajian dari berbagai literatur konseling dan psikoterapi, program assertive training (AT) ditempatkan sebagai salah satu teknik atau strategi bantuan dari pendekatan terapi perilaku (behavior therapy). Behavior therapy menjelaskan bahwa terapi ini merupakan suatu pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan metode eksperimental pada proses bantuan. Walaupun demikian AT bukanlah sebuah terapi, khususnya bukan psikoterapi wawasan. Fokus AT adalah pada pembelajaran teknik, bukan pada penjelasan tentang bagaimana, atau mengapa orang berperilaku (Rees, 1991: 8).
Assertive Training merupakan pendekatan behavioral yang cepat mencapai popularitas. Assertive Training ini bisa diterapkan pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar (Corey, 2007: 213). Asumsi dasar yang melandasi latihan asertif adalah setiap orang mempunyai hak (tetapi bukan kewajiban) untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat yang diyakini, serta sikap. Salah satu sasaran dari latihan ini adalah untuk meningkatkan keteramprilan behavioral, sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak (Corey, 2007: 429).
Sebagai suatu strategi terapi, AT digunakan atau direkomendasikan untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan kecemasan dan meningkatkan kemampuan (kompetensi) interpersonal individu. Teknik ini dapat digunakan untuk kelompok maupun individu dan teknik ini bertujuan bukan hanya pada memungkinkan orang untuk merasa tegas menyampaikan tentang pendapatnya terhadap patner bicarany, tetapi juga untuk mengungkapkan perasaanya tanpa agresif (Degleris: 2008).

Mousa dkk, (2011: 7) menjelaskan bahwa tujuan dari teknik AT adalah untuk mengajarkan kepada konseli agar bertindak atau berbuat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dengan tetap menghormati hak dan kepentingan orang lain.
Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan. AT direkomendasikan untuk individu yang mengalami kecemasan interpersonal, tidak mampu menolak tindakan orang lain, dan memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.
Teori AT didasarkan pada suatu asumsi bahwa banyak manusia menderita karena perasaan cemas, depresi, dan reaksi-reaksi ketidakbahagiaan, karena tidak mampu untuk mempertahankan atau membela hak atau kepentingan pribadinya, Bruno (Nursalim, 2005). Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan.

keterampilan mendengarakan (listening)

A. Pengertian Mendengarkan (Listening)
Mendengarkan (Listening) adalah keterampilan performansi. Anda dapat melakukannya dengan baik jika Anda berusaha untuk berbicara banyak. Siswa dalam kelas bahasa asing terkadang mengalami kesulitan mendengarkan dan berbicara karena mereka takut membuat kesalahan. Tidak apa-apa berbuat salah. Santai saja dalam berbicara. Mendengarkan adalah proses yang terjadi setelah ada rangsangan suara menyentuh lapisan pendengaran di otak ( Rost, 2007:7-8 ).
Keterampilan mendengarkan adalah kemampuan pembimbing atau konselor menyimak atau memperhatikan penuturan klien selama proses konseling berlangsung. Pembimbing atau konselor harus bisa jadi pendengar yang baik selama sesi konseling berlangsung. Tanpa keterampilan ini, pembimbing atau konselor tidak akan dapat menangkap pesan pembicaraan.

B. Keterampilan Inti Konseling
Keterampilan inti dalam konseling adalah dengan mendengar aktif (listening). Konseling adalah mendengar aktif agar klien memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri, dapat mengatasi lingkungan hidup agar lebih konsultif.Untuk memperoleh atau menjadi pendengar aktif diantaranya membiasakan diri dengan hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal adalah melibatkan dua orang dalam komunikasi yang intim, bertujuan memberikan penguatan-penguatan pada orang yang diajak bicara. Untuk menjadi dan membina hubungan interpersonal dengan baik, ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu:
a. Sering bergaul dengan orang
b. Memahami berbagai cara bagaimana membuka diri untuk berbicara dan membuka diri pada orang lain.
c. Berbagi perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran dengan orang lain.

Mendengarkan Aktif Melibatkan 4 aspek:
Mengapa mendengarkan dengan aktif itu sangat penting dalam konseling? Karena konseling menggunakan kemampuan mendengarkan, maka bukanlah mendengarkan yang biasa yang diperlukan untuk dapat memahami klien atau orang yang akan meminta bantuan kita untuk mendapatkan konseling. Men-dengarkan aktif meliputi empat intensi (niat) yang ada dalam diri orang yang mendengarkan:
a) Mengerti Seseorang: pendengar yang baik akan mendapatkan kesan (impresi) sebagai tahap awal pemahaman tentang orang yang diajak bicara. Semakin sungguh-sunggu kita mendengarkan semakin banyak hala yang kita mengerti tentang orang tersebut.
b) Menikmati Percakapan: keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan jadi menyenang-kan untuk dinikmati, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.
c) Belajar Sesuatu: ternyata, tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, sebagai konselorpun anda dapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien anda.
d) Memberikan Bantuan: ketika seseorang mendengar-kan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat membantu orang yang didengar. Bantuan ini bisa berupa dukungan dan tentunya yang penting adalah kesediaan anda untuk mendengarkannya.

C. Tahapan Listening
Dalam proses pembelajarannya, mendengarkan memiliki 3 prosedur, seperti yang disampaikan oleh Underwood (1989:30-45) :
1. Pre Listening Stage (tahap sebelum proses mendengarkan)
Pada tahap ini peserta didik melakukan beberapa aktifitas sebelum mendengarkan. Misalnya, membaca soal yang diberikan.
2. While Listening Stage (tahap selama mendengarkan)
Tahapan dimana peserta didik diminta untuk melakukan aktifitas-ktifitas selama mereka menengarkan. Tujuannya adalah membantu peserta didik meningkatkan kemampuan untuk memperoleh pesan dari bahasa lisan. Contoh: mencocokakan gambar, pilihan ganda, betul atau salah dan mendikte.
3. Post Listening Stage (tahap setelah proses mendengarkan)
Aktifitas yang berkaitan dengan kertas soal yang dikerjakan setelah mendengarkan. Disini peserta didik mempunyai waktu untuk berfikir, diskusi dan menulis jawaban.

Dari penjelasan tersebut, kita tahu bahwa proses mendengarkan terjadi secara psikologis setelah rangsangan suara menyentuh lapisan di otak yang berhubungan dengan pendengaran. Proses mendengarkan seperti yang telah dijelaskan oleh Rivers dan Temperley yang dijelaskan oleh Nicolas (1988:19) adalah melalui beberapa tahap:
1. Setelah seseorang mendengar suara atau getaran suara, reaksi pertamanya adalah menentukan apakah suara tersebut terorganisasi atau suara acak sederhana. Oleh karena itu, sebelum dia mencoba untuk memahami suara tersebut atau gagal memahaminya, seseorang harus merasakan apakah suara tersebut sistematik atau tidak.
2. Menentukan struktur dari getaran suara tersebut, sebagai contoh dengan memisahkannya menjadi kata, kalimat jika itu adalah bahasa atau unit lain yang sama jika getaran tersebut berupa musik.
3. Menganalisa suara tersebut di otak, memilih yang penting. Informasi yang terpilih diingat atau membedakannya dari yang lain dan menyimpannya dalam memori otak untuk penggunaan masa datang.

Sebagai tambahan, Brown (1994) membagi proses mendengarkan menjadi 8, yaitu:
1. Pendengar memproses suara mentah (frase, klausa, kumpulan tanda baca, intonasi dan penekanan) dan menjadikannya sebagai memori pendek.
2. Pendengar menentukan tipe suara yang telah diproses sebelumnya dan memberikan warna.
3. Pendengar menyimpulkan tipe dari suara tersebut, isinya, apakah pembicara membujuk, meminta, menukar, menyetujui, membantah dan yang lainnya.
4. Pendengar mengingat kembali informasi sebelumnya (schemata) umruk membantu menginterpretasikan pesannya.
5. Pendengar menandai artinya. Proses ini meliputi interpretasi semantic dari permukaan gendang telinga.
6. Pendengar menandai arti tadi. Kesalahan pemahaman arti suara menyebabkan kekacauan dalam pembicaraan.
7. Pendengar menentukan apakah informasi tersebut harus disimpan dalam memori singkat.
8. Pendengar menghapus bentuk orisinil dari pesan tersebut yang telah diubah dalam bentuk memori singkat.

R. Sinurat dalam bukunya “Ketrampilan Komunikasi 2: Tanggapan Empatik dan Asertif“ (Seri Pastoral 313: 2000, hal 7-8) menekankan pula pentingnya ketrampilan mendengarkan aktif model Gordon ini. Agar model mendengarkan aktif menjadi efektif dalam praksisnya, konselor harus memiliki sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap tersebut adalah:
1. Sikap mempercayai kemampuan konseli untuk mengatasi perasaan-perasaannya dan mencari penyelesaian terhadap masalahnya. Konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya.
2. Sikap menerima perasaan konseli secara sungguh-sungguh, apa pun perasaan itu.
3. Kesadaran murni bahwa perasaan hanyalah sementara (labil), tidak tetap. Perasaan-perasaan konseli tidak akan selamanya berada dalam diri orang yang bersangkutan.
4. Kesediaan konselor meluangkan waktu untuk mendengarkan.
5. Konselor harus sungguh-sungguh mau menolong konseli menghadapi masalahnya pada saat yang bersangkutan.
6. Sikap melihat konseli sebagai pribadi yang unik, yang terpisah, yang mempunyai kehidupan sendiri, dan memiliki perasaan-perasaannya sendiri.
7. Kesadaran konselor bahwa tidak setiap orang dapat langsung mengungkapkan masalah yang sesungguhnya dihadapi.
8. Konselor harus mengedepankan privacy konseli dan merahasiakannya.

Banyak ahli konseling mengungkapkan bahwa model mendengarkan aktif ini efektif dan banyak bermanfaat dalam prakteknya. Pada tataran praksis model mendengarkan aktif memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut yaitu:
1. Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang atau hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka).
2. Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif.
3. Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
4. Memudahkan pemecahan masalah.
5. Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan pendapat orang lain.
6. Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Untuk menjadi pendengar yang baik (active listener), seseorang juga perlu mengindentifikasi sejumlah hambatan (blocks) dalam mendengarkan. Berikut akan disajikan daftar hambatan dalam mendengarkan yang secara sengaja maupun tidak sengaja sering dilakukan namun berpengaruh pada kemampuan atau latihan untuk menjadi pendengar yang baik.
1. Membandingkan: mendengarkan menjadi sulit ketika kita sibuk membandingkan: “Siapa yang lebih cerdas?”, “Siapa yang lebih beruntung?”, “Siapa yang lebih bekerja keras? Kamu atau saya?”, dst.
2. Membaca pikiran: Seorang pembaca pikiran tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian pada orang yang diajak bicara bahkan pada pa yang dibicarakan oleh orang tersebut. Dia mencoba mencari tahu apa yang sungguh-sungguh dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut.
3. Mengulang-ulang: Anda tidak akan punya waktu untuk mendengarkan ketika anda mengulang/melatih apa yang akan anda katakan. Pikiran anda mempersiapkan komentar anda selanjutnya.
4. Menyaring: tidak ada pesan yang utuh diterima jika pendengar menyaring isi pembicaraan.
5. Mendakwa: hambatan ini adalah kecenderungan yang paling sering dilakukan karena ada stereotype tertentu pada orang yang kita ajak bicara.
6. Berimajinasi: masukkan tag tebal pendengar yang tidak sungguh-sungguh mendengarkan biasanya akan cepat dan mudah untuk melamun dan berimajinasi tentang hal-hal lain sementara pembicaraan terus berlangsung.
7. Mengindentifikasi: beberapa pokok pembicaraan se-ring sama dengan identitas pembicara dan seringkali mengganggu pendengar jika dia dengan sengaja mengindentifikasikan hal tersebut dengan dirinya.
8. Menasehati: dalam hal ini pendengar bertindak seolah-olah sebagai `problem solver’ yang paling hebat, selalu siap dengan saran, masukan, tips dsb tanpa mendengarkan baik-baik karena pendengar sibuk menyiapkan nasehat jitu. Anda tidak dapat mendengarkan perasaan-perasaan klien jika hanya terdorong memberikan nasehat.
9. Bertengkar: kadangkala, karena tidak mendengarkan sungguh-sungguh kita cenderung untuk mengajak orang lain berdebat bahkan bertengkar. Ini berarti kita tidak bersedia membuka hati untuk mendengarkan apa maksud si pembicara.
10. Membenarkan diri: masih ada kaitannya dengan bertengkar, kecenderungan untuk mendengarkan diri sendiri berakibat pada keinginan untuk membenarkan diri dan akhirnya kehilangan momentum untuk menangkap inti pesan yang sesungguhnya dari orang yang sedang diajak bicara.
11. Mengalihkan topik: karena kita tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh maka kita akan bosan, kebosanan tersebut akan semakin mem-buat kita mudah untuk mengalihkan topik.
12. Mendamaikan: artinya, menghibur orang yang kita ajak bicara dengan cepat supaya tidak masuk ke inti pembicaraan yang lebih dalam karena kita tidak ingin mendengarkan lebih jauh.

sumber :
Carkhuff, Robert R. (1985). The Art of Helping. U.S.A.: Human Resource Development Press.Inc.
Willis, Sofyan S. (2010). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY

A. Sejarah Perkembangan

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) sebagai salah satu pendekatan dalam konseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh Alber Ellis sejak tahun 1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg, Pensylvania tahun 1913. Sebagai pakar psikologis klinis, ia memulai karirnya di bidang konseling perkawinan, keluarga dan seks. Rational Emotive Behavior Therapy lahir dari ketidakpuasan Ellis terhadap praktek konseling tradisional yang dinilai kurang efisien, khususnya psikoanalitik klasik yang pernah ditekuni. Berdasarkan temuan-temuan eksperimen dan klinisnya, Ellis memperkenalkan pendekatan baru yang lebih praktis, yaitu Rational Emotive Behavior Therapy. Pendekatan ini menjadi popular bersamaan dengan dipublikasian buku perdanya ”Reason an Emotion in Psychotherapy” pada tahun 1962. Albert Ellis (2 September 1913 – 24 Juli 2007) adalah seorang psikolog Amerika, ia dilahirkan dari keluarga Yahudi dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah Ellis adalah seorang pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis dan kurang memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dalam otobiografinya, Ellis menyebutkan ibunya sebagai perempuan yang tenggelam dalam kesibukannya sendiri dan merupakan pengoceh yang tidak pernah mendengar orang lain. Seperti ayahnya, ibunya mempunyai jarak emosional dari anak-anaknya. Ellis mengatakan bahwa pada saat dia pergi sekolah, ibunya masih tidur dan pada saat pulang sekolah ibunya sudah tidak ada di rumah. Kepahitan tentang kedua orang tuanya itu, Ellis harus mengambil tanggung jawab untuk mengurus saudara-saudaranya. Sebagai anak-anak, Ellis sering sakit dan menderita berbagai masalah kesehatan pada masa remajanya. Pada umur 5 tahun, dia dirawat di rumah sakit karena penyakit ginjal, kemudian juga karena penyakit amandel yang menyebabkan infeksi kerongkongan yang parah sehingga memerlukan operasi. Orang tuanya hampir tidak memberikan dukungan emosional dan jarang sekali menjenguknya. Ellis mengatakan bahwa dia belajar berkonfrontasi dengan penderitaannya itu. Pada tahun 1947 Ellis memperoleh gelar Doktor kehormatan di Columbia dan pada saat itu dia meyakini bahwa psikoanalisis merupakan bentuk terapi yang sangat mendalam dan sangat efektif. Seperti halnya dengan para psikolog di saat itu, dia sangat tertarik dengan teori Sigmund Freud. Kemudian lama kelamaan kesetiannya kepada psikoanalisis memudar. Dalam formasi awalnya, Ellis menekankan terapi rasional, yaitu unsur kognitif dari perilaku manusia, asumsi ini sangat bertentangan dengan asumsi yang popular pada pertengahan tahun 1950-an. Kemudian pendekatannya itu diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur kognitif. Modifikasi selanjutnya Rational Emotive Behavior Therapy ini mencakup teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal, latihan menyerang perasaan malu. Dengan demikian, Rational Emotive Behavior Therapy ini dapat dipandang sebagai model terapi perilaku yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini telah mengalami evolusi sedemikian rupa, yang pada akhirnya menjelma menjadi pendekatan yang komprehensif dan ekletik yang menekankan unsur-unsur berpikir, menimbang, memutuskan dan melakukan. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini merupakan salah satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan (education) dan pengajaran (teaching) dengan mempertahankan dimensi pikiran daripada perasaan. Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi, semula Ellis menekankan unsur rasional-kognitif, kemudian diperluas dengan memasukkan unsur perilaku. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif-sejajar dengan konseling realitas yang dikembangkan oleh Glesser-dengan beberapa ciri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif, direktif, menekankan situasi sekarang dan berfikir yang lebih rasional serta menekankan pada segi aksi konseli. Dari situlah maka Rational Emotive Behavior Therapy tak ubahnya merupakan proses pemerolehan pemahaman yang sekaligus tampak pada perbuatan atau perilaku konseli.

B. Hakikat Manusia

Menurut Corey (2009: 276) Rational Emotive Behavior Therapy memandang manusia pada dasarnya adalah memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Manusia memiliki kecenderungan untuk self-preservation, kebahagiaan, berpikir dan mengucapkan dengan kata-kata, mencintai, berkumpul dengan yang lain, tumbuh dan aktualisasi diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk self-destruction, menghindari buah pikiran, prokantinasi, memiliki kepercayaan di luar kenyataan, perfeksionis dan mencela diri sendiri, kurang bertoleransi, menghindari potensi aktualisasi diri. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir rasional adalah sebagai berikut: – Flexible preferences (saya ingin diakui, tetapi saya tidak terlalu menginginkan) – Anti-awfulizing beliefs (ini buruk untuk tidak diakui, tetapi ini bukanlah akhir dari dunia) – High frustration tolerance beliefs (ini sulit untuk menghadapi bahwa saya tidak diakui, tetapi saya dapat menoleransinya) – Acceptance beliefs (contohnya self-acceptance: saya menerima diri saya jika saya tidak diakui ; other-acceptance: saya dapat menerima anda jika anda tidak mengakui saya ; life-acceptance: hidup adalah perpaduan kebaikan, keburukan, dan kejadian netral. Selanjutnya Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir irrasional adalah sebagai berikut: – rigid demands (saya harus diakui). – awfulizing beliefs (jika saya tidak diakui, ini adalah akhir dari dunia) – low frustration tolerance beliefs (saya tidak dapat menoleransi bahwa saya tidak diakui). – depreciation beliefs (contohnya self-depreciation: saya tidak berharga jika saya tidak diakui ; other-depreciation: anda mengerika jika tidak mengakui saya ; life-depreciation: hidup semuanya buruk jika saya tidak diakui). Ellis (dalam Flanagan & Flanagan, 2004: 260) menyatakan lima komponen dasar teori konseling, yaitu sebagai berikut: – Manusia secara dogmatis menuruti gagasan irasional dan filosofi personal. – Gagasan irasional menyebabkan manusia mengalami kesedihan yang hebat dan kesengsaraan. – Gagasan ini dapat mendidih hingga sampai kategori dasar. – Konselor dapat menemukan kategori gagasan irasional ini dengan cukup mudah dalam logika konseli. – Konselor dapat mengajarkan konseli dengan sukses bagaimana bangun dari kesengsaraan yang disebabkan oleh kepercayaan irasionalnya.

C. Perkembangan Perilaku

1. Struktur kepribadian Pandangan pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Menurut Ellis (2002: 9) ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event atau Adversities (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Menurut Dryden & Branch (2008: 4) antecedent event (A) biasanya aspek situasi individu yang berpotensi mampu memicu keyakinannya (B). Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) perbedaan utama antara pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy dan lainnya untuk terapi kognitif-perilaku adalah dalam penekanannya pada belief (B). Dalam Rational Emotif Behavior Therapy, belief (kepercayaan) adalah inti dari emosi dan perilaku individu. Keyakinan tersebut adalah satu-satunya kognisi yang merupakan B dalam teori ABC di Rational Emotif Behavior Therapy. Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief). Keyakinan yang rasional memiliki karakteristik a) fleksibel atau non-ekstrim, b) konsisten dengan kenyataan, c) logis, d) sebagian besar fungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) Sebagian besar membantu individu dalam mengejar tujuan dasar dan tujuan. Keyakinan yang tidak rasional memiliki karakteristik a) kaku atau ekstrim, b) tidak konsisten dengan kenyataan, c) tidak masuk akal, d) sebagian besar disfungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) sebagian besar merugikan individu dalam mengejar tujuan dasar. Menurut Dryden & Branch (2008: 20) emotional and behavioral consequence (C) merupakan konsekuensi dari akibat antecendent event (A). Konsekuensi ini bisa berupa emosi, perilaku dam pemikiran. Konsekuensi ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang keyakinan rasional maupun keyakinan irasional. Menurut Corey (2009: 278) disputing (D) merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan kepercayaan-kepercayaan irasional yang dimiliki individu. Terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu sebagai berikut: a. Detecting irrational beliefs Konselor menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri. b. Debating irrational beliefs Kemudian konseli berdebat dengan kepercayaan disfungsionalnya dengan belajar bagaimana berpikir secara logis dan empiris. Selain itu juga dengan cara belajar bagaimana berargumen dengan kuat dan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. c. Discriminating irrational beliefs Kemudian yang terakhir adalah konseli belajar membedakan kepercayaan irasional (self-defeating) dan kepercayaan rasional (self-helping). Menurut Corey (2009: 279) hasil akhir dari proses A-B-C-D berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi efektif yang memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan efektif terdiri dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan pemikiran yang sehat. Jika berhasil melakukan hal tersebut maka akan timbul new feeling (F) yaitu satu perangkat perasaan yang baru.

2. Pribadi sehat dan bermasalah

a. Pribadi bermasalah

Ellis & Dryden (1997: 15-16) menyatakan pribadi bermasalah adalah sebagai berikut: – All-or-none thinking: “Jika saya gagal dalam beberapa tugas penting, saya mengalami kegagalan total.” – Jumping to conclusions and negative non sequiturs: ”Sejak mereka melihat saya muram, mereka akan melihat saya sebagai ulat yang tidak kompeten.” – Fortune-telling: ”Karena mereka menertawakan kegagalan saya, mereka akan membenci saya selamanya.” – Focusing on the negative: ”Karena saya tidak dapat bertahan pada hal yang salah, saya tidak dapat melihat sesuatu yang baik yang terjadi pada hidup saya.” – Disqualifying the positive: ”Ketika mereka memuji saya dalam kebaikan yang telah saya lakukan, mereka hanya bersikap ramah kepada saya dan melupakannya.” – Allness and neverness: “Karena kondisi kehidupan seharusnya baik dan sebetulnya buruk dan sangat tidak dapat ditoleransi, mereka akan selalu menempuh jalan ini dan saya tidak akan pernah merasa bahagia.” – Minimization: “Kebaikan saya dibidik dalam permainan yang bersifat keberuntungan dan tidak penting. Tetapi keburukanku dibidik, yang mana saya secara mutlak tidak pernah dibuat.” – Emotional reasoning: “Karena saya pernah tampil buruk, saya merasa seperti orang tolol, dan kekuatan perasaan saya membuktikan bahwa saya tidak ditakdirkan baik.” – Labeling and overgeneralization: “Karena saya harus tidak gagal dalam pekerjaan penting dan harus selesai, saya adalah pecundang.” – Personalizing: “Sejak saya bertindak jauh lebih buruk bahwa saya secara mutlak harus bertindak dan mereka menertawakan, saya yakin mereka hanya menertawakan saya, dan ini sangat mengerikan.” – Phonyism: ”Ketika saya tidak melakukan sebaik yang seharusnya saya lakukan dan mereka masih memuji dan menerima saya, saya yakin itu palsu.” – Perfectionism: ”Dalam menyelesaikan pekerjaan, saya harus menyelesaikannya secara sempurna.”

b. Pribadi sehat

Ellis & Dryden (1997: 18-19) menyatakan pribadi sehat adalah sebagai berikut: – Self-interest: Pribadi sehat cenderung bijaksana dan menyenangkan untuk diri mereka sendiri dan menaruh diri mereka sendiri menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. – Social interest: Manusia memilih hidup dan menikmati diri mereka sendiri dalam kelompok sosial atau komunitas. Jika mereka tidak bertindak secara moral, menyembunyikan kebenaran orang lain, dan menghasut kelompok masyarakat, hal ini tidak akan disukai. Mereka akan menciptakan dunia yang ramah yang mana mereka dapat hidup dengan nyaman dan senang. – Self-direction: Pribadi yang sehat cenderung mengasumsikan tanggung jawab untuk kehidupan mereka ketika secara simultan mengutamakan kerja sama dengan yang lain. Mereka tidak membutuhkan atau menuntut banyak dukungan dari yang lain, meskipun mereka mungkin mengutamakan dan bekerja untuk ini. – High frustration tolerance: Pribadi yang sehat adalah mereka yang dapat mengubah kondisi yang memuakkan pada diri mereka, menerima hal yang tidak bisa mereka lakukan, dan memiliki kebijaksanaan dalam mehamai dua perbedaan. – Flexibility: Pribadi yang sehat dan matang cenderung fleksibel dalam berpikir, terbuka terhadap perubahan, dan tidak berprasangka buruk dan pluralistik dalam pandangan mereka terhadap orang lain. – Acceptance of uncertainty: Pribadi yang sehat cenderung mengakui dan menerima gagasan bahwa kita tampak hidup di dunia yang penuh dengan kemungkinan dan perubahan dimana kepastian mutlak tidak bisa dipastikan dan kemungkinan tidak pernah akan terus ada. – Commitment to creative pursuits: Kebanyakan manusia cenderung menjadi pribadi sehat dan senang ketika mereka secara krusial dapat berbaur dengan kelompok sosial atau komunitas dan sedikitnya satu kreasinya dapat menjadi minat perhatian dari kelompok sosial atau komunitas, seperti halnya kebanyakan manusia, bahwa mereka menganggap penting mereka bisa menjadi bagian dari struktur yang baik dari kehidupan disekitarnya. – Scientific thinking: Pribadi yang sehat memiliki kecenderungan menjadi lebih objektif, realistis, dan ilmiah. – Self-acceptance: Pribadi yang sehat biasanya senang hidup dan menerima diri mereka sendiri karena mereka hidup dan memiliki kapasitas untuk menikmati diri mereka sendiri. – Risk-taking: Emosi pribadi yang sehat memiliki kecenderungan berani mengambil resiko dan mencoba melakukan apa yang ingin dilakukan. Mereka menganggap itu adalah kesempatan baik meskipun mungkin mereka gagal. Mereka memiliki kecenderungan menjadi petualang tetapi tidak gegabah. – Long-range hedonism: Pribadi yang sehat mencari ketenangan hidup untuk saat sekarang dan masa depan, dan itu tidak didapatkan secara instan. – Nonutopianism: Pribadi yang sehat menerima fakta bahwa tempat yang sempurna mungkin tidak dapat dicapai dan mereka tidak pernah suka mendapatkan segala apa yang mereka inginkan dan menghindari semua rasa sakit. – Self-responsibility for own emotional disturbance: Pribadi yang sehat cenderung bertanggung jawab atas kekacauan yang mereka buat daripada bertahan dengan tuduhan dan hujatan orang lain.

D. Hakikat Konseling

Rational Emotive Behavior Therapy dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut: 1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. 3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.

E. Kondisi Pengubahan

1. Tujuan konseling Menurut Corey (2009: 279) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah mengajari konseli bagaimana cara memisahkan evaluasi perilaku mereka dari evaluasi diri – esensi dan totalitasnya – dan bagaimana cara menerima dengan segala kekurangannya. Sedangkan tujuan dasarnya adalah mengajarkan konseli bagaimana merubah disfungsional emosi dan perilaku mereka menjadi pribadi yang sehat. Selain itu dua tujuan terpenting Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 279) adalah a) membantu konseli dalam proses mencapai unconditional self-acceptance dan unconditional other acceptance, dan b) melihat bagaimana kedua hal itu saling berkaitan. Sedangkan menurut Ellis (dalam Sharf, 2012: 339) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah membantu konseli dalam meminimalisir gangguang emosi, menurunkan self-defeating self-behaviors, dan membantu konseli lebih mengaktualisasikan diri sehingga mereka bisa menuju ke kehidupan yang bahagia. Sedangkan tujuan khususnya adalah membantu konseli berpikir lebih bersih dan rasional, memiliki perasaan yang lebih layak, dan bertindak efisien dan efektif dalam mencapai tujuan hidup yang bahagia.

2. Sikap, peran dan tugas konselor Menurut Corey (2009: 280) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy memiliki tugas spesifik. Tahap pertama adalah konselor menunjukkan pada konseli bahwa dalam pikirannya saat ini terlalu banyak pikiran-pikiran yang irasional seperti “harus”, sebaiknya”, dan “seharusnya”. Konselor mendorong dan sering membujuk konseli agar melakukan aktivitas yang akan menyembunyikan keyakinan pengalahan diri mereka. Tahap kedua adalah mendemonstrasikan bahwa konseli mempertahankan gangguan emosi mereka aktif dengan meneruskan berpikir secara tidak logis dan realistis. Tahap ketiga adalah membantu konseli memodifikasi pemikiran dan mengabaikan gagasan irrasional mereka. Konselor membantu konseli memahami pikiran irasional yang menyalahkan diri sendiri dan juga mengubah perilaku menyalahkan diri. Tahap keempat adalah menantang konseli untuk mengembangkan filosofis hidup yang rasional sehingga di masa depan mereka mampu menghindari diri agar tidak menjadi korban keyakinan irasional yang lain.

3. Sikap, peran dan tugas konseli Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 280-281) sesekali konseli mulai menerima bahwa keyakinan mereka merupakan penyebab utama emosi dan perilaku mereka, maka mereka akan mampu berpartisipasi secara efektif dalam proses restrukturisasi kognitif. Dalam sekala besar, peran konseli dalam proses konseling adalah sebagai pembelajar dan pelaksana. Konseling dipandang sebagai proses reedukatif di mana konseli belajar cara menerapkan pemikiran logis, latihan eksperimental dan perkerjaan rumah perilaku untuk memecahkan masalah dan perubahan emosi. Proses terapeutik berfokus pada pengalaman konseli di masa kini. Rational Emotive Behavior Therapy utamanya menekankan pada pengalaman dan kemampuan konseli saat ini untuk mengubah pola pemikiran dan emosi yang telah mereka konstruksi sebelumnya. Konseli diharapkan untuk berpartisipasi aktif di luar sesi konseling. Konseli belajar bahwa dengan melaksanakan pekerjaan rumah dapat meminimalisir pemikiran yang salah. Pekerjaan rumah dirancang secara cermat dengan tujuan untuk membuat konseli agar melaksanakan tindakan yang mendorong perubahan emosi dan perilaku. Di akhir konseling, konseli mengulas kemajuan mereka, membuat rencana dan mengidentifikasi strategi mengatasi masalah potensial yang berkelanjutan.

4. Situasi hubungan Menurut Corey (2009: 281) pada dasarnya Rational Emotive Behavior Therapy merupakan proses kognitif dan direktif, maka tidak perlu membutuhkan hubungan yang kuat antara konselor dan konseli. Para praktisi Rational Emotive Behavior Therapy secara tanpa syarat menerima semua konseli dan mengajari konseli untuk menerapkan penerimaan tanpa syarat pada diri sendiri dan orang lain. Ellis (dalam Corey, 2009: 281) meyakini bahwa hubungan yang terlalu hangat dan pemahaman yang terlalu banyak akan berakibat kontra produktif, memunculkan rasa ketergantungan dan persetujuan dari konselor. Praktisi Rational Emotive Behavior Therapy menerima konseli sebagai makhluk yang tidak sempurna yang bisa ditolong dengan menunjukkan bahwa konselor peduli kepada konseli, tanpa membuat konseli merasa didekte dan juga dengan menggunakan beragam teknik semisal mengajar, biblioterapi, dan memodifikasi perilaku. Ellis membangun hubungan dengan konselinya dengan cara menunjukkan pada mereka bahwa mereka memiliki keyakinan yang besar akan kemampuan mereka mengubah diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka mempunyai cara untuk membantu mereka melakukannya. Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 281) konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy sering terbuka dan mengarah dalam menyikap keyakinan dan nilai mereka. Beberapa terapi berkeinginan berbagai kekurangan mereka sebagai cara mempertanyakan gagasan tidak realistis konseli bahwa terapis merupakan orang yang “lengkap”. Transference tidak didorong, dan apabila tidak ada, konselor cenderung menghadapinya. Konselor ingin menunjukkan bahwa hubungan transference didasarkan pada keyakinan irrasional bahwa konseli harus disukai dan dicintai oleh konselor atau figur orang tua.

F. Mekanisme

Pengubahan 1. Tahap-tahap konseling Menurut Froggatt (2005) tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy secara umum adalah sebagai berikut. a. Membantu konseli memahami bahwa emosi dan perilaku disebabkan oleh kepercayaan dan pikiran. b. Menunjukkan bagaimana kepercayaan dan pikiran seseorang mungkin tertutup. Format ABC sangat berguna di sini. Konselor meminta konseli bercerita tentang Antecedent event (A) seperti apa, Belief (B) seperti apa, dan Emotional consequence (C) seperti apa. c. Mengajarkan konseli bagaimana melawan dan merubah kepercayaan irasional, menggantinya dengan kepercayaan yang lebih rasional. d. Membantu konseli mengubah perilaku konseli. Sedangkan tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy yang lebih rinci dan operasional menurut Froggatt (2005) adalah sebagai berikut. a. Melibatkan konseli – Membangun hubungan dengan konseli. Ini dapat dicapai menggunakan empati, kehangatan dan respek. – Melihat permasalahan yang dialami dan datang karena ingin dibantu penyelesaian permasalahannya. – Mungkin cara terbaik adalah melibatkan konseli dalam proses konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy. b. Asesmen masalah, pribadi, dan keadaan – Diawali dari apa yang salah dalam pandangan konseli. – Memeriksa beberapa gangguan sekunder: bagaimana perasaan konseli memiliki masalah? – Membawa ke asesmen umum: menentukan kemunculan gangguan secara klinis, menggali cerita pribadi dan sosial, asesmen kedalaman suatu masalah, mencatat beberapa faktor kepribadian yang berhubungan, dan memeriksa faktor kausatif non-psikologis seperti kondisi fisik, obat-obatan, gaya hidup/faktor lingkungan. c. Menyiapkan konseli dalam proses konseling – Klarifikasi tujuan perlakuan untuk memastikan tujuan perlakuan konkrit, spesifik, dan disetujui oleh konselor dan konseli serta menganalisis motivasi konseli untuk berubah. – Mengenalkan kaidah dasar tentang Rational Emotive Behavior Therapy. – Mendiskusikan pendekatan yang digunakan dan implikasinya dalam perlakuan, kemudian membangun kontrak. d. Implementasi program perlakuan – Menganalisis masalah spesifik yang mana menjadi target masalah yang akan diselesaikan, memastikan kepercayaan yang dilibatkan, merubahnya, dan mengembangkan home work. – Mengembangkan perilaku yang fungsional untuk mengurangi kekhawatiran atau memodifikasi cara berperilaku. – Menambah strategi dan teknik yang sesuai seperti relaksasi, dan pelatihan keterampilan interpersonal. e. Evaluasi Sebelum berakhirnya proses intervensi biasanya konselor melakukan evaluasi terhadap perlakuan yang diberikan. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi peningkatan yang signifikan tentang perubahan konseli dalam berpikir. f. Menyiapkan pengakhiran untuk konseli Sesi konseling diakhiri jika konseli sudah merasa lebih baik terkait permasalahan yang sedang dialaminya. Konselor juga akan mengakhiri konseling jika konseli sudah benar-benar terentaskan masalahnya dan jika masalah itu hadir kembali, konseli bisa dengan mandiri mengentaskan masalahnya sendiri. 2. Teknik-teknik konseling Menurut Corey (2009: 281) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy harus menguasai berbagai macam metode dan bersifat integratif. Pendekatan ini menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. a. Teknik-teknik Kognitif – Disputing irrational beliefs Metode kognitif dalam Rational Emotive Behavior Therapy yang paling umum adalah konseling secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselor mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya. – Doing cognitive homework Konseli diharapkan membuat daftar masalah mereka, mencari keyakinan absolut mereka, dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan tersebut. Doing cognitive homework merupakan cara melacak dimensi “keharusan” dan “sebaiknya” yang ada pada kognisi konseli. Doing cognitive homework juga bisa terdiri dari penerapan teori ABC terhadap permasalahan yang dialami oleh konseli. Dengan cara yang perlahan dan yang dibagi ke dalam beberapa sesi, konseli belajar mengatasi kecemasan dan mempertanyakan pemikiran tidak rasionalnya yang mendasar. – Changing one’s language Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahasa yang tidak tepat adalah salah satu bentuk penyebab proses pemikiran yang terdistorsi. Konseli mempelajari bagaimana menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku yang disfungsional. – Psychoeducational methods Program Rational Emotive Behavior Therapy dan sebagian besar konseling kognitif behavior mengenalkan memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen pendidikan. Konselor membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan mereka dan bagaimana proses mengatasinya. Konseli lebih suka bekerja sama dengan program perlakuan jika mereka memahami pentingnya teknik yang digunakan. b. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) – Rational emotive imagery Dalam rational emotive imagery konseli didorong untuk membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya. Misalnya ditolak oleh seorang wanita yang benar-benar diinginkannya. Konseli mebayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya. Setelah itu konseli didorong untuk menjalin hubungan dengan konsekuensi emosional negatif yang tidak diinginkan yang dipicu oleh kesulitan tersebut. Misalnya cemas, depresi, dan membenci diri. Konseli merasakan secara spontan apa yang dirasakannya dan tetap bertahan dengan perasaan itu dalam beberapa saat. Setelah itu konseli berusaha mengubah perasaan terganggu yang tidak sehat tersebut dengan konsekuensi perasaan negatif yang sehat. Misalnya sedih, kecewa, menyesal dan tidak senang. Cara melakukannya adalah dengan mengatakan keyakinan rasionalnya yang masuk akal kepada dirinya dengan kuat dan berulang-ulang. Misalnya, “Ya dia memang belum bisa menerima saya dan itu sangat menyakitkan bagi saya. Dia belum bisa menerima saya mungkin karena dia belum mengenal saya”. Konseli seharusnya tetap dalam bayangan rasionalnya itu sampai konseli bisa mengubah perasaan negatif tidak sehatnya menjadi pernyataan negatif yang lebih sehat. – Using humor Penggunaan humor dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating. Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahwa gangguan emosi sering disebabkan oleh terlalu seriusnya seseorang menanggapi sesuatu. Humor bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap terlalu serius masalah hidup. – Role playing Terdapat komponen emosi dan perilaku dalam teknik bermain peran. Konselor sering menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak sehat menjadi perasaan yang lebih sehat. Fokusnya adalah pada keyakinan yang tidak rasional yang berhubungan dengan perasaan yang tidak menyenangkan diubah menjadi keyakinan yang lebih rasional. – Shame-attacking exercises Ellis mengembangkan latihan untuk membantu orang mengurangi perasaan malu dalam melakukan sesuatu. Ellis berpikir bahwa kita bisa dengan keras kepala menolak rasa maludengan berkata pada diri kita sendiri bahwa bukan hal yang menyedihkan jika seseorang menganggap kita bodoh. Tujuan utama latihan ini yang secara khusus melibatkan komponen emosi dan perilaku, konseli bekerja agar tidak malu ketika orang lain tidak sependapat dengan konseli. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan dengan cara mereka mengenali kenyataan. – Use of force and vigor Ellis menyarankan penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual menjadi berwawasan emosional. Konseli juga ditunjukkan caranya melakukan dialog memaksa diri dimana mereka bisa mengekspresikan keyakinan irasional dan kemudian mempertanyakan keyakinan tersebut. Konselor akan melakukan permainan peran terbalik dengan secara keras berpegang teguh pada filosofi pengalahan diri konseli. Selanjutnya konseli diminta untuk memperdebatkan dengan konselor dalam upaya untuk membujuknya meninggalkan gagasan disfungsional tersebut. c. Teknik-teknik Behavioristik Dalam teknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral standar, seperti pengkondisian operant, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan.

G. Hasil-Hasil Penelitian

Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Tayabeh Najafi, Shahrir Jamaluddin, dan Diana Lea-Baranovich yang berjudul “Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dalam seting kelompok dapat menurunkan kepercayaan irasional pada dua kelompok remaja iran yang hidup di kuala lumpur. 2. Penelitian yang dilakukan oleh G. Venkatesh Kumar yang berjudul “Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD)” pada tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dapat mengatasi perilaku bermasalah pada remaja. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Christos Papalekas yang berjudul “The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan rasional dan irasional dapat menentukan kemarahan yang tidak sehat dan kemarahan fungsional dan disfungsional. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Fryer yang berjudul “Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor adalah adalah teknik yang baik dan efektif digunakan dalam psikoterapi pada umumnya dan Rational Emotive Behavior Therapy pada khususnya. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Zakiah Muhamad yang berjudul “Rational Emotive Behavior Therapy: To Reduce Emotional Disturbance” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sesi konseling yang telah dilakukan sangat berguna untuk konseli. Konselor menggunakan teori Rational Emotive Behavior Therapy cocok untuk memecahkan masalah konseli yang mengalami gangguan emosional. Kesimpulan dari teori ini ditemukan cocok sebagai terapi singkat dan mudah digunakan karena sederhana dan berlaku untuk berbagai pengaturan, termasuk sekolah dasar dan menengah. Seperti kita ketahui, remaja dan siswa selalu memiliki keyakinan irasional ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka. Terapi ini juga cepat mengajarkan konseli bagaimana mengatasi masalah praktis kehidupan. Konseli diajarkan untuk memahami diri mereka sendiri, untuk memahami orang lain, untuk bereaksi secara berbeda, dan untuk mengubah pola kepribadian dasar dan filosofi mereka dengan memperbaiki pemikiran yang salah.

H. Kelemahan dan Kelebihan

1. Kekuatan

a. Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan konseli hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi Rational Emotive Behavior Therapy. b. Pendekatan ini dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klian mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi. c. Pendekatan ini relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu. d. Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini. e. Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki. f. Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan

2. Kelemahan

a. Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia, dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat. b. Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis. c. Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat konseli seideal yang semestinya. d. Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu konseli mengubah emosinya.

Daftar Pustaka

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA : Thomson Brooks/Cole.
Dryden, W. & Branch, R. 2008. The Fundamentals of Rational Emotive Behaviour Therapy : A Training Handbook. USA : John Wiley & Sons, Ltd.
Dryden, W. & Neenan, M. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy : 100 Key Points & Techniques. London & New York : Routledge Taylor & Francis Group
Ellis, A. 2002. Overcoming Resistance : A Rational Emotive Behavior Therapy Integrated Approach. New York : Springer Publishing Company, LLC.
Ellis, A. & Dryden, W. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. New York : Springer Publishing Company
Flanagan, S. J., & Flanagan, S. R. 2004. Counseling and Psychotherapy Theories in Context and Practice. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
Froggatt, W. 2005. A Brief Introduction To Rational Emotive Behaviour Therapy. Journal of Rational-Emotive and Cognitive Behaviour Therapy, 3 (1): 1-15.
Fryer, D. 2011. Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 63-72.
Kumar, G. V. 2009. Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD). Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 35 : 103-111.
Muhamad, Z. 2012. Rational Emotive Behavior Therapy :To Reduce Emotional Disturbance. Journal of Educational Psychology & Counseling, 6 : 119-122.
Najafi, T., Jamaluddin, S., & Lea-Baranovich, D. 2012. Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 3 (12) : 312-322.
Papalekas, C. 2011. The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 7-30.
Sharf, R. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases. USA : Brooks/Cole.

 

 

Konseling Pancawaskita

A. PENGERTIAN

Konseling Pancawaskita disingkat (KOPASTA), merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam konseling dengan memadupadankan teori konselinq (atlektik). Kopasta merupakan gagasan yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Prayitno, MSc. Ed, yang merupakan salah seorang guru besar pada Universitas Negeri Padang yang juga merupakan Dewan Penasehat ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.

Kopasta menitikberatkan pada wawasan pancawaskita. Pancawaskita: mengintegrasikan lima factor yang mempengaruhi individu. Lima factor: Pancasila, lirahid, Panca daya, masidu, likuladu.

Dalam sejarahnya KOPASTA dikembangkan sebagai salah satu pendekatan yang dilakukan dalam pelaksanaan konseling perorangan, para konselor diharapkan dapat menguasai pendekatan ini sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan konseling perorangan.

B. HAKEKAT KEBERADAAN

1. Sedang ada

Yang sedang dialami. Pikiran, perasaan

2. Mungkin ada

Yang belum dirasakan. Dunia kemungkinan yang diluar jangkauan. Hal ini dapat menjelma menjadi keadaan yang berada.

C. Gatra

Adalah keberadaan yang penuh arti. Dari dalam :unik dan objektif, tidak dapat dirubah dan dari luar : orang mengartikan individu (lentur, bisa dirubah).

D. Hakekat manusia

Memiliki gatra dengan ciri:

1. Ind memaknai gatra dalam sendiri

2. Memberikan gatra luar kepada gatra lainnya

3. Gatra dalam dan luar bersifat lentur dan dinamis

4. Manusia memiliki dimensi : keindividualan (fisik, psikis, potensi, kelemahan), kesosialan: keterkaitan dengan orang lain, kesusialaan: aturan-aturan yang menyertai hubungan social, ke: santun, keberagamaan: butuh hubunugan dengan sang pencipta.

E. PANCA DAYA

1. Daya takwa:

2. Daya cipta

3. Daya karsa

4. Daya karya

5. Daya rasa

sumber : http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemid=92

SOLUTION FOCUSED BRIEF THERAPY (SFBT)

A. SEJARAH PERKEMBANGAN

Salah satu pendekatan konseling dan psikoterapi yang dipengaruhi oleh pemikiran postmodern adalah pendekatan Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dalam beberapa literatur pendekatan SFBT juga disebut sebagai Terapi Konstruktivis (Constructivist Therapy), ada pula yang menyebutnya dengan Terapi Berfokus Solusi (Solution Focused Therapy), selain itu juga disebut Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) dari semua sebutan untuk SFBT sejatinya semuanya merupakan pendekatan yang didasari oleh filosofi postmodern sebagai landasan konseptual pendekatan-pendekatan tersebut.

Banyak tokoh yang memberikan konstribusi terhadap perkembangan SFBT sejak tahun 1970an seperti Steve de Shazer, Bill O’Hanlon, Michele Weiner-Davis, dan Insoo Kim Berg. Pertama kali tulisan tentang brief therapy ada pada tahun 1970an dan awal 1980an dan yang memberikan konstribusi penting adalah Richard Fisch, John Weakland, Paul Watzlawick, dan Gregory Bateson yang bekerja pada Mental Research Institute di Palo Alto, California (Fisch, Weakland, & r Se gal, 1982 dalam Seligman,L. 2006).

Banyak pendekatan-pendekatan konseling lain juga memberikan konstribusi penting terhadap SFBT seperti Brief psychodynamic psychotherapy, Behavioral dan terapi cognitive-behavioral, Single Session Therapy serta Family therapy. Pendekatan-pendekatan ini lebih memfokuskan bagaimana masalah klien bisa diatasi dan kurang memperhatikan sejarah masa lalu klien.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Steve de Shazer (1985, 1988), Insoo Kim Berg (Dejong & Berg, 2002), O’Hanlon Bill, dan Michele Weiner-Davis (O’Hanlon &-Weiner Davis, 1989; Weiner-Davis , 1992) juga memberikan kontribusi penting untuk SFBT. Namun Solution Focused Brief Therapy (SFBT) pertama kali dipelopori oleh Insoo Kim Berg dan Steve De Shazer.Keduanya adalah direktur eksekutif dan peneliti senior di lembaga nirlaba yang disebut Brief Family Therapy Center (BFTC) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat pada akhir tahun 1982.

Insoo Kim Berg adalah juru bicara terapi yang berorientasi solusi yang sangat berpengaruh.Ia memulai karya-karyanya pada pertengahan tahun 1980an hingga kini ia telah menerbitkan buku-buku dan rekaman video tentang pendekatan berfokus solusi. Sebagai seorang Amerika yang bertanah air Korea, Insoo Kim Berg mengembangkan pengaruh warisan budaya timur dari nenek moyangnya dengan pengalaman pelatihan sebagai pekerja sosial di barat. Hasilnya adalah sebuah pendekatan psikoterapi yang merupakan perpaduan kreatif antara menumbuhkembangkan kesadaran dan proses membuat pilihan perubahan.

O’Hanlon dan Weiner-Davis dipengaruhi oleh karya de Shazer dan Berg, juga memberikan konstribusi yang disebut solution-oriented brief therapy. Therapy mereka membantu orang untuk fokus pada tujuan masa depan. O’Hanlon dan Weiner-Davis tidak peduli dengan bagaimana permasalahan muncul atau bagaimana mereka dipertahankan tetapi hanya peduli dengan bagaimana masalah itu akan dipecahkan. Dengan membuat gambaran dari apa yang mungkin akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi mereka dan berusaha mengubah sudut pandang dan tindakan klien sehingga mereka dapat menemukan solusi.

Secara filosofis, pendektan SFBT didasari oleh suatu pandangan bahwa sejatinya kebenaran dan realitas bukanlah suatu yang bersifat absolute namun realitas dan kebenaran itu dapat dikonstruksikan. Pada dasarnya semua pengetahuan bersifat relatif karena ia selalu ditentukan oleh konstruk, budaya, bahasa atau teori yang kita terapkan pada suatu fenomen tertentu. Dengan demikian, realitas dan kebenaran yang kita bangun (realitas yang kita konstruksikan) adalah hasil dari budaya dan bahasa kita.Apa yang dikemukakan tersebut merupakan beberapa pandangan yang dilontarkan oleh para penganut konstruktivisme sosial yang mengembangkan paradigmanya berdasarkan filosofis postmodern. Dalam perspektif terapeutik, konstruktivisme social merupakan sebuah perspektif terapeutik dengan suatu pandangan postmodern yang menekankan pada realitas konseli tanpa memperdebatkan apakah hal tersebut akurat atau rasional ( Weishaar, 1993 dalam Corey 2005). Artinya bahwa pandangan postmodern melihat bahwa pengetahuan hanya sebuah konstruksi sosial saja.

Bagi orang-orang konstruksionisme sosial, realitas didasarkan pada penggunaan bahasa dan umumnya merupakan fungsi situasi dimana orang-orang itu sendiri tinggal.Contohnya ketika seseorang merasa depresi, maka seketika itu dia mendefinisikan atau dia adopsi bahwa dirinya sedang depresi. Ketika sebuah definisi tentang diri telah diadopsi, akan sulit bagi individu tersebut untuk mengenali adanya perilaku yang berlawanan dengan definisi tersebut; contoh, sulit bagi seseorang yang menderita depresi untuk menyadari dan menghargai adanya masa-masa didalam hidupnya dimana suasana hati/mood merasa baik atau senang (Corey,2005:385)

Dalam pemikiran postmodern, bahasa dan penggunaannya menciptakan makna dalam cerita-cerita yang disampaikan oleh individu. Dengan demikian akan terdapat banyak sekali makna-makna cerita sebanyak orang-orang menceritakan kisah tersebut dan masing-masing cerita tersebut benar bagi orang yang menceritakannya. Pemikiran postmodern tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan teori konseling dan psikoterapi serta mempengaruhi praktik konseling dan psikoterapi kontemporer.

B. HAKEKAT MANUSIA

SFBT mempunyai asumsi-asumsi bahwa manusia itu sehat, mampu (kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi. Manusia tidak perlu terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia inginkan.

De shazer (1988,1991) berpendapat bahwa tidaklah penting untuk mengetahui penyebab dari suatu masalah untuk dapat menyelesaikannya dan bahwa tidak ada hubungan antara masalah-masalah dan solusi-solusinya. Mengumpulkan informasi tentang suatu masalah tidaklah penting untuk terjadinya suatu perubahan.Jika mengetahui dan memahami masalah bukanlah sesuatu yang penting, maka mencari solusi-solusi yang “benar” adalah penting. Beberapa orang mungkin memikirkan bermacam-macam solusi, dan apa yang benar untuk satu orang mungkin dapat tidak benar untuk yang lainnya. Dalam SFBT, konseli memilih tujuan-tujuan yang mereka ingin capai dalam terapi, dan diberikan sedikit perhatian terhadap diagnosis, pembicaraan tentang sejarah, atau eksplorasi masalah (Bertolino & O`Hanlon, 2002; Gingerich&Elisengart,2000; O`Hanlon&Weiner-Davis, 1989 dalam Corey,2005).

Berikut ini beberapa asumsi dasar tentang SFBT ( Corey, 2005)

1. Individu yang datang ke terapi mampu berprilaku efektif meskipun kelakuan keefektifan ini mungkin dihalangi sementara oleh pandangan negatif

2. Ada keuntungan-keuntungan untuk sebuah fokus positif pada solusi dan pada masa depan.

3. Ada penyangkalan pada setiap problem. Dengan membicarakan penyangkalan-penyangkalan ini, klien dapat mengontrol apa yang terlihat menjadi sebuah problem yang tidak mungkin diatasi, penyangkalan ini memungkinkan terciptanya sebuah solusi.

4. Klien sering hanya menampilkan satu sisi dari diri mereka, SFBT mengajak klien untuk menyelidiki sisi lain dari cerita yang sedang mereka tampilkan.

5. Perubahan kecil adalah cara untuk mendapatkan perubahan yang lebih besar. Setiap problem dipecahkan sekali dalam satu langkah

6. Klien yang ingin berubah mempunyai kapasitas untuk berubah dan mengerjakan yang terbaik untuk membuat suatu perubahan itu terjadi.

7. Klien dapat dipercaya pada niat mereka untuk memecahkan problem. Tiap individu adalah unik dan demikian juga untuk tiap-tiap solusi.

C. PERKEMBANGAN PERILAKU

1. Pribadi Sehat dan Bermasalah

a. Pribadi sehat

• Pribadi yang mampu (kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi.

• Pribadi yang tidak terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia inginkan.

b. Pribadi bermasalah

• Individu menjadi bermasalah karena ketidak efektifannya dalam mencari dan melakukan atau menggunakan solusi yang dibuatnya.

• Individu menjadi bermasalah karena ia meyakini bahwa ketidakbahagiaan atau ketidak sejahteraan ini berpangkal pada dirinya. Misalnya bagaimana ia memandang dirinya, memurukkan dirinya yang kemudian individu itu sendirilah yang mengkonstruk kisah (cerita) yang ia beri label “masalah” dan bukan mengkonstruk “ kekuatan dan kemampuan diri” yang berguna bagi penyelesaian masalahnya.

D. HAKEKAT KONSELING

1. Proses Konseling

Walter dan Peller 1992 (dalam Corey,2005) menggambarkan empat langkah yang mencirikan proses SFBT:

a. Menemukan apa yang klien inginkan dari pada mencari sesuatu yang tidak mereka inginkan

b. Jangan mencari masalah dan jangan berusaha untuk melemahkan klien dengan memberi mereka label diagnose

c. Jika apa yang dilakukan klien tidak mengalami kemajuan, konselor menyemangati mereka untuk bereksperimen dengan melakukan suatu yang berbeda.

d. Meringkas proses terapi pada setiap sesi agar terlihat satu-satunya sesi atau sesi terakhir.

Proses kolaborasi klien dengan konselor dalam membangun solusi tidak hanya membutuhkan sedikit teknik. Model SFBT menghendaki setiap orang bisa menerima dan menolong diri mereka sendiri dalam menciptakan sebuah solusi permasalahan.

De Shazer (1991) yakin bahwa klien dapat menemukan solusi dari masalah-masalah mereka. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan tradisonal dalam memecahkan masalah hal ini dapat dilihat dari kerangka pendekatan untuk memecahkan masalah (De Jong & Berg, 2002):

a. Klien diberi kesempatan untuk menjelaskan masalah-masalah mereka, terapis mendengarkan dengan penuh hormat dan klien hati-hati menjawab pertanyaan terapis, “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi anda?”

b. Terapis bekerja dengan klien dalam mengembangkan tujuan-tujuan sesegera mungkin. “Apa yang berbeda dalam hidup Anda ketika masalah anda terpecahkan?”

c. Terapis meminta klien tentang menceritakan masalah-masalah yang belum diatasi. Klien dibantu dengan penekanan khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat suatu peristiwa terjadi.

d. Pada setiap akhir percakapan solusi, terapis menawarkan umpan balik, memberikan dorongan, dan menunjukkan apa yang bisa diamati klien sebelum sesi berikutnya untuk memecahkan masalah mereka.

e. Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat dalam mencapai solusi dengan menggunakan skala penilaian.

2. Teknik-Teknik Konseling

Dalam aplikasinya, pendekatan SFBT memiliki beberapa teknik intervensi khusus. Teknik ini dirancang dan dikembangkan dalam rangka membantu konseli untuk secara sadar membuat solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Bebrapa teknik dari SFBT ( Corey, 2005; Capuzzi dan Gross, 2003) adalah:

a. Pertanyaan pengecualian (Exception Question)

Terapi SFBT menanyakan pertanyaan-pertanyaan exception untuk mengarahkan konseli pada waktu ketika masalah tersebut tidak ada.Exception merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu dalam hidup konseli ketika pantas mempunyai beberapa harapan masalah tersebut terjadi, tetapi bagaimanapun juga tetap tidak terjadi (de Shazer, 1985 dalam Corey 2005).Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah-masalah tidak semua kuat dan tidak selamanya ada, hal itu juga mamberikan suatu tempat dari kesempatan untuk menimbulkan sumber daya, menggunakan kekuatan-kekuatan dan menempatkan solusi-solusi yang mungkin.

b. Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)

Meminta konseli untuk mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban membuka suatu tempat untuk kemungkinan-kemungkinan dimasa depan. Konseli di dorong untuk membiarkan dirinya sendiri bermimpi tentang suatu cara/jalan untuk mengidentifikasi jenis-jenis perubahan yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan dimana konseli dapat mulai untuk mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh masalah-masalah masa lalu dan sekarang kearah pemuasan hidup yang lebih dimasa mendatang.

c. Pertanyaan Berskala (Scalling Question)

Scalling Question Memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada perubahan-perubahan yang mereka inginkan. Terapis SFBT selalu menggunaka Scalling Question ketika perubahan dalam pengalaman seseorang tidak dapat diamati dengan mudah seperti perasaan, suasana hati (mood), atau komunikasi.

d. Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session Task/FFST)

FFST adalah suatu format tugas yang diberikan oleh terapis kepada konseli untuk diselesaikan pada antara sesi pertama dan sesi kedua. Terapis dapat berkata : “ diantara saat ini dan pertemuan kita selanjutnya, saya berharap anda dapat mengamati sehingga anda dapat menjelaskan pada saya pada pertemuan yang akan datang, tentang apa yang terjadi pada (keluarga, hidup, pernikahan, hubungan) anda yang diharapkan terus terjadi” (de Shazeer, 1985 dalam Corey 2005). Pada sesi kedua, konseli dapat ditanya tentang apa yang telah mereka amati dan apa yang mereka inginkan dapat terjadi dimasa mendatang.

e. Umpan Balik (Feedback)

Para praktisi SFBT pada umumnya mengambil waktu 5 sampai 10 menit pada akhir setiap sesi untuk menyusun suatu ringkasan pesan untuk konseli. Selama waktu ini terapis memformulasikan umpan balik yang akan diberikan pada konseli. Dalam pemberian umpan balik ini memiliki tiga bagian dasar yaitu sebagai pujian, jembatan penghubung dan pemberian tugas.

E. KONDISI PENGUBAHAN

1. Tujuan

Dalam pendekatan SFBT, ada bebrapa konsep utama yang menjadi tujuan terapeutik (Berg &Miller, 1992, Walter & Peller,1992 dalam Miller, Hubble dan Duncan, 1996; Proschaska & Norcross, 2007 dalam Corey 2005). Adapun kriteria tersebut adalah:

a. Bersifat positif

Ungkapan tujuan yang terapiutik tidak berpusat pada kata-kata negative. Ia mengandung kata “ maka, sebagai gantinya” (instead). Sebagi contoh: ungkapan tujuan” saya akan meninggalkan kebiasaan minum-minuman keras” atau “saya akan keluar dari depresi dan ansietas”, belum cukup mencerminkan suasana positif. Suasana positif baru tergambar dengan jelas ketika ungkapan tersebut bermuatan tindakan positif yang akan dilakukan, sehingga menjadi “sebagai ganti kebiasaan minum-minuman keras, saya berolahraga teratur lima kali dalam sepekan”, “ sebagai ganti depresi dan ansietas, saya mengikuti perkumpulan rohani setiap malam jum`at”.

b. Mengandung proses

Kata kunci mewakili proses bagaimana, pertanyaan bertajuk bagaimana, semisal yang terwakili oleh pertanyaan “bagaiaman anda akan melaksanakan alternatif yang lebih sehat dan lebih membuahkan kebahagiaan ini?” perlu terimplisitkan juga dalam tujuan terapeutik. Dalam tujuan terapeutik itu pula perlu terkandung jawaban atas pertanyaan tersebut.

c. Merangkum gagasan tentang kurun waktu kini

Perubahan terjadi kini, bukan kemarin, bukan pula esok. Pertanyaan sederhana yang bisa membantu adalah, “ setelah anda meninggalkan hal yang lama hari ini, dan kemudian anda tetap berada pada jalur yang tepat, hal apa yang akan anda lakukan dengan cara yang berbeda? Apdengan cara pula yang akan anda katakan dengancara yang berbeda kepada diri anda sendiri, hari ini juga, bukan esok?”

d. Bersifat praktis

Sifat praktis itu terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “sejauh mana tujuan anda bias dicapai?”.Kata kunci disini adalah dapat dicapai, dapat dilaksanakan. Konseli-konseli yang hanya menginginkan pasangan meraka, karyawan mereka, orang tua mereka, atau guru mereka berubah, tidak memiliki solusi yang dapat dilaksanakan, dan mereka hanya akan ada dalam kehidupan yang dimuati lebih banyak problem.

e. Berusaha untuk merumuskan tujuan sespesifik mungkin

Hal tersebut terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “ sespesifik apa andaakan melakukan pekerjaan anda?” tujuan yang bersifat umum, global, abstrak atau ambigu, semisal yang terwakili oleh ungkapan “ menggunakan waktu lebih banyak bersama keluargaku”, tidak spesifik “ aku akan menggunakan waktu 15 menit untuk berjalan-jalan dengan ayahku setiap sore”, atau “ aku akan secara sukarela melatih regu sepak bola anakku”.

f. Adanya kendali ditangan konseli

Hal ini terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “ apa yang akan anda lakukan ketika alternatif baru terwujud?”. Kata kunci disini adalah anda.Artinya kata nada karena memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan kendali untuk mewujudkan hal-hal yang lebih baik.

g. Menggunakan bahasa konseli

Gunakan kata-kata konseli untuk membentuk tujuan, bukan bahasa teoritis konselor, “ aku akan bercakap-cakap sebagai sesame orang dewasa dengan ayahku lewat telepon seminggu sekali” (bahasa konseli) adalah lebih efektif dari pada “ aku akan menyelesaikan konflik dengan ayahku”.

2. Konselor

a. Klien sepenuhnya mengambil bagian dalam proses terapeutik jika mereka berkeinginan untuk menentukan arah dan tujuan percakapan (Walter & Peller, 1996).

b. Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan sekarang dan perubahan masa depan (Bertolipo & O’Hanlon, 2002).

c. Terapis menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi, dan co-penulis cerita-cerita mereka yang berkembang (Walter & Peller, 1996).

d. Tugas utama terapeutik terdiri dari membantu klien membayangkan bagaimana mereka akan menyukai hal-hal yang berbeda dan apa yang diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan ini (Gingericli & Eisengart, 2000).

Beberapa pertanyaan Walter dan Peller (2000) yang berguna adalah;

• “Apa yang Anda inginkan datang ke sini?”

• “Bagaimana hal itu membuat perbedaan bagi Anda?” dan

• “Apa yang menjadi tanda-tanda bagi Anda bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?”

3. Konseli

Konseli mampu berkolaborasi dengan konselor, berpartisipasi secara aktif, mempunyai motivasi dan keterlibatannya dalam konseling

4. Situasi Hubungan

De Shazer (1988) menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat dikembangkan antara terapis dan klien untuk membangun SFBT:

a. Klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi masalah dan solusi. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuan nya, usaha pribadi akan diperlukan.

b. Klien menggambarkan masalah tetapi tidak mampu berperan dalam membangun sebuah solusi. Dalam situasi ini, mantan klien umumnya respects pada terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien masalah atribut.

c. Konselor memposisikan dirinya pada posisi tidak tahu tentang klien bahwa klienlah yang ahli dalam kehidupannya sendiri.

d. Konselor menggunakan teknik empati, summarization, parafrase, pertanyaan terbuka, dan keterampilan mendengarkan secara aktif untuk memahami situasi klien secara jelas dan spesifik.

F. MEKANISME PENGUBAHAN

1. Tahap-Tahap Konseling

Secara umum prosedur atau tahapan pelaksanaan SFBT menurut Corey (2005) adalah sebagai berikut:

a. Para konseli diberikan kesempatan untuk memaparkan masalah-masalah mereka. Terapis mendengarkan dengan penuh perhatian dan cermat jawaban-jawaban konseli terhadap pertanyaan dari terapis, “ bagaimana saya dapat membantu anda?”

b. Terapis bekerja dengan konseli dalam membangun tujuan-tujuan yang dibentuk secara spesifik dengan baik secepat mungkin. Pertanyaannya adalah “ apa yang menjadi berbeda dalam hidupmu ketika maslaah-masalahmu terselesaikan?”

c. Terapis menanyakan konseli tentang saat dimana masalah-masalah sudah tidak ada atau saat masalah-masalah sudah tidak ada atau saat masalah-masalah terasa agak ringan. Konseli dibantu untuk mengeksplor pengecualian-pengecualian ini, dengan penekanan yang khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat keadaan/ peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.

d. Diakhir setiap percakapan membangun solusi-solusi (solution building), terapis memberikan konseli umpan balik simpulan, memberikan dorongan-dorongan, dan menyarankan apa yang konseli dapat amati atau lakukan sebelum sesi berikutnya yang lebih jauh untuk menyelesaikan masalah mereka.

e. Terapis dan konseli mengevaluasi progress yang telah didapat dalam mencapai solusi-solusi yang memuaskan dengan menggunakan suatu skala rata-rata. Konseli juga ditanya tentang apa yang perlu untuk dilakukan sebelum mereka melihat masalah mereka dapat terselesaikan dan juga apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

G. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

1. Kelemahan

a. Terapi bertujuan tidak secara tuntas menyelesaikan masalah klien

b. Keterbatasan waktu yang menjadi orientasi penggunaannya

c. Dalam penerapannya menuntut keterampilan konselor dalam penggunaan bahasa

d. Menggunakan teknis-teknis keterampilan berfikir (Mind Skills)

2. Kelebihan

a. Berfokus pada solusi

b. Fokus treatment pada hal yang spesifik dan jelas

c. Penggunaan waktu yang efektif

d. Berorientasi pada waktu sekarang (here and now)

e. Bersifat fleksibel dan praktis dalam penggunaan teknik-teknik intervensi

DAFTAR PUSTAKA

Burns, Kidge. 2005. Focus On Solusions A Health Professional`S Guide. London: Whurr Publishers

Capuzzi,D. & Gross,D.R.2007. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy: Theories and Intervention. Upper Saddle River, New Jersey: Perason Prentice-Hall.

Corey,Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont,CA:Brooks/Cole

Gillon, Ewan.2007. Person Centered Counseling Psychology An Introduction. London: Sage Publications

Jackson, Paul. & Mc.Kergow, Mark. 2007. The Solusion Focus (Second Edition). London: Nicholas Brealey International

Seligman,L. 2006. Theories of Counseling and Psychotherapy. Columbus, Ohio: Pearson Merril Prentice Hall

KETERAMPILAN INITIATING DALAM KONSELING

I. PEMBERIAN INISIASI DALAM MEMFASILITASI TINDAKAN KONSELI
Penginisiasian merupakan tahap kulminasi dari pemberian bantuan. Pemberian inisiasi menekankan pada memfasilitasi usaha konseli untuk bertindak dalam mencapai tujuannya. Dengan kata lain, tindakan konseli untuk mengubah atau memperoleh keberfungsian mereka. Tindakan ini didasarkan atas pemahaman mereka yang telah terpersonalisasi terhadap tujuan mereka. Hal ini difasilitasi dari inisiatif dari konselor.
Proses inisiasi (penginisiasian) mencakup penetapan tujuan, pengembangan program, perancangan jadwal serta reinforcement dan mengindividualisasian langkah-langkah. Penetapan tujuan menekankan pada pengoperasian suatu tujuan. Pengembangan program menekankan pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Perencanaan jadwal menekankan pada pelengkapan peneguhan untuk melangkah. Pengindividualisasian menekankan pada memastikan bahwa langkah-langkah tersebut berhubungan dengan bingkai referensi konseli.

II. KONDISI INTI DALAM PENGAMBILAN TINDAKAN
Walaupun penginisiasian secara luas merupakan seri tentang kegiatan mekanis yang didasarkan atas tujuan yang terpersonalisasi, konselor harus terus menerus berfungsi secara deferensial terhadap kebutuhan-kebutuhan konseli. Konselor secara terus menerus menekankan pada pemberian respon secara efektif. Setelah menjadi tambahan dalam pemberian pemahaman terhadap tujuan, konselor kembali lagi pada tingkatan yang sesuai dalam responding. Begitu pula dengan konselor yang menekankan pada pengindividualisasikan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan. Dalam prakteknya, hal ini berarti bahwa konselor selalu melakukan pemeriksaan kembali terhadap konseli dalam pengembangan dan pelaksanaan program-progam.
Konselor perlu mengkomunikasikan penghargaan yang kondisional bagi konseli. Konselor memiliki gambaran yang jelas tentang kelebihan dan kelemahan konseli, serta meneguhkan mereka dengan tujuan untuk membantu mereka mengembangkan dan melaksanakan program-program secara efektif. Keseluruhan dalam hal ini dikondisikan dalam prilaku yang sangat murni (genuine). Karena baik konselor maupun konseli saling mengetahui dengan baik satu sama lain, maka mereka dapat berhubungan dengan bebas dan terbuka sesuka hati mereka. Akibatnya, ada suatu peningkatan yang ditekankan terhadap kekhususan dan ke konkritan dalam pengembangan dan pelaksanaan program.

III. PERSONALISASI TUJUAN
a. Penetapan tujuan
Tugas yang paling kritis dalam penginisiasian adalah penetapan tujuan. Jika tujuan dan operasionalnya telah ditetapkan, maka arah pemberian bantuan menjadi jelas. Dalam memetapkan tujuan, digunakan pula 5 kata tanya dasar dengan cara yang kreatif (What, Who, Why, When, Where, How). 5 WH tersebut digambarkan dalam lingkup pengoperasian tujuan yang unsure-unsurnya terdiri atas: komponen, fungsi, proses, kondisi dan standar. Pengoperasian ini akan menekankan seluruh unsure yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
b. Penetapan komponen-komponen
Unsur pertama dari tujuan adalah komponen. Komponen menggambarkan siapa (Who) dan apa saja (What) yang terlibat dalam suatu tujuan. Komponen-komponen tersebut bisa saja mencakup unsur-unsur seperti materi pelajaran atau isi, begitu pula guru atau siswa.
c. Penetapan fungsi-fungsi
Unsur kedua dalam penetapan tujuan adalah fungsi. Fungsi menggambarkan apa yang dilakukan seseorang atau sesuatu. Fungsi adalah kata kerja operasional yang menggambarkan suatu aktifitas. Dalam lingkup pembelajaran, fungsi dapat menekankan pada aktifitas pembelajaran tertentu, misalnya: menerina, memperoleh, mengaplikasikan dan mentrasfer materi pelajaran.
d. Penetapan proses-proses
Unsur ketiga dalam penetapan tujuan adalah proses. Proses dideskrifsikan sebagai alasan (Why) dan metode (How) bagi komponen-komponen untuk mengerjakan tugasnya. Proses berupa kalimat keterangan yang memodifikasi fungsi atau aktivitas. Dalam lingkup pembelajaran konseli mungkin perlu untuk “belajar – bagaimana-cara-belajar “ dengan tujuan melakukan cara secara efektif.
e. Penetapan kondisi-kondisi
Unsur keempat dalam penetapan tujuan adalah kondisi. Kondisi menggambarkan dimana (Where) dan kapan (When) fungsi-fungsi terjadi. Kondisi juga merupakan kalimat keterangan yang mendeskripsikan fungsi. Proses belajar konseli dapat mengambil tempatdiruangan kelas selama jam sekolah. Hal tersebut penting untuk mengkhususkan kondisi dimana fungsi terjadi, untuk memastikan kelengkapan performance.
f. Penetapan standar-standar
Unsur kelima dalam penetapan tujuan adalah standar. Standar menggambarkan sebaik apa fungsi ditampilkan. Standar juga merupakan frase keterangan yang mendeskripsikan fungsi-fungsi. Keterampilan konseli dalam belajar mungkin akan mensyaratkan kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami dan mengambil tindakan atas tiap keterampilan untuk dipelajari. Ketrampilan konseli dalam bekerja mungkin mensyaratkan kemapuan untuk menangani masalah atau membuat keputusan secara terencana. Hal ini penting untuk menjadi sangat spesifik dalam menentukan criteria keefektifan. Jika tidak, konseli tidak akan tahu dimana saat-saat mereka telah mencapai tujuan yang mereka inginkan.

IV. MENGOPERASIONALKAN TUJUAN
Melalui pemberian deskripsi operasional terhadap tujuan, konseli akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuannya. Hal ini mendorong konseli untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program demi pencapaian tujuan mereka.

V. MENGKOMUNIKASIKAN TUJUAN OPERASIONAL
Tujuan operasional dikomunikasikan pada konseli dengan cara menekankan pada ketentuan-ketentuan yang dapat diamati dan diukur. Ketentuan-ketentuan ini mengacu pada standar performansi. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan tujuan dalam hubungannya dengan lama waktu yang digunakan konseli dalam melakukan suatu perilaku.

VI. PENETAPAN TUJUAN
a. Pengembangan program
Jelas tidak cukup kalau kita hanya menetapkan tujuan saja. Untuk mencapai tujuan, kita perlu mengembangkan program. Program merupakan prosedur langkah-demi-langkah yang mempermudah pencapaian tujuan. Dalam pemberian penjelasan tentang tujuan, program diperoleh dari pengoperasian. Setiap langkah dalam program harus membawa pada penyelesaian operasi-operasi yang terlibat dalam suatu tujuan.
Kebanyakan program dirangkai oleh suatu kesatuan, artinya, setiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Karena itu, perlu ditentukan apa saja langkah yang harus dilakukan sebagai persiapan langkah selanjutnya dan pada akhirnya, pengoperasian tujuan. Dalam konteks ini, program pengambilan tindakan terdiri atas, tujuan operasional, langkah pertama yang mendasar, dan langkah perantara pencapaian tujuan. Tujuan adalah yang ingin dan perlu dicapai konseli. Langkah pertama merupakan langkah yang mendasar dimata konseli memulai untuk melangkah. Langkah perantara merupakan langkah-langkah yang secara langsung membawa pada pencapaian tujuan. Semua langkah tersebut membawa konseli dari tempat ia berada ke tempat yang ia inginkan
b. Pengembangan langkah awal
Langkah pertama adalah langkah paling dasar yang harus diambil konseli. Langkah tersebut harus menjadi bahan bangunan paling fundamental dalam suatu program. Dengan demikian langkah selanjutnya dapat diambil.
c. Pengembangan langkah perantara
Langkah perantara menjembatani jurang pemisah antara langkah pertama dengan tujuan. Langkah perantara yang pertama dapat diperkirakan berada pada setengah jalan antara langkah pertama dengan tujuan.

VII. PENGEMBANGAN PROGRAM
a. Pengembangan jadwal
Proses penginisiasian berlanjut seiring konselor mengembangkan penjadwalan waktu untuk pencapaian langkah dan tujuan. Jadwal disajikan untuk memfokuskan program yang akan dilakukan. Dengan adanya jadwal, jurang waktu yang mungkin ditinggalkan oleh perhitungan waktu akhir-terbuka(open ended time) akan lebih rapat.
Penekanan utama dalam proses penjadwalan adalah pada pengembangan waktu mulai dan waktu selesai. Hal tersebut menjelaskan pada konseli dan konselor kapan suatu hal harus dilakukan atau diselesaikan. Waktu mulai dan waktu selesai juga dapat ditentukan bagi langkah-langkah individual yang akan diambil seperti halnya pada keseluruhan program. Tidak ada program yang lengkap tanpa waktu dimulai dan waktu diselesaikannya program tersebut.
b. Menetapkan waktu penyelesaian
Langkah pertama yang diambil dalam pengembangan jadwal adalah menentapkan secara khusus kelengkapan waktu dan tanggal. Misalnya, konseli dapat menentukan waktu penyelesaian yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan.
c. Menetapkan waktu pemulaian
Langkah kedua dalam pengembangan jadwal adalah menetapkan waktu dan tanggal pemulaian secara spesifik.
d. Mengawasi ketetapan waktu
Konselor dapat menetapkan waktu mulai dan selesai bagi tiap langkah sementara. Tujuan utama dari penetapan jadwal adalah untuk mengawasi ketepatan waktu atas performansi konseli terhadap pengerjaan langkah-langkah dalam program. Jadwal yang detail membuat konselor dan konseli dapat mengawasi pelaksanaan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan.

VIII. PENGEMBANGAN JADWAL
a. Pengembangan peneguhan
Langkah selanjutnya dalam penginisiasian adalah pengembangan peneguhan yang akan mendorong konseli untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan. Peneguhan menjadi sangat efektif saat diaplikasikan dengan sesegera mungkin terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang diambil.
Pelaksanaan langkah dalam pencapaian tujuan dan penanggulangan kekurangan diri sering kali berakibat terlalu jauh pada konseli. Banyak jenis peneguhan yang harus diperkenalkan pada konseli secepat mungkin. Lebih jelasnya, peneguhan-peneguhan ini harus datang dari bingkai referensi konseli.Banyak program pemberian bantuan yang gagal karena ketidakmampuan program tersebut untuk memberikan peneguhan yang sesuai. Perhatian apapun – bahkanyang negatif – dapat lebih meneguhkan dibanding proses peneguhan dalam suatu program. Empati merupakan sumber dari seluruh pengetahuan tentang peneguhan yang kuat bagi konseli.
1. Peneguhan positif
Peneguhan positif atau melalui reward adalah jenis peneguhan yang palingpotensial. Orang cenderung dapat bekerja keras demi sesuatu yang benar-benar berarti baginya. Hal ini berarti konselor harus bekerja dengan tekun untuk mengembangkan peneguhan positif terhadap bingkai referensi konseli. Kemudian konseli juga harus bekerja dengan tekun untuk menerima peneguhan tersebut. Peneguhan dapat bervariasi seiring dengan meningkatnya cita rasa alami manusia dengan sendirinya.
2. Peneguhan negative
Sebisa mungkin konselor harus mencegah peneguhan negatif. Dalam konteks ini penerapan atas peneguhan negatif dapat menstimulasi reaksi lainnya, misalnya reaksi penolakan terhadap orang yang memberikan hukuman. Untuk mencegah agar tidak berhadapan dengan reaksi semacam ini, konselor harus berusaha untuk menetapkan peneguhan negatif tersebut sebagai ketiadaan reward.
Konselor perlu untuk meneguhkan konseli secara positif dan membuat perilaku konseli menjadi terarah pada tujuan, serta mencegah perilaku tidak bertujuan dan peneguhan negatif pada konseli. Kebanyakan program terdiri atas langkah-langkah yang terangkai dalam satu kesatuan, dimana tiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Beberapa konseli tidak dapat melaksanakan langkah tersebut segera setelah mereka merancangnya. Langkah-langkah tersebut memerlukan pengindividualisasian program terhadap gaya belajar masing-masing. Jenis individualisasi program, berupa rangkaian langkah-langkah dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkrit sampai yang abstrak, dari yang dekat sampai yang jauh. Seringkali langkah langkah ini berbeda dengan langkah-langkah yang terangkai dalam suatu kesatuan. Rangkaian langkah-langkah dapat berupa langkah-langkah sederhana ke kompleks, langkah-langkah konkrit ke abstrak, dan langkah-langkah jangka pendek ke jangka panjang.
Pengembangan inisiatif merupakan puncak pelaksanaan proses pemberian bantuan. Dengan memberikan tujuan yang terpersonalisasi dalam proses initiating, mendorong konselor dan konseli untuk menetapkan tujuan dan mengembangkan program pencapaian tujuan. Proses pemberian bantuan adalah suatu proses yang berkaitan dengan menangani masalah konseli dan membantu meraih tujuannya. Pada tingkatan tertinggi dalam pemberian bantuan, proses Responding dan initiating berhubungan secara integral. Tidak ada perwujudan dari pemahaman bila tidak ada tindakan, tidak aka nada pula suatu tindakan tanpa adanya pemahaman.

sumber:
Carkhuff,Robert R.(1985)The Art of Helping.America:Bernice R.Carkhuff.Publisher

TEORI PERKEMBANGAN KARIR: PERSPEKTIF SOCIAL LEARNING THEORY DARI KRUMBOLTZ

Konsep Dasar

Jika kita bicara mengenai bimbingan karir melalui pendekatan pemilihan karir dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Krumboltz, Mitchell dan Gelatt. Maka kita harus melihat terlebih dahulu konsep dasar dan latar belakang dari teori belajar sosial itu sendiri, yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang telah memperoleh penghargaan APA (American Psychological Award) pada tahun 2004, atas kontribusinya dalam disiplin ilmu psikologi.
Bandura memandang bahwa kepribadian harus memperhitungkan konteks sosial dimana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara. Teori belajar sosial dari Bandura ini didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond reinforcement), dan pengaturan diri sendiri/berfikir (self regulation/cognition).
1. Determinis resiprokal ini menjelaskan bahwa tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan.
2. Tanpa reinforcement ini Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung pada reinforcemen, sehingga jika setiap unit respon sosial yang komplek harus diberi reinforce satu persatu, bisa jadi individu tidak belajar apapun. Maka Bandura memandang individu belajar lewat observasi dan tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi.
3. Kognisi dan regulasi diri, konsep ini mengtakan bahwa individu memiliki kemampuan untuk mengtur diri sendiri, mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengobservasi lingkungan dan berfikir secara komprehensif.

Formulasi Albert Bandura, Reciprocal Determinism

Maka dengan adanya konsep saling menentukan yaitu resiprocal determinism, individu bertingkah laku akan bergantung pada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi personal (kognitif, afektif, biological events), yang berujung kepada faktor kognitif pada keyakinan dan pengharapan bahwa dia mampu atau tidak mampu dalam suatu aktifitas atau pekerjaan. Bandura menyebut keyakinan dan pengharapan ini dengan efikasi diri (self effication) dan ekspektasi hasil (outcome expectations).
Menurut Bandura sumber dari efikasi diri ini yaitu
1. Mastery Experience (pengalaman yang telah dikuasai/pengalaman performansi), hal ini berkaitan akan keberhasilan dan pengalaman individu dalam suatu kegiatan dan aktifitas, yang menunjang aktifitasnya kedepan.
2. Vicarious Experience (pengalaman yang disubtitusikan), hal ini berkaitan akan pengalaman individu dalam mengamati aksi atau tindakan orang lain sebagai modelnya. Semakin tinggi pengaruh sumber ini jika individu tersebut menganggap orang lain tersebut memiliki kesamaan dengannya.
3. Social Persuasions (persuasi sosial), hal ini berkaitan dengan pesan sosial yang diperoleh individu dari orang yang berada di lingkungannya.
4. Psychological States (kondisi psikologis), hal ini berkaitan tentang keadaan emosi individu seperti stress, anxiety (ketakutan) serta kondisi mood.
Maka menurut Bandura (dalam Al Wisol hal. 363), sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku dan kognitif yang berhubungan dengan pribadi yang terbentuk dari sumber efikasi diri di atas. Yang tentunya akan mengarahkan individu kepada kecendrungan aktifitas mana yang akan di lakukannya dalam kehidupan sosialnya.
Berdasarkan perspektif teori di atas tersebut Krumboltz, Mitchell dan Gelatt mengembangkan teori tersebut dalam konseling karir serta menjadi pendekatan dalam membuat pemilihan dan penentuan karir.

Pemilihan Karir Dengan Pendekatan Teori Belajar Sosial Dari Krumboltz
Pendekatan perspektif teori belajar sosial untuk pemilihan karir yang dikemukakan oleh John D. Krumboltz dkk, berdasarkan teori belajar sosial yang di susun oleh Albert Bandura (1969) yang memiliki peran tentang pengalaman vikarius, pengalaman performansi, regulasi diri, serta adanya resiprocal determinism yang memainkan peran dalam penentuan perilaku, antara personal, environment dan behavior.
Dasar dari teori pemilihan karir dari Krumboltz ini memandang bahwa manusia memilih karirnya sebagai hasil dari pengalaman dan pengaruh yang di miliki dalam hidupnya. Pengalaman dan pengaruh ini termasuk orang tua, guru, hobi atau ketertarikkan yang menggerakkan individu untuk mengenal serta mengeksplorasi pekerjaan yang diasosiasikan dengan elemen dalam hidupnya.

Pada awalnya Krumboltz, Mitchell dan Gelatt (1975) menyusun pendekatan ini sampai pada tahun 1994 Krumboltz melanjutkan pendekatan ini. Menurut pandangan mereka teori belajar sosial dalam penentuan pilihan merupakan hasil perkembangan secara umum dari perilaku belajar sosial, yang di ajukan oleh Bandura. Teori ini berasumsi bahwa kepribadian dan perilaku yang dimiliki seseorang timbul dari pengalaman belajar yang unik. Pengalaman belajar ini terdiri dari kontak antara analisis kognitif yang positif dan even-even yang menguatkan secara negatif (Mitchell & Krumboltz, 1984b, hal. 235).
Pengalaman belajar yang terdiri dari pengaruh kognitif yang positif dimaksudkan adalah faktor-faktor berikut:
1. Atribut pembawaan, seperti ras, gender hal lainnya serta kemampuan bawaan seperti keterampilan, keintelektualan serta perilaku.
2. Kondisi lingkungan sosial, seperti kehidupan sosial, pengalaman individu dalam kerja, pelatihan, kebijakan sosial serta pengalaman kerja dari orang lain, yang mempengaruhi pemilihan kerja.
3. Pengalaman belajar di masa lalu, dibagi menjadi 2 tipe yaitu pengalaman belajar asosasi yang mana individu mengamati keterkaitan antara kejadian da mampu untuk memprediksi segala kemungkinan. Pengalaman belajar secara aplikasi, individu mampu mengaplikasikan di lingkungan secara langsung dengan hasil yang dapat diobservasi.
4. Skill dalam pendekatan tugas, berkaitan skill individu dalam melaksanakan tugas baru, melalui pengalaman bahwasanya seperti pemecahan masalah, skill, kebiasaan kerja, mental set, respon emosional serta proses kognitif.
Dari 4 faktor-faktor di atas menyebabkan pengaruh primer yang sangat penting dalam penentuan karir individu yaitu:
1. Self observation generalizations (SOG’s), hal ini merupakan penggambaran bahwa belajar individu berdasarkan pada pengalaman hidupnya yang diperoleh lewat vikarius even atau pengalaman pribadi.
2. Worldview generalizations, melihat gambaran lingkungan secara umum dan percaya bagaimana dunia berfungsi, meniru lingkungan dan menginterpretasikan
3. Task approach skill (TAS’s), kemampuan kognitif dan performa serta kemampuan untuk menyatu dengan lingkungan serta menginterpretasikan hal tersebut kepada pengamatan diri sendiri, kaitannya dengan pemilihan karir adalah adanya skill akan perencanaan, pencarian informasi, estimasi serta mempertimbangkan nilai kerja.
4. Tindakan yang ditampakkan, hal yang ditampakkan itu sangat spesifik, yang berhubungan dengan perilaku dalam pemilihan kerja yang sebabkan pengamatan diri sendiri, penggeneralisasian serta pendekatan skill dalam tugas di atas tadi, seperti nantinya individu akan mengetahui kerja yang spesifik dengan skillnya. Atau bisa disebut, kemajuan dalam karir seperti menerima kerja yang spesific.
Maka 4 pengaruh primer pada diri individu di atas merupakan hasil dari 4 faktor sebelumnya, oleh karena itu meningkatnya derajat spesikasi dari 4 faktor tersebut, Maka individu mampu memperlihatkan kemampuannya jika dia telah diperkuat untuk melaksanakan aktivitas dengan performa yang sukses.
Sedangkan yang disebut pengaruh even negatif sebelumnya adalah dianggap tidak mampu dalam bekerja bahkan menolak suatu aktifitas jika mereka telah dihukum dalam melaksanakan aktifitas tersebut, atau telah melihat orang lain yang dihukum ketika melakukan aktifitas tadi. Maka secara positif dipengaruhi oleh nilai seseorang yang negatif terhadap suatu aktifitas atau telah dipengaruhi oleh kata-kata yang dikaitkan dengan aktifitas tadi.
Oleh karena itu, teori belajar sosial dalam menentukan pilihan kerja menjelaskan mengenai pilihan karir yang sebenarnya, dan teori mengenai belajar dalam pemilihan karir juga menggambarkan apa yang bisa dilakukan konselor untuk membantu klien mereka menyelesaikan dilema kerja klien tersebut.
Mitchell dan Krumboltz (1984, 1990, 1996) telah mendiskusikan inventori penelitiannya secara komprehensif hampir 2 dekade yang menghadirkan bukti-bukti yang bisa diakui untuk membantu proses pemilihan karir lewat teori belajar sosial, maka dengan hal tersebut membantu hipotesis yang bisa di generalisasikan kepada teori konseling karir.
Di tahun 1994, Krumboltz memperkenalkan proposisi yang di ambil dari teori, yang termasuk adalah:
Orang akan menerima pekerjaan bila:
1. Mereka telah sukses pada tugas yang mereka percaya seperti performa anggota dalam pekerjaan tadi.
2. Mereka telah mengobservasi model yang berarti yang telah diperkuat untuk aktifitas yang dilaksanakan oleh anggota yang bekerja.
3. Penekanan yang relatif kepada teman berguna untuk mereka, mereka juga mengamati kata-kata positif dan gambaran yang diasosiasikan dengan hal tersebut.

Proposisi yang berlawanan bila:
1. Mereka gagal pada tugas yang mereka percaya bisa yang sama dengan tugas yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam pekerjaan.
2. Mereka telah mengobservasi model memiliki makna baginya yang mendapatkan hukuman atau tidak diacuhkan dalam melaksanakan aktifitas dalam pekerjaan.
3. Telah mengamati teman yang tidak menguntungkan baginya serta telah dipengaruhi kata-kata dan image yang diasosiasikan dengan kerjanya.

Diantara banyaknya aplikasi praktis dari kerja Krumboltz (1983) adalah adanya aturan pembuatan pilihan dan bagaimana hal ini bisa mempengaruhi kepercayaan yang tidak rasional. Seperti Krumboltz telah memperkenalkan masalah yang timbul dari observasi diri, generalisasi yang salah serta ketidak akuratan interpretasi kondisi lingkungan.
Maka masalah ini diantaranya:
1. Individu mungkin tidak dapat mengakui bahwa masalah yang dihadapinya dapat diatasi (mereka berasumsi bahwa sebagian besar masalah merupakan bagian dari kehidupan yang normal dan tidak dapat diatasi).
2. Individu mungkin tidak dapat melakukan upaya yang dibutuhkan untuk membuat keputusan atau memecahkan masalah (mereka tidak banyak berusaha mengeksplorasialternatif).
3. Individu mungkin tidak menyadari adanya alternative yang memuaskan (mereka melakukan overgeneralisasi asumsi yang salah).
4. Individu mungkin memilih alternative yang buruk atau alas an yang tidak tepat (individu tidak mampu mengevaluasi karir secara realistic karena keyakinan yang salah dan ekspektasi yang tidak relistik).
5. Individu mungkin mengalami kekecewaan dan kecemasan akibat persepsi bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya (tujuannya mungkin tidak realistik atau konflik dengan tujuan lain).
Oleh karena itu seorang konselor harus mengenal dan menelusuri masalah ini dan menganalisa hal tersebut dalam melakukan konseling karir.

Krumboltz mengatakan bahwa secara potensial penyebab kesusahan dalam membuat pemilihan karir yang bersumber dari penggeneralisasian yang salah, pembandingan diri dengan satu orang, perkiraan yang dilebih-lebihkan dalam hasil dampak emosional, menggambarkan hubungan sebab akibat yang salah, ketidak acuhan dalam hubungan fakta dan memberikan kecendrungan yang tak pantas kepada even yang probabilitas lemah. Maka Krumboltz percaya bahwa beberapa dari hal ini berhubungan kepada fakta kesusahan dalam menentukan pemilihan karir.
Maka peranan konselor adalah menelusuri asumsi-asumsi dan keyakinan individu dan mengeksplorasi alternatif keyakinan dan tindakan yang perlu dilakukan. Membantu individu memahami sepenuhnya validitas keyakinan individu merupakan komponen utama model social-learning.

Aplikasi Dalam Bimbingan Konseling Karir
Krumboltz dan Baker (1973) mengidentifikasi beberapa langkah yang terlibat dalam konseling karir yaitu
1. Menjelaskan masalah dan tujuan
2. Mengidentifikasi bermacam solusi
3. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang telah dikenali
4. Menguji kemungkinan hasil dari pilihan yang beragam
5. Mengevaluasi ulang tujuan, menentukan
6. Menyamaratakan semua proses kepada masalah yang baru
Masalah karir klien sering berhubungan kepada ketidakmampuan individu untuk membuat pemilihan yang berhubungan dengan apa yang dibutuhkan dalam karirnya (Krumboltz and Thoresen, 1969). Crites (1981) memberikan beberapa point mengenai masalah klien yang berhubungan dalam konseling karir yang termasuk dalamnya beberapa kombinasi yaitu:
1. Ketidakjelasan tujuan
2. Adanya penghalang dalam aktifitas
3. Adanya ketakutan akan kemungkinan kegagalan
4. Konflik dalam pilihan
Keempat point ini adalah diantaranya item dalam Skala Pilihan Karir (Osipow, Carney, Win;er, Yanico and Koschier, 1976; Osipow, 1980), sebagai instrument yang didesain untuk mengukur kebimbangan karir terdahulu dengan differential-diagnosis-treatment.
Status dan Kegunaan Teori Krumboltz (Krumboltz, 1996; Mitchell & Krumboltz, 1996) hanya menarik perhatian sebagian kecil peneliti dan praktisi meskipun banyak yang merekomendasikannya. Teori ini cukup atraktif sebagai dasar konseling karir. dia menolak gagasan tradisional bahwa tujuan konseling karir adalah untuk memilih pekerjaan berdasarkan karakter personal pembuat keputusan. Tetapi, dia menyarankan bahwa tujuannya adalah untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan tentang diri dan skill yang dibutuhkan untuk menangani dunia yang selalu berubah yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Dia mengembangkan Career Belief’s Inventory (Krumboltz, 1991) dan buku catatan yang menyertainya (Levin, Krumboltz, & Krumboltz, 1995) untuk membantu pembaca mengidentifikasi keyakinan mereka dan memadukannya dengan minat mereka. Menurut Krumboltz, Individu yang tidak belajar untuk mengambil keuntungan dalam kesempatan pembelajaran yang diberikan kepada mereka dalam pelatihan dasar berkelanjutan cenderung untuk membuat keputusan tidak bagus. Yang paling penting, konseling karir harus menyiapkan klien untuk mengenali dan mengambil keuntungan dari kesempatan pembelajaran yang diberikan pada mereka. Konseling karir harus dilakukan dengan empat pertimbangan.
1. Para klien harus siap untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian mereka dibandingkan keadaan mereka ketika pertama kali mereka masuk proses konseling. Konselor karir harus membantu klien untuk memetakan status mereka dan memberikan garis besar rencana untuk perubahan dan pengembangan. Dengan adanya rencana untuk berubah. Para klien mengembangkan struktur perkembangan kesempatan mereka.
2. Para klien harus siap dengan sebuah kondisi umum pekerjaan yang sedang berubah.
3. Meskipun diagnosa permasalahan pengembangan karir saat ini adalah sebuah langkah dalam proses konseling karir, hal ini tidak cukup. Para klien harus didorong untuk menghadapi tekanan dunia yang selalu berubah.
4. Para konselor karir harus lebih fokus dan membantu klien menangani serangkaian masalah pekerjaan yang meeka hadapi. Klien harus memahami nilai dan hal yang memuaskan mereka. Mereka harus meraih kontrol hidup mereka, untuk mampu menangani permasalahan di tempat kerja, termasuk bagaimana maju di tempat kerja dan rencana untuk berhenti.

Krumboltz et. al juga memberikan beberapa observasi untuk konseling karir sebagai berikut:
1. Pembuatan keputusan karir merupakan keterampilan yang dipelajari.
2. Individu yang mengaku telah melakukan pilihan karir memerlukan bantuan juga (pilihan karirnya mungkin telah dilakukan berdasarkan informasi yang tidak akurat dan alternatif yang keliru).
3. Keberhasilan diukur berdasarkan keterampilan yang telah ditunjukkan mahasiswa dalam membuat keputusan (diperlukan evaluasi terhadap keterampilan membuat keputusan).
4. Klien berasal dari berbagai macam kelompok.
5. Klien tidak usah merasa bersalah jika mereka tidak yakin tentang karir apa yang harus dimasukinya.
Pada akhirnya Krumboltz, mengatakan adanya metode untuk mengidentifikasi akan kepercayaan pribadi dan pengidentifikasian stress. Yang terdiri dari diantaranya (Krumboltz, 1983; Mitchell & Krumboltz, 1984):
1. Asesmen terhadap isi dari observasi diri klien dan pandangannya terhadap lingkungan
2. Simulasi pemilihan karir
3. Wawancara terstruktur
4. Career Thought Inventory (CTI) (Sampson, Peterson, Lenz, Reardon, & Saunders, 1996), dikembangkan untuk mendiagnosa berbagai macam aspek permasalahan pengambilan keputusan karir. CTI ini membantu dalam model Career Informations-Processing (CIP) yang pertama kali dipublikasikan tahun 1991 (Peterson, Sampson, & Reardon, 1991) dan baru-baru ini direvisi (Peterson, Sampson, & Reardon, 2002). Aplikasi model CIP dimulai dengan menilai kesiapan individu untuk membuat pilihan-pilihan karir yang masuk akal serta kemampuan kognitif dan afektif untuk membuat pilihan-pilihan tersebut.
5. Pengunaan Carrer Belief’s Inventory (Krumboltz, 1988a), untuk mengindentifikasi prasangka yang menghambat orang dalam mencapai tujuan karirnya.

sumber:
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.
Edwin L. Herr, dkk. 2004. Career Guidance And Counseling Through The Lifespan. Edisi ke-6. Boston: Pearson Educations, Inc.
Lee E. Isaacson. 1986. Career Information In Counseling And Career Development. Edisi ke-4. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Samuel H. Osipow. 1983. Theories Of Career Development. Edisi ke-3. New Jersey: Prentice Hall, Inc.