keterampilan mendengarakan (listening)

A. Pengertian Mendengarkan (Listening)
Mendengarkan (Listening) adalah keterampilan performansi. Anda dapat melakukannya dengan baik jika Anda berusaha untuk berbicara banyak. Siswa dalam kelas bahasa asing terkadang mengalami kesulitan mendengarkan dan berbicara karena mereka takut membuat kesalahan. Tidak apa-apa berbuat salah. Santai saja dalam berbicara. Mendengarkan adalah proses yang terjadi setelah ada rangsangan suara menyentuh lapisan pendengaran di otak ( Rost, 2007:7-8 ).
Keterampilan mendengarkan adalah kemampuan pembimbing atau konselor menyimak atau memperhatikan penuturan klien selama proses konseling berlangsung. Pembimbing atau konselor harus bisa jadi pendengar yang baik selama sesi konseling berlangsung. Tanpa keterampilan ini, pembimbing atau konselor tidak akan dapat menangkap pesan pembicaraan.

B. Keterampilan Inti Konseling
Keterampilan inti dalam konseling adalah dengan mendengar aktif (listening). Konseling adalah mendengar aktif agar klien memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri, dapat mengatasi lingkungan hidup agar lebih konsultif.Untuk memperoleh atau menjadi pendengar aktif diantaranya membiasakan diri dengan hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal adalah melibatkan dua orang dalam komunikasi yang intim, bertujuan memberikan penguatan-penguatan pada orang yang diajak bicara. Untuk menjadi dan membina hubungan interpersonal dengan baik, ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu:
a. Sering bergaul dengan orang
b. Memahami berbagai cara bagaimana membuka diri untuk berbicara dan membuka diri pada orang lain.
c. Berbagi perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran dengan orang lain.

Mendengarkan Aktif Melibatkan 4 aspek:
Mengapa mendengarkan dengan aktif itu sangat penting dalam konseling? Karena konseling menggunakan kemampuan mendengarkan, maka bukanlah mendengarkan yang biasa yang diperlukan untuk dapat memahami klien atau orang yang akan meminta bantuan kita untuk mendapatkan konseling. Men-dengarkan aktif meliputi empat intensi (niat) yang ada dalam diri orang yang mendengarkan:
a) Mengerti Seseorang: pendengar yang baik akan mendapatkan kesan (impresi) sebagai tahap awal pemahaman tentang orang yang diajak bicara. Semakin sungguh-sunggu kita mendengarkan semakin banyak hala yang kita mengerti tentang orang tersebut.
b) Menikmati Percakapan: keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan jadi menyenang-kan untuk dinikmati, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.
c) Belajar Sesuatu: ternyata, tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, sebagai konselorpun anda dapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien anda.
d) Memberikan Bantuan: ketika seseorang mendengar-kan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat membantu orang yang didengar. Bantuan ini bisa berupa dukungan dan tentunya yang penting adalah kesediaan anda untuk mendengarkannya.

C. Tahapan Listening
Dalam proses pembelajarannya, mendengarkan memiliki 3 prosedur, seperti yang disampaikan oleh Underwood (1989:30-45) :
1. Pre Listening Stage (tahap sebelum proses mendengarkan)
Pada tahap ini peserta didik melakukan beberapa aktifitas sebelum mendengarkan. Misalnya, membaca soal yang diberikan.
2. While Listening Stage (tahap selama mendengarkan)
Tahapan dimana peserta didik diminta untuk melakukan aktifitas-ktifitas selama mereka menengarkan. Tujuannya adalah membantu peserta didik meningkatkan kemampuan untuk memperoleh pesan dari bahasa lisan. Contoh: mencocokakan gambar, pilihan ganda, betul atau salah dan mendikte.
3. Post Listening Stage (tahap setelah proses mendengarkan)
Aktifitas yang berkaitan dengan kertas soal yang dikerjakan setelah mendengarkan. Disini peserta didik mempunyai waktu untuk berfikir, diskusi dan menulis jawaban.

Dari penjelasan tersebut, kita tahu bahwa proses mendengarkan terjadi secara psikologis setelah rangsangan suara menyentuh lapisan di otak yang berhubungan dengan pendengaran. Proses mendengarkan seperti yang telah dijelaskan oleh Rivers dan Temperley yang dijelaskan oleh Nicolas (1988:19) adalah melalui beberapa tahap:
1. Setelah seseorang mendengar suara atau getaran suara, reaksi pertamanya adalah menentukan apakah suara tersebut terorganisasi atau suara acak sederhana. Oleh karena itu, sebelum dia mencoba untuk memahami suara tersebut atau gagal memahaminya, seseorang harus merasakan apakah suara tersebut sistematik atau tidak.
2. Menentukan struktur dari getaran suara tersebut, sebagai contoh dengan memisahkannya menjadi kata, kalimat jika itu adalah bahasa atau unit lain yang sama jika getaran tersebut berupa musik.
3. Menganalisa suara tersebut di otak, memilih yang penting. Informasi yang terpilih diingat atau membedakannya dari yang lain dan menyimpannya dalam memori otak untuk penggunaan masa datang.

Sebagai tambahan, Brown (1994) membagi proses mendengarkan menjadi 8, yaitu:
1. Pendengar memproses suara mentah (frase, klausa, kumpulan tanda baca, intonasi dan penekanan) dan menjadikannya sebagai memori pendek.
2. Pendengar menentukan tipe suara yang telah diproses sebelumnya dan memberikan warna.
3. Pendengar menyimpulkan tipe dari suara tersebut, isinya, apakah pembicara membujuk, meminta, menukar, menyetujui, membantah dan yang lainnya.
4. Pendengar mengingat kembali informasi sebelumnya (schemata) umruk membantu menginterpretasikan pesannya.
5. Pendengar menandai artinya. Proses ini meliputi interpretasi semantic dari permukaan gendang telinga.
6. Pendengar menandai arti tadi. Kesalahan pemahaman arti suara menyebabkan kekacauan dalam pembicaraan.
7. Pendengar menentukan apakah informasi tersebut harus disimpan dalam memori singkat.
8. Pendengar menghapus bentuk orisinil dari pesan tersebut yang telah diubah dalam bentuk memori singkat.

R. Sinurat dalam bukunya “Ketrampilan Komunikasi 2: Tanggapan Empatik dan Asertif“ (Seri Pastoral 313: 2000, hal 7-8) menekankan pula pentingnya ketrampilan mendengarkan aktif model Gordon ini. Agar model mendengarkan aktif menjadi efektif dalam praksisnya, konselor harus memiliki sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap tersebut adalah:
1. Sikap mempercayai kemampuan konseli untuk mengatasi perasaan-perasaannya dan mencari penyelesaian terhadap masalahnya. Konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya.
2. Sikap menerima perasaan konseli secara sungguh-sungguh, apa pun perasaan itu.
3. Kesadaran murni bahwa perasaan hanyalah sementara (labil), tidak tetap. Perasaan-perasaan konseli tidak akan selamanya berada dalam diri orang yang bersangkutan.
4. Kesediaan konselor meluangkan waktu untuk mendengarkan.
5. Konselor harus sungguh-sungguh mau menolong konseli menghadapi masalahnya pada saat yang bersangkutan.
6. Sikap melihat konseli sebagai pribadi yang unik, yang terpisah, yang mempunyai kehidupan sendiri, dan memiliki perasaan-perasaannya sendiri.
7. Kesadaran konselor bahwa tidak setiap orang dapat langsung mengungkapkan masalah yang sesungguhnya dihadapi.
8. Konselor harus mengedepankan privacy konseli dan merahasiakannya.

Banyak ahli konseling mengungkapkan bahwa model mendengarkan aktif ini efektif dan banyak bermanfaat dalam prakteknya. Pada tataran praksis model mendengarkan aktif memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut yaitu:
1. Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang atau hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka).
2. Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif.
3. Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
4. Memudahkan pemecahan masalah.
5. Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan pendapat orang lain.
6. Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Untuk menjadi pendengar yang baik (active listener), seseorang juga perlu mengindentifikasi sejumlah hambatan (blocks) dalam mendengarkan. Berikut akan disajikan daftar hambatan dalam mendengarkan yang secara sengaja maupun tidak sengaja sering dilakukan namun berpengaruh pada kemampuan atau latihan untuk menjadi pendengar yang baik.
1. Membandingkan: mendengarkan menjadi sulit ketika kita sibuk membandingkan: “Siapa yang lebih cerdas?”, “Siapa yang lebih beruntung?”, “Siapa yang lebih bekerja keras? Kamu atau saya?”, dst.
2. Membaca pikiran: Seorang pembaca pikiran tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian pada orang yang diajak bicara bahkan pada pa yang dibicarakan oleh orang tersebut. Dia mencoba mencari tahu apa yang sungguh-sungguh dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut.
3. Mengulang-ulang: Anda tidak akan punya waktu untuk mendengarkan ketika anda mengulang/melatih apa yang akan anda katakan. Pikiran anda mempersiapkan komentar anda selanjutnya.
4. Menyaring: tidak ada pesan yang utuh diterima jika pendengar menyaring isi pembicaraan.
5. Mendakwa: hambatan ini adalah kecenderungan yang paling sering dilakukan karena ada stereotype tertentu pada orang yang kita ajak bicara.
6. Berimajinasi: masukkan tag tebal pendengar yang tidak sungguh-sungguh mendengarkan biasanya akan cepat dan mudah untuk melamun dan berimajinasi tentang hal-hal lain sementara pembicaraan terus berlangsung.
7. Mengindentifikasi: beberapa pokok pembicaraan se-ring sama dengan identitas pembicara dan seringkali mengganggu pendengar jika dia dengan sengaja mengindentifikasikan hal tersebut dengan dirinya.
8. Menasehati: dalam hal ini pendengar bertindak seolah-olah sebagai `problem solver’ yang paling hebat, selalu siap dengan saran, masukan, tips dsb tanpa mendengarkan baik-baik karena pendengar sibuk menyiapkan nasehat jitu. Anda tidak dapat mendengarkan perasaan-perasaan klien jika hanya terdorong memberikan nasehat.
9. Bertengkar: kadangkala, karena tidak mendengarkan sungguh-sungguh kita cenderung untuk mengajak orang lain berdebat bahkan bertengkar. Ini berarti kita tidak bersedia membuka hati untuk mendengarkan apa maksud si pembicara.
10. Membenarkan diri: masih ada kaitannya dengan bertengkar, kecenderungan untuk mendengarkan diri sendiri berakibat pada keinginan untuk membenarkan diri dan akhirnya kehilangan momentum untuk menangkap inti pesan yang sesungguhnya dari orang yang sedang diajak bicara.
11. Mengalihkan topik: karena kita tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh maka kita akan bosan, kebosanan tersebut akan semakin mem-buat kita mudah untuk mengalihkan topik.
12. Mendamaikan: artinya, menghibur orang yang kita ajak bicara dengan cepat supaya tidak masuk ke inti pembicaraan yang lebih dalam karena kita tidak ingin mendengarkan lebih jauh.

sumber :
Carkhuff, Robert R. (1985). The Art of Helping. U.S.A.: Human Resource Development Press.Inc.
Willis, Sofyan S. (2010). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY

A. Sejarah Perkembangan

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) sebagai salah satu pendekatan dalam konseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh Alber Ellis sejak tahun 1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg, Pensylvania tahun 1913. Sebagai pakar psikologis klinis, ia memulai karirnya di bidang konseling perkawinan, keluarga dan seks. Rational Emotive Behavior Therapy lahir dari ketidakpuasan Ellis terhadap praktek konseling tradisional yang dinilai kurang efisien, khususnya psikoanalitik klasik yang pernah ditekuni. Berdasarkan temuan-temuan eksperimen dan klinisnya, Ellis memperkenalkan pendekatan baru yang lebih praktis, yaitu Rational Emotive Behavior Therapy. Pendekatan ini menjadi popular bersamaan dengan dipublikasian buku perdanya ”Reason an Emotion in Psychotherapy” pada tahun 1962. Albert Ellis (2 September 1913 – 24 Juli 2007) adalah seorang psikolog Amerika, ia dilahirkan dari keluarga Yahudi dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah Ellis adalah seorang pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis dan kurang memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dalam otobiografinya, Ellis menyebutkan ibunya sebagai perempuan yang tenggelam dalam kesibukannya sendiri dan merupakan pengoceh yang tidak pernah mendengar orang lain. Seperti ayahnya, ibunya mempunyai jarak emosional dari anak-anaknya. Ellis mengatakan bahwa pada saat dia pergi sekolah, ibunya masih tidur dan pada saat pulang sekolah ibunya sudah tidak ada di rumah. Kepahitan tentang kedua orang tuanya itu, Ellis harus mengambil tanggung jawab untuk mengurus saudara-saudaranya. Sebagai anak-anak, Ellis sering sakit dan menderita berbagai masalah kesehatan pada masa remajanya. Pada umur 5 tahun, dia dirawat di rumah sakit karena penyakit ginjal, kemudian juga karena penyakit amandel yang menyebabkan infeksi kerongkongan yang parah sehingga memerlukan operasi. Orang tuanya hampir tidak memberikan dukungan emosional dan jarang sekali menjenguknya. Ellis mengatakan bahwa dia belajar berkonfrontasi dengan penderitaannya itu. Pada tahun 1947 Ellis memperoleh gelar Doktor kehormatan di Columbia dan pada saat itu dia meyakini bahwa psikoanalisis merupakan bentuk terapi yang sangat mendalam dan sangat efektif. Seperti halnya dengan para psikolog di saat itu, dia sangat tertarik dengan teori Sigmund Freud. Kemudian lama kelamaan kesetiannya kepada psikoanalisis memudar. Dalam formasi awalnya, Ellis menekankan terapi rasional, yaitu unsur kognitif dari perilaku manusia, asumsi ini sangat bertentangan dengan asumsi yang popular pada pertengahan tahun 1950-an. Kemudian pendekatannya itu diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur kognitif. Modifikasi selanjutnya Rational Emotive Behavior Therapy ini mencakup teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal, latihan menyerang perasaan malu. Dengan demikian, Rational Emotive Behavior Therapy ini dapat dipandang sebagai model terapi perilaku yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini telah mengalami evolusi sedemikian rupa, yang pada akhirnya menjelma menjadi pendekatan yang komprehensif dan ekletik yang menekankan unsur-unsur berpikir, menimbang, memutuskan dan melakukan. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini merupakan salah satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan (education) dan pengajaran (teaching) dengan mempertahankan dimensi pikiran daripada perasaan. Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi, semula Ellis menekankan unsur rasional-kognitif, kemudian diperluas dengan memasukkan unsur perilaku. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif-sejajar dengan konseling realitas yang dikembangkan oleh Glesser-dengan beberapa ciri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif, direktif, menekankan situasi sekarang dan berfikir yang lebih rasional serta menekankan pada segi aksi konseli. Dari situlah maka Rational Emotive Behavior Therapy tak ubahnya merupakan proses pemerolehan pemahaman yang sekaligus tampak pada perbuatan atau perilaku konseli.

B. Hakikat Manusia

Menurut Corey (2009: 276) Rational Emotive Behavior Therapy memandang manusia pada dasarnya adalah memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Manusia memiliki kecenderungan untuk self-preservation, kebahagiaan, berpikir dan mengucapkan dengan kata-kata, mencintai, berkumpul dengan yang lain, tumbuh dan aktualisasi diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk self-destruction, menghindari buah pikiran, prokantinasi, memiliki kepercayaan di luar kenyataan, perfeksionis dan mencela diri sendiri, kurang bertoleransi, menghindari potensi aktualisasi diri. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir rasional adalah sebagai berikut: – Flexible preferences (saya ingin diakui, tetapi saya tidak terlalu menginginkan) – Anti-awfulizing beliefs (ini buruk untuk tidak diakui, tetapi ini bukanlah akhir dari dunia) – High frustration tolerance beliefs (ini sulit untuk menghadapi bahwa saya tidak diakui, tetapi saya dapat menoleransinya) – Acceptance beliefs (contohnya self-acceptance: saya menerima diri saya jika saya tidak diakui ; other-acceptance: saya dapat menerima anda jika anda tidak mengakui saya ; life-acceptance: hidup adalah perpaduan kebaikan, keburukan, dan kejadian netral. Selanjutnya Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir irrasional adalah sebagai berikut: – rigid demands (saya harus diakui). – awfulizing beliefs (jika saya tidak diakui, ini adalah akhir dari dunia) – low frustration tolerance beliefs (saya tidak dapat menoleransi bahwa saya tidak diakui). – depreciation beliefs (contohnya self-depreciation: saya tidak berharga jika saya tidak diakui ; other-depreciation: anda mengerika jika tidak mengakui saya ; life-depreciation: hidup semuanya buruk jika saya tidak diakui). Ellis (dalam Flanagan & Flanagan, 2004: 260) menyatakan lima komponen dasar teori konseling, yaitu sebagai berikut: – Manusia secara dogmatis menuruti gagasan irasional dan filosofi personal. – Gagasan irasional menyebabkan manusia mengalami kesedihan yang hebat dan kesengsaraan. – Gagasan ini dapat mendidih hingga sampai kategori dasar. – Konselor dapat menemukan kategori gagasan irasional ini dengan cukup mudah dalam logika konseli. – Konselor dapat mengajarkan konseli dengan sukses bagaimana bangun dari kesengsaraan yang disebabkan oleh kepercayaan irasionalnya.

C. Perkembangan Perilaku

1. Struktur kepribadian Pandangan pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Menurut Ellis (2002: 9) ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event atau Adversities (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Menurut Dryden & Branch (2008: 4) antecedent event (A) biasanya aspek situasi individu yang berpotensi mampu memicu keyakinannya (B). Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) perbedaan utama antara pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy dan lainnya untuk terapi kognitif-perilaku adalah dalam penekanannya pada belief (B). Dalam Rational Emotif Behavior Therapy, belief (kepercayaan) adalah inti dari emosi dan perilaku individu. Keyakinan tersebut adalah satu-satunya kognisi yang merupakan B dalam teori ABC di Rational Emotif Behavior Therapy. Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief). Keyakinan yang rasional memiliki karakteristik a) fleksibel atau non-ekstrim, b) konsisten dengan kenyataan, c) logis, d) sebagian besar fungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) Sebagian besar membantu individu dalam mengejar tujuan dasar dan tujuan. Keyakinan yang tidak rasional memiliki karakteristik a) kaku atau ekstrim, b) tidak konsisten dengan kenyataan, c) tidak masuk akal, d) sebagian besar disfungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) sebagian besar merugikan individu dalam mengejar tujuan dasar. Menurut Dryden & Branch (2008: 20) emotional and behavioral consequence (C) merupakan konsekuensi dari akibat antecendent event (A). Konsekuensi ini bisa berupa emosi, perilaku dam pemikiran. Konsekuensi ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang keyakinan rasional maupun keyakinan irasional. Menurut Corey (2009: 278) disputing (D) merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan kepercayaan-kepercayaan irasional yang dimiliki individu. Terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu sebagai berikut: a. Detecting irrational beliefs Konselor menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri. b. Debating irrational beliefs Kemudian konseli berdebat dengan kepercayaan disfungsionalnya dengan belajar bagaimana berpikir secara logis dan empiris. Selain itu juga dengan cara belajar bagaimana berargumen dengan kuat dan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. c. Discriminating irrational beliefs Kemudian yang terakhir adalah konseli belajar membedakan kepercayaan irasional (self-defeating) dan kepercayaan rasional (self-helping). Menurut Corey (2009: 279) hasil akhir dari proses A-B-C-D berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi efektif yang memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan efektif terdiri dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan pemikiran yang sehat. Jika berhasil melakukan hal tersebut maka akan timbul new feeling (F) yaitu satu perangkat perasaan yang baru.

2. Pribadi sehat dan bermasalah

a. Pribadi bermasalah

Ellis & Dryden (1997: 15-16) menyatakan pribadi bermasalah adalah sebagai berikut: – All-or-none thinking: “Jika saya gagal dalam beberapa tugas penting, saya mengalami kegagalan total.” – Jumping to conclusions and negative non sequiturs: ”Sejak mereka melihat saya muram, mereka akan melihat saya sebagai ulat yang tidak kompeten.” – Fortune-telling: ”Karena mereka menertawakan kegagalan saya, mereka akan membenci saya selamanya.” – Focusing on the negative: ”Karena saya tidak dapat bertahan pada hal yang salah, saya tidak dapat melihat sesuatu yang baik yang terjadi pada hidup saya.” – Disqualifying the positive: ”Ketika mereka memuji saya dalam kebaikan yang telah saya lakukan, mereka hanya bersikap ramah kepada saya dan melupakannya.” – Allness and neverness: “Karena kondisi kehidupan seharusnya baik dan sebetulnya buruk dan sangat tidak dapat ditoleransi, mereka akan selalu menempuh jalan ini dan saya tidak akan pernah merasa bahagia.” – Minimization: “Kebaikan saya dibidik dalam permainan yang bersifat keberuntungan dan tidak penting. Tetapi keburukanku dibidik, yang mana saya secara mutlak tidak pernah dibuat.” – Emotional reasoning: “Karena saya pernah tampil buruk, saya merasa seperti orang tolol, dan kekuatan perasaan saya membuktikan bahwa saya tidak ditakdirkan baik.” – Labeling and overgeneralization: “Karena saya harus tidak gagal dalam pekerjaan penting dan harus selesai, saya adalah pecundang.” – Personalizing: “Sejak saya bertindak jauh lebih buruk bahwa saya secara mutlak harus bertindak dan mereka menertawakan, saya yakin mereka hanya menertawakan saya, dan ini sangat mengerikan.” – Phonyism: ”Ketika saya tidak melakukan sebaik yang seharusnya saya lakukan dan mereka masih memuji dan menerima saya, saya yakin itu palsu.” – Perfectionism: ”Dalam menyelesaikan pekerjaan, saya harus menyelesaikannya secara sempurna.”

b. Pribadi sehat

Ellis & Dryden (1997: 18-19) menyatakan pribadi sehat adalah sebagai berikut: – Self-interest: Pribadi sehat cenderung bijaksana dan menyenangkan untuk diri mereka sendiri dan menaruh diri mereka sendiri menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. – Social interest: Manusia memilih hidup dan menikmati diri mereka sendiri dalam kelompok sosial atau komunitas. Jika mereka tidak bertindak secara moral, menyembunyikan kebenaran orang lain, dan menghasut kelompok masyarakat, hal ini tidak akan disukai. Mereka akan menciptakan dunia yang ramah yang mana mereka dapat hidup dengan nyaman dan senang. – Self-direction: Pribadi yang sehat cenderung mengasumsikan tanggung jawab untuk kehidupan mereka ketika secara simultan mengutamakan kerja sama dengan yang lain. Mereka tidak membutuhkan atau menuntut banyak dukungan dari yang lain, meskipun mereka mungkin mengutamakan dan bekerja untuk ini. – High frustration tolerance: Pribadi yang sehat adalah mereka yang dapat mengubah kondisi yang memuakkan pada diri mereka, menerima hal yang tidak bisa mereka lakukan, dan memiliki kebijaksanaan dalam mehamai dua perbedaan. – Flexibility: Pribadi yang sehat dan matang cenderung fleksibel dalam berpikir, terbuka terhadap perubahan, dan tidak berprasangka buruk dan pluralistik dalam pandangan mereka terhadap orang lain. – Acceptance of uncertainty: Pribadi yang sehat cenderung mengakui dan menerima gagasan bahwa kita tampak hidup di dunia yang penuh dengan kemungkinan dan perubahan dimana kepastian mutlak tidak bisa dipastikan dan kemungkinan tidak pernah akan terus ada. – Commitment to creative pursuits: Kebanyakan manusia cenderung menjadi pribadi sehat dan senang ketika mereka secara krusial dapat berbaur dengan kelompok sosial atau komunitas dan sedikitnya satu kreasinya dapat menjadi minat perhatian dari kelompok sosial atau komunitas, seperti halnya kebanyakan manusia, bahwa mereka menganggap penting mereka bisa menjadi bagian dari struktur yang baik dari kehidupan disekitarnya. – Scientific thinking: Pribadi yang sehat memiliki kecenderungan menjadi lebih objektif, realistis, dan ilmiah. – Self-acceptance: Pribadi yang sehat biasanya senang hidup dan menerima diri mereka sendiri karena mereka hidup dan memiliki kapasitas untuk menikmati diri mereka sendiri. – Risk-taking: Emosi pribadi yang sehat memiliki kecenderungan berani mengambil resiko dan mencoba melakukan apa yang ingin dilakukan. Mereka menganggap itu adalah kesempatan baik meskipun mungkin mereka gagal. Mereka memiliki kecenderungan menjadi petualang tetapi tidak gegabah. – Long-range hedonism: Pribadi yang sehat mencari ketenangan hidup untuk saat sekarang dan masa depan, dan itu tidak didapatkan secara instan. – Nonutopianism: Pribadi yang sehat menerima fakta bahwa tempat yang sempurna mungkin tidak dapat dicapai dan mereka tidak pernah suka mendapatkan segala apa yang mereka inginkan dan menghindari semua rasa sakit. – Self-responsibility for own emotional disturbance: Pribadi yang sehat cenderung bertanggung jawab atas kekacauan yang mereka buat daripada bertahan dengan tuduhan dan hujatan orang lain.

D. Hakikat Konseling

Rational Emotive Behavior Therapy dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut: 1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. 3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.

E. Kondisi Pengubahan

1. Tujuan konseling Menurut Corey (2009: 279) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah mengajari konseli bagaimana cara memisahkan evaluasi perilaku mereka dari evaluasi diri – esensi dan totalitasnya – dan bagaimana cara menerima dengan segala kekurangannya. Sedangkan tujuan dasarnya adalah mengajarkan konseli bagaimana merubah disfungsional emosi dan perilaku mereka menjadi pribadi yang sehat. Selain itu dua tujuan terpenting Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 279) adalah a) membantu konseli dalam proses mencapai unconditional self-acceptance dan unconditional other acceptance, dan b) melihat bagaimana kedua hal itu saling berkaitan. Sedangkan menurut Ellis (dalam Sharf, 2012: 339) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah membantu konseli dalam meminimalisir gangguang emosi, menurunkan self-defeating self-behaviors, dan membantu konseli lebih mengaktualisasikan diri sehingga mereka bisa menuju ke kehidupan yang bahagia. Sedangkan tujuan khususnya adalah membantu konseli berpikir lebih bersih dan rasional, memiliki perasaan yang lebih layak, dan bertindak efisien dan efektif dalam mencapai tujuan hidup yang bahagia.

2. Sikap, peran dan tugas konselor Menurut Corey (2009: 280) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy memiliki tugas spesifik. Tahap pertama adalah konselor menunjukkan pada konseli bahwa dalam pikirannya saat ini terlalu banyak pikiran-pikiran yang irasional seperti “harus”, sebaiknya”, dan “seharusnya”. Konselor mendorong dan sering membujuk konseli agar melakukan aktivitas yang akan menyembunyikan keyakinan pengalahan diri mereka. Tahap kedua adalah mendemonstrasikan bahwa konseli mempertahankan gangguan emosi mereka aktif dengan meneruskan berpikir secara tidak logis dan realistis. Tahap ketiga adalah membantu konseli memodifikasi pemikiran dan mengabaikan gagasan irrasional mereka. Konselor membantu konseli memahami pikiran irasional yang menyalahkan diri sendiri dan juga mengubah perilaku menyalahkan diri. Tahap keempat adalah menantang konseli untuk mengembangkan filosofis hidup yang rasional sehingga di masa depan mereka mampu menghindari diri agar tidak menjadi korban keyakinan irasional yang lain.

3. Sikap, peran dan tugas konseli Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 280-281) sesekali konseli mulai menerima bahwa keyakinan mereka merupakan penyebab utama emosi dan perilaku mereka, maka mereka akan mampu berpartisipasi secara efektif dalam proses restrukturisasi kognitif. Dalam sekala besar, peran konseli dalam proses konseling adalah sebagai pembelajar dan pelaksana. Konseling dipandang sebagai proses reedukatif di mana konseli belajar cara menerapkan pemikiran logis, latihan eksperimental dan perkerjaan rumah perilaku untuk memecahkan masalah dan perubahan emosi. Proses terapeutik berfokus pada pengalaman konseli di masa kini. Rational Emotive Behavior Therapy utamanya menekankan pada pengalaman dan kemampuan konseli saat ini untuk mengubah pola pemikiran dan emosi yang telah mereka konstruksi sebelumnya. Konseli diharapkan untuk berpartisipasi aktif di luar sesi konseling. Konseli belajar bahwa dengan melaksanakan pekerjaan rumah dapat meminimalisir pemikiran yang salah. Pekerjaan rumah dirancang secara cermat dengan tujuan untuk membuat konseli agar melaksanakan tindakan yang mendorong perubahan emosi dan perilaku. Di akhir konseling, konseli mengulas kemajuan mereka, membuat rencana dan mengidentifikasi strategi mengatasi masalah potensial yang berkelanjutan.

4. Situasi hubungan Menurut Corey (2009: 281) pada dasarnya Rational Emotive Behavior Therapy merupakan proses kognitif dan direktif, maka tidak perlu membutuhkan hubungan yang kuat antara konselor dan konseli. Para praktisi Rational Emotive Behavior Therapy secara tanpa syarat menerima semua konseli dan mengajari konseli untuk menerapkan penerimaan tanpa syarat pada diri sendiri dan orang lain. Ellis (dalam Corey, 2009: 281) meyakini bahwa hubungan yang terlalu hangat dan pemahaman yang terlalu banyak akan berakibat kontra produktif, memunculkan rasa ketergantungan dan persetujuan dari konselor. Praktisi Rational Emotive Behavior Therapy menerima konseli sebagai makhluk yang tidak sempurna yang bisa ditolong dengan menunjukkan bahwa konselor peduli kepada konseli, tanpa membuat konseli merasa didekte dan juga dengan menggunakan beragam teknik semisal mengajar, biblioterapi, dan memodifikasi perilaku. Ellis membangun hubungan dengan konselinya dengan cara menunjukkan pada mereka bahwa mereka memiliki keyakinan yang besar akan kemampuan mereka mengubah diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka mempunyai cara untuk membantu mereka melakukannya. Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 281) konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy sering terbuka dan mengarah dalam menyikap keyakinan dan nilai mereka. Beberapa terapi berkeinginan berbagai kekurangan mereka sebagai cara mempertanyakan gagasan tidak realistis konseli bahwa terapis merupakan orang yang “lengkap”. Transference tidak didorong, dan apabila tidak ada, konselor cenderung menghadapinya. Konselor ingin menunjukkan bahwa hubungan transference didasarkan pada keyakinan irrasional bahwa konseli harus disukai dan dicintai oleh konselor atau figur orang tua.

F. Mekanisme

Pengubahan 1. Tahap-tahap konseling Menurut Froggatt (2005) tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy secara umum adalah sebagai berikut. a. Membantu konseli memahami bahwa emosi dan perilaku disebabkan oleh kepercayaan dan pikiran. b. Menunjukkan bagaimana kepercayaan dan pikiran seseorang mungkin tertutup. Format ABC sangat berguna di sini. Konselor meminta konseli bercerita tentang Antecedent event (A) seperti apa, Belief (B) seperti apa, dan Emotional consequence (C) seperti apa. c. Mengajarkan konseli bagaimana melawan dan merubah kepercayaan irasional, menggantinya dengan kepercayaan yang lebih rasional. d. Membantu konseli mengubah perilaku konseli. Sedangkan tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy yang lebih rinci dan operasional menurut Froggatt (2005) adalah sebagai berikut. a. Melibatkan konseli – Membangun hubungan dengan konseli. Ini dapat dicapai menggunakan empati, kehangatan dan respek. – Melihat permasalahan yang dialami dan datang karena ingin dibantu penyelesaian permasalahannya. – Mungkin cara terbaik adalah melibatkan konseli dalam proses konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy. b. Asesmen masalah, pribadi, dan keadaan – Diawali dari apa yang salah dalam pandangan konseli. – Memeriksa beberapa gangguan sekunder: bagaimana perasaan konseli memiliki masalah? – Membawa ke asesmen umum: menentukan kemunculan gangguan secara klinis, menggali cerita pribadi dan sosial, asesmen kedalaman suatu masalah, mencatat beberapa faktor kepribadian yang berhubungan, dan memeriksa faktor kausatif non-psikologis seperti kondisi fisik, obat-obatan, gaya hidup/faktor lingkungan. c. Menyiapkan konseli dalam proses konseling – Klarifikasi tujuan perlakuan untuk memastikan tujuan perlakuan konkrit, spesifik, dan disetujui oleh konselor dan konseli serta menganalisis motivasi konseli untuk berubah. – Mengenalkan kaidah dasar tentang Rational Emotive Behavior Therapy. – Mendiskusikan pendekatan yang digunakan dan implikasinya dalam perlakuan, kemudian membangun kontrak. d. Implementasi program perlakuan – Menganalisis masalah spesifik yang mana menjadi target masalah yang akan diselesaikan, memastikan kepercayaan yang dilibatkan, merubahnya, dan mengembangkan home work. – Mengembangkan perilaku yang fungsional untuk mengurangi kekhawatiran atau memodifikasi cara berperilaku. – Menambah strategi dan teknik yang sesuai seperti relaksasi, dan pelatihan keterampilan interpersonal. e. Evaluasi Sebelum berakhirnya proses intervensi biasanya konselor melakukan evaluasi terhadap perlakuan yang diberikan. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi peningkatan yang signifikan tentang perubahan konseli dalam berpikir. f. Menyiapkan pengakhiran untuk konseli Sesi konseling diakhiri jika konseli sudah merasa lebih baik terkait permasalahan yang sedang dialaminya. Konselor juga akan mengakhiri konseling jika konseli sudah benar-benar terentaskan masalahnya dan jika masalah itu hadir kembali, konseli bisa dengan mandiri mengentaskan masalahnya sendiri. 2. Teknik-teknik konseling Menurut Corey (2009: 281) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy harus menguasai berbagai macam metode dan bersifat integratif. Pendekatan ini menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. a. Teknik-teknik Kognitif – Disputing irrational beliefs Metode kognitif dalam Rational Emotive Behavior Therapy yang paling umum adalah konseling secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselor mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya. – Doing cognitive homework Konseli diharapkan membuat daftar masalah mereka, mencari keyakinan absolut mereka, dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan tersebut. Doing cognitive homework merupakan cara melacak dimensi “keharusan” dan “sebaiknya” yang ada pada kognisi konseli. Doing cognitive homework juga bisa terdiri dari penerapan teori ABC terhadap permasalahan yang dialami oleh konseli. Dengan cara yang perlahan dan yang dibagi ke dalam beberapa sesi, konseli belajar mengatasi kecemasan dan mempertanyakan pemikiran tidak rasionalnya yang mendasar. – Changing one’s language Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahasa yang tidak tepat adalah salah satu bentuk penyebab proses pemikiran yang terdistorsi. Konseli mempelajari bagaimana menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku yang disfungsional. – Psychoeducational methods Program Rational Emotive Behavior Therapy dan sebagian besar konseling kognitif behavior mengenalkan memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen pendidikan. Konselor membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan mereka dan bagaimana proses mengatasinya. Konseli lebih suka bekerja sama dengan program perlakuan jika mereka memahami pentingnya teknik yang digunakan. b. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) – Rational emotive imagery Dalam rational emotive imagery konseli didorong untuk membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya. Misalnya ditolak oleh seorang wanita yang benar-benar diinginkannya. Konseli mebayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya. Setelah itu konseli didorong untuk menjalin hubungan dengan konsekuensi emosional negatif yang tidak diinginkan yang dipicu oleh kesulitan tersebut. Misalnya cemas, depresi, dan membenci diri. Konseli merasakan secara spontan apa yang dirasakannya dan tetap bertahan dengan perasaan itu dalam beberapa saat. Setelah itu konseli berusaha mengubah perasaan terganggu yang tidak sehat tersebut dengan konsekuensi perasaan negatif yang sehat. Misalnya sedih, kecewa, menyesal dan tidak senang. Cara melakukannya adalah dengan mengatakan keyakinan rasionalnya yang masuk akal kepada dirinya dengan kuat dan berulang-ulang. Misalnya, “Ya dia memang belum bisa menerima saya dan itu sangat menyakitkan bagi saya. Dia belum bisa menerima saya mungkin karena dia belum mengenal saya”. Konseli seharusnya tetap dalam bayangan rasionalnya itu sampai konseli bisa mengubah perasaan negatif tidak sehatnya menjadi pernyataan negatif yang lebih sehat. – Using humor Penggunaan humor dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating. Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahwa gangguan emosi sering disebabkan oleh terlalu seriusnya seseorang menanggapi sesuatu. Humor bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap terlalu serius masalah hidup. – Role playing Terdapat komponen emosi dan perilaku dalam teknik bermain peran. Konselor sering menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak sehat menjadi perasaan yang lebih sehat. Fokusnya adalah pada keyakinan yang tidak rasional yang berhubungan dengan perasaan yang tidak menyenangkan diubah menjadi keyakinan yang lebih rasional. – Shame-attacking exercises Ellis mengembangkan latihan untuk membantu orang mengurangi perasaan malu dalam melakukan sesuatu. Ellis berpikir bahwa kita bisa dengan keras kepala menolak rasa maludengan berkata pada diri kita sendiri bahwa bukan hal yang menyedihkan jika seseorang menganggap kita bodoh. Tujuan utama latihan ini yang secara khusus melibatkan komponen emosi dan perilaku, konseli bekerja agar tidak malu ketika orang lain tidak sependapat dengan konseli. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan dengan cara mereka mengenali kenyataan. – Use of force and vigor Ellis menyarankan penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual menjadi berwawasan emosional. Konseli juga ditunjukkan caranya melakukan dialog memaksa diri dimana mereka bisa mengekspresikan keyakinan irasional dan kemudian mempertanyakan keyakinan tersebut. Konselor akan melakukan permainan peran terbalik dengan secara keras berpegang teguh pada filosofi pengalahan diri konseli. Selanjutnya konseli diminta untuk memperdebatkan dengan konselor dalam upaya untuk membujuknya meninggalkan gagasan disfungsional tersebut. c. Teknik-teknik Behavioristik Dalam teknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral standar, seperti pengkondisian operant, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan.

G. Hasil-Hasil Penelitian

Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Tayabeh Najafi, Shahrir Jamaluddin, dan Diana Lea-Baranovich yang berjudul “Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dalam seting kelompok dapat menurunkan kepercayaan irasional pada dua kelompok remaja iran yang hidup di kuala lumpur. 2. Penelitian yang dilakukan oleh G. Venkatesh Kumar yang berjudul “Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD)” pada tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dapat mengatasi perilaku bermasalah pada remaja. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Christos Papalekas yang berjudul “The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan rasional dan irasional dapat menentukan kemarahan yang tidak sehat dan kemarahan fungsional dan disfungsional. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Fryer yang berjudul “Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor adalah adalah teknik yang baik dan efektif digunakan dalam psikoterapi pada umumnya dan Rational Emotive Behavior Therapy pada khususnya. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Zakiah Muhamad yang berjudul “Rational Emotive Behavior Therapy: To Reduce Emotional Disturbance” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sesi konseling yang telah dilakukan sangat berguna untuk konseli. Konselor menggunakan teori Rational Emotive Behavior Therapy cocok untuk memecahkan masalah konseli yang mengalami gangguan emosional. Kesimpulan dari teori ini ditemukan cocok sebagai terapi singkat dan mudah digunakan karena sederhana dan berlaku untuk berbagai pengaturan, termasuk sekolah dasar dan menengah. Seperti kita ketahui, remaja dan siswa selalu memiliki keyakinan irasional ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka. Terapi ini juga cepat mengajarkan konseli bagaimana mengatasi masalah praktis kehidupan. Konseli diajarkan untuk memahami diri mereka sendiri, untuk memahami orang lain, untuk bereaksi secara berbeda, dan untuk mengubah pola kepribadian dasar dan filosofi mereka dengan memperbaiki pemikiran yang salah.

H. Kelemahan dan Kelebihan

1. Kekuatan

a. Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan konseli hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi Rational Emotive Behavior Therapy. b. Pendekatan ini dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klian mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi. c. Pendekatan ini relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu. d. Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini. e. Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki. f. Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan

2. Kelemahan

a. Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia, dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat. b. Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis. c. Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat konseli seideal yang semestinya. d. Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu konseli mengubah emosinya.

Daftar Pustaka

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA : Thomson Brooks/Cole.
Dryden, W. & Branch, R. 2008. The Fundamentals of Rational Emotive Behaviour Therapy : A Training Handbook. USA : John Wiley & Sons, Ltd.
Dryden, W. & Neenan, M. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy : 100 Key Points & Techniques. London & New York : Routledge Taylor & Francis Group
Ellis, A. 2002. Overcoming Resistance : A Rational Emotive Behavior Therapy Integrated Approach. New York : Springer Publishing Company, LLC.
Ellis, A. & Dryden, W. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. New York : Springer Publishing Company
Flanagan, S. J., & Flanagan, S. R. 2004. Counseling and Psychotherapy Theories in Context and Practice. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
Froggatt, W. 2005. A Brief Introduction To Rational Emotive Behaviour Therapy. Journal of Rational-Emotive and Cognitive Behaviour Therapy, 3 (1): 1-15.
Fryer, D. 2011. Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 63-72.
Kumar, G. V. 2009. Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD). Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 35 : 103-111.
Muhamad, Z. 2012. Rational Emotive Behavior Therapy :To Reduce Emotional Disturbance. Journal of Educational Psychology & Counseling, 6 : 119-122.
Najafi, T., Jamaluddin, S., & Lea-Baranovich, D. 2012. Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 3 (12) : 312-322.
Papalekas, C. 2011. The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 7-30.
Sharf, R. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases. USA : Brooks/Cole.

 

 

Konseling Pancawaskita

A. PENGERTIAN

Konseling Pancawaskita disingkat (KOPASTA), merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam konseling dengan memadupadankan teori konselinq (atlektik). Kopasta merupakan gagasan yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Prayitno, MSc. Ed, yang merupakan salah seorang guru besar pada Universitas Negeri Padang yang juga merupakan Dewan Penasehat ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.

Kopasta menitikberatkan pada wawasan pancawaskita. Pancawaskita: mengintegrasikan lima factor yang mempengaruhi individu. Lima factor: Pancasila, lirahid, Panca daya, masidu, likuladu.

Dalam sejarahnya KOPASTA dikembangkan sebagai salah satu pendekatan yang dilakukan dalam pelaksanaan konseling perorangan, para konselor diharapkan dapat menguasai pendekatan ini sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan konseling perorangan.

B. HAKEKAT KEBERADAAN

1. Sedang ada

Yang sedang dialami. Pikiran, perasaan

2. Mungkin ada

Yang belum dirasakan. Dunia kemungkinan yang diluar jangkauan. Hal ini dapat menjelma menjadi keadaan yang berada.

C. Gatra

Adalah keberadaan yang penuh arti. Dari dalam :unik dan objektif, tidak dapat dirubah dan dari luar : orang mengartikan individu (lentur, bisa dirubah).

D. Hakekat manusia

Memiliki gatra dengan ciri:

1. Ind memaknai gatra dalam sendiri

2. Memberikan gatra luar kepada gatra lainnya

3. Gatra dalam dan luar bersifat lentur dan dinamis

4. Manusia memiliki dimensi : keindividualan (fisik, psikis, potensi, kelemahan), kesosialan: keterkaitan dengan orang lain, kesusialaan: aturan-aturan yang menyertai hubungan social, ke: santun, keberagamaan: butuh hubunugan dengan sang pencipta.

E. PANCA DAYA

1. Daya takwa:

2. Daya cipta

3. Daya karsa

4. Daya karya

5. Daya rasa

sumber : http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemid=92

SOLUTION FOCUSED BRIEF THERAPY (SFBT)

A. SEJARAH PERKEMBANGAN

Salah satu pendekatan konseling dan psikoterapi yang dipengaruhi oleh pemikiran postmodern adalah pendekatan Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dalam beberapa literatur pendekatan SFBT juga disebut sebagai Terapi Konstruktivis (Constructivist Therapy), ada pula yang menyebutnya dengan Terapi Berfokus Solusi (Solution Focused Therapy), selain itu juga disebut Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) dari semua sebutan untuk SFBT sejatinya semuanya merupakan pendekatan yang didasari oleh filosofi postmodern sebagai landasan konseptual pendekatan-pendekatan tersebut.

Banyak tokoh yang memberikan konstribusi terhadap perkembangan SFBT sejak tahun 1970an seperti Steve de Shazer, Bill O’Hanlon, Michele Weiner-Davis, dan Insoo Kim Berg. Pertama kali tulisan tentang brief therapy ada pada tahun 1970an dan awal 1980an dan yang memberikan konstribusi penting adalah Richard Fisch, John Weakland, Paul Watzlawick, dan Gregory Bateson yang bekerja pada Mental Research Institute di Palo Alto, California (Fisch, Weakland, & r Se gal, 1982 dalam Seligman,L. 2006).

Banyak pendekatan-pendekatan konseling lain juga memberikan konstribusi penting terhadap SFBT seperti Brief psychodynamic psychotherapy, Behavioral dan terapi cognitive-behavioral, Single Session Therapy serta Family therapy. Pendekatan-pendekatan ini lebih memfokuskan bagaimana masalah klien bisa diatasi dan kurang memperhatikan sejarah masa lalu klien.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Steve de Shazer (1985, 1988), Insoo Kim Berg (Dejong & Berg, 2002), O’Hanlon Bill, dan Michele Weiner-Davis (O’Hanlon &-Weiner Davis, 1989; Weiner-Davis , 1992) juga memberikan kontribusi penting untuk SFBT. Namun Solution Focused Brief Therapy (SFBT) pertama kali dipelopori oleh Insoo Kim Berg dan Steve De Shazer.Keduanya adalah direktur eksekutif dan peneliti senior di lembaga nirlaba yang disebut Brief Family Therapy Center (BFTC) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat pada akhir tahun 1982.

Insoo Kim Berg adalah juru bicara terapi yang berorientasi solusi yang sangat berpengaruh.Ia memulai karya-karyanya pada pertengahan tahun 1980an hingga kini ia telah menerbitkan buku-buku dan rekaman video tentang pendekatan berfokus solusi. Sebagai seorang Amerika yang bertanah air Korea, Insoo Kim Berg mengembangkan pengaruh warisan budaya timur dari nenek moyangnya dengan pengalaman pelatihan sebagai pekerja sosial di barat. Hasilnya adalah sebuah pendekatan psikoterapi yang merupakan perpaduan kreatif antara menumbuhkembangkan kesadaran dan proses membuat pilihan perubahan.

O’Hanlon dan Weiner-Davis dipengaruhi oleh karya de Shazer dan Berg, juga memberikan konstribusi yang disebut solution-oriented brief therapy. Therapy mereka membantu orang untuk fokus pada tujuan masa depan. O’Hanlon dan Weiner-Davis tidak peduli dengan bagaimana permasalahan muncul atau bagaimana mereka dipertahankan tetapi hanya peduli dengan bagaimana masalah itu akan dipecahkan. Dengan membuat gambaran dari apa yang mungkin akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi mereka dan berusaha mengubah sudut pandang dan tindakan klien sehingga mereka dapat menemukan solusi.

Secara filosofis, pendektan SFBT didasari oleh suatu pandangan bahwa sejatinya kebenaran dan realitas bukanlah suatu yang bersifat absolute namun realitas dan kebenaran itu dapat dikonstruksikan. Pada dasarnya semua pengetahuan bersifat relatif karena ia selalu ditentukan oleh konstruk, budaya, bahasa atau teori yang kita terapkan pada suatu fenomen tertentu. Dengan demikian, realitas dan kebenaran yang kita bangun (realitas yang kita konstruksikan) adalah hasil dari budaya dan bahasa kita.Apa yang dikemukakan tersebut merupakan beberapa pandangan yang dilontarkan oleh para penganut konstruktivisme sosial yang mengembangkan paradigmanya berdasarkan filosofis postmodern. Dalam perspektif terapeutik, konstruktivisme social merupakan sebuah perspektif terapeutik dengan suatu pandangan postmodern yang menekankan pada realitas konseli tanpa memperdebatkan apakah hal tersebut akurat atau rasional ( Weishaar, 1993 dalam Corey 2005). Artinya bahwa pandangan postmodern melihat bahwa pengetahuan hanya sebuah konstruksi sosial saja.

Bagi orang-orang konstruksionisme sosial, realitas didasarkan pada penggunaan bahasa dan umumnya merupakan fungsi situasi dimana orang-orang itu sendiri tinggal.Contohnya ketika seseorang merasa depresi, maka seketika itu dia mendefinisikan atau dia adopsi bahwa dirinya sedang depresi. Ketika sebuah definisi tentang diri telah diadopsi, akan sulit bagi individu tersebut untuk mengenali adanya perilaku yang berlawanan dengan definisi tersebut; contoh, sulit bagi seseorang yang menderita depresi untuk menyadari dan menghargai adanya masa-masa didalam hidupnya dimana suasana hati/mood merasa baik atau senang (Corey,2005:385)

Dalam pemikiran postmodern, bahasa dan penggunaannya menciptakan makna dalam cerita-cerita yang disampaikan oleh individu. Dengan demikian akan terdapat banyak sekali makna-makna cerita sebanyak orang-orang menceritakan kisah tersebut dan masing-masing cerita tersebut benar bagi orang yang menceritakannya. Pemikiran postmodern tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan teori konseling dan psikoterapi serta mempengaruhi praktik konseling dan psikoterapi kontemporer.

B. HAKEKAT MANUSIA

SFBT mempunyai asumsi-asumsi bahwa manusia itu sehat, mampu (kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi. Manusia tidak perlu terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia inginkan.

De shazer (1988,1991) berpendapat bahwa tidaklah penting untuk mengetahui penyebab dari suatu masalah untuk dapat menyelesaikannya dan bahwa tidak ada hubungan antara masalah-masalah dan solusi-solusinya. Mengumpulkan informasi tentang suatu masalah tidaklah penting untuk terjadinya suatu perubahan.Jika mengetahui dan memahami masalah bukanlah sesuatu yang penting, maka mencari solusi-solusi yang “benar” adalah penting. Beberapa orang mungkin memikirkan bermacam-macam solusi, dan apa yang benar untuk satu orang mungkin dapat tidak benar untuk yang lainnya. Dalam SFBT, konseli memilih tujuan-tujuan yang mereka ingin capai dalam terapi, dan diberikan sedikit perhatian terhadap diagnosis, pembicaraan tentang sejarah, atau eksplorasi masalah (Bertolino & O`Hanlon, 2002; Gingerich&Elisengart,2000; O`Hanlon&Weiner-Davis, 1989 dalam Corey,2005).

Berikut ini beberapa asumsi dasar tentang SFBT ( Corey, 2005)

1. Individu yang datang ke terapi mampu berprilaku efektif meskipun kelakuan keefektifan ini mungkin dihalangi sementara oleh pandangan negatif

2. Ada keuntungan-keuntungan untuk sebuah fokus positif pada solusi dan pada masa depan.

3. Ada penyangkalan pada setiap problem. Dengan membicarakan penyangkalan-penyangkalan ini, klien dapat mengontrol apa yang terlihat menjadi sebuah problem yang tidak mungkin diatasi, penyangkalan ini memungkinkan terciptanya sebuah solusi.

4. Klien sering hanya menampilkan satu sisi dari diri mereka, SFBT mengajak klien untuk menyelidiki sisi lain dari cerita yang sedang mereka tampilkan.

5. Perubahan kecil adalah cara untuk mendapatkan perubahan yang lebih besar. Setiap problem dipecahkan sekali dalam satu langkah

6. Klien yang ingin berubah mempunyai kapasitas untuk berubah dan mengerjakan yang terbaik untuk membuat suatu perubahan itu terjadi.

7. Klien dapat dipercaya pada niat mereka untuk memecahkan problem. Tiap individu adalah unik dan demikian juga untuk tiap-tiap solusi.

C. PERKEMBANGAN PERILAKU

1. Pribadi Sehat dan Bermasalah

a. Pribadi sehat

• Pribadi yang mampu (kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi.

• Pribadi yang tidak terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia inginkan.

b. Pribadi bermasalah

• Individu menjadi bermasalah karena ketidak efektifannya dalam mencari dan melakukan atau menggunakan solusi yang dibuatnya.

• Individu menjadi bermasalah karena ia meyakini bahwa ketidakbahagiaan atau ketidak sejahteraan ini berpangkal pada dirinya. Misalnya bagaimana ia memandang dirinya, memurukkan dirinya yang kemudian individu itu sendirilah yang mengkonstruk kisah (cerita) yang ia beri label “masalah” dan bukan mengkonstruk “ kekuatan dan kemampuan diri” yang berguna bagi penyelesaian masalahnya.

D. HAKEKAT KONSELING

1. Proses Konseling

Walter dan Peller 1992 (dalam Corey,2005) menggambarkan empat langkah yang mencirikan proses SFBT:

a. Menemukan apa yang klien inginkan dari pada mencari sesuatu yang tidak mereka inginkan

b. Jangan mencari masalah dan jangan berusaha untuk melemahkan klien dengan memberi mereka label diagnose

c. Jika apa yang dilakukan klien tidak mengalami kemajuan, konselor menyemangati mereka untuk bereksperimen dengan melakukan suatu yang berbeda.

d. Meringkas proses terapi pada setiap sesi agar terlihat satu-satunya sesi atau sesi terakhir.

Proses kolaborasi klien dengan konselor dalam membangun solusi tidak hanya membutuhkan sedikit teknik. Model SFBT menghendaki setiap orang bisa menerima dan menolong diri mereka sendiri dalam menciptakan sebuah solusi permasalahan.

De Shazer (1991) yakin bahwa klien dapat menemukan solusi dari masalah-masalah mereka. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan tradisonal dalam memecahkan masalah hal ini dapat dilihat dari kerangka pendekatan untuk memecahkan masalah (De Jong & Berg, 2002):

a. Klien diberi kesempatan untuk menjelaskan masalah-masalah mereka, terapis mendengarkan dengan penuh hormat dan klien hati-hati menjawab pertanyaan terapis, “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi anda?”

b. Terapis bekerja dengan klien dalam mengembangkan tujuan-tujuan sesegera mungkin. “Apa yang berbeda dalam hidup Anda ketika masalah anda terpecahkan?”

c. Terapis meminta klien tentang menceritakan masalah-masalah yang belum diatasi. Klien dibantu dengan penekanan khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat suatu peristiwa terjadi.

d. Pada setiap akhir percakapan solusi, terapis menawarkan umpan balik, memberikan dorongan, dan menunjukkan apa yang bisa diamati klien sebelum sesi berikutnya untuk memecahkan masalah mereka.

e. Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat dalam mencapai solusi dengan menggunakan skala penilaian.

2. Teknik-Teknik Konseling

Dalam aplikasinya, pendekatan SFBT memiliki beberapa teknik intervensi khusus. Teknik ini dirancang dan dikembangkan dalam rangka membantu konseli untuk secara sadar membuat solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Bebrapa teknik dari SFBT ( Corey, 2005; Capuzzi dan Gross, 2003) adalah:

a. Pertanyaan pengecualian (Exception Question)

Terapi SFBT menanyakan pertanyaan-pertanyaan exception untuk mengarahkan konseli pada waktu ketika masalah tersebut tidak ada.Exception merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu dalam hidup konseli ketika pantas mempunyai beberapa harapan masalah tersebut terjadi, tetapi bagaimanapun juga tetap tidak terjadi (de Shazer, 1985 dalam Corey 2005).Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah-masalah tidak semua kuat dan tidak selamanya ada, hal itu juga mamberikan suatu tempat dari kesempatan untuk menimbulkan sumber daya, menggunakan kekuatan-kekuatan dan menempatkan solusi-solusi yang mungkin.

b. Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)

Meminta konseli untuk mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban membuka suatu tempat untuk kemungkinan-kemungkinan dimasa depan. Konseli di dorong untuk membiarkan dirinya sendiri bermimpi tentang suatu cara/jalan untuk mengidentifikasi jenis-jenis perubahan yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan dimana konseli dapat mulai untuk mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh masalah-masalah masa lalu dan sekarang kearah pemuasan hidup yang lebih dimasa mendatang.

c. Pertanyaan Berskala (Scalling Question)

Scalling Question Memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada perubahan-perubahan yang mereka inginkan. Terapis SFBT selalu menggunaka Scalling Question ketika perubahan dalam pengalaman seseorang tidak dapat diamati dengan mudah seperti perasaan, suasana hati (mood), atau komunikasi.

d. Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session Task/FFST)

FFST adalah suatu format tugas yang diberikan oleh terapis kepada konseli untuk diselesaikan pada antara sesi pertama dan sesi kedua. Terapis dapat berkata : “ diantara saat ini dan pertemuan kita selanjutnya, saya berharap anda dapat mengamati sehingga anda dapat menjelaskan pada saya pada pertemuan yang akan datang, tentang apa yang terjadi pada (keluarga, hidup, pernikahan, hubungan) anda yang diharapkan terus terjadi” (de Shazeer, 1985 dalam Corey 2005). Pada sesi kedua, konseli dapat ditanya tentang apa yang telah mereka amati dan apa yang mereka inginkan dapat terjadi dimasa mendatang.

e. Umpan Balik (Feedback)

Para praktisi SFBT pada umumnya mengambil waktu 5 sampai 10 menit pada akhir setiap sesi untuk menyusun suatu ringkasan pesan untuk konseli. Selama waktu ini terapis memformulasikan umpan balik yang akan diberikan pada konseli. Dalam pemberian umpan balik ini memiliki tiga bagian dasar yaitu sebagai pujian, jembatan penghubung dan pemberian tugas.

E. KONDISI PENGUBAHAN

1. Tujuan

Dalam pendekatan SFBT, ada bebrapa konsep utama yang menjadi tujuan terapeutik (Berg &Miller, 1992, Walter & Peller,1992 dalam Miller, Hubble dan Duncan, 1996; Proschaska & Norcross, 2007 dalam Corey 2005). Adapun kriteria tersebut adalah:

a. Bersifat positif

Ungkapan tujuan yang terapiutik tidak berpusat pada kata-kata negative. Ia mengandung kata “ maka, sebagai gantinya” (instead). Sebagi contoh: ungkapan tujuan” saya akan meninggalkan kebiasaan minum-minuman keras” atau “saya akan keluar dari depresi dan ansietas”, belum cukup mencerminkan suasana positif. Suasana positif baru tergambar dengan jelas ketika ungkapan tersebut bermuatan tindakan positif yang akan dilakukan, sehingga menjadi “sebagai ganti kebiasaan minum-minuman keras, saya berolahraga teratur lima kali dalam sepekan”, “ sebagai ganti depresi dan ansietas, saya mengikuti perkumpulan rohani setiap malam jum`at”.

b. Mengandung proses

Kata kunci mewakili proses bagaimana, pertanyaan bertajuk bagaimana, semisal yang terwakili oleh pertanyaan “bagaiaman anda akan melaksanakan alternatif yang lebih sehat dan lebih membuahkan kebahagiaan ini?” perlu terimplisitkan juga dalam tujuan terapeutik. Dalam tujuan terapeutik itu pula perlu terkandung jawaban atas pertanyaan tersebut.

c. Merangkum gagasan tentang kurun waktu kini

Perubahan terjadi kini, bukan kemarin, bukan pula esok. Pertanyaan sederhana yang bisa membantu adalah, “ setelah anda meninggalkan hal yang lama hari ini, dan kemudian anda tetap berada pada jalur yang tepat, hal apa yang akan anda lakukan dengan cara yang berbeda? Apdengan cara pula yang akan anda katakan dengancara yang berbeda kepada diri anda sendiri, hari ini juga, bukan esok?”

d. Bersifat praktis

Sifat praktis itu terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “sejauh mana tujuan anda bias dicapai?”.Kata kunci disini adalah dapat dicapai, dapat dilaksanakan. Konseli-konseli yang hanya menginginkan pasangan meraka, karyawan mereka, orang tua mereka, atau guru mereka berubah, tidak memiliki solusi yang dapat dilaksanakan, dan mereka hanya akan ada dalam kehidupan yang dimuati lebih banyak problem.

e. Berusaha untuk merumuskan tujuan sespesifik mungkin

Hal tersebut terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “ sespesifik apa andaakan melakukan pekerjaan anda?” tujuan yang bersifat umum, global, abstrak atau ambigu, semisal yang terwakili oleh ungkapan “ menggunakan waktu lebih banyak bersama keluargaku”, tidak spesifik “ aku akan menggunakan waktu 15 menit untuk berjalan-jalan dengan ayahku setiap sore”, atau “ aku akan secara sukarela melatih regu sepak bola anakku”.

f. Adanya kendali ditangan konseli

Hal ini terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “ apa yang akan anda lakukan ketika alternatif baru terwujud?”. Kata kunci disini adalah anda.Artinya kata nada karena memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan kendali untuk mewujudkan hal-hal yang lebih baik.

g. Menggunakan bahasa konseli

Gunakan kata-kata konseli untuk membentuk tujuan, bukan bahasa teoritis konselor, “ aku akan bercakap-cakap sebagai sesame orang dewasa dengan ayahku lewat telepon seminggu sekali” (bahasa konseli) adalah lebih efektif dari pada “ aku akan menyelesaikan konflik dengan ayahku”.

2. Konselor

a. Klien sepenuhnya mengambil bagian dalam proses terapeutik jika mereka berkeinginan untuk menentukan arah dan tujuan percakapan (Walter & Peller, 1996).

b. Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan sekarang dan perubahan masa depan (Bertolipo & O’Hanlon, 2002).

c. Terapis menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi, dan co-penulis cerita-cerita mereka yang berkembang (Walter & Peller, 1996).

d. Tugas utama terapeutik terdiri dari membantu klien membayangkan bagaimana mereka akan menyukai hal-hal yang berbeda dan apa yang diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan ini (Gingericli & Eisengart, 2000).

Beberapa pertanyaan Walter dan Peller (2000) yang berguna adalah;

• “Apa yang Anda inginkan datang ke sini?”

• “Bagaimana hal itu membuat perbedaan bagi Anda?” dan

• “Apa yang menjadi tanda-tanda bagi Anda bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?”

3. Konseli

Konseli mampu berkolaborasi dengan konselor, berpartisipasi secara aktif, mempunyai motivasi dan keterlibatannya dalam konseling

4. Situasi Hubungan

De Shazer (1988) menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat dikembangkan antara terapis dan klien untuk membangun SFBT:

a. Klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi masalah dan solusi. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuan nya, usaha pribadi akan diperlukan.

b. Klien menggambarkan masalah tetapi tidak mampu berperan dalam membangun sebuah solusi. Dalam situasi ini, mantan klien umumnya respects pada terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien masalah atribut.

c. Konselor memposisikan dirinya pada posisi tidak tahu tentang klien bahwa klienlah yang ahli dalam kehidupannya sendiri.

d. Konselor menggunakan teknik empati, summarization, parafrase, pertanyaan terbuka, dan keterampilan mendengarkan secara aktif untuk memahami situasi klien secara jelas dan spesifik.

F. MEKANISME PENGUBAHAN

1. Tahap-Tahap Konseling

Secara umum prosedur atau tahapan pelaksanaan SFBT menurut Corey (2005) adalah sebagai berikut:

a. Para konseli diberikan kesempatan untuk memaparkan masalah-masalah mereka. Terapis mendengarkan dengan penuh perhatian dan cermat jawaban-jawaban konseli terhadap pertanyaan dari terapis, “ bagaimana saya dapat membantu anda?”

b. Terapis bekerja dengan konseli dalam membangun tujuan-tujuan yang dibentuk secara spesifik dengan baik secepat mungkin. Pertanyaannya adalah “ apa yang menjadi berbeda dalam hidupmu ketika maslaah-masalahmu terselesaikan?”

c. Terapis menanyakan konseli tentang saat dimana masalah-masalah sudah tidak ada atau saat masalah-masalah sudah tidak ada atau saat masalah-masalah terasa agak ringan. Konseli dibantu untuk mengeksplor pengecualian-pengecualian ini, dengan penekanan yang khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat keadaan/ peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.

d. Diakhir setiap percakapan membangun solusi-solusi (solution building), terapis memberikan konseli umpan balik simpulan, memberikan dorongan-dorongan, dan menyarankan apa yang konseli dapat amati atau lakukan sebelum sesi berikutnya yang lebih jauh untuk menyelesaikan masalah mereka.

e. Terapis dan konseli mengevaluasi progress yang telah didapat dalam mencapai solusi-solusi yang memuaskan dengan menggunakan suatu skala rata-rata. Konseli juga ditanya tentang apa yang perlu untuk dilakukan sebelum mereka melihat masalah mereka dapat terselesaikan dan juga apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

G. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

1. Kelemahan

a. Terapi bertujuan tidak secara tuntas menyelesaikan masalah klien

b. Keterbatasan waktu yang menjadi orientasi penggunaannya

c. Dalam penerapannya menuntut keterampilan konselor dalam penggunaan bahasa

d. Menggunakan teknis-teknis keterampilan berfikir (Mind Skills)

2. Kelebihan

a. Berfokus pada solusi

b. Fokus treatment pada hal yang spesifik dan jelas

c. Penggunaan waktu yang efektif

d. Berorientasi pada waktu sekarang (here and now)

e. Bersifat fleksibel dan praktis dalam penggunaan teknik-teknik intervensi

DAFTAR PUSTAKA

Burns, Kidge. 2005. Focus On Solusions A Health Professional`S Guide. London: Whurr Publishers

Capuzzi,D. & Gross,D.R.2007. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy: Theories and Intervention. Upper Saddle River, New Jersey: Perason Prentice-Hall.

Corey,Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont,CA:Brooks/Cole

Gillon, Ewan.2007. Person Centered Counseling Psychology An Introduction. London: Sage Publications

Jackson, Paul. & Mc.Kergow, Mark. 2007. The Solusion Focus (Second Edition). London: Nicholas Brealey International

Seligman,L. 2006. Theories of Counseling and Psychotherapy. Columbus, Ohio: Pearson Merril Prentice Hall

KETERAMPILAN INITIATING DALAM KONSELING

I. PEMBERIAN INISIASI DALAM MEMFASILITASI TINDAKAN KONSELI
Penginisiasian merupakan tahap kulminasi dari pemberian bantuan. Pemberian inisiasi menekankan pada memfasilitasi usaha konseli untuk bertindak dalam mencapai tujuannya. Dengan kata lain, tindakan konseli untuk mengubah atau memperoleh keberfungsian mereka. Tindakan ini didasarkan atas pemahaman mereka yang telah terpersonalisasi terhadap tujuan mereka. Hal ini difasilitasi dari inisiatif dari konselor.
Proses inisiasi (penginisiasian) mencakup penetapan tujuan, pengembangan program, perancangan jadwal serta reinforcement dan mengindividualisasian langkah-langkah. Penetapan tujuan menekankan pada pengoperasian suatu tujuan. Pengembangan program menekankan pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Perencanaan jadwal menekankan pada pelengkapan peneguhan untuk melangkah. Pengindividualisasian menekankan pada memastikan bahwa langkah-langkah tersebut berhubungan dengan bingkai referensi konseli.

II. KONDISI INTI DALAM PENGAMBILAN TINDAKAN
Walaupun penginisiasian secara luas merupakan seri tentang kegiatan mekanis yang didasarkan atas tujuan yang terpersonalisasi, konselor harus terus menerus berfungsi secara deferensial terhadap kebutuhan-kebutuhan konseli. Konselor secara terus menerus menekankan pada pemberian respon secara efektif. Setelah menjadi tambahan dalam pemberian pemahaman terhadap tujuan, konselor kembali lagi pada tingkatan yang sesuai dalam responding. Begitu pula dengan konselor yang menekankan pada pengindividualisasikan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan. Dalam prakteknya, hal ini berarti bahwa konselor selalu melakukan pemeriksaan kembali terhadap konseli dalam pengembangan dan pelaksanaan program-progam.
Konselor perlu mengkomunikasikan penghargaan yang kondisional bagi konseli. Konselor memiliki gambaran yang jelas tentang kelebihan dan kelemahan konseli, serta meneguhkan mereka dengan tujuan untuk membantu mereka mengembangkan dan melaksanakan program-program secara efektif. Keseluruhan dalam hal ini dikondisikan dalam prilaku yang sangat murni (genuine). Karena baik konselor maupun konseli saling mengetahui dengan baik satu sama lain, maka mereka dapat berhubungan dengan bebas dan terbuka sesuka hati mereka. Akibatnya, ada suatu peningkatan yang ditekankan terhadap kekhususan dan ke konkritan dalam pengembangan dan pelaksanaan program.

III. PERSONALISASI TUJUAN
a. Penetapan tujuan
Tugas yang paling kritis dalam penginisiasian adalah penetapan tujuan. Jika tujuan dan operasionalnya telah ditetapkan, maka arah pemberian bantuan menjadi jelas. Dalam memetapkan tujuan, digunakan pula 5 kata tanya dasar dengan cara yang kreatif (What, Who, Why, When, Where, How). 5 WH tersebut digambarkan dalam lingkup pengoperasian tujuan yang unsure-unsurnya terdiri atas: komponen, fungsi, proses, kondisi dan standar. Pengoperasian ini akan menekankan seluruh unsure yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
b. Penetapan komponen-komponen
Unsur pertama dari tujuan adalah komponen. Komponen menggambarkan siapa (Who) dan apa saja (What) yang terlibat dalam suatu tujuan. Komponen-komponen tersebut bisa saja mencakup unsur-unsur seperti materi pelajaran atau isi, begitu pula guru atau siswa.
c. Penetapan fungsi-fungsi
Unsur kedua dalam penetapan tujuan adalah fungsi. Fungsi menggambarkan apa yang dilakukan seseorang atau sesuatu. Fungsi adalah kata kerja operasional yang menggambarkan suatu aktifitas. Dalam lingkup pembelajaran, fungsi dapat menekankan pada aktifitas pembelajaran tertentu, misalnya: menerina, memperoleh, mengaplikasikan dan mentrasfer materi pelajaran.
d. Penetapan proses-proses
Unsur ketiga dalam penetapan tujuan adalah proses. Proses dideskrifsikan sebagai alasan (Why) dan metode (How) bagi komponen-komponen untuk mengerjakan tugasnya. Proses berupa kalimat keterangan yang memodifikasi fungsi atau aktivitas. Dalam lingkup pembelajaran konseli mungkin perlu untuk “belajar – bagaimana-cara-belajar “ dengan tujuan melakukan cara secara efektif.
e. Penetapan kondisi-kondisi
Unsur keempat dalam penetapan tujuan adalah kondisi. Kondisi menggambarkan dimana (Where) dan kapan (When) fungsi-fungsi terjadi. Kondisi juga merupakan kalimat keterangan yang mendeskripsikan fungsi. Proses belajar konseli dapat mengambil tempatdiruangan kelas selama jam sekolah. Hal tersebut penting untuk mengkhususkan kondisi dimana fungsi terjadi, untuk memastikan kelengkapan performance.
f. Penetapan standar-standar
Unsur kelima dalam penetapan tujuan adalah standar. Standar menggambarkan sebaik apa fungsi ditampilkan. Standar juga merupakan frase keterangan yang mendeskripsikan fungsi-fungsi. Keterampilan konseli dalam belajar mungkin akan mensyaratkan kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami dan mengambil tindakan atas tiap keterampilan untuk dipelajari. Ketrampilan konseli dalam bekerja mungkin mensyaratkan kemapuan untuk menangani masalah atau membuat keputusan secara terencana. Hal ini penting untuk menjadi sangat spesifik dalam menentukan criteria keefektifan. Jika tidak, konseli tidak akan tahu dimana saat-saat mereka telah mencapai tujuan yang mereka inginkan.

IV. MENGOPERASIONALKAN TUJUAN
Melalui pemberian deskripsi operasional terhadap tujuan, konseli akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuannya. Hal ini mendorong konseli untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program demi pencapaian tujuan mereka.

V. MENGKOMUNIKASIKAN TUJUAN OPERASIONAL
Tujuan operasional dikomunikasikan pada konseli dengan cara menekankan pada ketentuan-ketentuan yang dapat diamati dan diukur. Ketentuan-ketentuan ini mengacu pada standar performansi. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan tujuan dalam hubungannya dengan lama waktu yang digunakan konseli dalam melakukan suatu perilaku.

VI. PENETAPAN TUJUAN
a. Pengembangan program
Jelas tidak cukup kalau kita hanya menetapkan tujuan saja. Untuk mencapai tujuan, kita perlu mengembangkan program. Program merupakan prosedur langkah-demi-langkah yang mempermudah pencapaian tujuan. Dalam pemberian penjelasan tentang tujuan, program diperoleh dari pengoperasian. Setiap langkah dalam program harus membawa pada penyelesaian operasi-operasi yang terlibat dalam suatu tujuan.
Kebanyakan program dirangkai oleh suatu kesatuan, artinya, setiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Karena itu, perlu ditentukan apa saja langkah yang harus dilakukan sebagai persiapan langkah selanjutnya dan pada akhirnya, pengoperasian tujuan. Dalam konteks ini, program pengambilan tindakan terdiri atas, tujuan operasional, langkah pertama yang mendasar, dan langkah perantara pencapaian tujuan. Tujuan adalah yang ingin dan perlu dicapai konseli. Langkah pertama merupakan langkah yang mendasar dimata konseli memulai untuk melangkah. Langkah perantara merupakan langkah-langkah yang secara langsung membawa pada pencapaian tujuan. Semua langkah tersebut membawa konseli dari tempat ia berada ke tempat yang ia inginkan
b. Pengembangan langkah awal
Langkah pertama adalah langkah paling dasar yang harus diambil konseli. Langkah tersebut harus menjadi bahan bangunan paling fundamental dalam suatu program. Dengan demikian langkah selanjutnya dapat diambil.
c. Pengembangan langkah perantara
Langkah perantara menjembatani jurang pemisah antara langkah pertama dengan tujuan. Langkah perantara yang pertama dapat diperkirakan berada pada setengah jalan antara langkah pertama dengan tujuan.

VII. PENGEMBANGAN PROGRAM
a. Pengembangan jadwal
Proses penginisiasian berlanjut seiring konselor mengembangkan penjadwalan waktu untuk pencapaian langkah dan tujuan. Jadwal disajikan untuk memfokuskan program yang akan dilakukan. Dengan adanya jadwal, jurang waktu yang mungkin ditinggalkan oleh perhitungan waktu akhir-terbuka(open ended time) akan lebih rapat.
Penekanan utama dalam proses penjadwalan adalah pada pengembangan waktu mulai dan waktu selesai. Hal tersebut menjelaskan pada konseli dan konselor kapan suatu hal harus dilakukan atau diselesaikan. Waktu mulai dan waktu selesai juga dapat ditentukan bagi langkah-langkah individual yang akan diambil seperti halnya pada keseluruhan program. Tidak ada program yang lengkap tanpa waktu dimulai dan waktu diselesaikannya program tersebut.
b. Menetapkan waktu penyelesaian
Langkah pertama yang diambil dalam pengembangan jadwal adalah menentapkan secara khusus kelengkapan waktu dan tanggal. Misalnya, konseli dapat menentukan waktu penyelesaian yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan.
c. Menetapkan waktu pemulaian
Langkah kedua dalam pengembangan jadwal adalah menetapkan waktu dan tanggal pemulaian secara spesifik.
d. Mengawasi ketetapan waktu
Konselor dapat menetapkan waktu mulai dan selesai bagi tiap langkah sementara. Tujuan utama dari penetapan jadwal adalah untuk mengawasi ketepatan waktu atas performansi konseli terhadap pengerjaan langkah-langkah dalam program. Jadwal yang detail membuat konselor dan konseli dapat mengawasi pelaksanaan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan.

VIII. PENGEMBANGAN JADWAL
a. Pengembangan peneguhan
Langkah selanjutnya dalam penginisiasian adalah pengembangan peneguhan yang akan mendorong konseli untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan. Peneguhan menjadi sangat efektif saat diaplikasikan dengan sesegera mungkin terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang diambil.
Pelaksanaan langkah dalam pencapaian tujuan dan penanggulangan kekurangan diri sering kali berakibat terlalu jauh pada konseli. Banyak jenis peneguhan yang harus diperkenalkan pada konseli secepat mungkin. Lebih jelasnya, peneguhan-peneguhan ini harus datang dari bingkai referensi konseli.Banyak program pemberian bantuan yang gagal karena ketidakmampuan program tersebut untuk memberikan peneguhan yang sesuai. Perhatian apapun – bahkanyang negatif – dapat lebih meneguhkan dibanding proses peneguhan dalam suatu program. Empati merupakan sumber dari seluruh pengetahuan tentang peneguhan yang kuat bagi konseli.
1. Peneguhan positif
Peneguhan positif atau melalui reward adalah jenis peneguhan yang palingpotensial. Orang cenderung dapat bekerja keras demi sesuatu yang benar-benar berarti baginya. Hal ini berarti konselor harus bekerja dengan tekun untuk mengembangkan peneguhan positif terhadap bingkai referensi konseli. Kemudian konseli juga harus bekerja dengan tekun untuk menerima peneguhan tersebut. Peneguhan dapat bervariasi seiring dengan meningkatnya cita rasa alami manusia dengan sendirinya.
2. Peneguhan negative
Sebisa mungkin konselor harus mencegah peneguhan negatif. Dalam konteks ini penerapan atas peneguhan negatif dapat menstimulasi reaksi lainnya, misalnya reaksi penolakan terhadap orang yang memberikan hukuman. Untuk mencegah agar tidak berhadapan dengan reaksi semacam ini, konselor harus berusaha untuk menetapkan peneguhan negatif tersebut sebagai ketiadaan reward.
Konselor perlu untuk meneguhkan konseli secara positif dan membuat perilaku konseli menjadi terarah pada tujuan, serta mencegah perilaku tidak bertujuan dan peneguhan negatif pada konseli. Kebanyakan program terdiri atas langkah-langkah yang terangkai dalam satu kesatuan, dimana tiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Beberapa konseli tidak dapat melaksanakan langkah tersebut segera setelah mereka merancangnya. Langkah-langkah tersebut memerlukan pengindividualisasian program terhadap gaya belajar masing-masing. Jenis individualisasi program, berupa rangkaian langkah-langkah dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkrit sampai yang abstrak, dari yang dekat sampai yang jauh. Seringkali langkah langkah ini berbeda dengan langkah-langkah yang terangkai dalam suatu kesatuan. Rangkaian langkah-langkah dapat berupa langkah-langkah sederhana ke kompleks, langkah-langkah konkrit ke abstrak, dan langkah-langkah jangka pendek ke jangka panjang.
Pengembangan inisiatif merupakan puncak pelaksanaan proses pemberian bantuan. Dengan memberikan tujuan yang terpersonalisasi dalam proses initiating, mendorong konselor dan konseli untuk menetapkan tujuan dan mengembangkan program pencapaian tujuan. Proses pemberian bantuan adalah suatu proses yang berkaitan dengan menangani masalah konseli dan membantu meraih tujuannya. Pada tingkatan tertinggi dalam pemberian bantuan, proses Responding dan initiating berhubungan secara integral. Tidak ada perwujudan dari pemahaman bila tidak ada tindakan, tidak aka nada pula suatu tindakan tanpa adanya pemahaman.

sumber:
Carkhuff,Robert R.(1985)The Art of Helping.America:Bernice R.Carkhuff.Publisher

TEORI PERKEMBANGAN KARIR: PERSPEKTIF SOCIAL LEARNING THEORY DARI KRUMBOLTZ

Konsep Dasar

Jika kita bicara mengenai bimbingan karir melalui pendekatan pemilihan karir dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Krumboltz, Mitchell dan Gelatt. Maka kita harus melihat terlebih dahulu konsep dasar dan latar belakang dari teori belajar sosial itu sendiri, yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang telah memperoleh penghargaan APA (American Psychological Award) pada tahun 2004, atas kontribusinya dalam disiplin ilmu psikologi.
Bandura memandang bahwa kepribadian harus memperhitungkan konteks sosial dimana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara. Teori belajar sosial dari Bandura ini didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond reinforcement), dan pengaturan diri sendiri/berfikir (self regulation/cognition).
1. Determinis resiprokal ini menjelaskan bahwa tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan.
2. Tanpa reinforcement ini Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung pada reinforcemen, sehingga jika setiap unit respon sosial yang komplek harus diberi reinforce satu persatu, bisa jadi individu tidak belajar apapun. Maka Bandura memandang individu belajar lewat observasi dan tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi.
3. Kognisi dan regulasi diri, konsep ini mengtakan bahwa individu memiliki kemampuan untuk mengtur diri sendiri, mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengobservasi lingkungan dan berfikir secara komprehensif.

Formulasi Albert Bandura, Reciprocal Determinism

Maka dengan adanya konsep saling menentukan yaitu resiprocal determinism, individu bertingkah laku akan bergantung pada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi personal (kognitif, afektif, biological events), yang berujung kepada faktor kognitif pada keyakinan dan pengharapan bahwa dia mampu atau tidak mampu dalam suatu aktifitas atau pekerjaan. Bandura menyebut keyakinan dan pengharapan ini dengan efikasi diri (self effication) dan ekspektasi hasil (outcome expectations).
Menurut Bandura sumber dari efikasi diri ini yaitu
1. Mastery Experience (pengalaman yang telah dikuasai/pengalaman performansi), hal ini berkaitan akan keberhasilan dan pengalaman individu dalam suatu kegiatan dan aktifitas, yang menunjang aktifitasnya kedepan.
2. Vicarious Experience (pengalaman yang disubtitusikan), hal ini berkaitan akan pengalaman individu dalam mengamati aksi atau tindakan orang lain sebagai modelnya. Semakin tinggi pengaruh sumber ini jika individu tersebut menganggap orang lain tersebut memiliki kesamaan dengannya.
3. Social Persuasions (persuasi sosial), hal ini berkaitan dengan pesan sosial yang diperoleh individu dari orang yang berada di lingkungannya.
4. Psychological States (kondisi psikologis), hal ini berkaitan tentang keadaan emosi individu seperti stress, anxiety (ketakutan) serta kondisi mood.
Maka menurut Bandura (dalam Al Wisol hal. 363), sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku dan kognitif yang berhubungan dengan pribadi yang terbentuk dari sumber efikasi diri di atas. Yang tentunya akan mengarahkan individu kepada kecendrungan aktifitas mana yang akan di lakukannya dalam kehidupan sosialnya.
Berdasarkan perspektif teori di atas tersebut Krumboltz, Mitchell dan Gelatt mengembangkan teori tersebut dalam konseling karir serta menjadi pendekatan dalam membuat pemilihan dan penentuan karir.

Pemilihan Karir Dengan Pendekatan Teori Belajar Sosial Dari Krumboltz
Pendekatan perspektif teori belajar sosial untuk pemilihan karir yang dikemukakan oleh John D. Krumboltz dkk, berdasarkan teori belajar sosial yang di susun oleh Albert Bandura (1969) yang memiliki peran tentang pengalaman vikarius, pengalaman performansi, regulasi diri, serta adanya resiprocal determinism yang memainkan peran dalam penentuan perilaku, antara personal, environment dan behavior.
Dasar dari teori pemilihan karir dari Krumboltz ini memandang bahwa manusia memilih karirnya sebagai hasil dari pengalaman dan pengaruh yang di miliki dalam hidupnya. Pengalaman dan pengaruh ini termasuk orang tua, guru, hobi atau ketertarikkan yang menggerakkan individu untuk mengenal serta mengeksplorasi pekerjaan yang diasosiasikan dengan elemen dalam hidupnya.

Pada awalnya Krumboltz, Mitchell dan Gelatt (1975) menyusun pendekatan ini sampai pada tahun 1994 Krumboltz melanjutkan pendekatan ini. Menurut pandangan mereka teori belajar sosial dalam penentuan pilihan merupakan hasil perkembangan secara umum dari perilaku belajar sosial, yang di ajukan oleh Bandura. Teori ini berasumsi bahwa kepribadian dan perilaku yang dimiliki seseorang timbul dari pengalaman belajar yang unik. Pengalaman belajar ini terdiri dari kontak antara analisis kognitif yang positif dan even-even yang menguatkan secara negatif (Mitchell & Krumboltz, 1984b, hal. 235).
Pengalaman belajar yang terdiri dari pengaruh kognitif yang positif dimaksudkan adalah faktor-faktor berikut:
1. Atribut pembawaan, seperti ras, gender hal lainnya serta kemampuan bawaan seperti keterampilan, keintelektualan serta perilaku.
2. Kondisi lingkungan sosial, seperti kehidupan sosial, pengalaman individu dalam kerja, pelatihan, kebijakan sosial serta pengalaman kerja dari orang lain, yang mempengaruhi pemilihan kerja.
3. Pengalaman belajar di masa lalu, dibagi menjadi 2 tipe yaitu pengalaman belajar asosasi yang mana individu mengamati keterkaitan antara kejadian da mampu untuk memprediksi segala kemungkinan. Pengalaman belajar secara aplikasi, individu mampu mengaplikasikan di lingkungan secara langsung dengan hasil yang dapat diobservasi.
4. Skill dalam pendekatan tugas, berkaitan skill individu dalam melaksanakan tugas baru, melalui pengalaman bahwasanya seperti pemecahan masalah, skill, kebiasaan kerja, mental set, respon emosional serta proses kognitif.
Dari 4 faktor-faktor di atas menyebabkan pengaruh primer yang sangat penting dalam penentuan karir individu yaitu:
1. Self observation generalizations (SOG’s), hal ini merupakan penggambaran bahwa belajar individu berdasarkan pada pengalaman hidupnya yang diperoleh lewat vikarius even atau pengalaman pribadi.
2. Worldview generalizations, melihat gambaran lingkungan secara umum dan percaya bagaimana dunia berfungsi, meniru lingkungan dan menginterpretasikan
3. Task approach skill (TAS’s), kemampuan kognitif dan performa serta kemampuan untuk menyatu dengan lingkungan serta menginterpretasikan hal tersebut kepada pengamatan diri sendiri, kaitannya dengan pemilihan karir adalah adanya skill akan perencanaan, pencarian informasi, estimasi serta mempertimbangkan nilai kerja.
4. Tindakan yang ditampakkan, hal yang ditampakkan itu sangat spesifik, yang berhubungan dengan perilaku dalam pemilihan kerja yang sebabkan pengamatan diri sendiri, penggeneralisasian serta pendekatan skill dalam tugas di atas tadi, seperti nantinya individu akan mengetahui kerja yang spesifik dengan skillnya. Atau bisa disebut, kemajuan dalam karir seperti menerima kerja yang spesific.
Maka 4 pengaruh primer pada diri individu di atas merupakan hasil dari 4 faktor sebelumnya, oleh karena itu meningkatnya derajat spesikasi dari 4 faktor tersebut, Maka individu mampu memperlihatkan kemampuannya jika dia telah diperkuat untuk melaksanakan aktivitas dengan performa yang sukses.
Sedangkan yang disebut pengaruh even negatif sebelumnya adalah dianggap tidak mampu dalam bekerja bahkan menolak suatu aktifitas jika mereka telah dihukum dalam melaksanakan aktifitas tersebut, atau telah melihat orang lain yang dihukum ketika melakukan aktifitas tadi. Maka secara positif dipengaruhi oleh nilai seseorang yang negatif terhadap suatu aktifitas atau telah dipengaruhi oleh kata-kata yang dikaitkan dengan aktifitas tadi.
Oleh karena itu, teori belajar sosial dalam menentukan pilihan kerja menjelaskan mengenai pilihan karir yang sebenarnya, dan teori mengenai belajar dalam pemilihan karir juga menggambarkan apa yang bisa dilakukan konselor untuk membantu klien mereka menyelesaikan dilema kerja klien tersebut.
Mitchell dan Krumboltz (1984, 1990, 1996) telah mendiskusikan inventori penelitiannya secara komprehensif hampir 2 dekade yang menghadirkan bukti-bukti yang bisa diakui untuk membantu proses pemilihan karir lewat teori belajar sosial, maka dengan hal tersebut membantu hipotesis yang bisa di generalisasikan kepada teori konseling karir.
Di tahun 1994, Krumboltz memperkenalkan proposisi yang di ambil dari teori, yang termasuk adalah:
Orang akan menerima pekerjaan bila:
1. Mereka telah sukses pada tugas yang mereka percaya seperti performa anggota dalam pekerjaan tadi.
2. Mereka telah mengobservasi model yang berarti yang telah diperkuat untuk aktifitas yang dilaksanakan oleh anggota yang bekerja.
3. Penekanan yang relatif kepada teman berguna untuk mereka, mereka juga mengamati kata-kata positif dan gambaran yang diasosiasikan dengan hal tersebut.

Proposisi yang berlawanan bila:
1. Mereka gagal pada tugas yang mereka percaya bisa yang sama dengan tugas yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam pekerjaan.
2. Mereka telah mengobservasi model memiliki makna baginya yang mendapatkan hukuman atau tidak diacuhkan dalam melaksanakan aktifitas dalam pekerjaan.
3. Telah mengamati teman yang tidak menguntungkan baginya serta telah dipengaruhi kata-kata dan image yang diasosiasikan dengan kerjanya.

Diantara banyaknya aplikasi praktis dari kerja Krumboltz (1983) adalah adanya aturan pembuatan pilihan dan bagaimana hal ini bisa mempengaruhi kepercayaan yang tidak rasional. Seperti Krumboltz telah memperkenalkan masalah yang timbul dari observasi diri, generalisasi yang salah serta ketidak akuratan interpretasi kondisi lingkungan.
Maka masalah ini diantaranya:
1. Individu mungkin tidak dapat mengakui bahwa masalah yang dihadapinya dapat diatasi (mereka berasumsi bahwa sebagian besar masalah merupakan bagian dari kehidupan yang normal dan tidak dapat diatasi).
2. Individu mungkin tidak dapat melakukan upaya yang dibutuhkan untuk membuat keputusan atau memecahkan masalah (mereka tidak banyak berusaha mengeksplorasialternatif).
3. Individu mungkin tidak menyadari adanya alternative yang memuaskan (mereka melakukan overgeneralisasi asumsi yang salah).
4. Individu mungkin memilih alternative yang buruk atau alas an yang tidak tepat (individu tidak mampu mengevaluasi karir secara realistic karena keyakinan yang salah dan ekspektasi yang tidak relistik).
5. Individu mungkin mengalami kekecewaan dan kecemasan akibat persepsi bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya (tujuannya mungkin tidak realistik atau konflik dengan tujuan lain).
Oleh karena itu seorang konselor harus mengenal dan menelusuri masalah ini dan menganalisa hal tersebut dalam melakukan konseling karir.

Krumboltz mengatakan bahwa secara potensial penyebab kesusahan dalam membuat pemilihan karir yang bersumber dari penggeneralisasian yang salah, pembandingan diri dengan satu orang, perkiraan yang dilebih-lebihkan dalam hasil dampak emosional, menggambarkan hubungan sebab akibat yang salah, ketidak acuhan dalam hubungan fakta dan memberikan kecendrungan yang tak pantas kepada even yang probabilitas lemah. Maka Krumboltz percaya bahwa beberapa dari hal ini berhubungan kepada fakta kesusahan dalam menentukan pemilihan karir.
Maka peranan konselor adalah menelusuri asumsi-asumsi dan keyakinan individu dan mengeksplorasi alternatif keyakinan dan tindakan yang perlu dilakukan. Membantu individu memahami sepenuhnya validitas keyakinan individu merupakan komponen utama model social-learning.

Aplikasi Dalam Bimbingan Konseling Karir
Krumboltz dan Baker (1973) mengidentifikasi beberapa langkah yang terlibat dalam konseling karir yaitu
1. Menjelaskan masalah dan tujuan
2. Mengidentifikasi bermacam solusi
3. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang telah dikenali
4. Menguji kemungkinan hasil dari pilihan yang beragam
5. Mengevaluasi ulang tujuan, menentukan
6. Menyamaratakan semua proses kepada masalah yang baru
Masalah karir klien sering berhubungan kepada ketidakmampuan individu untuk membuat pemilihan yang berhubungan dengan apa yang dibutuhkan dalam karirnya (Krumboltz and Thoresen, 1969). Crites (1981) memberikan beberapa point mengenai masalah klien yang berhubungan dalam konseling karir yang termasuk dalamnya beberapa kombinasi yaitu:
1. Ketidakjelasan tujuan
2. Adanya penghalang dalam aktifitas
3. Adanya ketakutan akan kemungkinan kegagalan
4. Konflik dalam pilihan
Keempat point ini adalah diantaranya item dalam Skala Pilihan Karir (Osipow, Carney, Win;er, Yanico and Koschier, 1976; Osipow, 1980), sebagai instrument yang didesain untuk mengukur kebimbangan karir terdahulu dengan differential-diagnosis-treatment.
Status dan Kegunaan Teori Krumboltz (Krumboltz, 1996; Mitchell & Krumboltz, 1996) hanya menarik perhatian sebagian kecil peneliti dan praktisi meskipun banyak yang merekomendasikannya. Teori ini cukup atraktif sebagai dasar konseling karir. dia menolak gagasan tradisional bahwa tujuan konseling karir adalah untuk memilih pekerjaan berdasarkan karakter personal pembuat keputusan. Tetapi, dia menyarankan bahwa tujuannya adalah untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan tentang diri dan skill yang dibutuhkan untuk menangani dunia yang selalu berubah yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Dia mengembangkan Career Belief’s Inventory (Krumboltz, 1991) dan buku catatan yang menyertainya (Levin, Krumboltz, & Krumboltz, 1995) untuk membantu pembaca mengidentifikasi keyakinan mereka dan memadukannya dengan minat mereka. Menurut Krumboltz, Individu yang tidak belajar untuk mengambil keuntungan dalam kesempatan pembelajaran yang diberikan kepada mereka dalam pelatihan dasar berkelanjutan cenderung untuk membuat keputusan tidak bagus. Yang paling penting, konseling karir harus menyiapkan klien untuk mengenali dan mengambil keuntungan dari kesempatan pembelajaran yang diberikan pada mereka. Konseling karir harus dilakukan dengan empat pertimbangan.
1. Para klien harus siap untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian mereka dibandingkan keadaan mereka ketika pertama kali mereka masuk proses konseling. Konselor karir harus membantu klien untuk memetakan status mereka dan memberikan garis besar rencana untuk perubahan dan pengembangan. Dengan adanya rencana untuk berubah. Para klien mengembangkan struktur perkembangan kesempatan mereka.
2. Para klien harus siap dengan sebuah kondisi umum pekerjaan yang sedang berubah.
3. Meskipun diagnosa permasalahan pengembangan karir saat ini adalah sebuah langkah dalam proses konseling karir, hal ini tidak cukup. Para klien harus didorong untuk menghadapi tekanan dunia yang selalu berubah.
4. Para konselor karir harus lebih fokus dan membantu klien menangani serangkaian masalah pekerjaan yang meeka hadapi. Klien harus memahami nilai dan hal yang memuaskan mereka. Mereka harus meraih kontrol hidup mereka, untuk mampu menangani permasalahan di tempat kerja, termasuk bagaimana maju di tempat kerja dan rencana untuk berhenti.

Krumboltz et. al juga memberikan beberapa observasi untuk konseling karir sebagai berikut:
1. Pembuatan keputusan karir merupakan keterampilan yang dipelajari.
2. Individu yang mengaku telah melakukan pilihan karir memerlukan bantuan juga (pilihan karirnya mungkin telah dilakukan berdasarkan informasi yang tidak akurat dan alternatif yang keliru).
3. Keberhasilan diukur berdasarkan keterampilan yang telah ditunjukkan mahasiswa dalam membuat keputusan (diperlukan evaluasi terhadap keterampilan membuat keputusan).
4. Klien berasal dari berbagai macam kelompok.
5. Klien tidak usah merasa bersalah jika mereka tidak yakin tentang karir apa yang harus dimasukinya.
Pada akhirnya Krumboltz, mengatakan adanya metode untuk mengidentifikasi akan kepercayaan pribadi dan pengidentifikasian stress. Yang terdiri dari diantaranya (Krumboltz, 1983; Mitchell & Krumboltz, 1984):
1. Asesmen terhadap isi dari observasi diri klien dan pandangannya terhadap lingkungan
2. Simulasi pemilihan karir
3. Wawancara terstruktur
4. Career Thought Inventory (CTI) (Sampson, Peterson, Lenz, Reardon, & Saunders, 1996), dikembangkan untuk mendiagnosa berbagai macam aspek permasalahan pengambilan keputusan karir. CTI ini membantu dalam model Career Informations-Processing (CIP) yang pertama kali dipublikasikan tahun 1991 (Peterson, Sampson, & Reardon, 1991) dan baru-baru ini direvisi (Peterson, Sampson, & Reardon, 2002). Aplikasi model CIP dimulai dengan menilai kesiapan individu untuk membuat pilihan-pilihan karir yang masuk akal serta kemampuan kognitif dan afektif untuk membuat pilihan-pilihan tersebut.
5. Pengunaan Carrer Belief’s Inventory (Krumboltz, 1988a), untuk mengindentifikasi prasangka yang menghambat orang dalam mencapai tujuan karirnya.

sumber:
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.
Edwin L. Herr, dkk. 2004. Career Guidance And Counseling Through The Lifespan. Edisi ke-6. Boston: Pearson Educations, Inc.
Lee E. Isaacson. 1986. Career Information In Counseling And Career Development. Edisi ke-4. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Samuel H. Osipow. 1983. Theories Of Career Development. Edisi ke-3. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Rational Emotif Terapy : Ellis

1 Teori Kepribadian

Emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis (1967 hlm 82) menyatakan bahwa gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah. Menurut Ellis (1994) ada tiga hal yang terkait dengan perilaku yaitu:

a. Antecedent event (A) yaitu peristiwa pendahulu yang berupa fakta, peristiwa, perilaku atau sikap orang lain. Prinsipnya segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.

b. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam: keyakinan rasinoal (rB) dan keyakinan irrasional (iB). Keyakinan yang rasional adalah cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat dan masuk akal, bijaksana. Keyakinan yang irrasional yaitu keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, yang tidak masuk akal, emosional.

c. Emotional Consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan (A).

d. Disputing (D) yaitu penerapan metode ilmiah untuk membantu para klien menantang keyakinan-keyakinan yang irrasional yang telah megakibatkan gangguan emosi dan tingkah laku.

Menurut Ellis orang yang berkeyakinan rasional akan mereaksi peristiwa-peristiwa yang dihadapi kemungkinan mampu melakukan sesuatu secara realistik (Hansen dkk, 1977). Jika individu berpikir atau berkeyakinan irrasional maka dalam menghadapi masalah ia akan mengalami hambatan emosional. Hambatan emosional itu bisa berupa neurotik atau psikotik, cemas, dll. Penyembuhannya kita harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya. Kecemasan bersumber pada pengulangan internal dari putusan dan kalimat menyalahkan diri. Sistem keyakinan pada dasarnya diperoleh individu sejak kecil dari orang tua, masyarakat atau lingkungan dimana anak hidup. Menurut pendapat Ellis bahwa sebab-sebab individu tidak mampu berpikir rasional karena hal-hal berikut (nelson-Jones, 1980) :

1. Anak tidak berpikir secara jelas tentang yang ada saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan dan imajinasi.

2.  Anak tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.

3. Orang tua dan masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional dan diajarkan kepada anak melalui berbagai media.

Ellis (1973a, hlm.179-180) mngemukakan bahwa karena manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu melatih dirinya untuk mengubah dan menghapus keyakinan yang menyabotase diri sendiri.

2 Perilaku Bermasalah

Menurut pandangan REBT perilaku yang  bermasalah adalah perilaku yang didasarkan pada cara berfikir yang irrasional. Indikator perilaku bermasalah secara universal menurut Albert Ellis (1994) yaitu:

  1. Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Padahal seharusnya mereka menghargai diri sendiri, memenangkan tujuan-tujuan praktis dan mencintai dari pada menjadi obyek yang dicintai
  2. Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan dan jahat, dan orang yang melakukan tindakan sangat terkutuk. Seharusnya berpandangan bahwa tindakan tertentu adalah kegagalan diri atau antisocial, dan orang yang melakukan tindakan demikian adalah melakukan kebodohan, ketidaktahuan, atau neurotik, dan akan lebih baik jika ditolong untuk berubah. Orang yang berperilaku malang tidak membuat mereka menjadi individu yang buruk.
  3. Pandangan bahwa hal yang mengerikan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita. Seharusnya berpandangan bahwa kita menjadi lebih baik untuk mengubah atau mengendalikan kondisi yang buruk, juga bahwa mereka menjadi lebih memuaskan dan jika hal itu tidak mungkin untuk sementara menerima dan secara baik-baik mengubah keberadaannya.
  4. Pandangan bahwa kesengsaraan (segala masalah) manusia selalu disebabkan oleh faktor eksternal dan kesengsaraan itu menimpa kita melalui orang lain atau peristiwa. Seharusnya berpandangan bahwa neurosis itu sebagian besar disebabkan oleh pandangan bahwa kita mendapat kondisi yang sial.
  5. Pandangan bahwa jika sesuatu itu dapat berbahaya atau menakutkan, kita terganggu dan tidak akan berakhir dalam memikirkannya. Seharusnya berpandangan bahwa seseorang akan lebih baih menghadapinya secara langsung dan mengubahnya tidak berbahaya dan jika tidak memungkinkan, diterima sebagai hal yang tidak dapat dihindari.
  6. Pandangan bahwa kita lebih menghindari berbagai kesulitan hidup dabn tanggung jawab dari pada berusaha untuk menghadapinya. Seharusnya berpandangan bahwa kemudahan itu biasanya banyak kesulitan dikemudian hari.
  7. Pandangan bahwa kita seharusnya kompeten, inteligen dan mencapai dalam semua kemungkinan yang menjadi perhatian kita. Seharusnya pandangan itu adalah kita bekerja lebih baik dari pada selalu membutuhkan unutk bekerja secara baik dan menerima diri sendiri  sebagai mahluk yang tidak benar-benar sempurna, yang memiliki keterbatasan umumnya dan kesalahan.
  8. Pandngan bahwa kita secara absolute membutuhkan sesuatu dari orang lain atau orang asing yang lebih besar dari pada diri sendiri sebagai sandaran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa lebih baik untuk menerima resiko berpikir dan bertindak kurang bargantung.
  9. Pandangan bahwa karena segala sesuatu kejadian sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan kita, hal itu akan mempengaruhi dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Seharusnya pandangan itu adalah kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu kita tetapi tidak terlalu mengikuti atau berprasangka terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu itu.

10.  Pandangan bhawa kita sebenarnya tidak mengendalikan emosi kita dan bahwa kita tidak dapat memabntu perasaan yang mengganggu pikiran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa kita harus mengendalikan secara nyata atas perasaan yang merusak kita jika kita memilih untuk bekerja untuk mengubah anggapan yang fantastis.

11.  Pandangan bahwa kita harus memiliki kepastian dan pengendalian yang sempurna atas sesuatu hal. Seharusnya pandangan itu adalah bhwa dunia ini penuh dengan probabilitas (serba mungkin) dan berubah dan bahwa kita dapat hidup nikmat sekalipun demikian keadaannya.

12.  Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai dan tanpa berbuat. Seharusnya berpandangan bahwa kita dapat menuju kebahagiaan jika kita sangat tertarik dalam hal melakukan kreativitas, atau jika kita mencurahkan perhatian diri kita pada orang lain atau melakukan sesuatu di luar diri kitab sendiri.

Menurut pandangan Ellis, keyakinan yang rasional berakibat pada prilaku dan reaksi individu yang tepat sedangkan keyakinan yang irrasonal berakibat pada reaksi emosional dan perilaku yang salah.

3 Karakteristik dan keyakinan yang irasional

Menurut Nelson (1982) karakteristik berfikir yang irrasional dapat dijumpai sebagai berikut :

  • Ø Terlalu Menuntut

Tuntutan, perintah, komando dan permintaan yang berlebihan oleh REBT dibedakan dengan hasrat, pikiran, dan keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut “harus” terpuaskan dan bukan “ingin” terpuaskan. Tuntutan ini berasal dari dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Menurut Ellis, kata “harus” merupakan cara berfikir absolut tanpa ada toleransi dan tuntutan semacam ini akan membuat individu mengalami hambatan sosial.

  • Ø Generalisasi Secara Berlebihan

Overgeneralization berarti individu menganggap sebuah peristiwa atau keadaan di luar batas-batas yang wajar. Contohnya : “saya orang paling pintar sedunia”, pernyataan tersebut merupakan overgeneralization karena pada kenyataannya dia bukan orang yang paling pintar sedunia.

  • Ø Penilaian Diri

Pada dasarnya individu dapat memiliki sifat-sifat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan  namun yang terpenting adalah dia dapat belajar untuk menerima dirinya tanpa syarat (unconditioning self-regard). Individu dikatakan irrasional apabila individu selalu menilai harga dirinya (self-rating). Dalam hal ini individu sebaiknya menerima dirinya sendiri (self-acceptance) dan tidak melakukan penilaian terhadap dirinya (self-evaluation). Karena apabila individu selalu menilai dirinya sendiri akan berakibat negatif, karena hal seperti ini dapat membuang waktu dengan percuma, cenderung tidak konsisten dan selalu menuntut kesempurnaan.

  • Ø Penekanan

Penekanan atau awfulizing sama halnya dengan tuntutan namun dalam awfulizing ini tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi individu dalam memandang actecedent event secara tepat dan karena itu digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional.

  • Ø Kesalahan Atribusi

Attribution error adalah kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik yang dilakukan sendiri, orang lain atau peristiwa. Kesalahan atribusi ini sama halnya dengan alasan palsu diri seseorang atau orang lain dan menimbulkan hambatan sosial.

  • Ø Anti pada Kenyataan

Anti-empiricism terjadi karena tidak bisa menunjukkan fakta empiris secara tepat. Orang yang berkeyakinan irrasional, pertama kali cenderung kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan sendiri gagasannya yang sebenarnya rasional.

  • Ø Repetisi

Keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang. Menurut Ellis, seseorang cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan pandangan yang menghambat dirinya.

4 Hakikat manusia

Secara umum ada dua prinsip yang mendominasi manusia, yaitu pikiran dan perasaan. REBT beranggapan bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang saling mempengaruhi. Dalam memandang hakikat manusia REBT memiliki sejumlah asumsi tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan dinamika pikiran dan perasaan (Ellis 1994). Asumsi tentang hakikat manusia adalah sebagai berikut :

  • Pada dasarnya individu itu unik, uang memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irrasional. Ketika berfikir dan berperilaku rasional, dia efektif, bahagia dan kmpeten. Namun ketika dia berfikir dan berperilaku yang irrasional dia tidak efektif.
  • Reaksi “emosional” seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari oleh individu.
  • Hambatan psikologi atau emosional adalah akibat dari cara berfikir yang tidak logis dan irrasional. Emosi menyertai individu yang berfikir dengan penuh prasangka, sangan personal dan irrasional.
  • Berfikir secara irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam proses pertumbuhannya, akan terus berfikir dan merasakan denagn pasti tentang dirinya dan tentang yang lain. “ini adalah baik” dan “yang itu adalah jelek”. Pandangan seperti ini akan terus membentuk cara pandangan selanjutnya.
  • Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berfikir yang tepat. Dalam kaitannya dengan hal ini, tujuan konseling adalah (1) menunjukkan pada klien bahwa verbalisasi diri telah menjadi sumber hambatan emosional. (2) membenarkan bahwa verbalisasi diri adalah tidak logis dan irrasional. (3) meluruskan cara berfikir dengan verbalisasi diri yang lebih logis dan efisien dan tidak berhubungan dengan emosi negatif dan perilaku penolakan diri (self-defeating).
  • Perasaan, berfikir negatif dan penolakan diri harus dilawan denagn cara berfikir yang logias dan rasional yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

5 Tujuan Konseling

Tujuan koseling dalam konstek teori kepribadian, konseling merupakan efek (E) yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor atau (desputing)/ D. karena itu teori REBT tentang kepribadian dalam fprmula A-B-C dilengka[I oleh Ellis sebagai teori konselng yaitu menjadi A-B-C-D (antecendent event, belief, emotional consequenceal, desputing, dan effect). Efek yang dimaksud adalah  keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.

Menurut Ellis, tujuan konseling pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional dengan jalan mengganti cara-cara berpikir yang irasional. ellis mengemukakan pengertian cara berpikir rasional mencakup meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri (self defieting) dan mencapai kehidupan yang realistic, falsafah hidup yang toleran, termasuk didalamnya dapat mengarahkan diri, menghargai diri, fleksibel, berpikir secara ilmiah, dan menerima diri.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai dalam REBT, yaitu:

  1. pemahaman insight
  2. pemahaman terjadi ketika konsellor atau terapis membantu klien untuk memahami bahwa apa yang mengganggu klien pada saat itu adalah keyakinan yang irasional.
  3. pemahaman dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ke tiga, yaitu tidak ada cara lain kecuali melawan keyakinan yang irasional.

6 Tahapan Konseling

Menurut George dan Cristiani, tahap-tahap konseling REBT sebagai berikut:

  1. proses untuk mneunjukakann kepada klien bahwa dirinya tidak tidak logis.
  2. membantu klien meyakini bahwa berpikir da[pat ditantang dan diubah
  3. memebantu klien lebih mnedebatkan (disputing) gangguan yang tidak tepatatai irasional yang dipertahankan selama ini menuju cara berpikir yang lebih rasional dengan cara reinduktrinasi yang rasional termasuk bersikap secara rasional.

7 Peranan Konselor

Konselor REBT diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya dengan Unconditional Self-Acceptance (USA) yaitu penerimaan diri tanpa syarat, bukan dengan syarat (conditioning regard). Penggunaan USA (penghargaan positif tanpa tanpa syarat  kepada klien) dalam

konseling, menurut Ellis akan membantu klien untuk menerima dirinya secara penuh, dan akhirnya akan meningkatkan high frustration tolerance (HFT). Orang yang selalu melakukan penilaian terhadap dirinya (self-rating) akan menimbulkan masalah besar bagi dirinya sendiri.

Untuk mencapai tujuan konseling, yaitu memberikan efek psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling, konselor rational emotive behavioral therapy memiliki peran yang sangat penting. Menurut REBT adanya peran para konselor diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal
  2. Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung
  3. Menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri
  4. Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien
  5. Mengkondisikan klien afgar menggunakan kemampuan rasional (rational power) daripada menggunakan emosinya
  6. Menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis
  7. Menggunakan humor dan “menggojlok” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irrasional.

8 Aplikasi Konseling

Rational Emotive Behavioral Therapy dapat diterapkan dalam berbagai jenis konseling, termasuk didalamnya konseling individual, konseling kelompok encounter marathon, terapi singkat, terapi keluarga, terapi seks, dan situasi kelas.

Terapi Rational Emotive Behavioral sangat cocok diberikan kepada klien yang mengalami gangguan kecemasan pada tingkat moderat, seperti, gangguan neurotik, gangguan karakter, problem psikosomatik, gangguan makan, ketidakmampuan dalam hal interpersonal, problem perkawinan, ketrampilan dalam pengasuhan, adiksi, dan disfungsi seksual. Semua itu dapat ditangani oleh Rational Emotive Behavior Therapy dengan catatan tidak terlalu serius tingkat gangguannya.

Sejalan dengan pandangannya, REBT ini menggunakan pendekatan yang komprehensif dan integrative, yang mencakup: penggunaan emotif, kognitif, dan behavioral. Ketiga aspek inilah yang hendak di ubah melalui Rational Emotive Behavior Therapy.

Adapun beberapa macam gangguan yang tidak dapat diberikan oleh REBT diantaranya adalah (Ellis, 1991) :

  1. Anak-anak, khususnya yang mengalami autisme
  2. Gangguan mental grade bawah
  3. Schyzophrenia jenis katatonik atau gangguan penarikan diri yang berat
  4. Mania depresif.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press

TEORI KEPRIBADIAN WILLIAM SHELDON

Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani psikolog dapat menemukan satuan-satuan konstan, sub‑sub struktur kokoh yang sangat dibutuhkan untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi tentang tingkah laku manusia. Semua ini tersirat dalam pernya­taan berikut:

Sudah menjadi semakin jelas bahwa situasi memerlukan suatu psikologi yang berorientasi biologis, atau yang mcngambil sebagai kerangka acuan operasionalnya, suatu gambaran struktur (beserta tingkah laku) organisme manusia sendiri yang dapat di pertahankan secara ilmiah. Mungkin dapat dikatakan juga bahwa psikologi membutuhkan antropologi jasmani sebagai pendukung dasarnya yang langsung. Lebih dari itu, psikologi membutuhkan antropologi jasmani yang disampaikan dalam bentuk komponen-komponen atau  variabel-variabel yang dapat diukur dan dikuantifikasikan baik dari segi struktur dan tingkah lakunya — dus, segi antropologis dan segi psikologisnya dalam rangka kesinambungan struktur ­tingkah laku, yakni kepribadian manusia (Sheldon, 1949, him. XV).

      1. STRUKTUR JASMANI

Sesuai dengan pendekatan kebanyakan psikolog konstitusi lain, Sheldon berusaha menentukan dan menciptakan ukuran­-ukuran yang cocok untuk berbagai komponen jasmaniah tubuh manusia. Perlu disadari bahwa ia tidak hanya mencari sarana untuk mengklasifikasikan atau menggambarkan ragam jasmani. Tujuannya jauh lebih ambisius  menciptakan sebuah “label identifikasi biologis” (biological identification tag). Sheldon beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Ia yakin juga bahwa ada kemungkinan memperoleh sekedar gambaran tentang faktor-faktor ini melalui serangkaian pengukuran yang didasarkan pada jasmani. Dalam pandangannya ada sejenis struktur biologis hipotetis (morfogeno­tipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati (fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam me­nentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam membentuk tingkah laku. Somatotype merupakan suatu usaha untuk mengukur morfogenotipe, meskipun tujuan ini harus didekati secara tak langsung, dan penjabarannya harus didasarkan pada hasil-hasil pengukuran fenotipe (jasmani).

Di sini kita akan membicarakan pendekatan Sheldon mengukur aspek-aspek jasmaniah individu, dan, selanjutnya kita akan membahas usaha-usahanya untuk menentukan kompo­nen-komponen terpenting yang menjadi dasar tingkah laku.

a)      Dimensi -dimensi Jasmaniah

Untuk menciptakan tipologi atau mengukur jasmani, Sheldon memulai usahanya secara induktif yaitu dengan menggunakan teknik fotografi untuk mengambil gambar-gambar foto individu-individu dari depan, samping, dan dari belakang berpose dalam posisi tertentu di depan latar belakang tertentu yang baku. Cara ini disebut Somatotype Per­formance Test dan dijelaskan secara rinci dalam Atlas of men, karangan Sheldon (1954). Dalam penelitian pentingnya yang pertama tentang jas­mani manusia, Sheldon mengumpulkan kira-kira 4000 foto baku mahasiswa. Foto-foto ini kemudian diperiksa dengan teliti oleh sejumlah penilai dengan tujuan menemukan variabel-variabel pokok yang menjelaskan atau merupakan dasar variasi jasmani. Setiap ciri yang diduga merupakan suatu komponen primer, se­gera dinilai berdasarkan kriteria berikut: (1) Mungkinkah meng­urutkan 4000 subjek tersebut berdasarkan ciri ini?, (2) Dapatkah penilai penilai itu secara terpisah mencapai kesepakatan dalam mengurutkan gambar-gambar fisik tersebut berdasarkan ciri ini?, (3) Tidak mungkinkah menjelaskan variabel ini berdasar­kan kombinasi variabel-variabel tertentu lain yang telah berhasil ditentukan sebelumnya?

1)      Komponen-Komponen Primer Jasmani

Setelah lama memeriksa dan menilai dengan teliti foto-foto ini, Sheldon dan kawan-kawannya mengambil kesimpulan bahwa selain tiga dimensi yang telah ditemukan, kiranya tidak ada lagi kemungkinan untuk menemukan komponen-komponen baru. Ketiga dimensi ini menjadi inti teknik pengukuran struktur jasmaniah tubuh, dan usaha menggambarkan serta mengukur secara teliti ketiga dimensi tersebut memenuhi tahap selanjutnya dalam kegiatan penelitian Sheldon.

Komponen pertama adalah endomorfi. Individu yang kom­ponen endomorfinya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah kelihatan lembek dan bulat. Sesuai dengan sifat lembek dan bulat ini, tulang dan ototnya kurang berkembang, serta per­bandingan antara tinggi dan berat badannya relatif rendah. Orang yang demikian itu memiliki berat jenis rendah dan mudah mengapung di air. Karena alat-alat pencernaan berkembang dengan baik dalam jenis tubuh ini sedangkan unsur-unsur fung­sional dari struktur-struktur itu pun pertama-tama berkembang dari lapisan embrionik endodermal, maka digunakanlah istilah endomorfi.

Komponen kedua adalah mesomorfi. Jasmani yang berkem­bang dengan baik dalam komponen ini, dan yang merupakan nilai tengah antara kedua komponen lainnya, adalah keras dan persegi, dengan tulang dan otot-otot yang menonjol. Tubuh mesomorfik demikian ini adalah kokoh, keras, tahan sakit, dan umumnya tahan melakukan pekerjaan yang berat dan membu­tuhkan energi. Olahragawan, pengelana, tentara profesional yang terbaik memiliki tipe jasmani ini. Bagian-bagian yang do­minan dari jenis tubuh ini terutama berasal dari lapisan embrio­nik mesodermal, karena itu disebut mesomorfik.

Komponen ketiga disebut ektomorfi. Individu yang berada pada ekstrem atas pada komponen ini dan pada ekstrem bawah di kedua komponen lainnya, berciri jangkung, rapuh, berdada pipih dan bertubuh halus. Ia biasanya kurus dan kurang berotot. Seorang ektomorf memiliki lebih banyak bagian tubuh yang rata dibandingkan kedua tipe fisik lainnya; tubuhnya lebih tampak rata daripada gempal. Ia juga memiliki otak dan sistem saraf pu­sat yang terbesar dibandingkan dengan besar keseluruhan tubuh­nya. Atas alasan tersebut, maka Sheldon berpendapat bahwa tipe fisik ini lebih banyak terbentuk dari jaringan-jaringan yang berasal dari lapisan embrionik ektodermal dibandingkan kedua tipe jasmani lainnya. Karena banyaknya bagian-bagian tubuh yang rata, seorang ektomorf terlalu banyak terkena stimulasi dari luar. Inilah tipe jasmani yang paling lemah untuk bersaing dan bertahan secara fisik.

Somatotipe merupakan suatu kompromi antara morfo­genotipe dan fenotipe. Somatotipe lebih dari sekedar jasmani se­seorang sekarang, tetapi jelas kurang dari struktur tubuh yang ditentukan secara biologis terlepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan. Sheldon mengemukakan bahwa apabila kita sungguh-sungguh ingin memperoleh perkiraan yang sebaik-baiknya tentang morfogenotipe, maka secara ideal kita tidak hanya perlu memiliki sejarah lengkap individu yang bersangkutan, tetapi juga catatan. tentang nenek moyang dan keturunannya. Selan­jutnya, foto-foto somatotipe harus diambil secara teratur pada waktu yang berlainan sepanjang hidup individu di samping pengenaan tes biologis sebanyak diperlukan. Tentu saja, prosedur yang biasa atau sederhana dalam penetapan somatotipe tidak pernah mencapai yang ideal itu; tetapi diandaikan ia menuju ke arah ini dan meninggalkan cara lama berupa pembuatan deskripsi sederhana dan statik tentang keadaan jasmani sekarang. Selaras dengan pandangan ini adalah definisi Sheldon tentang somatotipe:

Menurut definisi, somatotipe adalah prediksi tentang suksesi feno­tipe fenotipe di masa mendatang yang akan ditampilkan oleh seseorang yang hidup, apabila makanan tetap merupakan faktor konstan, atau kalaupun berubah masih dalam batas-batas normal. Kami mendefinisikan somatotipe secara lebih formal sebagai lin­tasan atau jalur yang akan ditempuh oleh organisme hidup dalam kondisi-kondisi makanan baku dan dalam keadaan bebas dari, patologi yang sangat mengganggu (1954, him. 19).

2)      Komponcn-komponen Sekunder

Salah satu komponen sekunder yang terpenting adalah displasia. Istilah yang dipinjam dari Kretschmer ini digunakan Sheldon untuk menyebut “Suatu campuran ketiga komponen primer yang tidak nonsisten atau tidak seimbang dalam ber­bagai daerah tubuh” (1940, hlm. 68). Jadi, displasia merupakan ukuran ketidakharmonisan antara berbagai daerah jasmani, misalnya, antara kepala dan leher dari salah satu somatotipe atau antara lengan-lengan kaki dari somatotipe lainnya.. Ukuran displasia didapat dengan cara menetapkan somatotipe kelima daerah tubuh dan menjumlahkan porbedaan-perbedaan masing-masing komponen di antara kelima daerah tubuh itu. De­ngan kata lain, displasia merupakan besarnya perbedaan somatotipe dihitung untuk masing-masing dari kelima daerah tubuh. Orang dapat menghitung skor-skor displasia tersendiri untuk masing-masing dari tiga komponen dan dapat juga menghitung satu skor total. Penemuan pendahuluan menunjukkan bahwa ada lebih banyak displasia berhubungan dengan komponen ektomorfik daripada dengan masing-masing dari dua komponen lain,. dan juga lebih banyak displasia diamati pada jasmani wanita dibandingkan pada jasmani prin. Sheldon (1940) juga melaporkan bahwa terdapat lebih banyak displasia di kalangan penderita psikosis dari pada di kalangan mahasiswa.

Suatu komponen sekunder lain disebut ginandromorfi. Komponen ini menunjukkan sejauh manakah jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada lawan jenis, dan disebut “indeks g”. Seorang pria yang komponen ginandromorfinya tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, pelvis lebar, panggul besar, dan sifat-sifat feminin lain, seperti bulu mata yang panjang dan raut wajah yang ramping. Secara teoretis rentangan variabel ini berkisar antara 1, yang menunjukkan tidak adanya sifat-sifat lawan jenis, sampai 7, yakni hermafroditisme. Dalam penelitian­nya mengenai kenakalan/kejahatan, Sheldon (1949) membeda­kan antara ginandromorfisme primer dan ginandromorfisme sekunder. Ginandromorfisme primer adalah jasmani sebagaimana “dilihat dari jauh” atau sebagaimana disimpulkan dari foto so­matotipe. Ginandromorfisme sekunder disimpulkan berdasarkan suatu pemeriksaan fisik atau observasi langsung terhadap orangnya dan meliputi gerak fisik, suara, serta ekspresi wajahnya.

3)      Menetapkan Somatotipe Wanita

Bagian terbesar dari penelitian awal tentang dimensi-di­mensi fisik Sheldon dilakukan pada subjek pria. Jelas bahwa da­lam masyarakat kita, sanksi-sanksi terhadap penelitian tubuh telanjang- manusia lebih keras pada wanita daripada pria.  Ka­rena itu sangat wajar bila karya awal di bidang ini telah dilakukan dengan subjek laki-laki. Dalam bukunya yang pertama tentang jasmani, Sheldon (1940) menegaskan bahwa bukti yang tersedia pada waktu itu menunjukkan bahwa 76 somatotipe yang berhasil diamati di kalangan rupanya terjadi juga di kalangan wanita, meskipun barangkali frekuensi-frekuensinya berbeda. Ia juga mengemukakan bahwa endomorfi, dan kombinasi antara endomorfi dan Entomorfi, lebih umum terdapat di kalangan wanita; sedangkan mesomorfi, dan kombinasi antara mesomorfi dan endomorfi, lebih umum terdapat di ka­langan pria.

Sheldon (1954) melaporkan bahwa sejumlah besar peneliti­an telah dilakukan dalam bidang penetapan somatotipe wanita, dan bahwa “Atlas of Women” akan diterbitkan dalam waktu yang akan datang. Temuan-temuan lebih luas yang kini dimilikinya meneguhkan observasinya yang terdahulu bahwa jasmani wanita jauh lebih endomorfik daripada jasmani pria. Ia juga menunjukkan bahwa pada wanita jumlah ragam pada masing-masing komponennya lebih kecil dibandingkan pada laki-laki; walaupun demiklan, ada sejumlah kecil somatotipe wanita yang tidak padanannya dalam rangkaian somatotipe laki-laki.

4)      Konstansi Somatotipe

Salah satu hal di mana pendapat umum dan generalisasi-ge­neralisasi teoretikus konstitusi berbeda adalah menyangkut sejauh manakah klasifikasi atau deskripsi yang didasarkan pada hasil-hasil pengukuran objektif atas jasmani dapat diharapkan tetap konstan. Perubahan-perubahan lazim karena usia dan va­riasi makanan bagi kebanyakan orang kira nya merupakan bukti kuat tentang sifat bisa berubahnya somatotipe. Akan tetapi Sheldon, dalam tulisan-tulisan awalnya, sepaham dengan para psikolog konstitusi yang lain berkeyakinan kuat bahwa “… rupa­nya tidak ada perubahan makanan yang dapat mengubah ukuran ­ukuran seseorang dengan somatotipe tertentu menjadi sama dengan ukuran-ukuran orang dengan somatotipe lain” (1944, hlm. 540). Ada kemungkinan bahwa faktor-faktor makanan menimbulkan perubahan pada ukuran-ukuran individu, tetapi semua itu tidak akan mengubah somatotipe yang sebenarnya.

Sheldon mengemukakan bahwa sama seperti seekor anjing penjaga yang kelaparan tidak akan menjadi anjing pudel, demi­kian juga mesomorf yang kelaparan. tidak akan menjadi ekto­morf. Hanya dalam penyakit-penyakit tertentu, seperti akromegalia dan penyakit lemah otot, struktur tubuh benar-benar ­berubah, namun gangguan-gangguan serupa itu dapat segera diketahui melalui pemeriksaan dan karenanya tak perlu meng­akibatkan perubahan-perubahan yang tak terduga pada soma­totipe. Konstansi somatotipe ternyata begitu umum sehingga Sheldon berpendapat bahwa bahkan indeks displasia pun tidan berubah mengikuti perubahan berat badan.

Tetapi kemudian, Sheldon (1954) tampaknya mengubah, atau setidak-tidaknya mengembangkan pandangan-pandangan­nya mengenai konstansi somatotipe. Gambaran lama tentang somatotipe yang diperoleh dari tiga foto baku yang kebal terhadap perubahan lingkungan telah diganti oleh suatu konsepsi yang lebih umum dan eksplisit yang menyatakan bahwa somatotipe harus ditetapkan berdasar­kan serangkaian foto yang diambil secara berturut-turut sesuai dengan sejarah individu dan membuka pertanyaan tentang sejauh manakah somatotipe ini dapat diubah. Pendirian Sheldon mengenai topik ini teringkas dengan baik dalam kutipan berikut:

Apakah somatotipe itu memiliki tingkat kehandalan (atau pre­diktabilitas) karena dalam praktiknya somatotipe sungguh-sungguh diukur? Maksudnya, apabila kita harus menggantungkan diri ha­nya pada dua atau tiga sajian fenotipe orang dewasa, dan sebuah sejarah yang memadai, dapatkah kita menetapkan somatotipe pre­diktif yang sungguh-sungguh akan “menjadi kenyataan”? Bebe­rapa orang akan menjawab pertanyaan itu secara afirmatif, takut bahwa suatu jawaban lain dapat menimbulkan ketidakpuasan di kalangan “para determinis lingkungan”, yang segelintir di antara­nya mungkin hampir yakin, sebagaimana mereka nyatakan, bahwa somatotipe “tidak lain daripada makanan”. Namun hanya suatu penelitian longitudinal yang baik, yang dilakukan sekurang-ku­rangnya selama satu jangka hidup manusia, akan membuktikan dengan baik kebenaran jawaban semacam itu (1954, hlm. 20).

Baru-baru ini ia menyajikan ikhtisar-ikhtisar pendek tentang berbagai penelitian (Sheldon, Lewis, dan Tenney, 1969) yang menyajikan bukti tentang stabilitas temporal “Trunk In­dex”. Mengingat peranan sentral dari TI dalam menentukan so­matotipe dalam prosedur Sheldon yang telah dimodifikasi, maka tidak mengherankan bahwa ia sekali lagi menegaskan sifat so­matotipe yang tidak berubah. Terlalu cepat bagi peneliti-peneliti lain untuk sudah bisa memeriksa konstansi somatotipe jika somatotipe itu ditentukan dengan teknik Sheldon yang baru.

2.     Analisis Tingkah Laku (Kepribadian)

Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek ­aspek jasmaniah tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau meminjam suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini, Sheldon mulai dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel lahiriah yang dapat di pakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik se­mua itu terdapat sejumlah kecil komponen dasar yang diharap­kan dapat menjelaskan segala kompleksitas dan varitas lahiriah tersebut. Mulailah ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen-komponen dasar ini dengan mengambil hikmah dari penelitian-penelitian kepribadian di masa lampau dan menggabungnannya dengan pengetahuan klinis dan pengalaman induktifnya sendiri.

Dimensi-Dimensi Temperamen

Mula-mula kepustakaan mengenai kepribadian, khususnya yang berhubungan dengan penentuan sifat-sifat manusia, dipe­riksanya dengan teliti, dan diperoleh sebanyak 650 sifat. Jumlah tersebut meningkat karena ditambah dengan variabel-variabel yang diperoleh dari observasi-observasi peneliti sendiri, dan ke­mudian berkurang lagi secara tajam setelah dimensi-dimensi yang tumpang-tindih digabungkan sedangkan dimensi-dimensi yang kurang penting dihilangkan. Akhirnya Sheldon dan teman­ teman sekerjanya mendapat 50 sifat yang mereka anggap men­cakup semua gejala spesifik yang dijelaskan oleh ke-650 sifat asli tersebut.

Langkah berikutnya adalah memilih suatu kelompok yang terdiri atas 33 subjek, sebagian terbesar adalah mahasiswa ­mahasiswa tingkat sarjana dan para dosen, yang diteliti selama satu tahun dengan cara observasi dalam kegiatan profesional mereka sehari-hari maupun dalam interviu klinis. Masing-masing subjek dinilai oleh peneliti menggunakan pengukur berskala 7 pada masing-masing dari ke-50 sifat, dan skor-skor hasilnya di­interkorelasikan dengan tujuan untuk menemukan gugus-gugus atau kelompok-kelompok  sifat yang terkorelasi secara positif yang dapat dianggap menunjukkan variabel dasar yang sama. Secara sembarang diputuskan bahwa agar daunt dimasukkan ke dalam suatu kelompok atau komponen, maka suatu sifat harus menunjukkan angka korelasi positif sekurang-kurangnya 0,60 dengan masing-masing sifat lain dalam kelompok dan harus menunjukkan angka korelasi negatif sekurang-kurangnya -0,30 dengan semua sifat yang terdapat pada kelompok-kelompok lain.

Komponen-Komponen Primer Tcmperamen

Hasil hasil analisis korelasi menunjukkan adanya tiga kelom­pok sifat utama yang mencakup 22 dari 50 sifat asli. Kelompok pertama meliputi sifat-sifat: santai (relaxation), suka kenyamanan, gemar makan-makan, tergantung pada penerimaan orang lain, tidur nyenyak, membutuhkan orang lain bila menghadapi kesukaran. Sifat-sifat yang tergolong dalam kelompok  kedua meliputi sikap tegas (assertive), perkasa (energetic), kebu­tuhan untuk aktif, suka berterus terang, suara lantang, sifat tampang lebih tua daripada yang sebenarnya, kebutuhan untuk bertindak bila menghadapi kesukaran. Akhirnya, kelompok  sifat yang ketiga meliputi sifat serba terhambat, reaksi yang sangat cepat, kurang berani bergaul (sociofobia), kurang berani berbi­cara di depan orang banyak, kebiasaan tetap, suara kurang bebas, sulit tidur, bersemangat muda, kebutuhan untuk menyendiri bila menghadapi kesukaran.

Komponen pertama temperamen dinamakan viskerotonia. Individu yang tinggi dalam komponen ini memiliki ciri-ciri antara lain cinta atau suka akan kenyamanan, pergaulan, makanan, orang-orang, dan kasih sayang. Sikap tubuhnya santai, bereaksi pelan, ber­watak tenang, bersikap terbuka dalam pergaulan dengan orang orang lain, dan umumnya seorang yang mudah untuk diajak bergaul. Sheldon mengemukakan: “Kepribadian jenis ini tam­pannya berpusat di sekitar visnera atau organ-organ di dalam rongga perut. Sistem pencernaan makanan adalah rajanya, dan kemaslahatan sistem itu tampaknya merupakan tujuan hidup yang utama” (1944, hlm. 543).

Komponen kedua dinamakan somalotonia. Skor yang tinggi dalam komponen ini biasanya disertai dengan sifat-sifat suka petualangan fisik, suka mengambil risiko, sangat membutuhkan kegiatan otot dan fisik yang berat. Orang ini bersifat agresif, tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih mating dari sebenarnya, suka ribut, pemberani, dan mudah ta­kut bcrada dalam ruangan yang sempit dan tertutup (klaustro­fobia). Tindakan, kekuatan, dan kekuasaan sangat penting bagi orang sernacam ini.

Komponen ketiga dinamakan serebrotonia. Skor yang tinggi pada komponen menunjukkan sifat mengendalikan diri, menahan diri, suka menyembunyikan diri. Orang ini bersifat ter­tutup, pemalu, kelihatan muda, takut pada orang, dan paling su­ka berada di tempat-tempat yang sempit dan tertutup. Ia bereaksi luar biasa cepat, sukar tidur, dan senang menyendiri, khususnya kalau menghadapi kesukaran. Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Kotiga komponen umum itu, di susun dalam sebuah skala yang disebut Scale for Temperament, yakni suatu cara penilaian terinci untuk mendapatkan skor-skor pada masing-masing komponen primer. Dalam memanai Skala ter­sebut, Sheldon menganjurkan supaya sedapat mungkin: untuk mengamati subjek dengan teliti sekurang-kurangnya selama satu tahun dalam sebanyak mungkin situasi yang berbeda. Lakukanlah interview analitis terhadapnya sebanyak tidak kurang dari duapu­luh kali dengan cara yang paling cocok dengan situasi, dan dengan temperamen serta kepentingan dari kedua belah pihak. Setelah masing-masing interview ….ambillah lembar penskoran dan buat‑lah penilaian pada sebanyak mungkin sifat. Ulangilah pengamat­an, interview, dan revisi-revisi penilaian, sampai benar-benar puas bahwa seluruh 60 sifat telah dipertimbangkan dan dinilai secara memadai (1942, him. 27). 

 

Scale for Temperament

NO

VISKEROTONIA

SOMATOTONIA

CEREBROTONIA

1.

Santai dalam postur dan gerak Tegas dalam postur  dan gerak Tertekan, kaku dalam postur dan gerak

2.

Senang dengan kenyamanan fisik Senang petualangan fisik Senang responsif secara fisik

3.

Reaksi lamban Gerak bertenaga Reaksi sangat cepat

4.

Senang makan Senang latihan fisik Senang berrahasia pribadi

5.

Senang kencan sebagai pengalaman sosial Senang menguasai, memiliki kekuatan Mental sangat intensif, perhatian berlebihan

6.

Senang pesta Senang mengambil resiko, mengejar peluang Tertekan secara emosional

7.

Senang ritual sosial dan upacara penuh aturan Senang bicara langsung pada permasalahan Tatapan mata yang tajam dan waspada

8.

Senang bergaul Senang berkelahi secara fisik Takut terlibat dalam kegiatan sosial

9.

Ramah, tidak membeda-bedakan orang Berkompetisi secara agresif Tidak tenang, tidak PD

10.

Haus kasih sayang dan penerimaan Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain Bertahan dengan kebiasaan dan rutinitas

11.

Berorientasi kepada orang lain Benci berada pada ruang tertutup Benci tempat yang bebas

12.

Emosi seimbang Kejam, tidak pilih-pilih Sikap dan tingkah laku yang tidak dapat diduga

13.

Toleran Tidak menahan suaranya Suaranya tertahan

14.

Puas dengan dirinya sendiri Tahan terhadap rasa sakit Peka dengan rasa sakit

15.

Tidur nyenyak Senang bersuara keras, ribut Sukar tidur, kelelahan kronis

16.

Tidak bertujuan, tidak mudah terangsang Tampil lebih tua dari usia sebenarnya Tampil lebih muda dari usianya

17.

Ekstravensi, tidak ada hambatan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain Ekstraversi, terpisah dari kesadaran, perhatian dan aksi berorientasi ke dunia luar Introvensi dalam perasaan dan perbuatan, orientasi ke kesadaran diri, kurang peduli terhadap lingkungan, penyesuaian diri

18.

Sosialis dan hangat bertambah saat mabuk alkohol Agresif dan keinginan berkuasa bertambah kuat ketika mabuk alkohol Tertekan, lelah, dan depresi bertambah kuat ketika mabuk alkohol

19.

Membutuhkan orang saat menghadapi masalah Membutuhkan aktivitas saat menghadapi masalah Butuh mengasingkan diri saat mengalami masalah

20.

Berorientasi pada hubungan masa kecil dan keluarga Berorientasi kepada tujuan dan aktivitas remaja Berorientasi kepada periode terakhir hidupnya

Faktor-faktor yang Menjembatani Hubungan Antara Jasmani dan Temperamen

Di sini kita menerima adanya hubungan antara aspek­-aspek jasmani dan aspek-aspek berbagai atribut tingkah laku penting, dan akan menyelidiki apakah yang menimbulkan keco­cokan yang mencolok ini. Orang dapat menerangkan bahwa individu yang memiliki tipe jasmani tertentu akan menemukan cara-cara bertingkah laku tertentu yang sangat efektif, sedangkan individu yang memiliki tipe jasmani lain akan merasa perlu menggunakan cara-cara bertingkah laku lain. Konsepsi ini me­nunjukkan bahwa keberhasilan atau hadiah yang menyertai suatu cara bertingkah laku tertentu tidak hanya ditentukan oleh lingkungan tempat tingkah laku itu berlangsung, tetapi juga oleh macam pribadi (tipe jasmani) orang yang melakukannya. Indi­vidu dengan tubuh ektomorfik yang rapuh tidak akan berhasil memakai cara-cara yang penuh gertakan, agresif, dan serba menguasai dalam berhubungan dengan kebanyakan orang, sedangkan ini mungkin dapat dilakukan oleh seorang mesomorf yang berbadan besar. Selanjutnya, anak yang berperut kecil, atau memiliki ambang rasa sakit rendah, bisa merasakan pengalaman-pengalaman khas yang berbeda secara mencolok dari pengalaman-pengalaman khusus yang dirasakan oleh individu ­individu dengan sifat-sifat jasmani lain. Dengan memiliki jas­mani tertentu dan lingkungan yang normal, maka individu akan menemukan bahwa tipe-tipe respon tertentu secara relatif lebih sering, dihadiahi, sedangkan tipe-tipe respon tertentu lainnya biasanya dihukum. Ini berarti bahwa individu akan mengem­bangkan pola-pola tingkah laku yang akan memperlihatkan kesamaan dengan tingkah laku orang lain, yang memiliki rangkaian pengalaman yang sama karena memiliki tipe jasmani yang sama.

Pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh jasmani pada tingkah laku dapat bersifat langsung atau tak langsung. Tinggi, berat, dan sifat-sifat jasmani serup a secara langsung dan tanpa perlu diragukan lagi membatasi cara seseorang berharap dapat bertingkah laku secara sesuai dalam lingkungan tertentu. Tambahan pula, memiliki tipe jasmani tertentu membuka kemung­kinan seorang individu akan merasakan tipe-tipe pengalaman lingkungan tertentu, sedangkan tipe jasmani lainnya biasanya akan mengarahkan seseorang pada sekumpulan pengalaman yang sangat berbeda. Misalnya, umum diketahui (McNeil clan Livson, 1963) bahwa wanita yang bertubuh ramping (linear) lebih lambat mencapai kematangan fisiologis daripada gadis­-gadis yang bertubuh kurang ramping, dan saat seorang individu menjadi matang dan dewasa jelas merupakan suatu perkara yang sangat penting secara psikologis.

Kemungkinan lain ialah bahwa hubungan antara jasmani dan temperamen ditentukan oleh stereotip-stereotip yang dite­rima umum atau nilai stimulus sosial dalam masyarakat setem­pat tentang jenis-jenis tingkah laku yang dianggap sesuai untuk individu-individu dengan tipe-tipe jasmani yang berbeda. Jadi, dapat dikatakan bahwa individu dengan tipe jasmani tertentu  menempati suatu peranan sosial yang meliputi sejumlah ketun­tuan tingkah laku, dan dalam keadaan biasa individu tersebut akan tunduk pada ketentuan-ketentuan ini. Harapan-harapan dari masyarakat akan menyebabkan individu dengan jasmani tertentu memperlihatkan pola-pola tingkah laku tertentu, dan tingkah laku ini cenderung akan ditiru oleh individu-individu yang memiliki tipe jasmani yang sama dan yang terkena oleh harapan-harapan yang sama. Perumusan ini tidak menerangkan asal-usul stereotip dan juga tidak berbicara apa-apa tentang individu yang jasmaninya bertipe madya dan tidak cocok dengan stereotip yang lazim.

Cara lain lagi untuk menerangkan hubungan antara jas­mani dan temperamen adalah bahwa pengalaman terhadap pe­ngaruh-pengaruh lingkungan cenderung menghasilkan tipe-tipe jasmani tertentu dan sekaligus menimbulkan kecenderungan­-kecenderungan tingkah laku tertentu. Jadi, dapat dikatakan bahwa anak yang diasuh oleh seorang ibu yang terlalu melindungi akan menyebabkan anak cenderung menjadi gemuk dan sekali­gus akan menghasilkan sifat-sifat kepribadian tertentu. Apabila kita mengakui temuan Landauer dan Whiting (1964) tentang hubungan antara pengalaman awal yang traumatik dan bentuk tubuh yang besar pada orang dewasa dan juga yakin bahwa pengalaman-pengalaman awal ini membentuk tingkah laku, maka kita sekali lagi akan menemukan hubungan antara sifat-sifat jasmaniah dan sifat-sifat kepribadian. Garis pemikiran hanya mengandaikan bahwa ada peristiwa-peristiwa tertentu yang mempengaruhi perkembangan sifat-sifat jasmaniah dan sifat-sifat kepribadian, dan akibatnya kita mengamati hubung­an erat antara kedua bidang ini. Perumusan ini menghindari pandangan determinisme biologis dan mengemukakan bahwa baik jasmani maupun tingkah laku sebagian besar ditentukan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan.

Alternatif terakhir adalah menjelaskan hubungan antara bentuk tubuh dan tingkah laku karena hasil kerja faktor-faktor biologis yang sama. Jadi, orang dapat mengemukakan bahwa baik jasmani ataupun keeenderungan-kecenderungan tingkah laku sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor hereditas dan di antara faktor-faktor ini terdapat hubungan-hubungan ter­tentu yang menghasilkan tipe-tipe atribut jasmaniah tertentu yang berhubungan dengan atribut-atribut tingkah laku tertentu. Individu-individu yang memiliki sifat-sifat jasmaniah tertentu diharapkan akan menampilkan kecenderungan-kecenderung­an tingkah laku tertentu karena gen atau gen-gen yang sama mempengaruhi kedua kumpulan sifat tersebut. Dua penelitian kembar utama yang menyelidiki sifat-sifat jasmaniah (Newman, Freeman, dan Holzinger, 1937; Osborne dan DeGeorge, 1959) menemukan bukti yang kuat tentang pentingnya peranan factor-­faktor genetik dalam menentukan jasmani. Penemuan ini di­dukung oleh banyak penelitian lain yang menunjukkan peranan variasi genetik sebagai penentu tingkah laku, memperkuat du­gaan bahwa secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama gen ­gen akan memiliki pengaruh ganda pada tingkah laku dan jasmani.

Terutama kedua cara penjelasan pertama, yakni pengalam­an selektif dan determinasi kultural, yang ditekankan oleh Sheldon meskipun ia juga mengakui adanya determinasi gene­tik.  Perumusan ketiga, yang menyiratkan bahwa jasmani dan tingkah laku adalah basil faktor-faktor lingkungan, adalah yang paling kurang sesuai dengan asumsi para psikolog konstitusi, termasuk Sheldon.

Orientasi Biologis dan Genetik

Dalam banyak hal, bagian-bagian dari pandangan Sheldon dapat dianggap berasal dari keyakinannya bahwa faktor-faktor biologis sangat penting dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan dari keputusan­nya untuk berusaha mengukur unsur-unsur penting dari dasar biologis tingkah laku ini. Seperti telah kita lihat dari pembeda­annya antara somatotipe dan morfogenotipe, pengukuran jas­mani sekedar merupakan alat untuk membuat estimasi tentang faktor-faktor biologis yang mendasarinya yang sangat berpe­ngaruh terhadap jalan hidup seseorang. Meskipun begitu, Sheldon tidak terlalu menekankan peranan  potensial faktor-faktor genetik dalam menentukan tingkah laku, namun demikian ia berharap bahwa pengukuran somatotipe memungkinkan pengukuran yang lebih tepat ter­hadap beberapa faktor genetik, dan dengan demikian memung­kinkan kita untuk mengestimasikan secara realistis pengaruh tak langsung dari faktor-faktor genetik terhadap tingkah laku.

Tekanan Organismik, dan Medan

Pada umumnya, perhatian Sheldon dalam memikirkan semua aspek dari seluruh organisme jauh lebih besar daripada perhatiannya terhadap konteks lingkungan tempat tingkah laku itu berlangsung. Sudah tentu, pandangan semacam itu lahir dari minatnya yang besar pada faktor-faktor biologis tingkah laku.

Walaupun Sheldon berhasil memisahkan dan mengukur dimensi-dimensi untuk menggambarkan jasmani dan temperamen, ia berpendapat bahwa memeriksa dimensi-dimensi itu satu per satu adalah kurang bermanfaat. Pola hubungan antara va­riabel-variabel adalah jauh lebih penting daripada hanya masing-masing komponen. Ia selalu menyadari keunikan hakiki setiap individu baik dalam tingkah laku maupun penampilan jasmaniahnya. Meskipun Sheldon mau mematahkan totalitas yang unik ini dengan pengukuran-pengukuran komponen, ia tetap menganggap bahwa hasil pengukuran semacam itu hanya merupakan langkah pertama untuk menggambarkan organis­me. Keyakinannya ialah bahwa seorang pengamat yang peka dan yang berorientasi pada keseluruhan akan mampu menyumbangkan pengetahuan yang belum dapat diharap bisa digali oleh ahli psikometri yang trampil dan objektif.

Perkembangan lndividu

Sehubungan dengan apa yang telah dibicarakan mengenai perhatian Sheldon pada faktor-faktor biologis tingkah laku, ma­ka tidak mengherankan jika Sheldon kurang memperhatikan seluk beluk perkembangan dibandingkan dengan kebanyakan teoretikus kepribadian lainnya. Walaupun ia mengakui bahwa peristiwa-peristiwa tertentu pada awal masa kanak-kanak bisa memberi petunjuk bagi munculnya tipe-tipe tertentu dalam penyesuaian diri pada masa dewasa, ia tidak yakin bahwa masa kanak-kanak memainkan peranan sebagai penyebab dalam hubungan-hubungan yang demikian. Ia mengemukakan, mung­kin sekali terdapat; predisposisi-predisposisi biologis yang menye­babkan munculnya tipe-tipe pengalaman masa kanak-kanak atau pengalaman infantil tertentu, dan selanjutnya predisposisi­-predisposisi yang sama ini mungkin menyebabkan bentuk-ben­tuk tertentu dalam tingkah laku orang dewasa. Dengan kata lain, hubungan yang jelas antara peristiwa-peristiwa awal dan tingkah laku sesudahnya mungkin sebagian besar merupakan hasil kedua faktor-fantor biologis yang beroperasi secara terus­ menerus dalam jangka waktu yang lama.

Minat Sheldon pada proses perkembangan sekurang-ku­rangnya terungkap dari keyakinannya bahwa tugas membim­bing anak akan jauh lebih efisien bilamana mereka yang terlibat dalam kegiatan itu mau sedikit bersusah payah mempertimbangkan somatotipe anak. Dengan begitu orang dapat menghindari penanaman pada anak aspirasi­-aspirasi dan harapan-harapan yang tidak sesuai dengan potensi jasmaniah dan temperamennya. Pandangan ini menegaskan bahwa Sheldon tidak menganggap bahwa perkembangan indi­vidu sama sekali ditentukan oleh warisan biologisnya sebagaima­na terdapat dalam morfogenotipe. Akan tetapi, is memandang bahwa pribadi itu dianugerahi potensi-potensi yang membatasi dan membentuk kemungkinan-kemungkinan pertumbuhannya di masa mendatang. Pengalaman-pengalaman tertentu yang dihadapi oleh pribadi itu akan memainkan peranan yang menentukan apakah pribadi itu pada akhirnya akan benar-be­nar mampu merealisasikan potensi-potensi itu sepenuhnya atau tidak.

 Proses-Proses Tak Sadar

Kiranya kalau individu lebih mengenal struktur tubuhnya serta fungsi- fungsi biologis yang bekerja di dalamnya, ia akan lebih menya­dari kekuatan-kekuatan yang menggerakkan tingkah lakunya. Sheldon (1949) mengemukakan bahwa ketidaksadaran adalah tubuh dan selanjutnya menyiratkan bahwa alasan sulitnya merumuskan ketidaksadaran ialah semata-mata karena bahasa kita tidak diarahkan untuk secara sistematis mengungkapkan apa yang terjadi di dalam tubuh. Jadi, ia berpendapat bahwa seorang psikoanalis yang menyelidiki ketidaksadaran mendekati secara tidak langsung dan dengan cara yang agak kurang efisien hal sama yang dicoba didekati secara lebih langsung dan lebih objektif oleh Sheldon lewat metode penentuan somatotipenya.

Penelitian Khas dan Metode Penelitian

Lebih dari kebanyakan teoretikus kepribadian, perumusan‑perumusan Sheldon berpangkal pada penelitian-penelitian empiris. Kita telah mencapai suatu pandangan yang agak repre­sentatif tentang penelitian-penelitiannya manakala kita menyimak cara ia memulai merumuskan dan mengukur jasmani serta temperamen. Dalam bagian ini, kita akan membicarakan secara singkat dua penelitiannya lebih lanjut tentang gangguan jiwa dan delinkuensi dengan latar belakang pengukuran soma­totipe.

            Jasmani dan Gangguan Jiwa

Psikologi konstitusi tidak hanya menjanjikan pijar-pijar pemahaman baru dalam penelitian tentang tingkah laku nor­mal; tetapi juga menawarkan kemungkinan untuk memahaminya dengan lebih baik, bahkan kemungkinan untuk mengurangi atau mencegah berbagai ketidaknormalan psikologis dan sosial. Sesuai dengan keyakinan ini adalah penelitian-penelitian Shel­don tentang gangguan jiwa yang dilaporkan dalam suatu makalah pendek (Wittman, Sheldon, dan Katz, 1948) dan dalam sebuah bab yang diteruskan dalam bukunya yang membahas delinkuensi (Sheldon, 1049). Setelah menyelidiki seluk-beluk diagnosis psikiatrik ia menyimpulkan bahwa tidak mungkin melakukan peneli­tian tentang jasmani dalam hubungannya dengan gangguan jiwa tanpa lebih dahulu mengembangkan pengukuran gangguan jiwa yang lebih objektif dan lebih peka dibandingkan dengan teknik-teknik diagnostik biasa.

Sebagaimana Sheldon menggunanan variabel-variabel kon­tinu untuk menggantikan kategori-kategori diskrit dalam peng­ukuran jasmani, demikian juga dalam pengukuran gangguan jiwa mengajukan dimensi-dimensi  untuk menggantikan wujud­ wujud penyakit. Berdasarkan observasi terhadap banyak pasien psikiatrik selama beberapa tahun, ia mengembangkan suatu konsepsi tentang gangguan jiwa yang dapat dideskripsikan ber­dasarkan tiga dimensi primer. Ketiga dimensi itu secara kasar sejalan dengan tiga kategori diagnostik yang sering digunakan dalam diagnosis psikiatrik: komponen psikiatrik pertama (afek­tif) yang pada kadar tinggi melahirkan psikosis manik-depresif ekstrem (berubah-ubah antara ekstrem gembira dan ekstrem sedih); komponen psikiatrik kedua (paranoid) yang pada kadar tinggi melahirkan psikosis jenis paranoid (delusi yang kuat de­ngan ciri dihantui, pikiran bahwa dirinya terkutuk dan gagasan­ gagasan yang serba merujuk pada dirinya sendiri); komponen psikiatrik ketiga (heboid) menggejala dalam bentuk hebefrenik psikosis skizofrenik (menarik diri secara ekstrem). Ketiga kom­ponen psikiatrik ini masing-masing mencerminkan kekurangan dalam komponen-komponen temperamen  cerebrotonia, viskero­tonia, dan somatotonia.

Sheldon mengemukakan. bahwa komponen-komponen yang digunakannya untuk menggambarkan tingkah laku psikotik memiliki padanannya dalam bentuk yang lebih ringan pada ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment), bahkan mungkin terungkap dalam bentuk lawannya pada penyesuaian diri (adjustment) yang superior. Jadi, ia membahas dengan nada hipotetis cara bagaimana berbagai macam prestasi luar biasa dapat dianggap mencerminkan perkembangan yang sangat kaya dari potensi-potensi yang tersirat dari berbagai pola komponen komponen psikiatrik. Komponen-komponen psikiatrik dipandang sebagai pelengkap bagi penilaian somatotipe dan temperamen dan berfungsi untuk meningkatkan spektrum tingkah laku yang digambarkan secara memadai oleh komponen-komponen ini.  Sheldon yakin bahwa pada akhirnya metode-metode diagnosis psikiatrik yang biasa harus diganti dengan metode deskripsi dan klasifikasi yang lebih kuat bersandar pada teknik-teknik objektif, termasuk Somatotype Performance Test. Hal ini akan membawa implikasi tentang hubungan yang erat dengan faktor- faktor biologis tingkah laku.

Jasmani Dan Kenakalan/ Kejahatan(Delikuensi)

Penelitian Sheldon selama 8 tahun tentang muda-mudi delikuen dilakukan sebagai semacam latar belakang untuk membandingkan temuan-temuannya dari penelitiannya terhadap mahasiswa-mahasiswa normal. Penelitian itu dilakukan di Hayden Goodwill Inn, sebuah panti rehabiiitasi putra di Boston, Massachusetts. Selama 3 tahun dari tahun 1939 sampai dengan tahun 1942, kira-kira 400 pemuda diselidiki Sheldon dan para sejawatnya, dan dari sampel ini, 200 pemuda dipilih berdasarkan kelengkapan informasi dan bukti jelas tentang delinkuensi mereka untuk diteliti lebih lanjut seusai perang. Semua subjek diperiksa dengan menggunakan Somatotype Performance Test dan dinilai somatotipenya, serta dinilai pula komponen-komponen sekunder jasmaninya. Mereka juga dinilai dari segi komponen-komponen psikiatrik mereka dan sebagai tambahan juga disusun riwayat hidup mereka secara rinci, meliputi informasi tentang kemam­puan mental dan riwayat pendidikan, latar belakang keluarga, riwayat kesehatan, bentuk kenakalan, dan tingkah laku mereka yang khas.

Inti laporan Sheldon dalam penelitian ini adalah suatu rangkaian dari apa yang dinamakannya biografi psikologis, be­rupa skema-skema pendek tentang sejarah hidup individu dileng­kapi dengan foto-foto somatotipe.  Biografi-biografi ini disusun berdasarkan suatu klasifikasi yang mengelompokkan para sub­jek remaja putra itu menurut defisiensi mental, psikopati, al­koholisme, sifat kewanita-wanitaan yang berlebihan, dan tingkat kejahatan.  Di samping skema-skema biografis yang terklasifi­kasikan ini, yang sebagian besar diserahkan kepada pembaca untuk menggeneralisasikannya, Sheldon menyajikan diagram- diagram distribusi somatotipe populasi delinkuennya dibandingkan dengan kelompok mahasiswa. Diagram-diagram tersebut menunjukkan bahwa walaupun jas­mani delinkuen yang khas adalah mesomorfi endomorfik, namun terdapat banyak variasi somatotipe di antara sub-sub kelompok delinkuen itu. Berbagai subkelompok pemuda delinkuen itu juga diperbandingkan menurut komponen-komponen sekunder, kom­ponen-komponen psikiatrik, dan berbagai-data demografik serta data sejarah hidupnya.

Pada akhir penelitiannya  Sheldon rupanya yakin bahwa terdapat perbedaan-perbedaan penting dalam hal tingkah laku dan konstitusi tidak hanya antara orang-orang delikuen dan orang-orang normal, tetapi juga antara subvaritas delinkuen yang satu dengan lainnya. Selanjutnya is berspekulasi tentang kemungkinan peranan astenia (kelemahan), displasia (distribusi somatotipe yang tidak seimbang), dan jasmani yang berkembang pesat (pembesaran jasmani yang mencolok dan tidak fungsional) sebagai faktor-faktor biologis khas yang tidak hanya terdapat pada para subjek delinkuen tetapi juga pada orangtua mereka. Observasi ini membawanya pada kesimpulan-kesimpulan yang relatif pesimistik tentang apa yang tengah terjadi pada proses pewarisan biologis bangsanya sebagai akibat dari perbedaan se­lektif angka reproduksi yang condong unggul pada kelompok­kelompok sosial dan ekonomik yang umumnya menampilkan jasmani astenik, displastik, dan yang berkembang pesat.

sumber :

Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. (1985). Introduction to Theorities of Personality. New York: John Wiley & Sons.

Psikologi individual-Alfred adler

  1. Biografi Alfred Adler

Alfred Adler lahir di pinggiran kota Wina pada tanggal 7 Februari 1870 dalam keluarga Yahudi, dia anak kedua dari enam bersaudara. Dia tumbuh dalam lingkungan dimana orang-orang memiliki berbagai jenis latar belakang kehidupan, Adler menghabiskan masa kecilnya bermain dengan teman-teman sebayanya termasuk anak-anak Yahudi dan bukan Yahudi keduanya kalangan menengah dan kalangan bawah. Itu tampak seperti perjalanan panjang dengan berbagai aspek sosial kepribadian yang bersumber dari pengalamannya sejak awal. Adler rupanya sejak awal memiliki keinginan untuk menjadi seorang dokter. Dia memulai karirnya sebagai seorang optamologis (Opthamologist), tapi kemudian beralih pada praktik dokter umum dan membuka praktik di daerah Wina. Pada tahun 1902 Adler bertemu Sigmund Freud, dan selama 9 tahun kemudian Adler resmi menjadi anggota Psikoanalisis Sosial di Wina. Adler kemudian beralih pada psikiatri dan pada tahun 1907 dia bergabung dengan kelompok diskusi Freud. Setelah menulis makalah tentang inferioritas organik, yang sedikit sejalan dengan pendapat Freud, maka untuk pertama kalinya dia menulis tentang makalah insting perusak yang tidak disepakati Freud dan kemudian makalah tentang perasaan inferioritas anak-anak yang memakai konsep-konsep seksual Freud secara metaforis, bukan secara harfiah sebagaimana yang dimaksud Freud. Walaupun Freud mengangkat Adler sebagai Presiden Viennese Analitic Society dan Co-editor dari terbitan berkala organisasi, Adler tetap mengkritik pandangan Freud. Perdebatan antara pendukung Adler dan pendukung Freud diadakan, tapi acara berakhir dengan keluarnya Adler dan 9 anggota lain dari organisasi tersebut dan mendirikan The Society for Free Psikoanalysis pada tahun 1911. Yang kemudian berubah menjadi The Society for Individual Psychology.

2.      Teori Adler Mengenai Dinamika Kepribadian

Menurut Adler, untuk berperilaku/bersikap, individu menciptakan tujuan akhir fiksi. Tujuan ini adalah “fiktif” karena tujuan tidak selalu didasarkan pada realitas. Sebaliknya, tujuan mewakili ide-ide kita tentang apa yang mungkin didasarkan pada interpretasi subjektif kita tentang dunia. Karena, seperti yang kita lihat, drive primer manusia adalah menjadi lebih baik, lebih besar, lebih kuat, lebih terampil, dan seterusnya-tujuan yang mereka tetapkan sendiri adalah ekspresi dari negara yang ideal, ekspresi yang membantu dalam berurusan dengan lingkungan. Sebagai contoh, pernyataan “Semua manusia diciptakan sama” adalah tidak benar, namun dapat berfungsi untuk memandu perilaku orang-orang yang ingin membuatnya benar. Penting untuk memahami bahwa tujuan akhir fiksi tidak ada di masa depan sebagai bagian dari beberapa universal rencana-mereka tidak mewakili nasib. Mereka adalah ciptaan sendiri pribadi kita, dan mereka ada subjektif, di sini dan sekarang, sebagai gagasan yang memberikan pengaruh besar pada perilaku kita. Sebagai contoh, jika kita percaya bahwa orang-orang baik akan masuk surga dan mereka yang jahat masuk ke neraka, kita cenderung untuk menyesuaikan perilaku kita dengan standar yang orang tua dan figur otoritas lain telah memberi kita. Sumbangan penting kedua dari Adler bagi teori kepribadian adalah konsepnya mengenai diri yang kreatif. Tidak seperti ego Freud, yang terdiri dari kumpulan proses psikologis yang melayani tujuan insting-insting. Diri Adler merupakan sistem subjektif yang sangat dipersonalisasikan, yang menginterpretasikan dan membuat pengalaman-pengalaman organisme penuh arti. Diri mencari pengalaman-pengalaman yang akan membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik; apabila pengalaman-pengalaman ini tidak ditemukan di dunia maka diri akan berusaha menciptakannya. Konsepsi tentang diri yang kreatif adalah teori baru bagi teori psikoanalitik dan ia membantu mengimbangi objektifisme ekstrem psikoanalisis klasik, yang hampir sepenuhnya bersandar pada kebutuhan-kebutuhan biologis dan stimulus-stimulus dari luar untuk menerangkan dinamika kepribadian. Konsep tentang diri memainkan peranan penting dalam perumusan-perumusan mutakhir tentang kepribadian. Sumbangan Adler berupa arah baru pengakuan atas diri sebagai penyebab penting tingkah laku umumnya dipandang sangat penting. Ciri ketiga psikologi Adler yang membedakannya dari psikoanalisis klasik adalah tekanannya pada keunikan kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat, dan nilai-nilai; setiap perbuatan yang dilakukan orang membawa corak khas gaya hidupnya sendiri. Perbedaannya manusia pertama-tama adalah makhluk sosial bukan seksual. Manusia dimotivasikan oleh minat sosial bukan oleh dorongan seksual. Inferioritas mereka tidak terbatas pada bidang seksual, melainkan bisa meluas pada segala segi baik fisik maupun psikologis.

3.      Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superior

Bagi Adler, manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama-dorongan untuk mengatasi perasaan inferioritas dan menjadi superior. Dengan demikian, perilaku kita pada dasarnya ditentukan oleh masa depan yang kita bayangkan-dengan tujuan dan harapan. Didorong oleh perasaan inferioritas, ditarik oleh keinginan untuk lebih superioritas, kita menghabiskan hidup kita berusaha untuk menjadi seperti hampir sesempurna mungkin. Inferioritas, bagi Adler, berarti merasa lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas-tugas yang harus diselesaikan. Ini tidak berarti yang inferior dengan orang lain dalam arti umum, meskipun tidak berarti bahwa kita membandingkan kemampuan khusus kita dengan orang lain yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Konsep Adler tentang superior hampir sama seperti gagasan Jung mengenai transendensi dan merupakan pelopor realisasi diri, atau aktualisasi diri, diusulkan oleh Horney, Maslow, dan lain-lain. Sekali lagi, dengan konsep ini, Adler bukan berarti menjadi lebih baik dari orang lain atau lebih di atas mereka. Dengan berjuang untuk superioritas, Adler berarti selalu berusaha untuk menjadi sesuatu yang lebih baik-untuk menjadi lebih dekat dan lebih dekat kepada seseorang yang merupakan tujuan ideal. Apakah perasaan inferioritas yang melahirkan tujuan untuk superioritas, dan bersama-sama mereka membentuk “drive ke atas” yang mendorong kita terus bergerak “dari minus ke plus … dari bawah ke atas” (Adler, 1930, p.398). Drive ini, menurut Adler, adalah bawaan dan merupakan kekuatan semua drive yang lain. Adler mengatakan inferioritas, sangat normal: semua dari kita memulai hidup dari kecil, makhluk yang lemah. Sepanjang hidup, inferioritas muncul terus-menerus seperti kita memenuhi tugas-tugas baru dan asing yang harus dikuasai. Perasaan ini adalah penyebab dari semua perbaikan perilaku manusia. Sebagai contoh, orang dewasa 40 tahun yang memperoleh promosi merasa kalah dalam posisi barunya sampai ia belajar bagaimana menangani tugas baru. Setiap kali kita menghadapi tugas baru, kesadaran awal inferioritas diatasi untuk mencapai superioritas. Beberapa kondisi seperti memanjakan dan mengabaikan dapat mengakibatkan seseorang untuk mengembangkan kompleks inferioritas atau superioritas. Kedua kompleks ini berkaitan erat. Kompleks superioritas selalu menyembunyikan atau-mengkompensasi-perasaan inferioritas, dan kompleks inferioritas sering menyembunyikan perasaan superioritas. Misalnya, orang yang sombong dan berusaha untuk mendominasi orang-orang yang dalam beberapa hal lebih lemah dari dirinya mungkin akan menunjukkan sebuah kompleks superioritas. Pada kenyataannya, orang merasa tidak mampu, tetapi dengan memanggil perhatian pada dirinya dan dengan mendorong orang lain di sekitar, ia dapat berpura-pura menjadi lebih unggul. Seseorang yang terus-menerus depresi dan putus asa dapat mengembangkan alasan untuk tidak berjuang untuk perbaikan diri dan memperoleh layanan khusus dari orang lain. Orang ini mungkin sebenarnya merasa berhak untuk layanan ini karena rasa superioritas yang tersembunyi dari keyakinan bahwa semua masalah bukan semata dari kesalahannya.

4.      Minat Sosial

Konsep Adler mengenai minat sosial tidak mudah untuk didefinisikan. Persoalan penting dalam dorongan kearah kesempurnaan adalah ide dari minat sosial atau kepekaan sosial (dalam bahasa Jerman istilah ini disebut Gemeinschaftsgefuhl atau “perasaan berkelompok”). Jika disandingkan dengan holisme-nya Adler, kita dapat dengan mudah melihat bahwa setiap orang yang “didorong kearah kesempurnaan” pasti mempertimbangkan lingkungan sosialnya. Sebagai makhluk sosial kita tidak akan eksis tanpa adanya orang lain. Ini tetap berlaku pada diri orang yang anti sosial sekalipun. Meskipun kapasitas untuk minat sosial adalah bawaan. Adler mengatakan, terlalu kecil atau lemah-setidaknya pada saat ini dalam evolusi manusia-untuk mengembangkan sendiri (Ansbacher dan Ansbacher, 1956). Sebagai hasilnya itu adalah tanggung jawab ibu, sebagai “orang lain pertama siapa anak pengalaman,” untuk mengembangkan potensi bawaan pada anak. jika ibu tidak “membantu anak memperpanjang minatnya untuk orang lain,” anak akan tidak siap untuk memenuhi persoalan hidup dalam masyarakat. Adler percaya bahwa dalam situasi tipis, sistem pendidikan atau beberapa bentuk terapi harus substitusi untuk pelatihan orang tua, lihat Kotak 5.2. Menurut Adler, adalah minat sosial yang memungkinkan seseorang untuk berjuang untuk keunggulan dalam cara yang sehat dan kurangnya itu yang mengarah ke fungsi maladaptif: Semua kegagalan-neurotik, psikotik, penjahat, pemabuk, masalah anak-anak, bunuh diri, cabul, dan pelacur-adalah kegagalan karena mereka kurang dalam minat sosial. mereka mendekati masalah pekerjaan, persahabatan, dan seks. iTanpa keyakinan bahwa masalah mereka dapat diselesaikan dengan kerjasama. makna mereka berikan kepada hidup adalah makna pribadi. Tidak ada orang lain yang diuntungkan oleh pencapaian tujuan mereka…. Tujuan mereka sukses adalah tujuan superioritas pribadi dan kemenangan mereka memiliki makna hanya untuk diri mereka sendiri. (Ansbacher dan Ansbacher, 1956, p.156). Konsep minat sosial menjelaskan bagaimana mungkin bagi semua orang berjuang untuk keunggulan sekaligus. Pada akhirnya, minat sosial terdiri dari orang-orang yang berusaha untuk “kesempurnaan” masyarakat karena mereka berusaha untuk individu mereka sendiri “kesempurnaan.” Dalam pengertian ini, “adalah minat sosial kompensasi yang benar dan tak terelakkan untuk semua kelemahan alami manusia individu.” (Adler, 1929, hal.31). kami berusaha untuk mengatasi inferiorities ourparticular membawa kita berjuang untuk memperbaiki masyarakat secara keseluruhan. Keadaan kesempurnaan terhadap yang kita semua berusaha adalah satu di mana individu dan masyarakat hidup, cinta dan bekerja bersama secara harmonis Pengertian tentang minat sosial dan berjuang untuk keunggulan sangat erat. Menurut Adler, manusia yang sehat yaitu pada saat yang sama ia berusaha untuk keunggulan sendiri membantu orang lain untuk mencapai tujuan mereka. Dalam sebuah surat kepada putrinya tertua dan suami barunya, Adler membuat perkawinan model bagi masyarakat: “hidup menikah adalah tugas di mana Anda berdua harus bekerja, dengan sukacita. Isi dirimu dengan tekad berani untuk berpikir lebih lanjut tentang masing-masing, selain tentang diri Anda, dan selalu berusaha untuk membuat hidup yang lain lebih mudah dan lebih indah. Jangan biarkan salah satu dari Anda untuk menjadi bawahan yang lain. Menurut Adler, untuk orang yang sehat dan masyarakat yang sehat dalam pengembangannya, harus ada interaksi konstan antara kepedulian untuk diri sendiri dan kepedulian untuk orang lain.

5.      Gaya Hidup

Gaya hidup adalah prinsip sistem dengan kepribadian individual yang berfungsi untuk menjelaskan keunikan seseorang dalam memahami tingkah lakunya. Setiap orang mempunyai gaya hidup masing-masing. Setiap orang mempunyai tujuan sama yaitu mencapai superioritas, namun cara untuk mengejarnya tak terhingga jumlahnya. Ada yang dengan mengembangkan inteleknya, ada yang dengan mengerahkan segenap usahanya untuk mencapai kesempurnaan otot. Gaya hidup seseorang terbentuk pada masa kanak-kanak pada usia 4 atau 5 tahun, sejak itu pengalaman-pengalaman dihadapi dan diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas (unik). Sikap, perasaan, apersepsi terbentuk dan menjadi mekanik pada usia dini dan sejak itu praktis gaya hidup tidak bisa berubah. Menurut Adler gaya hidup sebagian besar ditentukan oleh inferioritas-inferioritas yang khusus, entah khayalan atau nyata yang dimiliki orang; jadi gaya hidup merupakan bentuk kompensasi dari suatu inferioritas khusus terhadap kekurang sempurnaan tertentu. Misalnya gaya hidup Napoleon yang gemar menklukkan adalah kompensasi bagi tubuhnya yang kecil. Penjelasan dari gaya hidup sebagai dasar tingkah laku manusia akhirnya tidak memuaskan adler sendiri karena terlalu sederhana dan mekanistik, akhirnya ia mencari prinsip yang dinamik dan menemukan diri yang kreatif.

6. Diri yang Kreatif

Diri kreatif adalah prinsip penting dalam kehidupan manusia, sebagai penggerak utama, pegangan filsafat, yang pada akhirnya menjadi penyebab pertama dalam  menentukan perilaku manusia (Adler, 1978; Ansbacher, 1971). Diri kreatif sulit untuk digambarkan karena orang tidak dapat melihatnya secara langsung, tetapi hanya dapat melihatnya lewat manifestasi atau pengaruh-pengaruhnya saja. Inilah yang mengantarai antara perangsang yang dihadapi individu dengan respon yang dilakukannya. Diri yang kreatif membentuk kepribadiannya sendiri atau yang memberi arti kepada hidup, yang menetapkan tujuan serta membuat alat untuk mencapainya. Menurut Adler, keturunan atau hereditas hanya membekalinya dengan “kemampuan-kemampuan tertentu”, dan lingkungan hanya memberinya “kesan-kesan tertentu”. dua kekuatan (kemampuan dan kesan), dalam kombinasi dengan cara ia mengalaminya dan menafsirkan keturunan dan lingkungan yakni interprestasinya tentang pengalaman-pengalaman adalah membentuk “batu bata” atau dengan kata lain sikapnya terhadap kehidupan, yang menghubungkan dunia  ini dengan dunia luar ( Adler, 1935, p.5). Konsep Adler tentang kreativitas diri antimechanistic jelas mencerminkan pandangan tentang kepribadian: manusia bukanlah penerima pasif pengalaman tetapi seorang aktor dan inisiator perilaku. konsep ini menggarisbawahi pandangan Adler sebagai kepribadian dinamis, bukan statis: orang itu terus bergerak melalui kehidupan, aktif menafsirkan dan menggunakan pengalaman semua. dan mendukung gagasan bahwa kepribadian unik: setiap orang menciptakan kepribadiannya dari bahan mentah keturunan dan pengalaman.

7.      Penelitian Khas dan Metode Penelitian

Adler adalah seorang dokter, observasi-observasi empirisnya sebagian besar dilakukan dilingkungan terapeutik, dan paling banyak berupa konstruksi-konstruksi tentang masa lampau. Banyak peneliti telah meneliti konsep Adlerian, terutama pengertian tentang urutan kelahiran, tetapi penelitian Adler sendiri terutama terdiri dari pengamatan dan kesimpulan yang diambil dari karyanya dengan pasien terapi dan dengan masalah anak-anak dalam setting sekolah.

8.      Urutan Kelahiran dan Kepribadian

Menurut Adler, urutan kelahiran menentukan kepribadian didasarkan pada keturunan, lingkungan, dan kreativitas individu. Adler menunjukkan bahwa setiap anak dalam keluarga akan lahir dengan warisan genetik yang berbeda dan masuk ke setting sosial yang berbeda pula dan bahwa setiap anak interpretsits situasi dengan cara yang berbeda. Adler mengamati bahwa kepribadian anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu dalam satu keluarga akan berlainan. Perbedaan-perbedaan tersebut dikaitkan dengan pengalaman-pengalam khusus yang dimiliki setiap anak sebagai anggota suatu kelompok sosial. Gagasan Adler tentang karakteristik kepribadian sebagai fungsi dari urutan kelahiran, sebagai berikut:

Anak sulung atau anak pertama

Anak tengah atau anak kedua

Anak bungsu atau anak terakhir

Anak tunggal

SITUASI DASAR

Mendapatkan perhatian penuh dari orang tua sampai anak yang kedua lahir Memiliki daya saing terhadap kakaknya, dan harus berbagi perhatian dari awal. Mendpatkan banyak perhatian dari kakak-kakaknya, dan dimanjakan. Menerima perhatian penuh dari orang tua, cenderung bersaing dengan ayah, dimanjakan.

KELEBIHAN-KELEBIHANNYA

Bertanggung jawab, melindungi, dan mudah bersosialisasi. Ambisius, dan dapat menyesuaikan diri dengan baik dibandingkan kakak atau adiknya. Banyak kesempatan untuk bersaing dan terpacu melebihi kakak-kakaknya

KEKURANGANNYA

Merasa tidak aman, bermusuhan, dan pesimis. Memberontak dan iri hati, dan kesulitan dalm berasumsi. Merasa rendah diri, dan merasa tidak mampu untuk menyesuaikan diri. Takut tersaingin oleh orang lain, dan merasa segala sesuatu yang dilakukan benar.
9.      Ingatan-ingatan Awal

Adler berpendapat bahwa ingatan paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk memahami gaya hidup dasarnya. Misaalnya seorang anak gadis bercerita tentang ingatan yang paling awal dengan berkata: “ketika saya berusia 3 tahun, ayah saya…”,  berarti dia menunjukkan ketertarikan pada ayahnya dari pada ibunya. Dan ketika ayahnya membawa sepasang anak kuda untuk dia dan kakaknya, kakaknya mengendarai kejalan sedangkan ia terseret kuda kedalam lumpur. Gaya hidupnya dikendalikan oleh ambisi, kenginan menjadi yang pertama, perasaan tidak aman dan kekecewaan yang dalam pertanda kuat akan kegagalan. Seorang pemuda yang menderita kecemasan berat, mengenang kembali masa lampaunya dengan: “ketika saya berusia 4 tahun saya duduk dijendela dan memperhatikan sejumlah pekerja bangunan rumah dsebrang jalan, sementara ibunya merajut kaos kaki”. Dalam hal ini pemuda tersebut dimanjakan semasa masa kanak-kanak karena ibunya yang melindungi. Gaya hidupnya adalah sebagai penonton, bukan partisipan.  Artinya pasien tersebut cocok menjadi pedagang barang-barang seni, karena digemarinya.

10.  Pengalaman Masa Kanak-kanak

Adler sangat tertarik pada jenis-jenis pengaruh awal yang mengakibatkan anak mudah tergelincir kedalam gaya hidup yang salah, diantaranya: anak-anak yang memiliki inferioritas-inferioritas (rendah diri), anak-anak yang dimanjakan, dan anak-anak terlantar. Mereka seringkali menganggap dirinya sebagai orang-orang yang gagal, akan tetapi kelemahannya akan bisa berubah menjadi kekuatan jika dikompensasikan. Adler berbicara tegas mengingatkan bahaya memanjakan anak, yaitu anak menjadi orang alim yang mengharapkan masyarakat menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan yang berpusat pada diri mereka sendiri (anak tidak dapat mengembangkan perasaan sosialnya). Dan anak yang diperlakukan buruk pada masa kecilnya akan menjadi musuh masyarakat ketika ia dewasa, karena gaya hidup mereka dikuasai oleh sifat balas dendam. Ketiga keadaan: kelemahan fisik, pemanjaan dan penolakan menimbulkan konsepsi-konsepsi yang salah tentang dunia dan mengakibatkan suatu gaya hidup yang patologis.

sumber :

Boeree, C. George. (2009). Personality Theories. Yogyakarta: Prismasophie. Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. (1985). Introduction to Theorities of Personality. New York: John Wiley & Sons. Supratiknya, (1997). Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.

TEORI EGO ERIKSEN

Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankurt, Jerman pada tanggal 15 juni 1902. Sangat sedikit yang bisa diketahui tentang asal usulnya. Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaan Yahudi. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger, kemudian mereka pindah kedaerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Pada 1911 Erik secara resmi diadopsi oleh ayah tirinya. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Erikson menyebut dirinya sebagai ayah bagi dirinya sendiri, nama Homburger direduksi sebagai nama tengah bukan nama akhir.

Sebelum melihat lebih jauh mengenai teori dari Erik Erikson, maka kita tidak bisa melewati sketsa biografi Erik Erikson yang juga berperan/mendukung terbentuknya teori psikoanalisis. Pencarian identitas tampaknya merupakan fokus perhatian terbesar Erikson dalam kehidupan dan teorinya.

Pertama kalinya Erikson belajar sebagai “child analyst” melalui sebuah tawaran/ajakan dari Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu kurang lebih tahun 1927-1933. Bisa dikatakan Erikson menjadi seorang psikoanalisis karena Anna Freud. Kemudian pada tanggal 1 April 1930 Erikson menikah dengan Joan Serson, seorang sosiologi Amerika yang sedang penelitian di Eropa. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan di sana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun1939 Erikson pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga Negara tersebut, selain itu secara resmi pun dia telah mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu apa alasannya memilih nama tersebut.

Erik Erikson adalah seorang psikolog perkembangan Denmark-Jerman-Amerika dan psikoanalis terkenal karena teorinya tentang pembangunan sosial manusia. Dia mungkin paling terkenal untuk coining krisis identitas frase. Anaknya, Kai T. Erikson, adalah seorang sosiolog Amerika.

Perkembangan identitas tampaknya telah menjadi salah satu keprihatinan Erikson terbesar dalam hidup sendiri maupun teorinya. Selama masa kanak-kanak dan dewasa awal ia dikenal sebagai Erik Homburger. Dia adalah seorang pribadi yang jangkung berambut pirang, bermata biru, dan anak yang dibesarkan dalam agama Yahudi. Di sekolah kuil, anak-anak menggodanya karena Nordic; di sekolah dasar, mereka menggoda dia untuk menjadi Yahudi. Erikson adalah seorang mahasiswa dan guru seni. Ketika mengajar di sebuah sekolah swasta di Wina, ia berkenalan dengan Anna Freud, putri Sigmund Freud. Erikson mengalami psikoanalisis dan pengalaman itu membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang analis sendiri. Dia dilatih dalam psikoanalisis di Wina psikoanalitis Institute dan juga mempelajari metode pendidikan Montessori, yang berfokus pada perkembangan anak.

Setelah lulusdari Institute di Wina psikoanalitis 1933, Nazi baru saja berkuasa di Jerman dan ia berhijrah bersama istrinya, pertama ke Denmark lalu ke Amerika Serikat, di mana ia menjadi psikoanalis anak pertama di Boston. Erikson memegang posisi di Massachusetts General Hospital, Hakim Bimbingan Baker Center dan di Harvard Medical School dan Psikologis Klinik, membangun reputasi sebagai dokter. Pada tahun 1936, Erikson menerima posisi di Yale University, bekerja di Institute of Human Relations dan mengajar di Sekolah Kedokteran. Setelah setahun mengamati anak-anak Sioux di Dakota Selatan, ia bergabung dengan staf pengajar University of California di Berkeley, berafiliasi dengan Institut Kesejahteraan Anak, dan membuka praktik. Di California, Erikson belajar anak suku asli Yurok Amerika.

Setelah penerbitan buku yang terkenal Erikson, Anak dan Masyarakat, pada 1950, ia meninggalkan University of California ketika ada profesor meminta untuk tanda-tangani sumpah loyalitas. Ia menghabiskan sepuluh tahun bekerja dan mengajar di Pusat Riggs Austen., fasilitas perawatan psikiatri terkemuka di Stockbridge, Massachusetts, dimana ia bekerja dengan orang-orang muda emosional bermasalah. Pada tahun 1960, Erikson kembali ke Harvard sebagai profesor pembangunan manusia dan tetap di universitas hingga pensiun pada tahun 1970. Erikson juga dikreditkan dengan menjadi salah satu pencetus psikologi Ego, yang menekankan peran ego sebagai lebih dari seorang hamba id.

Menurut Erikson, lingkungan di mana anak hidup sangat penting untuk memberikan pertumbuhan, penyesuaian, sumber kesadaran diri dan identitas. Bukunya 1969 Gandhi Kebenaran, yang lebih terfokus pada teori yang diterapkan untuk tahap selanjutnya dalam siklus hidup, memenangkan hadiah Pulitzer Erikson dan US National Book Award. Pada tahun 1973 National Endowment untuk dipilih Humaniora Erikson untuk Kuliah Jefferson, kehormatan pemerintah federal AS untuk pencapaian tertinggi di humaniora. Erikson kuliah berjudul “Dimensi dari Identity Baru.” Erik Erikson meninggal pada 12 Mei 1994.

Erik Erikson percaya bahwa setiap manusia berjalan melalui sejumlah tahap untuk mencapai pembangunan penuhnya, berteori delapan tahap, bahwa manusia melewati dari lahir sampai mati. (Anak dan Masyarakat-Erik Erikson) Erikson menguraikan tahap genital Freud menjadi remaja dan menambahkan tiga tahap dewasa. Janda Joan Serson Erikson menguraikan pada model sebelum kematiannya, menambahkan tahap kesembilan (umur tua) itu, dengan mempertimbangkan harapan hidup meningkat di budaya Barat. Erikson adalah Neo-Freudian, digambarkan sebagai seorang psikolog ego mempelajari tahap pembangunan yang mencakup seluruh siklus hidup. Setiap tahap Erikson pengembangan psikososial ditandai oleh konflik, untuk yang resolusi sukses akan menghasilkan hasil yang menguntungkan, misalnya, kepercayaan vs ketidakpercayaan dan oleh sebuah peristiwa penting, konflik ini terselesaikan sendiri.

Favourable hasil dari setiap tahap kadang dikenal sebagai “kebajikan”, istilah yang digunakan, dalam konteks kerja Eriksonian, sebagaimana diterapkan untuk obat-obatan yang berarti “potensi.” Misalnya kebajikan yang akan muncul dari resolusi yang berhasil. Anehnya dan kontra-intuitif, penelitian Erikson menyarankan setiap individu harus belajar cara memegang kedua ekstrim setiap tantangan hidup tahap tertentu dalam ketegangan satu sama lain, tidak menolak salah satu ujung ketegangan atau yang lain. Hanya ketika kedua ekstrem dalam tahap tantangan hidup dipahami dan diterima sebagai keduanya diperlukan dan berguna, didapat kebajikan yang optimal. Jadi, ‘kepercayaan’ dan ‘salah kepercayaan’ itu harus dipahami dan diterima, agar harapan realistis ‘untuk muncul sebagai solusi yang layak pada tahap pertama. Demikian pula, ‘integritas’ dan ‘putus asa’ itu harus dipahami dan berpelukan, agar hikmat ditindak-lanjuti ‘ sebagai solusi yang layak pada tahap terakhir.

Sebagian besar penelitian empiris ke teori Erikson telah difokuskan pada pandangannya mengenai upaya untuk membangun identitas masa remaja. pendekatan teoretis-Nya telah dipelajari dan didukung, khususnya mengenai remaja, oleh James Marcia. Marcia’s Erikson bekerja diperpanjang dengan membedakan berbagai bentuk identitas, dan ada beberapa bukti empiris bahwa orang-orang yang membentuk diri yang paling koheren-konsep pada masa remaja adalah mereka yang paling mampu membuat lampiran intim di usia dewasa awal. Ini mendukung teori Eriksonian, yang menunjukkan bahwa mereka paling siap untuk menyelesaikan krisis dewasa awal dan berhasil menyelesaikan krisis remaja.

Banyak yang merasa bahwa Erik H. Erikson telah menghembuskan kehidupan baru kedalam  teori psikoanalitik. Meskipun beberapa konsep-nya berbeda dari Freud, Erikson telah meniupkan kehidupan baru ke dalam teori psikoanalitik. Meskipun beberapa konsep-nya berbeda dari Freud, Erikson telah menjelaskan penemuan baru dan konsep yang berbeda. Erikson menyatakan bahwa ia tetap setia dengan teori Freud dan kontribusinya, yang memperpanjang dan menguraikan ide-ide psikoanalitik, tidak bertentangan dengan ajaran dasar psikoanalisis Freudian

Erikson, seperti Anna Freud, Hartman, White dan teoretikus ego lainnya kontemporer analitik, adalah kesepakatan yang baik,  lebih peduli dengan ego dibandingkan dengan id dan superego. Erikson melihat ego mewakili “kapasitas manusia untuk menyatukan pengalaman dan tindakan nya secara adaptif” (1963, hal.15), dan dia membuat ego menguasai bukan budak dari dua sistem lainnya.

Erikson telah membangun di atas konsep Freud pada tahap perkembangan, memperluas Target sendiri melalui seluruh siklus hidup, dari lahir sampai mati. Erikson menerima dinamika biologis-seksual bassic dipostulasikan oleh Freud. Salah satu kontribusi besar Erikson adalah telah menekankan interaksi individu dengan lingkungan sosial dalam membentuk kepribadian, ego telah “berakar dalam organisasi sosial”

  EGO  KREATIF MENURUT ERIKSON

Membangun dan memperluas karya Sigmund dan Anna Freud dan Heinz Hartman, Erikson menggambarkan ego yang memiliki kualitas kreatif. Ini tidak hanya berusaha secara aktif untuk beradaptasi dengan lingkungannya tetapi menemukan solusi kreatif untuk setiap masalah baru. Bahkan ketika digagalkan, ego merespon dengan semangat, karena memiliki kekuatan dasar dan fleksibilitas.

Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Erikson menjelaskan bahwa ego itu memiliki kreatifitas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak hanya di tentukan oleh factor  internal yang berasal dari dalam diri individu, tetapi juga di tentukan oleh faktor sosial dan budaya tempat individu itu berada.

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak adap pada psikoanalisa freud, yakni kepercayaan, dan penghargaan, otonomi dan kemaun, kerajinan, dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego semacam itu disebut ego kreatif, ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah pada setiap tahap kehidupan. apabila menemui hambatan ataupun konflik, ego tidak menyerah akan tetapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan. Ego bukan budak melainkan yang mengatur id, super ego, dan dunia luar. Jadi ego selain hasil dari proses faktor-faktor gentik, fisiologik, dan anatomis, juga dibentuk oleh konteks cultural dan historis.

Ego kreatif dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori perkembangan seksual-infantil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan keperibadian mengikuti perinsip epigenetic. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Menurut erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesist, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial.

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego ini dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego bukan menjadi budak lagi, namun dapat mengatur id, superego dan dibentuk oleh konteks cultural dan historik. Berikut adalah ego yang sempurna menurut Erikson :

  1. Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.

2. Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang   menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan pronsip realita dari Freud.

3. Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat   hubungan untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Erikson, ego sebagian bersifat tak sadar, mengorganisir dan mensitesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yakni:

  1. Body Ego: Mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/ fisiknya sendiri.
  2. Ego Ideal: Gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.
  3. Ego Identity: Gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.

Teori Ego dari Erikson memandang bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego.

Tipe ego yang digambarkan oleh Erikson dapat disebut ego kreatif, meskipun ia sendiri tidak menggunakan kata tersebut. Ego kratif dapat dan memang berhasil menemukan pemecahan-pemecahan kreatif atas masalah-masalah baru yang menimpanya pada setiap tahap kehidupan.  Pada setiap tahap ia mampu menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang tersedia di dunia luar serta melakukannya dengan giat, bahkan dengan perasaan gembira. Apabila menemui hambatan, maka ego bereaksi dengan usaha baru dan bukan menyerah. Ego tampak sangat kuat dan tabah. Kemampuan untuk bangkit kembali menurut Erikson, merupakan suatu inheren dalam ego muda. Pada kenyataannya, ego justru bekembang berkat konplik dan krisis. Ego dapat dan biasanya memang menjadi tuan dan bukan budak id, dunia luar dan super ego. Memang Erikson sangat sedikit brbicara tentang id dan super ego, atau tentang motivasi tak sadar dan strategi-strategi irasional.

Sebagai seorang psikoanalis yang melakukan praktik, Erikson tentu menyadari sifat rentan ego, pertahanan-pertahanan irasional yang dibangunnya, dan akibat merusak trauma, kecemasan dan rasa bersalah. Tetapi ia juga sering melihat bahwa ego pasien mampu menangani secara efektif masalah-masalahnya dengan sedikit bantuan dari ahli psikoterapi. Pemusatan pada kekuatan potensial ego ini mewarnai semua tulisan Erikson.

Konsepsi Erikson tentang Ego sangat memasyarakat dan historis. Disamping faktor-faktor genetik, fisiologis, dan anatomis yang ikut menentukan kodrat ego si individu, terdapat juga pengaruh-pengaruh kultural dan historis yang penting. Penempatan ego dalam suatu konteks kultural dan historis ini-suatu kerangka ruang-waktu-merupakan salah satu sumbangan Erikson yang sangat kreatif bagi teori ego.

 FUNGSI EGO

Fungsi ego dalam diri individu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Fungsi dorongan ekonomis; fungsi ego ini menyalurkan dengan cara mewujudkan dalam bentuk tingkah laku secara baik yaitu yang baik dan dapat diterima lingkungan, berguna dan menguntungkan baik bagi diri individu sendiri maupun orang lain di lingkungannya.
  2. Fungsi kognitif; berfungsinya ego pada diri individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian menyimpannya dan setelah itu dapat mempergunakannya unuk keperluan coping behavior. Dalam hal ini individu mempergunakan kemampuan kognitifnya dengan disertai oleh pertimbangan-pertimbangan akal dan menalar.
  3. Fungsi pengawasan; disebut juga dengan fungsi kontrol, maksudnya tingkah laku yang dimunculkan individu merupakan tingkah laku yang berpola dan sesuai dengan aturan. Secara khusus fungsi ego ini mengontrol perasaan dan emosi terhadap tingkah laku yang dimunculkan
  •  CIRI KHAS PSIKOLOGI EGO ERIKSON
  1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemasukan ego yang sehat.
  2. Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.
  3. Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang tak sadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id.
  4. Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan keberkelanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.
  • KONSELING EGO

Konseling ego dipopulerkan oleh Erikson. Konseling  ego memiliki ciri khas yang lebih menekankan pada fungsi ego. Kegiatan konseling yang dilakukan pada umumnya bertujuan untuk memperkuat ego strength, yang berarti melatih kekuatan ego klien. Seringkali orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang lemah. Misalnya, orang yang rendah diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dikarenakan ia tidak mampu memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meraih keinginannya.

Perbedaan ego menurut Freud dengan ego menurut Erikson adalah: Menurut Freud ego tumbuh dari id, sedangkan menurut Erikson ego tumbuh sendiri yang menjadi kepribadian seseorang.

Erik Erikson percaya bahwa setiap manusia berjalan melalui sejumlah tahap untuk mencapai pembangunan penuhnya, berteori delapan tahap, bahwa manusia melewati dari lahir sampai mati. (Anak dan Masyarakat-Erik Erikson) Erikson menguraikan tahap genital Freud menjadi remaja dan menambahkan tiga tahap dewasa. Erikson menguraikan pada model sebelum kematiannya, menambahkan tahap kesembilan (umur tua) itu, dengan mempertimbangkan harapan hidup meningkat di budaya Barat. Erikson adalah Neo-Freudian, digambarkan sebagai seorang psikolog ego mempelajari tahap pembangunan yang mencakup seluruh siklus hidup. Setiap tahap menurut Erikson dalam pengembangan psikososial ditandai oleh konflik, untuk yang resolusi sukses akan menghasilkan hasil yang menguntungkan, misalnya, kepercayaan vs ketidakpercayaan dan oleh sebuah peristiwa penting, konflik ini terselesaikan sendiri.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN PSIKOSOSIAL

1.      Prinsip Epigenetik

Menurut Erikson, ego berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mengikuti prinsip epigenetik, istilah yang dipinjam dari embriologi. Perkembangan epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ embrio. Ego berkembang mengikuti prinsip epigenetik, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu (yang disediakan oleh hereditas untuk berkembang). Tahap perkembangan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembangan sebelumnya (tetapi tidak mengganti perkembangan tahap sebelumnya itu).

 

2.      Aspek Psikoseksual

Teori perkembangan dari Erikson melengkapi dan menyempurnakan teori Freud dalam dua hal, pertama melengkapi tahapan perkembangan menjadi delapan yakni tahap bayi (infcy), anak (candy childhood), bermain (play age), sekolh (school ge), remaja (addolesence), dewasa awal (young adulthood), dewasa (adulthood) dan tua (mature). Freud hanya membahs 4 tahapan, dri bayi sampai dengan usia sekolah. Kedua, memki analisis konflik untuk mendeskkripsi perkembangan kepribadian. Perkembangan insting seksual dipakai Freud untuk menjelaskan bahwa traum (seksual) bias dialami manusia pada usia dini dan bagaimana pengaruhnya pada masa yang akn dating. Erikson mengakui adanya aspek psikoseksual dalam perkembangan, yang menurutnya bias berkembang positif (aktulisasi seksul yang dapat diterima) atau negative (aktualisasi ekpresiseksual yang tidak dikehendaki). Dia memusatkan perhatiannya mendeskripsikan bgaimana kepastian kemnusiaan mengatasi aspek osikoseksual itu; bagaimana mengembangkan insting seksual menjadi positif.

3.      Konflik Psikoseksual

Teori Erikson sendiri memakai dasar perkembangan social; pada setiap tahap perkembangan muncul konflik social yang khas, yang seperti insting seksual harus dikembangkan ke rah positif. Teori perkembangan dari Erikson kemudian dinamakan Teori Perkembangan Psikososial. Enam Pokok Pikiran Teori Perkembangan Psikososial Erikson

  1. Prinsip Epigenetik: Perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik.
  2. Interaksi Bertentangan: Di setiap tahap ada konflik psikososial, antara elemen sintonik (syntonic = harmonious) dan distonik (dystonic = disruptive). Kedua elemen itu dibutuhkan oleh kepribadian.
  3. Kekuatan Ego: Konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego. Dari sisi jenis sifat yang dikembangkan, kemenangan aspek sintonik akan memberi ego sifat yang baik, disebut Virtue. Dari sisi  enerji, virtue akan meningkatkan kuantitas ego atau kekuatan ego untuk mengatasi konflik sejenis, sehingga virtue disebut juga sebagai kekuatan dasar (basic strengh).
  4. Aspek Somatis: Walaupun Erikson membagi tahapan berdasarkan perkembangan psikososial, dia tidak melupakan aspek somatis/biologikal dari perkembangan manusia.
  5. Konflik dan Peristiwa Pancaragam (Multiplicity of Conflict and Event): Peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangan kepribadian selanjutnya. Identitas ego dibentuk oleh konflik dan peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.
  6. Di setiap tahap perkembangan, khususnya dari masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas (identity crisis), yang dinamakan Erikson “titik balik, periode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi”.

 

sumber :

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian. Malang. UMM Press

Corey, Gerals. (2007). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Hall, Calvin S., & G. Lindzey, (1957).  Theories of Personality. John willy & Sons, New York,

Hansen, James C. (1977). Counseling Theory and Process. Boston: Allyn and Bacon, Inc.