Teori belajar

Accelerated Learning

Pengertian

Accelerated  Learning   adalah  sebuah  teknik  pembelajaran  yang  mengadopsi  konsep pemanfaatan  berbagai  input  secara  paralel,  misalnya:  mencampur  antara  bercerita  dan membaca,  simulasi  visual  dan  grafik.  Cara  tersebut  mempercepat  proses  pembelajaran secara  signifikan  baik  untuk  anak -anak  maupun  orang  dewasa  Karena otak sebagai media penyimpan  knowledge dapat menerima dan memproses secara paralel input-input   dari   berbagai   indera   ( channel   input).   Salah   satu   cara   untuk   menambah kecepatan  proses  belajar  adalah  dengan  menggunakan  beberapa   channel  input  sekaligus secara efektif.

Belajar  yang  dipercepat  (accelerated  learning),  merupakan  konsep  belajar  berdasarkan kehidupan manusia secara alamiah. Belajar yang dipercepat bertujuan untuk mengurangi sifat  mekanistik  dan  berupaya  memanusiakan  siswa  dalam  proses  pembelajaran,  serta menempatkan siswa sebagai pusat dalam sistem pembelajaran.  Siswa bukan  diisi  oleh  informasi  melainkan  rangsangan sehingga mereka termotivasi untuk belajar dan berlatih dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya dan berusaha keras  mencapai  tujuan  pembelajaran  yang  ditetapkan.  Program  pembelajaran  bukanlah suatu proses propaganda, atau indoktrinasi, atau mengkondisikan, atau  stimulus response training,  tetapi  merupakan  “kendaraan”  yang  bertujuan  mencapai  kecakapan  hidup  dan kehidupan   secara   menyeluruh   baik   spiritual,   emosional,   intelektual   maupun   fisikal (indrawi). Belajar dipercepat membuat siswa merasakan senangnya belajar, menumbuhkan  minat,  membentuk  keterhubungan  dan  partisipasi  aktif,  menumbuhkan kreativitas, membentuk pengertian, serta menumbuhkan penghayatan pada siswa.

Yang   paling   penting   dalam   belajar   yang   dipercepat   adalah   konsep   keseluruhan (wholeness),   yaitu   keseluruhan   dalam   ilmu   pengetahuan,   individu,   organisasi,   dan kehidupan  itu  sendiri.  Hal  ini  sangat  bertentangan  dengan  konsep  kompartementalisasi dalam kurikulum mata pelajaran, yang mengarahkan siswa dalam  pembelajaran  dan  kehidupan.  Kita  perlu  menyatukan  kembali keseluruhan  fisik  dan  mental  dalam  pembelajaran.  Siswa  bukan  lagi  seorang konsumen yang pasif tetapi innovator dan creator yang aktif.

 Prinsip-prinsip pokok Accelerated Lerning

Prinsip-prinsip Accelerated Learning antara lain sebagai berikut :

  1. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh.

Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar, rasional, memakai “otak kiri”, dan verbal), tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya.

2. Belajar adalah Berkreasi, Bukan Mengonsumsi.

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar, melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru, jaringan saraf baru, dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh.

3. Kerja Sama Membantu Proses Belajar.

Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri.

4. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan.

Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear, melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indra, jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Bagaimanapun juga, otak bukanlah prosesor berurutan, melainkan prosesor paralel, dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus.

5.  Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan

Balik).

Belajar paling baik adalah dalam konteks. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kita belajar berenang dengan berenang, cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya, cara bernyanyi dengan bernyanyi, cara menual dengan menjual, dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak-asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total, mendapatkan umpan balik, merenung, dan menerjunkan diri kembali.

6. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran.

Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar. Perasaan positif mempercepatnya. Belajar yang penuh tekanan, menyakitkan, dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan, santai, dan menarik hati.

7. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis.

Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat

sumber  :

Dave Meier. (2000). The Accelerated Learning Handbook : a Creative Guide to Designing and Delivering Faster, More Effective Training Programs.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s