Dasar-dasar BK

ASAS PELAYANAN KONSELING

Asas konseling merupakan kondisi yang mewarnai suasana jalannya pelayanan. Apabila asas yang dimaksudkan tidak terwujud akan sangat dikhawatirkan layanan konseling yang terselenggara akan mengalami berbagai kekurangan atau bahkan kesulitan, misalnya kurang terarah, kurang gairah, kurang berhasil, atau bahkan mubazir. Berbagai asas dapat diidentifikasi, di sini hanya dikemukakan lima yang pokok-pokok saja.

1.      Asas kerahasiaan, menekankan pentingnya komitmen konselor untuk menyimpan hal-hal yang menurut subjek yang dilayani sebagai sesuatu rahasia pribadinya. Konselor harus merahasiakan rahasia subjek yang dilayani. Konsleor harus mampu berkomitmen sebagai berikut:

Saya, ……… (nama konselor)

Mampu dan bersedia, menerima, menyimpan, menjaga, memelihara dan merahasiakan semua data dan keterangan dari klien saya atau dari siapapun juga, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan/atau tidak layak diketahui oleh orang lain.

Komitmen konselor tersebut harus diyakini oleh subjek yang dilayani, dengan kata lain, subjek yang dilayani dibuat benar-benar yakin bahwa konselor akan merahasiakan rahasia-rahasia pribadi subjek yang dilayani itu.

2.      Asas kesukarelaan, menekankan pentingnya kemauan subjek yang dilayani untuk mengikuti kegiatan pelayanan. Makin tinggi tingkat kemauan atau motivas untuk memperoleh layanan, makin tinggi pula tingkat keterlibatan subjek dalam layanan konseling. Kondisi yang ideal ialah apabila subjek benar-benar sukarela dengan kemauan sendiri (self-referal). Untuk bisa sukarela seperti itu subjek yang dilayani, selain memahami dengan baik tujuan pelayanan konseling, terlebih lagi meyakini adanya jaminan dari konmselor tentang diberlakukannya asas kerahasiaan.

3.      Asas kegiatan, menekankan pentingnya peran aktif subjek yang dilayani dalam pelaksanaan layanan konseling. Bukan konselor saja yang aktif, namun terlebih lagi subjek yang dilayani. Makin aktif subjek yang dilayani makin ada jaminan layanan itu akan sukses.

4.      Asas kemandirian, menekankan pentingnya arah pengembangan diri subjek yang dilayani, yaitu pribadi yang mandiri dengan kelima ciri yang telah dikemukakan sebelumnya. Lebih konkrit, pribadi yang mandiri itu terwujud dalam KES dan terhindar dari KES-T.

5.      Asas keobjektifan, menekankan pentingnya  kejelasan dan keterjangkauan semua hal yang menjadi materi layanan konsleing. Di samping itu, hal-hal yang objektif itu juga terukur dan dapat dijalani oleh subjek yang dilayani.

Seperti kaidah-kaidah terdahulu, asas-asas konseling juga terpadu menjadi satu. Semuanya adalah demi suksesnya pelayanan untuk sebesar-besarnya memenuhi tuntutan pengembangan diri subjek yang dilayani

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:  Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s