Dasar-dasar BK

PRINSIP PELAYANAN KONSELING

Prinsip merupakan kaidah dasar yang perlu selalu diperhatikan dalam penyelenggaraan pelayanan konseling. Apabila orientasi konseling yang dikemukakan di atas memberikan arah perhatian dan fokus dasar tentang ke mana layanan konseling ditujukan, prinsip konseling menekankan pentingnya kaidah-kaidah pokok yang secara langsung dan konkrit mendasari seluruh praktik pelayanan konseling.

1.      Prinsip integrasi pribadi, menekankan pada keutuhan pribadi subjek yang dilayani dari segenap sisi dirinya dan berbagai kontekstualnya. Dari sisi hakikat manusia misalnya, unsur-unsur berikut mendapat penekanan :

  •  Keimanan dan ketakwaan                      ditunaikan
  •  Kesempurnaan penciptaan                  diwujudkan
  •  Ketinggian derajat                                   ditampilkan
  •  Kekhalifahan                                              diselenggarakan
  •  HAM                                                              dipenuhi

Aktualisasi unsur-unsur hakikat manusia itu seluruhnya berada dalam pengembangan pancadaya (daya takwa, cipta, rasa, karsa dan karya) serta dalam bingkai kelima dimensi kemanusiaan (dimensi kefitrahan, keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman). Ketiga orientasi pelayanan konseling (orientasi individual, perkembangan dan permasalahan) sepenuhnya diarahkan bagi terbentuknya pribadi yang terintegrasikan itu melalui ditegakkannya fungsi-fungsi pemahaman, pemeliharaan dan pengembangan, pencegahan, pengentasan, dan advokasi.

2.      Prinsip kemandirian, menekankan pengembangan pribadi mandiri subjek yang dilayani. Kelima ciri kemandirian tersebut pada bab terdahulu menjadi arah pelayanan konseling.

3.      Prinsip sosio-kultural, menekankan pentingnya subjek yang dilayani berintegrasi dengan lingkungan, yaitu lingkungan yang langsung terkait dengan  kehidupannya sehari-hari, serta berbagai kontekstual dalam arti yang seluas-luasnya. Pelayanan konseling mengintegrasikan dan mengharmonisasikan subjek yang dilayani dengan lingkungan sosio-budayanya.

4.      Prinsip pembelajaran, menekankan bahwa layanan konseling adalah proses pembelajaran. Subjek yang dilayani menjalani proses pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar  tertentu yang berguna dalam rangka terkembangnya KES dan  tertanganinya KES-T.

5.      Prinsip efektif/efisien, menekankan bahwa upaya pelayanan yang diselenggarakan oleh konselor harus menghasilkan sesuatu untuk pengembangan KES dan penanganan KES-T subjek yang dilayani. Pelayanan konseling terarah pada keberhasilan yang optimal. Termasuk ke dalam upaya optimalisasi pelayanan konseling adalah kerjasama dengan pihak-pihak lain sehingga berbagai sumber daya dapat dikerahkan untuk kepentingan subjek yang dilayani.

Kelima prinsip di atas terpadu menjadi satu, tidak diterapkan secara terpisah, meskipun kelimanya bisa dipilah

Prayitno & Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:  Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s