Study Diagnosis

Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)

Attention Deficit and Hyperactive Disorder (ADHD) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah gangguan perkembangan saraf yang diperkirakan  mempengaruhi  3% sampai 7% anak-anak usia sekolah dan didiagnosis 2 sampai 9 kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan (Thompson, Morgan, & Urquhart, 2003).

Menurut DSM-IV, Diagnostic and Statistical Martual of Mental Disorder, 4th Ed., diterbitkan oleh American Psychiatric Association (1994), kriteria penandaan ADHD meliputi simtom yang berkaitan dengan kurang mampu memperhatikan dan hiperaktivitas-impulsivitas. Untuk dipertimbangkan sebagai ADHD, simtomnya harus tampak sebelum usia tujuh tahun bertahan selama paling sedikit enam bulan, dan tidak konsisten dengan tingkat pertumbuhan seorang anak. Dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (2002) gangguan ini disebut Gangguan Hiperkinetik. Ciri utama ialah berkurangnya perhatian dengan aktivitas berlebihan; kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu tempat, misalnya di rumah dan di sekolah.

Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya tugas dan ditinggalkannya suatu kegiatan sebelum selesai dikerjakan. Kehilangan minat pada tugas yang satu karena perhatiannya tertarik pada kegiatan lainnya. Hiperaktivitas dinyatakakan dalam kegelisahan yang berlebihan, khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan relatif tenang. Hal ini tergantung dari situasinya, mencakup anak berlari, melompat sekeliling ruang, bangun dari duduk/kursi dalam situasi yang menghendaki anak untuk tetap duduk, terlalu banyak dalm berbicara dan ribut,  atau gugup/gelisah dan berputar/berbelit. Secara umum ADHD berkaitan dengan gangguan tingkah laku dan aktivitas kognitif seperti berfikir, mengingat, menggambar, merangkum, mengorganisasikan dan lain-lain. Karakteristik ini sebenarnya mulai muncul pada masa kanak-kanak awal, bersifat kronis dan tidak diakibatkan oleh kelainan fisik yang lain, retardasi mental ataupun masalah emosional.

ADHD adalah sebuah kondisi yang amat kompleks yang gejalanya berbeda-beda. Para ahli mempunyai perbedaan pendapatmengenai hal ini, akan tetapi mereka menggunakan jenis ADHD berikut ini:

1.    Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada ìdi awang-awangî.

2.    Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak- anak kecil.

3.    Tipe gabungan mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif. Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini.

Penyebab ADHD sampai saat ini belum diketahui secara pasti, dan tampaknya ada pengaruh dari faktor biologis dan lingkungan (Nevid, Rathus & Green, 2005). Para peneliti yakin bahwa faktor genetis memberikan sumbangan yang cukup berarti pada ADHD. Orang tua yang memiliki simtom ADHD akan memiliki kecenderungan memiliki anak dengan gangguan ADHD juga (Pliffner, McBurnett, Rathouz & Judice, 2005). Para peneliti mencoba menemukan bagian-bagian otak yang mempengaruhi ADHD yaitu kurang aktifnya otak bagian depan dari korteks otak depan, bagian otak yang menghantarkan impuls-impuls dan mempertahankan kontrol diri (Barkley, dalam Nevid dkk, 2005). Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak dengan gangguan ADHD adalah seperti tingginya konflik dalam rumah tangga, stres emosional selama kehamilan, dan buruknya penanganan orang tua menangani perilaku anak dapat semakin memperburuk permasalahan yang dialami oleh anak.Selain itu, interaksi antara genetis-lingkungan juga sangat penting (Bradley & Golden, dalam Nevid, 2005).

sumber :

http://rinisetyowati.blog.uns.ac.id/

5 thoughts on “Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)

  1. bagaimanakah penanganan anak adhd yg digabung di kelas anak normal,haruskah mendapat perlakuan khusus atau disamakan dengan anak2 lain?apakah anak adhd bisa disembuhkan walau tidak bisa total,bagaimana caranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s