Pendekatan Konseling

TEORI KONSTITUSI SHELDON

Ada dua definisi yang sering dijumpai dalam psikologi. Dalam definisi pertama, istilah kon­stitusi digunakan untuk menunjuk faktor-faktor yang terberi atau sudah ada pada waktu lahir. Di sini istilah konstitusi sema­ta-mata merupakan cara singkat untuk menunjukkan sumbang­an gen-gen plus lingkungan rahim. Definisi kedua menyamakan istilah itu dengan struktur tubuh yang paling dasar. Menurut kata-kata Sheldon, “konstitusi adalah aspek-aspek individu yang relatif tetap dan tidak berubah morfologi., fisiologi, fungsi endokrin dan sebagainya dan dapat dipertentangkan dengan aspek-aspek individu yang relative lebih labil dan mudah berubah karena tekanan-tekanan lingkungan, seperti kebiasaan-kebia­saan, sikap-sikap sosial, pendidikan, dan sebagainya” . Sebagaimana tersirat dalam definisi ini, maka psikologi konstitusi merupakan “studi tentang aspek-aspek psikologis tingkah laku manusia sejauh aspek-aspek itu berhubungan dengan morfologi dan fisiologi tubuh” (Sheldon, 1940, hlm. 1). Jelaslah bahwa kedua definisi ini memiliki banyak kesamaan karena baik struktur jasmaniah maupun fungsi biologisnya biasanya berhubungan erat dengan faktor-faktor tingkah laku prenatal.

Orang yang meneliti hubungan anta­ra tingkah laku dan aspek-aspek yang dapat diukur dari sistem saraf otonom atau sistem endokrin harus dipandang sebagai “psikolog konstitusi”, sama seperti seorang ahli bidang jasmani. Akan tetapi. kalau dilihat dari fakta sejarah, istilah itu biasanya dipakai untuk para teoretikus atau peneliti-peneliti yang me­nekankan hubungan antara aspek-aspek struktural tubuh (jas­mani atau bangun tubuh) dan tingkah laku. Maka dalam pemba­hasan kita sekarang, psikolog konstitusi, adalah orang yang memandang substratum biologis individu sebagai faktor-faktor penting untuk menjelaskan tingkah laku manusia.

Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani psikolog dapat menemukan satuan-satuan konstan, sub‑sub struktur kokoh yang sangat dibutuhkan untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi tentang tingkah laku manusia

  Analisis Tingkah Laku (Kepribadian)

Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek ­aspek jasmaniah tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau meminjam suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini, Sheldon mulai dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel lahiriah yang dapat di pakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik se­mua itu terdapat sejumlah kecil komponen dasar yang diharap­kan dapat menjelaskan segala kompleksitas dan varitas lahiriah tersebut. Mulailah ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen-komponen dasar ini dengan mengambil hikmah dari penelitian-penelitian kepribadian di masa lampau dan menggabungnannya dengan pengetahuan klinis dan pengalaman induktifnya sendiri.

Dimensi-Dimensi Temperamen

Mula-mula kepustakaan mengenai kepribadian, khususnya yang berhubungan dengan penentuan sifat-sifat manusia, dipe­riksanya dengan teliti, dan diperoleh sebanyak 650 sifat. Jumlah tersebut meningkat karena ditambah dengan variabel-variabel yang diperoleh dari observasi-observasi peneliti sendiri, dan ke­mudian berkurang lagi secara tajam setelah dimensi-dimensi yang tumpang-tindih digabungkan sedangkan dimensi-dimensi yang kurang penting dihilangkan. Akhirnya Sheldon dan teman­ teman sekerjanya mendapat 50 sifat yang mereka anggap men­cakup semua gejala spesifik yang dijelaskan oleh ke-650 sifat asli tersebut.

Langkah berikutnya adalah memilih suatu kelompok yang terdiri atas 33 subjek, sebagian terbesar adalah mahasiswa ­mahasiswa tingkat sarjana dan para dosen, yang diteliti selama satu tahun dengan cara observasi dalam kegiatan profesional mereka sehari-hari maupun dalam interviu klinis. Masing-masing subjek dinilai oleh peneliti menggunakan pengukur berskala 7 pada masing-masing dari ke-50 sifat, dan skor-skor hasilnya di­interkorelasikan dengan tujuan untuk menemukan gugus-gugus atau kelompok-kelompok  sifat yang terkorelasi secara positif yang dapat dianggap menunjukkan variabel dasar yang sama. Secara sembarang diputuskan bahwa agar daunt dimasukkan ke dalam suatu kelompok atau komponen, maka suatu sifat harus menunjukkan angka korelasi positif sekurang-kurangnya 0,60 dengan masing-masing sifat lain dalam kelompok dan harus menunjukkan angka korelasi negatif sekurang-kurangnya -0,30 dengan semua sifat yang terdapat pada kelompok-kelompok lain.

Komponen-Komponen Primer Tcmperamen

Hasil hasil analisis korelasi menunjukkan adanya tiga kelom­pok sifat utama yang mencakup 22 dari 50 sifat asli manusia. Kelompok pertama meliputi sifat-sifat: santai (relaxation), suka kenyamanan, gemar makan-makan, tergantung pada penerimaan orang lain, tidur nyenyak, membutuhkan orang lain bila menghadapi kesukaran. Sifat-sifat yang tergolong dalam kelompok  kedua meliputi sikap tegas (assertive), perkasa (energetic), kebu­tuhan untuk aktif, suka berterus terang, suara lantang, sifat tampang lebih tua daripada yang sebenarnya, kebutuhan untuk bertindak bila menghadapi kesukaran. Akhirnya, kelompok  sifat yang ketiga meliputi sifat serba terhambat, reaksi yang sangat cepat, kurang berani bergaul (sociofobia), kurang berani berbi­cara di depan orang banyak, kebiasaan tetap, suara kurang bebas, sulit tidur, bersemangat muda, kebutuhan untuk menyendiri bila menghadapi kesukaran.

Komponen pertama temperamen dinamakan viskerotonia. Individu yang tinggi dalam komponen ini memiliki ciri-ciri antara lain cinta atau suka akan kenyamanan, pergaulan, makanan, orang-orang, dan kasih sayang. Sikap tubuhnya santai, bereaksi pelan, ber­watak tenang, bersikap terbuka dalam pergaulan dengan orang orang lain, dan umumnya seorang yang mudah untuk diajak bergaul. Sheldon mengemukakan: “Kepribadian jenis ini tam­pannya berpusat di sekitar visnera atau organ-organ di dalam rongga perut. Sistem pencernaan makanan adalah rajanya, dan kemaslahatan sistem itu tampaknya merupakan tujuan hidup yang utama” (1944, hlm. 543).

Komponen kedua dinamakan somalotonia. Skor yang tinggi dalam komponen ini biasanya disertai dengan sifat-sifat suka petualangan fisik, suka mengambil risiko, sangat membutuhkan kegiatan otot dan fisik yang berat. Orang ini bersifat agresif, tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih mating dari sebenarnya, suka ribut, pemberani, dan mudah ta­kut bcrada dalam ruangan yang sempit dan tertutup (klaustro­fobia). Tindakan, kekuatan, dan kekuasaan sangat penting bagi orang sernacam ini.

Komponen ketiga dinamakan serebrotonia. Skor yang tinggi pada komponen menunjukkan sifat mengendalikan diri, menahan diri, suka menyembunyikan diri. Orang ini bersifat ter­tutup, pemalu, kelihatan muda, takut pada orang, dan paling su­ka berada di tempat-tempat yang sempit dan tertutup. Ia bereaksi luar biasa cepat, sukar tidur, dan senang menyendiri, khususnya kalau menghadapi kesukaran. Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Kotiga komponen umum itu, di susun dalam sebuah skala yang disebut Scale for Temperament, yakni suatu cara penilaian terinci untuk mendapatkan skor-skor pada masing-masing komponen primer. Dalam memanai Skala ter­sebut, Sheldon menganjurkan supaya sedapat mungkin: untuk mengamati subjek dengan teliti sekurang-kurangnya selama satu tahun dalam sebanyak mungkin situasi yang berbeda. Lakukanlah interview analitis terhadapnya sebanyak tidak kurang dari duapu­luh kali dengan cara yang paling cocok dengan situasi, dan dengan temperamen serta kepentingan dari kedua belah pihak. Setelah masing-masing interview ….ambillah lembar penskoran dan buat‑lah penilaian pada sebanyak mungkin sifat. Ulangilah pengamat­an, interview, dan revisi-revisi penilaian, sampai benar-benar puas bahwa seluruh 60 sifat telah dipertimbangkan dan dinilai secara memadai

NO

VISKEROTONIA

SOMATOTONIA

CEREBROTONIA

1.

Santai dalam postur dan gerak Tegas dalam postur  dan gerak Tertekan, kaku dalam postur dan gerak

2.

Senang dengan kenyamanan fisik Senang petualangan fisik Senang responsif secara fisik

3.

Reaksi lamban Gerak bertenaga Reaksi sangat cepat

4.

Senang makan Senang latihan fisik Senang berrahasia pribadi

5.

Senang kencan sebagai pengalaman sosial Senang menguasai, memiliki kekuatan Mental sangat intensif, perhatian berlebihan

6.

Senang pesta Senang mengambil resiko, mengejar peluang Tertekan secara emosional

7.

Senang ritual sosial dan upacara penuh aturan Senang bicara langsung pada permasalahan Tatapan mata yang tajam dan waspada

8.

Senang bergaul Senang berkelahi secara fisik Takut terlibat dalam kegiatan sosial

9.

Ramah, tidak membeda-bedakan orang Berkompetisi secara agresif Tidak tenang, tidak PD

10.

Haus kasih sayang dan penerimaan Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain Bertahan dengan kebiasaan dan rutinitas

11.

Berorientasi kepada orang lain Benci berada pada ruang tertutup Benci tempat yang bebas

12.

Emosi seimbang Kejam, tidak pilih-pilih Sikap dan tingkah laku yang tidak dapat diduga

13.

Toleran Tidak menahan suaranya Suaranya tertahan

14.

Puas dengan dirinya sendiri Tahan terhadap rasa sakit Peka dengan rasa sakit

15.

Tidur nyenyak Senang bersuara keras, ribut Sukar tidur, kelelahan kronis

16.

Tidak bertujuan, tidak mudah terangsang Tampil lebih tua dari usia sebenarnya Tampil lebih muda dari usianya

17.

Ekstravensi, tidak ada hambatan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain Ekstraversi, terpisah dari kesadaran, perhatian dan aksi berorientasi ke dunia luar Introvensi dalam perasaan dan perbuatan, orientasi ke kesadaran diri, kurang peduli terhadap lingkungan, penyesuaian diri

18.

Sosialis dan hangat bertambah saat mabuk alkohol Agresif dan keinginan berkuasa bertambah kuat ketika mabuk alkohol Tertekan, lelah, dan depresi bertambah kuat ketika mabuk alkohol

19.

Membutuhkan orang saat menghadapi masalah Membutuhkan aktivitas saat menghadapi masalah Butuh mengasingkan diri saat mengalami masalah

20.

Berorientasi pada hubungan masa kecil dan keluarga Berorientasi kepada tujuan dan aktivitas remaja Berorientasi kepada periode terakhir hidupnya

 

 

sumber :

Pathfinders of the Heart: The History of Cardiology at the Cleveland Clinic

Oleh William C. Sheldon, M.d.

goegle … teori kepribadian Wiliam sheldon….

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s