Teori belajar

PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR

Walaupun masalah perbedaan individual dalam pembelajaran dan memori kurang mendapatkan perhatian para ahli belajar, sejarah topik ini sudah berkembang sejak sebelum Masehi. Kira-kira 1000 sebelum Masehi, Cina sudah melalukan tes bakat untuk mendapatkan calon orang yang menduduki jabatan pemerintahan .

Di Eropa, walaupun tidak menekankan pentingnya masalah perbedaan individu- individu, pengukuran perbedaan individu pernah menjadi perhatian yang sangat besar pada sekitar tahun 1700 pada saat perkembangan agama Protestan, yang menekankan perbedaan individu dan ilmu pengetahuan yang ditekankan pada pengukuran. Barangkali yang mendorong ketertarikan terhadap perbedaan individu pada saat itu adalah perkembangan teori evolusi yang diasosiasikan dengan prinsip keragaman (variation). Kenyataannya, pengukuran perbedaan di antara indvidu dalam karakteristik psikologis dihubungkan dengan Sir Francis Galton, sepupu Darwin. Galton melakukan pengukuran “kemampuan intelektual” di Anthropometric Laboratory di London dengan cara mengukur, kekuatan handgrip (gerakan tangan), tes keterampilan motorik, dan mengukur keakuratan visual dan audio (penglihatan dan pendengaran).

Tes inteligensi modern dikembangkan oleh Alfred Binet pada tahun 1904 ataus permintaan ofisial sekolah Prancis. Binet diminta untuk membuat instrumen untuk mengetahui anak-anak yang paling lemah di sekolah Prancis. Secara umum tes yang dibuat oleh Binet lebih kompleks dari yang dibuat oleh Galton dan tidak terlalu menekankan pada karakteristik sensori dan keterampilan motorik. Ciri lain dari test Binet adalah bahwa respon yang diharapkan lebih praktis, dan ada satu skor untuk mencerminkan inteligensi individu.

 

Penelitian Tentang Perbedaan Individual

Perkembangan kajian tentang perbedaan individu telah banyak dikaitkan dengan perkembangan statistik dan teknologi komputer yang mampu menangani data dalam jumlah besar. Pengunann metode ini memang sudah banyak mendapatkan kritik karena perbedaan yang dilihat lebih cendrung bersifat kepribadian yang tidak cukup dijadikan dasar untuk melihat perbedaan individu. Jika ranah yang diteliti adalah kemampuan belajar, test yang dianalisis merupakan pengukuran penampilan didalam tugas dan paradigma yang berbeda. Begitu sebuah skor dasar diperoleh suatu teknik statistik yang dikenal dengan nama analisis faktor dari skor tes asli dapat digunakan untuk menjeneralisasikan karakter tertentu yang dikerjakan komputer.

Dari metode yang digunakan tersebut kelihatan ahli psikologi tertarik mendiskusikan perbedaan karakter individual yang dimulai dari pengukuran atau tes mental. Diharapkan tes ini akan konsisten dan reliabel, mengukur suatu trait, dan valid dalam arti mendekati indikator kehidupan yang sebenarnya. Validitas ini dapat dilihat dengan melakukan pengukuran dua kali atau melakukan tes yang sedikit berbeda dengan interval yang pendek antara yang pertama dan kedua. Jika skor dari tes pertama sama dengan skor pada tes kedua, maka tes tersebut dapat dikatakan terpercaya (reliable). Jika tidak ada korelasi antara tes pertama dan kedua, berarti ada sesuatu yang tidak beres, dan tes tersebut tidak reliabel.

 

Beberapa Perbedaan Individual Yang Penting di dalam Belajar dan Memori

Ada beberapa perbedaan individu yang penting di dalam belajar dan memori

diantaranya adalah :

a. Perbedaan inteligensi (intelligence).

Perbedaan ini diperoleh dengan melihat perbedaan inteligensi dengan menggunakan skor IQ. Pada tahun 1920 tes ini banyak digunakan di AS namun akhir-akhir ini tes ini dipandang sebagai sebuah instrumen yang melahirkan prasangka. Tes ini telah menimbulkan keraguan dalam kaitannya dengan apa yang diukur. Beberapa pakar melihat inteligensi tergambar dari kecepatan dan kemampuan belajar. Sementara itu yang lain memandang inteligensi tercermin dari tingkat kesulitan masalah yang harus dipecahkan oleh seseorang pada tingkat usia tertentu. Kadang-kadang, definisi tersebut malah lebih kabur, dan mencakup kapasitas global, berfikir rasional, kemampuan untuk menangani lingkungan secara efektif.

Penelitian tentang tingkatan belajar memberi indikasi bahwa berbagai faktor perlu dilihat untuk meramalkan tingkat pembelajaran seseorang. Faktor-faktor tersebut mencakup jenis-jenis pembelajaran seperti keterampilan motorik, belajar verbal, belajar konsep dan lain-lain, ringkasnya karena tidak adanya kemampuan belajar yang diukur, maka skor IQ tidak dapat diinterprestasikan sebagai pencerminan dari kemampuan belajar. Kenyataan seseorang belajar lebih cepat dari yang lain tidak dapat dijadikan indikasi bahwa orang itu akan berbeda dalam menghadapi suatu tugas.

Skor IQ sangat berhubungan dengan pengukuran dan pembelajaran di sekolah. Tes yang dilakukan oleh Binet masih efektif didalam menemukan anak yang memiliki kesulitan dalam tingkat pembelajaran tertentu dalam sekolah tradisional. Namun kita  harus ingat bahwa kenyataan ini tidak mencerminkan tingkat inteligensi, tapi ini lebih mencerminkan faktor kausal yang menentukan tingkat prestasi belajar. Sehingga ada yang menyatakan bahwa semakin tinggi prestasi seseorang anak di sekolah semakin tinggi skor tes IQ nya. Semakin tinggi skor tes IQ seorang anak akan semakin tinggi prestasi belajarnya disekolah. Sehingga banyak ahli psikologi yang mempertanyakan tentang skor IQ saja yang dijadikan dasar melihat inteligensi seseorang.

b. Gaya kognitif (cognitive style).

Bakat dapat dilihat sebagai yang menentukan tingkat penampilan intelekfual, sementara gaya kognitif (cognitive style) mengacu ke cara penampilan tersebut atau bagaimana seseorang menyerang dan menentang tugas-tugas intelektual tsrsebut. Umpamanya seseorang berbeda di dalam kecendrungannya terhadap suatu moralitas sensori, atau kemampuan belajar dari modalitas sensori tersebut. Seseorang barangkali belajar lebih baik melalui materi tertulis, sementara yang lain belajar lebih banyak dari proses mendengar terhadap isi materi yang sama. Orang yang lebih lambat dari rata-rata dan yang membuat banyak kesalahan, dari rata-rata dikategorikan sebagai orang yang reflective, sementara orang yang skorya diatas rata-rata didalam kecepatan memberi respon dan dalam jumlah kesalahan diklasifikasikan sebagai orang yang impulsive. Penelitian dalam |hal ini sebagian besar berfokus pada anak-anak sekolah dasar. Pada usia tersebut ditemukan anak-anak yang reflective cenderung mendapatkan skor yang tinggi didalam inteligensi, sementara anak yang rendah skor inteligensinya cenderung bersifat impulsive.

c. Strategi belajar

Didalam hal strategi belajar perbedaan individu lebih cenderung bersifat global yang mempengaruhi pembelajaran. Hal ini sangat penting dalam menentukan penampilan seseorang dalam tugas tertentu dan dalam menentukan strategi yang digunakan dalam melakukan tugas tersebut.

d. Kemampuan memori ( Memory Ability)

Manusia tidak hanya berbeda didalam hal mendapatkan informasi tetapi juga dalam hal menyimpan dan mempertahankan informasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu banyak ahli yang mengukur kemampuan memori ini dengan mengkaitkan dengan inteligensi. Salah satu dari penelitian itu adalah oleh sebuah tim yang diketuai oleh Earl Hunt. Penelitian mereka, pada dasamya, kelihatan melihat fungsi memori. Mereka menemukan bahwa kemampuan verbal yang tinggi mengisyaratkan keefesienan short-term memory (memori jangka pendek). Selain itu mereka menemukan bahwa kemampuan kuantitatif yang tinggi mengisyaratkan tingginya ketahanan seseorang untuk lupa karena suatu gangguan.

Hasil penelitian ini menarik karena tes inteligensi dan tugas kognitif yang digunakan agak berbeda dari yang diperlakukan didalam apa yang dilakukan oleh subjek. Pada dasarnya tes ini mengangkat isi memori jangka panjang. Sebaliknya tugas kognitif sangat tergantung pada tingkat pemilikan informasi didalam memori jangka pendek . Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan ada orang yang memilik kemampuan memori yang luar biasa, dan jumlah ini sangat sedikit Sekurang-kurangnya ada dua kelompok orang yang seperti ini telah diteliti oleh ahli psikologi. salah satu yang dua tersebut mengganggu pada VP yang diuji berdasarkan tugas yang sudah dibicarakan terdahulu.

Kedua adalah S yang dikenal dengan “mnemonist” yang telah diteliti selama lebih dari dua puluh lima tahun. Keduanya baik VP dan S mempunyai kemampuan memori yang luar biasa, namun mereka memperlihatkan perbedaan cara. Umpamanya mereka sama dalam mengingat angka, tetapi yang satu lebih cepat mengingat angka yang dibaca terbalik atau dari belakang, VP dilaporkan memiliki kemampuan imajinasi yang rendah dan gagal mengerjakan tes yang menghendaki pemanfaatan imajinasi.

 

Interaksi Treatment dengan Atribut (Attribute-by-Treatment -Interaction/ ATI)

Seorang pelajar akan melakukan tugasnya dengan lebih baik didalam materi yang memiliki karakter yang cocok dengan karakter pelajar itu sendiri dari pada yang tidak cocok. Komponen dari ATI adalah sebagai berikut:

* Atributte yang mengacu pada perbedaan pengukuran individu si pelajar.

Treatment yang dapat diinterprestasikan ke alat, metode dan program yang digunakan pengajaran atau kelas tradisional.

Interaction yakni elemen yang mempunyai makna statistik yang berkaitan dengan makna kata secara umum. Dalam hal ini interaction bermakna bahwa pengaruh perlakuan tertentu berbeda didalam tipe pelajar yang berbeda, yang berarti pelajar mempunyai atibut yang berbeda.

sumber :

Henry, C. Ellis. 1978. Foundamentals Of Human Learning, Memory and Cognition (2nd Edition). Iowa: Wm. C. Brown Company Publisher

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s