Pendekatan Konseling

TEORI KEPRIBADIAN WILLIAM SHELDON

Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani psikolog dapat menemukan satuan-satuan konstan, sub‑sub struktur kokoh yang sangat dibutuhkan untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi tentang tingkah laku manusia. Semua ini tersirat dalam pernya­taan berikut:

Sudah menjadi semakin jelas bahwa situasi memerlukan suatu psikologi yang berorientasi biologis, atau yang mcngambil sebagai kerangka acuan operasionalnya, suatu gambaran struktur (beserta tingkah laku) organisme manusia sendiri yang dapat di pertahankan secara ilmiah. Mungkin dapat dikatakan juga bahwa psikologi membutuhkan antropologi jasmani sebagai pendukung dasarnya yang langsung. Lebih dari itu, psikologi membutuhkan antropologi jasmani yang disampaikan dalam bentuk komponen-komponen atau  variabel-variabel yang dapat diukur dan dikuantifikasikan baik dari segi struktur dan tingkah lakunya — dus, segi antropologis dan segi psikologisnya dalam rangka kesinambungan struktur ­tingkah laku, yakni kepribadian manusia (Sheldon, 1949, him. XV).

      1. STRUKTUR JASMANI

Sesuai dengan pendekatan kebanyakan psikolog konstitusi lain, Sheldon berusaha menentukan dan menciptakan ukuran­-ukuran yang cocok untuk berbagai komponen jasmaniah tubuh manusia. Perlu disadari bahwa ia tidak hanya mencari sarana untuk mengklasifikasikan atau menggambarkan ragam jasmani. Tujuannya jauh lebih ambisius  menciptakan sebuah “label identifikasi biologis” (biological identification tag). Sheldon beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Ia yakin juga bahwa ada kemungkinan memperoleh sekedar gambaran tentang faktor-faktor ini melalui serangkaian pengukuran yang didasarkan pada jasmani. Dalam pandangannya ada sejenis struktur biologis hipotetis (morfogeno­tipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati (fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam me­nentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam membentuk tingkah laku. Somatotype merupakan suatu usaha untuk mengukur morfogenotipe, meskipun tujuan ini harus didekati secara tak langsung, dan penjabarannya harus didasarkan pada hasil-hasil pengukuran fenotipe (jasmani).

Di sini kita akan membicarakan pendekatan Sheldon mengukur aspek-aspek jasmaniah individu, dan, selanjutnya kita akan membahas usaha-usahanya untuk menentukan kompo­nen-komponen terpenting yang menjadi dasar tingkah laku.

a)      Dimensi -dimensi Jasmaniah

Untuk menciptakan tipologi atau mengukur jasmani, Sheldon memulai usahanya secara induktif yaitu dengan menggunakan teknik fotografi untuk mengambil gambar-gambar foto individu-individu dari depan, samping, dan dari belakang berpose dalam posisi tertentu di depan latar belakang tertentu yang baku. Cara ini disebut Somatotype Per­formance Test dan dijelaskan secara rinci dalam Atlas of men, karangan Sheldon (1954). Dalam penelitian pentingnya yang pertama tentang jas­mani manusia, Sheldon mengumpulkan kira-kira 4000 foto baku mahasiswa. Foto-foto ini kemudian diperiksa dengan teliti oleh sejumlah penilai dengan tujuan menemukan variabel-variabel pokok yang menjelaskan atau merupakan dasar variasi jasmani. Setiap ciri yang diduga merupakan suatu komponen primer, se­gera dinilai berdasarkan kriteria berikut: (1) Mungkinkah meng­urutkan 4000 subjek tersebut berdasarkan ciri ini?, (2) Dapatkah penilai penilai itu secara terpisah mencapai kesepakatan dalam mengurutkan gambar-gambar fisik tersebut berdasarkan ciri ini?, (3) Tidak mungkinkah menjelaskan variabel ini berdasar­kan kombinasi variabel-variabel tertentu lain yang telah berhasil ditentukan sebelumnya?

1)      Komponen-Komponen Primer Jasmani

Setelah lama memeriksa dan menilai dengan teliti foto-foto ini, Sheldon dan kawan-kawannya mengambil kesimpulan bahwa selain tiga dimensi yang telah ditemukan, kiranya tidak ada lagi kemungkinan untuk menemukan komponen-komponen baru. Ketiga dimensi ini menjadi inti teknik pengukuran struktur jasmaniah tubuh, dan usaha menggambarkan serta mengukur secara teliti ketiga dimensi tersebut memenuhi tahap selanjutnya dalam kegiatan penelitian Sheldon.

Komponen pertama adalah endomorfi. Individu yang kom­ponen endomorfinya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah kelihatan lembek dan bulat. Sesuai dengan sifat lembek dan bulat ini, tulang dan ototnya kurang berkembang, serta per­bandingan antara tinggi dan berat badannya relatif rendah. Orang yang demikian itu memiliki berat jenis rendah dan mudah mengapung di air. Karena alat-alat pencernaan berkembang dengan baik dalam jenis tubuh ini sedangkan unsur-unsur fung­sional dari struktur-struktur itu pun pertama-tama berkembang dari lapisan embrionik endodermal, maka digunakanlah istilah endomorfi.

Komponen kedua adalah mesomorfi. Jasmani yang berkem­bang dengan baik dalam komponen ini, dan yang merupakan nilai tengah antara kedua komponen lainnya, adalah keras dan persegi, dengan tulang dan otot-otot yang menonjol. Tubuh mesomorfik demikian ini adalah kokoh, keras, tahan sakit, dan umumnya tahan melakukan pekerjaan yang berat dan membu­tuhkan energi. Olahragawan, pengelana, tentara profesional yang terbaik memiliki tipe jasmani ini. Bagian-bagian yang do­minan dari jenis tubuh ini terutama berasal dari lapisan embrio­nik mesodermal, karena itu disebut mesomorfik.

Komponen ketiga disebut ektomorfi. Individu yang berada pada ekstrem atas pada komponen ini dan pada ekstrem bawah di kedua komponen lainnya, berciri jangkung, rapuh, berdada pipih dan bertubuh halus. Ia biasanya kurus dan kurang berotot. Seorang ektomorf memiliki lebih banyak bagian tubuh yang rata dibandingkan kedua tipe fisik lainnya; tubuhnya lebih tampak rata daripada gempal. Ia juga memiliki otak dan sistem saraf pu­sat yang terbesar dibandingkan dengan besar keseluruhan tubuh­nya. Atas alasan tersebut, maka Sheldon berpendapat bahwa tipe fisik ini lebih banyak terbentuk dari jaringan-jaringan yang berasal dari lapisan embrionik ektodermal dibandingkan kedua tipe jasmani lainnya. Karena banyaknya bagian-bagian tubuh yang rata, seorang ektomorf terlalu banyak terkena stimulasi dari luar. Inilah tipe jasmani yang paling lemah untuk bersaing dan bertahan secara fisik.

Somatotipe merupakan suatu kompromi antara morfo­genotipe dan fenotipe. Somatotipe lebih dari sekedar jasmani se­seorang sekarang, tetapi jelas kurang dari struktur tubuh yang ditentukan secara biologis terlepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan. Sheldon mengemukakan bahwa apabila kita sungguh-sungguh ingin memperoleh perkiraan yang sebaik-baiknya tentang morfogenotipe, maka secara ideal kita tidak hanya perlu memiliki sejarah lengkap individu yang bersangkutan, tetapi juga catatan. tentang nenek moyang dan keturunannya. Selan­jutnya, foto-foto somatotipe harus diambil secara teratur pada waktu yang berlainan sepanjang hidup individu di samping pengenaan tes biologis sebanyak diperlukan. Tentu saja, prosedur yang biasa atau sederhana dalam penetapan somatotipe tidak pernah mencapai yang ideal itu; tetapi diandaikan ia menuju ke arah ini dan meninggalkan cara lama berupa pembuatan deskripsi sederhana dan statik tentang keadaan jasmani sekarang. Selaras dengan pandangan ini adalah definisi Sheldon tentang somatotipe:

Menurut definisi, somatotipe adalah prediksi tentang suksesi feno­tipe fenotipe di masa mendatang yang akan ditampilkan oleh seseorang yang hidup, apabila makanan tetap merupakan faktor konstan, atau kalaupun berubah masih dalam batas-batas normal. Kami mendefinisikan somatotipe secara lebih formal sebagai lin­tasan atau jalur yang akan ditempuh oleh organisme hidup dalam kondisi-kondisi makanan baku dan dalam keadaan bebas dari, patologi yang sangat mengganggu (1954, him. 19).

2)      Komponcn-komponen Sekunder

Salah satu komponen sekunder yang terpenting adalah displasia. Istilah yang dipinjam dari Kretschmer ini digunakan Sheldon untuk menyebut “Suatu campuran ketiga komponen primer yang tidak nonsisten atau tidak seimbang dalam ber­bagai daerah tubuh” (1940, hlm. 68). Jadi, displasia merupakan ukuran ketidakharmonisan antara berbagai daerah jasmani, misalnya, antara kepala dan leher dari salah satu somatotipe atau antara lengan-lengan kaki dari somatotipe lainnya.. Ukuran displasia didapat dengan cara menetapkan somatotipe kelima daerah tubuh dan menjumlahkan porbedaan-perbedaan masing-masing komponen di antara kelima daerah tubuh itu. De­ngan kata lain, displasia merupakan besarnya perbedaan somatotipe dihitung untuk masing-masing dari kelima daerah tubuh. Orang dapat menghitung skor-skor displasia tersendiri untuk masing-masing dari tiga komponen dan dapat juga menghitung satu skor total. Penemuan pendahuluan menunjukkan bahwa ada lebih banyak displasia berhubungan dengan komponen ektomorfik daripada dengan masing-masing dari dua komponen lain,. dan juga lebih banyak displasia diamati pada jasmani wanita dibandingkan pada jasmani prin. Sheldon (1940) juga melaporkan bahwa terdapat lebih banyak displasia di kalangan penderita psikosis dari pada di kalangan mahasiswa.

Suatu komponen sekunder lain disebut ginandromorfi. Komponen ini menunjukkan sejauh manakah jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada lawan jenis, dan disebut “indeks g”. Seorang pria yang komponen ginandromorfinya tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, pelvis lebar, panggul besar, dan sifat-sifat feminin lain, seperti bulu mata yang panjang dan raut wajah yang ramping. Secara teoretis rentangan variabel ini berkisar antara 1, yang menunjukkan tidak adanya sifat-sifat lawan jenis, sampai 7, yakni hermafroditisme. Dalam penelitian­nya mengenai kenakalan/kejahatan, Sheldon (1949) membeda­kan antara ginandromorfisme primer dan ginandromorfisme sekunder. Ginandromorfisme primer adalah jasmani sebagaimana “dilihat dari jauh” atau sebagaimana disimpulkan dari foto so­matotipe. Ginandromorfisme sekunder disimpulkan berdasarkan suatu pemeriksaan fisik atau observasi langsung terhadap orangnya dan meliputi gerak fisik, suara, serta ekspresi wajahnya.

3)      Menetapkan Somatotipe Wanita

Bagian terbesar dari penelitian awal tentang dimensi-di­mensi fisik Sheldon dilakukan pada subjek pria. Jelas bahwa da­lam masyarakat kita, sanksi-sanksi terhadap penelitian tubuh telanjang- manusia lebih keras pada wanita daripada pria.  Ka­rena itu sangat wajar bila karya awal di bidang ini telah dilakukan dengan subjek laki-laki. Dalam bukunya yang pertama tentang jasmani, Sheldon (1940) menegaskan bahwa bukti yang tersedia pada waktu itu menunjukkan bahwa 76 somatotipe yang berhasil diamati di kalangan rupanya terjadi juga di kalangan wanita, meskipun barangkali frekuensi-frekuensinya berbeda. Ia juga mengemukakan bahwa endomorfi, dan kombinasi antara endomorfi dan Entomorfi, lebih umum terdapat di kalangan wanita; sedangkan mesomorfi, dan kombinasi antara mesomorfi dan endomorfi, lebih umum terdapat di ka­langan pria.

Sheldon (1954) melaporkan bahwa sejumlah besar peneliti­an telah dilakukan dalam bidang penetapan somatotipe wanita, dan bahwa “Atlas of Women” akan diterbitkan dalam waktu yang akan datang. Temuan-temuan lebih luas yang kini dimilikinya meneguhkan observasinya yang terdahulu bahwa jasmani wanita jauh lebih endomorfik daripada jasmani pria. Ia juga menunjukkan bahwa pada wanita jumlah ragam pada masing-masing komponennya lebih kecil dibandingkan pada laki-laki; walaupun demiklan, ada sejumlah kecil somatotipe wanita yang tidak padanannya dalam rangkaian somatotipe laki-laki.

4)      Konstansi Somatotipe

Salah satu hal di mana pendapat umum dan generalisasi-ge­neralisasi teoretikus konstitusi berbeda adalah menyangkut sejauh manakah klasifikasi atau deskripsi yang didasarkan pada hasil-hasil pengukuran objektif atas jasmani dapat diharapkan tetap konstan. Perubahan-perubahan lazim karena usia dan va­riasi makanan bagi kebanyakan orang kira nya merupakan bukti kuat tentang sifat bisa berubahnya somatotipe. Akan tetapi Sheldon, dalam tulisan-tulisan awalnya, sepaham dengan para psikolog konstitusi yang lain berkeyakinan kuat bahwa “… rupa­nya tidak ada perubahan makanan yang dapat mengubah ukuran ­ukuran seseorang dengan somatotipe tertentu menjadi sama dengan ukuran-ukuran orang dengan somatotipe lain” (1944, hlm. 540). Ada kemungkinan bahwa faktor-faktor makanan menimbulkan perubahan pada ukuran-ukuran individu, tetapi semua itu tidak akan mengubah somatotipe yang sebenarnya.

Sheldon mengemukakan bahwa sama seperti seekor anjing penjaga yang kelaparan tidak akan menjadi anjing pudel, demi­kian juga mesomorf yang kelaparan. tidak akan menjadi ekto­morf. Hanya dalam penyakit-penyakit tertentu, seperti akromegalia dan penyakit lemah otot, struktur tubuh benar-benar ­berubah, namun gangguan-gangguan serupa itu dapat segera diketahui melalui pemeriksaan dan karenanya tak perlu meng­akibatkan perubahan-perubahan yang tak terduga pada soma­totipe. Konstansi somatotipe ternyata begitu umum sehingga Sheldon berpendapat bahwa bahkan indeks displasia pun tidan berubah mengikuti perubahan berat badan.

Tetapi kemudian, Sheldon (1954) tampaknya mengubah, atau setidak-tidaknya mengembangkan pandangan-pandangan­nya mengenai konstansi somatotipe. Gambaran lama tentang somatotipe yang diperoleh dari tiga foto baku yang kebal terhadap perubahan lingkungan telah diganti oleh suatu konsepsi yang lebih umum dan eksplisit yang menyatakan bahwa somatotipe harus ditetapkan berdasar­kan serangkaian foto yang diambil secara berturut-turut sesuai dengan sejarah individu dan membuka pertanyaan tentang sejauh manakah somatotipe ini dapat diubah. Pendirian Sheldon mengenai topik ini teringkas dengan baik dalam kutipan berikut:

Apakah somatotipe itu memiliki tingkat kehandalan (atau pre­diktabilitas) karena dalam praktiknya somatotipe sungguh-sungguh diukur? Maksudnya, apabila kita harus menggantungkan diri ha­nya pada dua atau tiga sajian fenotipe orang dewasa, dan sebuah sejarah yang memadai, dapatkah kita menetapkan somatotipe pre­diktif yang sungguh-sungguh akan “menjadi kenyataan”? Bebe­rapa orang akan menjawab pertanyaan itu secara afirmatif, takut bahwa suatu jawaban lain dapat menimbulkan ketidakpuasan di kalangan “para determinis lingkungan”, yang segelintir di antara­nya mungkin hampir yakin, sebagaimana mereka nyatakan, bahwa somatotipe “tidak lain daripada makanan”. Namun hanya suatu penelitian longitudinal yang baik, yang dilakukan sekurang-ku­rangnya selama satu jangka hidup manusia, akan membuktikan dengan baik kebenaran jawaban semacam itu (1954, hlm. 20).

Baru-baru ini ia menyajikan ikhtisar-ikhtisar pendek tentang berbagai penelitian (Sheldon, Lewis, dan Tenney, 1969) yang menyajikan bukti tentang stabilitas temporal “Trunk In­dex”. Mengingat peranan sentral dari TI dalam menentukan so­matotipe dalam prosedur Sheldon yang telah dimodifikasi, maka tidak mengherankan bahwa ia sekali lagi menegaskan sifat so­matotipe yang tidak berubah. Terlalu cepat bagi peneliti-peneliti lain untuk sudah bisa memeriksa konstansi somatotipe jika somatotipe itu ditentukan dengan teknik Sheldon yang baru.

2.     Analisis Tingkah Laku (Kepribadian)

Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek ­aspek jasmaniah tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau meminjam suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini, Sheldon mulai dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel lahiriah yang dapat di pakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik se­mua itu terdapat sejumlah kecil komponen dasar yang diharap­kan dapat menjelaskan segala kompleksitas dan varitas lahiriah tersebut. Mulailah ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen-komponen dasar ini dengan mengambil hikmah dari penelitian-penelitian kepribadian di masa lampau dan menggabungnannya dengan pengetahuan klinis dan pengalaman induktifnya sendiri.

Dimensi-Dimensi Temperamen

Mula-mula kepustakaan mengenai kepribadian, khususnya yang berhubungan dengan penentuan sifat-sifat manusia, dipe­riksanya dengan teliti, dan diperoleh sebanyak 650 sifat. Jumlah tersebut meningkat karena ditambah dengan variabel-variabel yang diperoleh dari observasi-observasi peneliti sendiri, dan ke­mudian berkurang lagi secara tajam setelah dimensi-dimensi yang tumpang-tindih digabungkan sedangkan dimensi-dimensi yang kurang penting dihilangkan. Akhirnya Sheldon dan teman­ teman sekerjanya mendapat 50 sifat yang mereka anggap men­cakup semua gejala spesifik yang dijelaskan oleh ke-650 sifat asli tersebut.

Langkah berikutnya adalah memilih suatu kelompok yang terdiri atas 33 subjek, sebagian terbesar adalah mahasiswa ­mahasiswa tingkat sarjana dan para dosen, yang diteliti selama satu tahun dengan cara observasi dalam kegiatan profesional mereka sehari-hari maupun dalam interviu klinis. Masing-masing subjek dinilai oleh peneliti menggunakan pengukur berskala 7 pada masing-masing dari ke-50 sifat, dan skor-skor hasilnya di­interkorelasikan dengan tujuan untuk menemukan gugus-gugus atau kelompok-kelompok  sifat yang terkorelasi secara positif yang dapat dianggap menunjukkan variabel dasar yang sama. Secara sembarang diputuskan bahwa agar daunt dimasukkan ke dalam suatu kelompok atau komponen, maka suatu sifat harus menunjukkan angka korelasi positif sekurang-kurangnya 0,60 dengan masing-masing sifat lain dalam kelompok dan harus menunjukkan angka korelasi negatif sekurang-kurangnya -0,30 dengan semua sifat yang terdapat pada kelompok-kelompok lain.

Komponen-Komponen Primer Tcmperamen

Hasil hasil analisis korelasi menunjukkan adanya tiga kelom­pok sifat utama yang mencakup 22 dari 50 sifat asli. Kelompok pertama meliputi sifat-sifat: santai (relaxation), suka kenyamanan, gemar makan-makan, tergantung pada penerimaan orang lain, tidur nyenyak, membutuhkan orang lain bila menghadapi kesukaran. Sifat-sifat yang tergolong dalam kelompok  kedua meliputi sikap tegas (assertive), perkasa (energetic), kebu­tuhan untuk aktif, suka berterus terang, suara lantang, sifat tampang lebih tua daripada yang sebenarnya, kebutuhan untuk bertindak bila menghadapi kesukaran. Akhirnya, kelompok  sifat yang ketiga meliputi sifat serba terhambat, reaksi yang sangat cepat, kurang berani bergaul (sociofobia), kurang berani berbi­cara di depan orang banyak, kebiasaan tetap, suara kurang bebas, sulit tidur, bersemangat muda, kebutuhan untuk menyendiri bila menghadapi kesukaran.

Komponen pertama temperamen dinamakan viskerotonia. Individu yang tinggi dalam komponen ini memiliki ciri-ciri antara lain cinta atau suka akan kenyamanan, pergaulan, makanan, orang-orang, dan kasih sayang. Sikap tubuhnya santai, bereaksi pelan, ber­watak tenang, bersikap terbuka dalam pergaulan dengan orang orang lain, dan umumnya seorang yang mudah untuk diajak bergaul. Sheldon mengemukakan: “Kepribadian jenis ini tam­pannya berpusat di sekitar visnera atau organ-organ di dalam rongga perut. Sistem pencernaan makanan adalah rajanya, dan kemaslahatan sistem itu tampaknya merupakan tujuan hidup yang utama” (1944, hlm. 543).

Komponen kedua dinamakan somalotonia. Skor yang tinggi dalam komponen ini biasanya disertai dengan sifat-sifat suka petualangan fisik, suka mengambil risiko, sangat membutuhkan kegiatan otot dan fisik yang berat. Orang ini bersifat agresif, tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih mating dari sebenarnya, suka ribut, pemberani, dan mudah ta­kut bcrada dalam ruangan yang sempit dan tertutup (klaustro­fobia). Tindakan, kekuatan, dan kekuasaan sangat penting bagi orang sernacam ini.

Komponen ketiga dinamakan serebrotonia. Skor yang tinggi pada komponen menunjukkan sifat mengendalikan diri, menahan diri, suka menyembunyikan diri. Orang ini bersifat ter­tutup, pemalu, kelihatan muda, takut pada orang, dan paling su­ka berada di tempat-tempat yang sempit dan tertutup. Ia bereaksi luar biasa cepat, sukar tidur, dan senang menyendiri, khususnya kalau menghadapi kesukaran. Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Kotiga komponen umum itu, di susun dalam sebuah skala yang disebut Scale for Temperament, yakni suatu cara penilaian terinci untuk mendapatkan skor-skor pada masing-masing komponen primer. Dalam memanai Skala ter­sebut, Sheldon menganjurkan supaya sedapat mungkin: untuk mengamati subjek dengan teliti sekurang-kurangnya selama satu tahun dalam sebanyak mungkin situasi yang berbeda. Lakukanlah interview analitis terhadapnya sebanyak tidak kurang dari duapu­luh kali dengan cara yang paling cocok dengan situasi, dan dengan temperamen serta kepentingan dari kedua belah pihak. Setelah masing-masing interview ….ambillah lembar penskoran dan buat‑lah penilaian pada sebanyak mungkin sifat. Ulangilah pengamat­an, interview, dan revisi-revisi penilaian, sampai benar-benar puas bahwa seluruh 60 sifat telah dipertimbangkan dan dinilai secara memadai (1942, him. 27). 

 

Scale for Temperament

NO

VISKEROTONIA

SOMATOTONIA

CEREBROTONIA

1.

Santai dalam postur dan gerak Tegas dalam postur  dan gerak Tertekan, kaku dalam postur dan gerak

2.

Senang dengan kenyamanan fisik Senang petualangan fisik Senang responsif secara fisik

3.

Reaksi lamban Gerak bertenaga Reaksi sangat cepat

4.

Senang makan Senang latihan fisik Senang berrahasia pribadi

5.

Senang kencan sebagai pengalaman sosial Senang menguasai, memiliki kekuatan Mental sangat intensif, perhatian berlebihan

6.

Senang pesta Senang mengambil resiko, mengejar peluang Tertekan secara emosional

7.

Senang ritual sosial dan upacara penuh aturan Senang bicara langsung pada permasalahan Tatapan mata yang tajam dan waspada

8.

Senang bergaul Senang berkelahi secara fisik Takut terlibat dalam kegiatan sosial

9.

Ramah, tidak membeda-bedakan orang Berkompetisi secara agresif Tidak tenang, tidak PD

10.

Haus kasih sayang dan penerimaan Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain Bertahan dengan kebiasaan dan rutinitas

11.

Berorientasi kepada orang lain Benci berada pada ruang tertutup Benci tempat yang bebas

12.

Emosi seimbang Kejam, tidak pilih-pilih Sikap dan tingkah laku yang tidak dapat diduga

13.

Toleran Tidak menahan suaranya Suaranya tertahan

14.

Puas dengan dirinya sendiri Tahan terhadap rasa sakit Peka dengan rasa sakit

15.

Tidur nyenyak Senang bersuara keras, ribut Sukar tidur, kelelahan kronis

16.

Tidak bertujuan, tidak mudah terangsang Tampil lebih tua dari usia sebenarnya Tampil lebih muda dari usianya

17.

Ekstravensi, tidak ada hambatan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain Ekstraversi, terpisah dari kesadaran, perhatian dan aksi berorientasi ke dunia luar Introvensi dalam perasaan dan perbuatan, orientasi ke kesadaran diri, kurang peduli terhadap lingkungan, penyesuaian diri

18.

Sosialis dan hangat bertambah saat mabuk alkohol Agresif dan keinginan berkuasa bertambah kuat ketika mabuk alkohol Tertekan, lelah, dan depresi bertambah kuat ketika mabuk alkohol

19.

Membutuhkan orang saat menghadapi masalah Membutuhkan aktivitas saat menghadapi masalah Butuh mengasingkan diri saat mengalami masalah

20.

Berorientasi pada hubungan masa kecil dan keluarga Berorientasi kepada tujuan dan aktivitas remaja Berorientasi kepada periode terakhir hidupnya

Faktor-faktor yang Menjembatani Hubungan Antara Jasmani dan Temperamen

Di sini kita menerima adanya hubungan antara aspek­-aspek jasmani dan aspek-aspek berbagai atribut tingkah laku penting, dan akan menyelidiki apakah yang menimbulkan keco­cokan yang mencolok ini. Orang dapat menerangkan bahwa individu yang memiliki tipe jasmani tertentu akan menemukan cara-cara bertingkah laku tertentu yang sangat efektif, sedangkan individu yang memiliki tipe jasmani lain akan merasa perlu menggunakan cara-cara bertingkah laku lain. Konsepsi ini me­nunjukkan bahwa keberhasilan atau hadiah yang menyertai suatu cara bertingkah laku tertentu tidak hanya ditentukan oleh lingkungan tempat tingkah laku itu berlangsung, tetapi juga oleh macam pribadi (tipe jasmani) orang yang melakukannya. Indi­vidu dengan tubuh ektomorfik yang rapuh tidak akan berhasil memakai cara-cara yang penuh gertakan, agresif, dan serba menguasai dalam berhubungan dengan kebanyakan orang, sedangkan ini mungkin dapat dilakukan oleh seorang mesomorf yang berbadan besar. Selanjutnya, anak yang berperut kecil, atau memiliki ambang rasa sakit rendah, bisa merasakan pengalaman-pengalaman khas yang berbeda secara mencolok dari pengalaman-pengalaman khusus yang dirasakan oleh individu ­individu dengan sifat-sifat jasmani lain. Dengan memiliki jas­mani tertentu dan lingkungan yang normal, maka individu akan menemukan bahwa tipe-tipe respon tertentu secara relatif lebih sering, dihadiahi, sedangkan tipe-tipe respon tertentu lainnya biasanya dihukum. Ini berarti bahwa individu akan mengem­bangkan pola-pola tingkah laku yang akan memperlihatkan kesamaan dengan tingkah laku orang lain, yang memiliki rangkaian pengalaman yang sama karena memiliki tipe jasmani yang sama.

Pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh jasmani pada tingkah laku dapat bersifat langsung atau tak langsung. Tinggi, berat, dan sifat-sifat jasmani serup a secara langsung dan tanpa perlu diragukan lagi membatasi cara seseorang berharap dapat bertingkah laku secara sesuai dalam lingkungan tertentu. Tambahan pula, memiliki tipe jasmani tertentu membuka kemung­kinan seorang individu akan merasakan tipe-tipe pengalaman lingkungan tertentu, sedangkan tipe jasmani lainnya biasanya akan mengarahkan seseorang pada sekumpulan pengalaman yang sangat berbeda. Misalnya, umum diketahui (McNeil clan Livson, 1963) bahwa wanita yang bertubuh ramping (linear) lebih lambat mencapai kematangan fisiologis daripada gadis­-gadis yang bertubuh kurang ramping, dan saat seorang individu menjadi matang dan dewasa jelas merupakan suatu perkara yang sangat penting secara psikologis.

Kemungkinan lain ialah bahwa hubungan antara jasmani dan temperamen ditentukan oleh stereotip-stereotip yang dite­rima umum atau nilai stimulus sosial dalam masyarakat setem­pat tentang jenis-jenis tingkah laku yang dianggap sesuai untuk individu-individu dengan tipe-tipe jasmani yang berbeda. Jadi, dapat dikatakan bahwa individu dengan tipe jasmani tertentu  menempati suatu peranan sosial yang meliputi sejumlah ketun­tuan tingkah laku, dan dalam keadaan biasa individu tersebut akan tunduk pada ketentuan-ketentuan ini. Harapan-harapan dari masyarakat akan menyebabkan individu dengan jasmani tertentu memperlihatkan pola-pola tingkah laku tertentu, dan tingkah laku ini cenderung akan ditiru oleh individu-individu yang memiliki tipe jasmani yang sama dan yang terkena oleh harapan-harapan yang sama. Perumusan ini tidak menerangkan asal-usul stereotip dan juga tidak berbicara apa-apa tentang individu yang jasmaninya bertipe madya dan tidak cocok dengan stereotip yang lazim.

Cara lain lagi untuk menerangkan hubungan antara jas­mani dan temperamen adalah bahwa pengalaman terhadap pe­ngaruh-pengaruh lingkungan cenderung menghasilkan tipe-tipe jasmani tertentu dan sekaligus menimbulkan kecenderungan­-kecenderungan tingkah laku tertentu. Jadi, dapat dikatakan bahwa anak yang diasuh oleh seorang ibu yang terlalu melindungi akan menyebabkan anak cenderung menjadi gemuk dan sekali­gus akan menghasilkan sifat-sifat kepribadian tertentu. Apabila kita mengakui temuan Landauer dan Whiting (1964) tentang hubungan antara pengalaman awal yang traumatik dan bentuk tubuh yang besar pada orang dewasa dan juga yakin bahwa pengalaman-pengalaman awal ini membentuk tingkah laku, maka kita sekali lagi akan menemukan hubungan antara sifat-sifat jasmaniah dan sifat-sifat kepribadian. Garis pemikiran hanya mengandaikan bahwa ada peristiwa-peristiwa tertentu yang mempengaruhi perkembangan sifat-sifat jasmaniah dan sifat-sifat kepribadian, dan akibatnya kita mengamati hubung­an erat antara kedua bidang ini. Perumusan ini menghindari pandangan determinisme biologis dan mengemukakan bahwa baik jasmani maupun tingkah laku sebagian besar ditentukan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan.

Alternatif terakhir adalah menjelaskan hubungan antara bentuk tubuh dan tingkah laku karena hasil kerja faktor-faktor biologis yang sama. Jadi, orang dapat mengemukakan bahwa baik jasmani ataupun keeenderungan-kecenderungan tingkah laku sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor hereditas dan di antara faktor-faktor ini terdapat hubungan-hubungan ter­tentu yang menghasilkan tipe-tipe atribut jasmaniah tertentu yang berhubungan dengan atribut-atribut tingkah laku tertentu. Individu-individu yang memiliki sifat-sifat jasmaniah tertentu diharapkan akan menampilkan kecenderungan-kecenderung­an tingkah laku tertentu karena gen atau gen-gen yang sama mempengaruhi kedua kumpulan sifat tersebut. Dua penelitian kembar utama yang menyelidiki sifat-sifat jasmaniah (Newman, Freeman, dan Holzinger, 1937; Osborne dan DeGeorge, 1959) menemukan bukti yang kuat tentang pentingnya peranan factor-­faktor genetik dalam menentukan jasmani. Penemuan ini di­dukung oleh banyak penelitian lain yang menunjukkan peranan variasi genetik sebagai penentu tingkah laku, memperkuat du­gaan bahwa secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama gen ­gen akan memiliki pengaruh ganda pada tingkah laku dan jasmani.

Terutama kedua cara penjelasan pertama, yakni pengalam­an selektif dan determinasi kultural, yang ditekankan oleh Sheldon meskipun ia juga mengakui adanya determinasi gene­tik.  Perumusan ketiga, yang menyiratkan bahwa jasmani dan tingkah laku adalah basil faktor-faktor lingkungan, adalah yang paling kurang sesuai dengan asumsi para psikolog konstitusi, termasuk Sheldon.

Orientasi Biologis dan Genetik

Dalam banyak hal, bagian-bagian dari pandangan Sheldon dapat dianggap berasal dari keyakinannya bahwa faktor-faktor biologis sangat penting dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan dari keputusan­nya untuk berusaha mengukur unsur-unsur penting dari dasar biologis tingkah laku ini. Seperti telah kita lihat dari pembeda­annya antara somatotipe dan morfogenotipe, pengukuran jas­mani sekedar merupakan alat untuk membuat estimasi tentang faktor-faktor biologis yang mendasarinya yang sangat berpe­ngaruh terhadap jalan hidup seseorang. Meskipun begitu, Sheldon tidak terlalu menekankan peranan  potensial faktor-faktor genetik dalam menentukan tingkah laku, namun demikian ia berharap bahwa pengukuran somatotipe memungkinkan pengukuran yang lebih tepat ter­hadap beberapa faktor genetik, dan dengan demikian memung­kinkan kita untuk mengestimasikan secara realistis pengaruh tak langsung dari faktor-faktor genetik terhadap tingkah laku.

Tekanan Organismik, dan Medan

Pada umumnya, perhatian Sheldon dalam memikirkan semua aspek dari seluruh organisme jauh lebih besar daripada perhatiannya terhadap konteks lingkungan tempat tingkah laku itu berlangsung. Sudah tentu, pandangan semacam itu lahir dari minatnya yang besar pada faktor-faktor biologis tingkah laku.

Walaupun Sheldon berhasil memisahkan dan mengukur dimensi-dimensi untuk menggambarkan jasmani dan temperamen, ia berpendapat bahwa memeriksa dimensi-dimensi itu satu per satu adalah kurang bermanfaat. Pola hubungan antara va­riabel-variabel adalah jauh lebih penting daripada hanya masing-masing komponen. Ia selalu menyadari keunikan hakiki setiap individu baik dalam tingkah laku maupun penampilan jasmaniahnya. Meskipun Sheldon mau mematahkan totalitas yang unik ini dengan pengukuran-pengukuran komponen, ia tetap menganggap bahwa hasil pengukuran semacam itu hanya merupakan langkah pertama untuk menggambarkan organis­me. Keyakinannya ialah bahwa seorang pengamat yang peka dan yang berorientasi pada keseluruhan akan mampu menyumbangkan pengetahuan yang belum dapat diharap bisa digali oleh ahli psikometri yang trampil dan objektif.

Perkembangan lndividu

Sehubungan dengan apa yang telah dibicarakan mengenai perhatian Sheldon pada faktor-faktor biologis tingkah laku, ma­ka tidak mengherankan jika Sheldon kurang memperhatikan seluk beluk perkembangan dibandingkan dengan kebanyakan teoretikus kepribadian lainnya. Walaupun ia mengakui bahwa peristiwa-peristiwa tertentu pada awal masa kanak-kanak bisa memberi petunjuk bagi munculnya tipe-tipe tertentu dalam penyesuaian diri pada masa dewasa, ia tidak yakin bahwa masa kanak-kanak memainkan peranan sebagai penyebab dalam hubungan-hubungan yang demikian. Ia mengemukakan, mung­kin sekali terdapat; predisposisi-predisposisi biologis yang menye­babkan munculnya tipe-tipe pengalaman masa kanak-kanak atau pengalaman infantil tertentu, dan selanjutnya predisposisi­-predisposisi yang sama ini mungkin menyebabkan bentuk-ben­tuk tertentu dalam tingkah laku orang dewasa. Dengan kata lain, hubungan yang jelas antara peristiwa-peristiwa awal dan tingkah laku sesudahnya mungkin sebagian besar merupakan hasil kedua faktor-fantor biologis yang beroperasi secara terus­ menerus dalam jangka waktu yang lama.

Minat Sheldon pada proses perkembangan sekurang-ku­rangnya terungkap dari keyakinannya bahwa tugas membim­bing anak akan jauh lebih efisien bilamana mereka yang terlibat dalam kegiatan itu mau sedikit bersusah payah mempertimbangkan somatotipe anak. Dengan begitu orang dapat menghindari penanaman pada anak aspirasi­-aspirasi dan harapan-harapan yang tidak sesuai dengan potensi jasmaniah dan temperamennya. Pandangan ini menegaskan bahwa Sheldon tidak menganggap bahwa perkembangan indi­vidu sama sekali ditentukan oleh warisan biologisnya sebagaima­na terdapat dalam morfogenotipe. Akan tetapi, is memandang bahwa pribadi itu dianugerahi potensi-potensi yang membatasi dan membentuk kemungkinan-kemungkinan pertumbuhannya di masa mendatang. Pengalaman-pengalaman tertentu yang dihadapi oleh pribadi itu akan memainkan peranan yang menentukan apakah pribadi itu pada akhirnya akan benar-be­nar mampu merealisasikan potensi-potensi itu sepenuhnya atau tidak.

 Proses-Proses Tak Sadar

Kiranya kalau individu lebih mengenal struktur tubuhnya serta fungsi- fungsi biologis yang bekerja di dalamnya, ia akan lebih menya­dari kekuatan-kekuatan yang menggerakkan tingkah lakunya. Sheldon (1949) mengemukakan bahwa ketidaksadaran adalah tubuh dan selanjutnya menyiratkan bahwa alasan sulitnya merumuskan ketidaksadaran ialah semata-mata karena bahasa kita tidak diarahkan untuk secara sistematis mengungkapkan apa yang terjadi di dalam tubuh. Jadi, ia berpendapat bahwa seorang psikoanalis yang menyelidiki ketidaksadaran mendekati secara tidak langsung dan dengan cara yang agak kurang efisien hal sama yang dicoba didekati secara lebih langsung dan lebih objektif oleh Sheldon lewat metode penentuan somatotipenya.

Penelitian Khas dan Metode Penelitian

Lebih dari kebanyakan teoretikus kepribadian, perumusan‑perumusan Sheldon berpangkal pada penelitian-penelitian empiris. Kita telah mencapai suatu pandangan yang agak repre­sentatif tentang penelitian-penelitiannya manakala kita menyimak cara ia memulai merumuskan dan mengukur jasmani serta temperamen. Dalam bagian ini, kita akan membicarakan secara singkat dua penelitiannya lebih lanjut tentang gangguan jiwa dan delinkuensi dengan latar belakang pengukuran soma­totipe.

            Jasmani dan Gangguan Jiwa

Psikologi konstitusi tidak hanya menjanjikan pijar-pijar pemahaman baru dalam penelitian tentang tingkah laku nor­mal; tetapi juga menawarkan kemungkinan untuk memahaminya dengan lebih baik, bahkan kemungkinan untuk mengurangi atau mencegah berbagai ketidaknormalan psikologis dan sosial. Sesuai dengan keyakinan ini adalah penelitian-penelitian Shel­don tentang gangguan jiwa yang dilaporkan dalam suatu makalah pendek (Wittman, Sheldon, dan Katz, 1948) dan dalam sebuah bab yang diteruskan dalam bukunya yang membahas delinkuensi (Sheldon, 1049). Setelah menyelidiki seluk-beluk diagnosis psikiatrik ia menyimpulkan bahwa tidak mungkin melakukan peneli­tian tentang jasmani dalam hubungannya dengan gangguan jiwa tanpa lebih dahulu mengembangkan pengukuran gangguan jiwa yang lebih objektif dan lebih peka dibandingkan dengan teknik-teknik diagnostik biasa.

Sebagaimana Sheldon menggunanan variabel-variabel kon­tinu untuk menggantikan kategori-kategori diskrit dalam peng­ukuran jasmani, demikian juga dalam pengukuran gangguan jiwa mengajukan dimensi-dimensi  untuk menggantikan wujud­ wujud penyakit. Berdasarkan observasi terhadap banyak pasien psikiatrik selama beberapa tahun, ia mengembangkan suatu konsepsi tentang gangguan jiwa yang dapat dideskripsikan ber­dasarkan tiga dimensi primer. Ketiga dimensi itu secara kasar sejalan dengan tiga kategori diagnostik yang sering digunakan dalam diagnosis psikiatrik: komponen psikiatrik pertama (afek­tif) yang pada kadar tinggi melahirkan psikosis manik-depresif ekstrem (berubah-ubah antara ekstrem gembira dan ekstrem sedih); komponen psikiatrik kedua (paranoid) yang pada kadar tinggi melahirkan psikosis jenis paranoid (delusi yang kuat de­ngan ciri dihantui, pikiran bahwa dirinya terkutuk dan gagasan­ gagasan yang serba merujuk pada dirinya sendiri); komponen psikiatrik ketiga (heboid) menggejala dalam bentuk hebefrenik psikosis skizofrenik (menarik diri secara ekstrem). Ketiga kom­ponen psikiatrik ini masing-masing mencerminkan kekurangan dalam komponen-komponen temperamen  cerebrotonia, viskero­tonia, dan somatotonia.

Sheldon mengemukakan. bahwa komponen-komponen yang digunakannya untuk menggambarkan tingkah laku psikotik memiliki padanannya dalam bentuk yang lebih ringan pada ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment), bahkan mungkin terungkap dalam bentuk lawannya pada penyesuaian diri (adjustment) yang superior. Jadi, ia membahas dengan nada hipotetis cara bagaimana berbagai macam prestasi luar biasa dapat dianggap mencerminkan perkembangan yang sangat kaya dari potensi-potensi yang tersirat dari berbagai pola komponen komponen psikiatrik. Komponen-komponen psikiatrik dipandang sebagai pelengkap bagi penilaian somatotipe dan temperamen dan berfungsi untuk meningkatkan spektrum tingkah laku yang digambarkan secara memadai oleh komponen-komponen ini.  Sheldon yakin bahwa pada akhirnya metode-metode diagnosis psikiatrik yang biasa harus diganti dengan metode deskripsi dan klasifikasi yang lebih kuat bersandar pada teknik-teknik objektif, termasuk Somatotype Performance Test. Hal ini akan membawa implikasi tentang hubungan yang erat dengan faktor- faktor biologis tingkah laku.

Jasmani Dan Kenakalan/ Kejahatan(Delikuensi)

Penelitian Sheldon selama 8 tahun tentang muda-mudi delikuen dilakukan sebagai semacam latar belakang untuk membandingkan temuan-temuannya dari penelitiannya terhadap mahasiswa-mahasiswa normal. Penelitian itu dilakukan di Hayden Goodwill Inn, sebuah panti rehabiiitasi putra di Boston, Massachusetts. Selama 3 tahun dari tahun 1939 sampai dengan tahun 1942, kira-kira 400 pemuda diselidiki Sheldon dan para sejawatnya, dan dari sampel ini, 200 pemuda dipilih berdasarkan kelengkapan informasi dan bukti jelas tentang delinkuensi mereka untuk diteliti lebih lanjut seusai perang. Semua subjek diperiksa dengan menggunakan Somatotype Performance Test dan dinilai somatotipenya, serta dinilai pula komponen-komponen sekunder jasmaninya. Mereka juga dinilai dari segi komponen-komponen psikiatrik mereka dan sebagai tambahan juga disusun riwayat hidup mereka secara rinci, meliputi informasi tentang kemam­puan mental dan riwayat pendidikan, latar belakang keluarga, riwayat kesehatan, bentuk kenakalan, dan tingkah laku mereka yang khas.

Inti laporan Sheldon dalam penelitian ini adalah suatu rangkaian dari apa yang dinamakannya biografi psikologis, be­rupa skema-skema pendek tentang sejarah hidup individu dileng­kapi dengan foto-foto somatotipe.  Biografi-biografi ini disusun berdasarkan suatu klasifikasi yang mengelompokkan para sub­jek remaja putra itu menurut defisiensi mental, psikopati, al­koholisme, sifat kewanita-wanitaan yang berlebihan, dan tingkat kejahatan.  Di samping skema-skema biografis yang terklasifi­kasikan ini, yang sebagian besar diserahkan kepada pembaca untuk menggeneralisasikannya, Sheldon menyajikan diagram- diagram distribusi somatotipe populasi delinkuennya dibandingkan dengan kelompok mahasiswa. Diagram-diagram tersebut menunjukkan bahwa walaupun jas­mani delinkuen yang khas adalah mesomorfi endomorfik, namun terdapat banyak variasi somatotipe di antara sub-sub kelompok delinkuen itu. Berbagai subkelompok pemuda delinkuen itu juga diperbandingkan menurut komponen-komponen sekunder, kom­ponen-komponen psikiatrik, dan berbagai-data demografik serta data sejarah hidupnya.

Pada akhir penelitiannya  Sheldon rupanya yakin bahwa terdapat perbedaan-perbedaan penting dalam hal tingkah laku dan konstitusi tidak hanya antara orang-orang delikuen dan orang-orang normal, tetapi juga antara subvaritas delinkuen yang satu dengan lainnya. Selanjutnya is berspekulasi tentang kemungkinan peranan astenia (kelemahan), displasia (distribusi somatotipe yang tidak seimbang), dan jasmani yang berkembang pesat (pembesaran jasmani yang mencolok dan tidak fungsional) sebagai faktor-faktor biologis khas yang tidak hanya terdapat pada para subjek delinkuen tetapi juga pada orangtua mereka. Observasi ini membawanya pada kesimpulan-kesimpulan yang relatif pesimistik tentang apa yang tengah terjadi pada proses pewarisan biologis bangsanya sebagai akibat dari perbedaan se­lektif angka reproduksi yang condong unggul pada kelompok­kelompok sosial dan ekonomik yang umumnya menampilkan jasmani astenik, displastik, dan yang berkembang pesat.

sumber :

Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. (1985). Introduction to Theorities of Personality. New York: John Wiley & Sons.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s