Teori belajar

Pembelajaran Verbal

Berbagai materi dapat digunakan dalam pembelajaran verbal , materi yang paling sederhana adalah penggunaaan satu huruf, atau tiga huruf yang tidak bersuku kata, yang biasa disebut dengan trigrams. Trigrams ini dapat berupa huruf konsonan (CCC), seperti XKL, atau gabungan vocal- konsonan ( CVC ), seperti BAL. selain itu ada juga penggunaan kata artifisial ( artificial word). Umpanya kata goye dann neglan sering diasosiasikan dengan jangka waktu atau periode selama 1-menit. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta orang lain mencari asosiasi dari satu kata dalam waktu 1 menit. Selain itu ada juga yang menggunakan kalimat atau sekelompok kata seperti “ hujan”, “petir”, “Guntur”, “angin”, saling berinteraksi dan tidak bisa diasosiasikan dengan sekelompok kata seperti “ apel”, “jeruk”, “nenas”, “nasi goring”. Begitu juga dengan penggunaan kalimat, kita sering melakukan asosiasi dengan mengaitkan aspek ketatabahasaan ( grammatical aspect).

Ada empat prosedur dari pembelajaran verbal yang telah dikembangkan :

  1. Serial Learning (  Pembelajaran Berseri )

Didalam pembelajaran berseri unit unit verbal disajikan didalam urutan yang sama dari satu latihan ke latihan lainnya. Contoh pembelajaran jenis ini yang paling dikenal adalah membaca dan mengingat alfabeth, menghafal hari dalam seminggu, bulan dalam setahun. Kemampuan orang mengingat bulan dalam setahun, hari dalam seminggu, dan alfabeth merupakan hasil akhir dari pembelajaran berseri. Mereka mampu mengingat urutan dari suatu yang mereka pelajari dengan urutan yang sama pada saat mereka latihan atau belajar.

2. Paired Asosiate Learning ( Pembelajaran Asosiasi Berpasangan )

Didalam pembelajaran asosiasi berpasangan tugas sipelajar adalah mempelajari pasangan item, satu dari anggota pasangan tersebut merupakan stimulus dan yang lainnya merupakan respon. Contoh yang paling umum dari pembelajaran jenis ini adalah mempelajari kosa kata bahasa asing. Setiap kata dari bahasa asing dipasangkan dengan kata yang sama didalam bahasa ibu, umpamanya : “book”-“buku”, “dog”-anjing”, dll.contoh yang lebih rumit adalah dengan menggunakan pasangan kata yang keduanya, kemudian subjek melahirkan respon terhadapa pasangan tersebut. Seperti “ dog”, bicycle” sebagai stimulus maka subjek akan merespon “dog cannot ride bicycle”, cara ini disebut dengan paired asociate anticipation method. Maka poin penting yang dapat disimpulkan dari contoh diatas adalah paired asociate learning memerluksn proses yang lebih kompleks dan menghendaki manusia untuk tidak pasif dalam memberikan respon terhadap suatu stimulus. Mereka harus belajar untuk mengorganisir, memahami kode dan melakukan usaha belajar yang lebih banyak.

3. Free Recall ( Rikol Bebas )

Dalam pembelajaran ini, subjek disajikan serangkaian item verbal satu pada suatu saat dan diminta untuk “merikol “ mengingat kembali item tersebut tanpa memperhatikan susunannya. Susunan unit item pada saat disjikan bervariasi dan sipelajar bebas mengingat kembali unit-unit tersebut sesuai dengan keinginannya. Bila  disajikan serangkaian kata yang bercampur, umpamanya nama buah-buahan, nama minuman, nama binatang, dll, maka subjek biasanya merikol atau mengingat kembali sesuai dengan kelompok item-item tersebut. Kemampuan ini disebut dengan subjective organization, Karena subjek biasanya menyusun sesuai dengan keinginannya. Dari jenis belajar ini ada tiga hal yang penting :

  • Ia membantu investigasi terhadapa bagaimana sipelajar mengorganisasikan item
  • Apa kunci atau tanda yang digunakan untuk mengorganisasikan dan mengingat item
  • Strategi yang digunakan untuk mengorganisasikan dan mengingat kembali item

4.  Recognation Learning ( Pembelajaran Rekognis )

Dalam pembelajaran ini sipelajar diperlihatkan item didalam fase belajar dan kemudian diuji untuuk mengingat dalam urutan latihan tertentu. Pada dasarnya tahap belajar ini sama dengan free call learning pada tahap belajar, ia berbeda pada tahap pemberian ujian. Jadi recognization learning merupakan proses dimana kita menjadi mampu membedakan peristiwa yang sudah akrab dengan peristiwa yang belum akrab.

Ada dua jenis ujian ingatan : single item test ( ujian item tunggal ) dan multiple item test ( tes aitem berganda ), yang menjadi dasar dari pembuatan item berganda ( multiple choice test ). Yang menjadi masalah  dalam hal ini adalah adanya peluang bias akibat dari terkaan ( guess). Namun hal ini bisa diatasi dengan hukuman ( penalty ) untuk setiap terkaan yang salah.

sumber :

Henry. C.Ellis, Fundamentals of Human Learning, Memory and Cognition,(2ndEdition). Lowa: Wm.C.Brown Company Publisher

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s