Pendekatan Konseling

Rational Emotif Terapy : Ellis

1 Teori Kepribadian

Emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis (1967 hlm 82) menyatakan bahwa gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah. Menurut Ellis (1994) ada tiga hal yang terkait dengan perilaku yaitu:

a. Antecedent event (A) yaitu peristiwa pendahulu yang berupa fakta, peristiwa, perilaku atau sikap orang lain. Prinsipnya segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.

b. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam: keyakinan rasinoal (rB) dan keyakinan irrasional (iB). Keyakinan yang rasional adalah cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat dan masuk akal, bijaksana. Keyakinan yang irrasional yaitu keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, yang tidak masuk akal, emosional.

c. Emotional Consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan (A).

d. Disputing (D) yaitu penerapan metode ilmiah untuk membantu para klien menantang keyakinan-keyakinan yang irrasional yang telah megakibatkan gangguan emosi dan tingkah laku.

Menurut Ellis orang yang berkeyakinan rasional akan mereaksi peristiwa-peristiwa yang dihadapi kemungkinan mampu melakukan sesuatu secara realistik (Hansen dkk, 1977). Jika individu berpikir atau berkeyakinan irrasional maka dalam menghadapi masalah ia akan mengalami hambatan emosional. Hambatan emosional itu bisa berupa neurotik atau psikotik, cemas, dll. Penyembuhannya kita harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya. Kecemasan bersumber pada pengulangan internal dari putusan dan kalimat menyalahkan diri. Sistem keyakinan pada dasarnya diperoleh individu sejak kecil dari orang tua, masyarakat atau lingkungan dimana anak hidup. Menurut pendapat Ellis bahwa sebab-sebab individu tidak mampu berpikir rasional karena hal-hal berikut (nelson-Jones, 1980) :

1. Anak tidak berpikir secara jelas tentang yang ada saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan dan imajinasi.

2.  Anak tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.

3. Orang tua dan masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional dan diajarkan kepada anak melalui berbagai media.

Ellis (1973a, hlm.179-180) mngemukakan bahwa karena manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu melatih dirinya untuk mengubah dan menghapus keyakinan yang menyabotase diri sendiri.

2 Perilaku Bermasalah

Menurut pandangan REBT perilaku yang  bermasalah adalah perilaku yang didasarkan pada cara berfikir yang irrasional. Indikator perilaku bermasalah secara universal menurut Albert Ellis (1994) yaitu:

  1. Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Padahal seharusnya mereka menghargai diri sendiri, memenangkan tujuan-tujuan praktis dan mencintai dari pada menjadi obyek yang dicintai
  2. Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan dan jahat, dan orang yang melakukan tindakan sangat terkutuk. Seharusnya berpandangan bahwa tindakan tertentu adalah kegagalan diri atau antisocial, dan orang yang melakukan tindakan demikian adalah melakukan kebodohan, ketidaktahuan, atau neurotik, dan akan lebih baik jika ditolong untuk berubah. Orang yang berperilaku malang tidak membuat mereka menjadi individu yang buruk.
  3. Pandangan bahwa hal yang mengerikan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita. Seharusnya berpandangan bahwa kita menjadi lebih baik untuk mengubah atau mengendalikan kondisi yang buruk, juga bahwa mereka menjadi lebih memuaskan dan jika hal itu tidak mungkin untuk sementara menerima dan secara baik-baik mengubah keberadaannya.
  4. Pandangan bahwa kesengsaraan (segala masalah) manusia selalu disebabkan oleh faktor eksternal dan kesengsaraan itu menimpa kita melalui orang lain atau peristiwa. Seharusnya berpandangan bahwa neurosis itu sebagian besar disebabkan oleh pandangan bahwa kita mendapat kondisi yang sial.
  5. Pandangan bahwa jika sesuatu itu dapat berbahaya atau menakutkan, kita terganggu dan tidak akan berakhir dalam memikirkannya. Seharusnya berpandangan bahwa seseorang akan lebih baih menghadapinya secara langsung dan mengubahnya tidak berbahaya dan jika tidak memungkinkan, diterima sebagai hal yang tidak dapat dihindari.
  6. Pandangan bahwa kita lebih menghindari berbagai kesulitan hidup dabn tanggung jawab dari pada berusaha untuk menghadapinya. Seharusnya berpandangan bahwa kemudahan itu biasanya banyak kesulitan dikemudian hari.
  7. Pandangan bahwa kita seharusnya kompeten, inteligen dan mencapai dalam semua kemungkinan yang menjadi perhatian kita. Seharusnya pandangan itu adalah kita bekerja lebih baik dari pada selalu membutuhkan unutk bekerja secara baik dan menerima diri sendiri  sebagai mahluk yang tidak benar-benar sempurna, yang memiliki keterbatasan umumnya dan kesalahan.
  8. Pandngan bahwa kita secara absolute membutuhkan sesuatu dari orang lain atau orang asing yang lebih besar dari pada diri sendiri sebagai sandaran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa lebih baik untuk menerima resiko berpikir dan bertindak kurang bargantung.
  9. Pandangan bahwa karena segala sesuatu kejadian sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan kita, hal itu akan mempengaruhi dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Seharusnya pandangan itu adalah kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu kita tetapi tidak terlalu mengikuti atau berprasangka terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu itu.

10.  Pandangan bhawa kita sebenarnya tidak mengendalikan emosi kita dan bahwa kita tidak dapat memabntu perasaan yang mengganggu pikiran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa kita harus mengendalikan secara nyata atas perasaan yang merusak kita jika kita memilih untuk bekerja untuk mengubah anggapan yang fantastis.

11.  Pandangan bahwa kita harus memiliki kepastian dan pengendalian yang sempurna atas sesuatu hal. Seharusnya pandangan itu adalah bhwa dunia ini penuh dengan probabilitas (serba mungkin) dan berubah dan bahwa kita dapat hidup nikmat sekalipun demikian keadaannya.

12.  Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai dan tanpa berbuat. Seharusnya berpandangan bahwa kita dapat menuju kebahagiaan jika kita sangat tertarik dalam hal melakukan kreativitas, atau jika kita mencurahkan perhatian diri kita pada orang lain atau melakukan sesuatu di luar diri kitab sendiri.

Menurut pandangan Ellis, keyakinan yang rasional berakibat pada prilaku dan reaksi individu yang tepat sedangkan keyakinan yang irrasonal berakibat pada reaksi emosional dan perilaku yang salah.

3 Karakteristik dan keyakinan yang irasional

Menurut Nelson (1982) karakteristik berfikir yang irrasional dapat dijumpai sebagai berikut :

  • Ø Terlalu Menuntut

Tuntutan, perintah, komando dan permintaan yang berlebihan oleh REBT dibedakan dengan hasrat, pikiran, dan keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut “harus” terpuaskan dan bukan “ingin” terpuaskan. Tuntutan ini berasal dari dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Menurut Ellis, kata “harus” merupakan cara berfikir absolut tanpa ada toleransi dan tuntutan semacam ini akan membuat individu mengalami hambatan sosial.

  • Ø Generalisasi Secara Berlebihan

Overgeneralization berarti individu menganggap sebuah peristiwa atau keadaan di luar batas-batas yang wajar. Contohnya : “saya orang paling pintar sedunia”, pernyataan tersebut merupakan overgeneralization karena pada kenyataannya dia bukan orang yang paling pintar sedunia.

  • Ø Penilaian Diri

Pada dasarnya individu dapat memiliki sifat-sifat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan  namun yang terpenting adalah dia dapat belajar untuk menerima dirinya tanpa syarat (unconditioning self-regard). Individu dikatakan irrasional apabila individu selalu menilai harga dirinya (self-rating). Dalam hal ini individu sebaiknya menerima dirinya sendiri (self-acceptance) dan tidak melakukan penilaian terhadap dirinya (self-evaluation). Karena apabila individu selalu menilai dirinya sendiri akan berakibat negatif, karena hal seperti ini dapat membuang waktu dengan percuma, cenderung tidak konsisten dan selalu menuntut kesempurnaan.

  • Ø Penekanan

Penekanan atau awfulizing sama halnya dengan tuntutan namun dalam awfulizing ini tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi individu dalam memandang actecedent event secara tepat dan karena itu digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional.

  • Ø Kesalahan Atribusi

Attribution error adalah kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik yang dilakukan sendiri, orang lain atau peristiwa. Kesalahan atribusi ini sama halnya dengan alasan palsu diri seseorang atau orang lain dan menimbulkan hambatan sosial.

  • Ø Anti pada Kenyataan

Anti-empiricism terjadi karena tidak bisa menunjukkan fakta empiris secara tepat. Orang yang berkeyakinan irrasional, pertama kali cenderung kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan sendiri gagasannya yang sebenarnya rasional.

  • Ø Repetisi

Keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang. Menurut Ellis, seseorang cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan pandangan yang menghambat dirinya.

4 Hakikat manusia

Secara umum ada dua prinsip yang mendominasi manusia, yaitu pikiran dan perasaan. REBT beranggapan bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang saling mempengaruhi. Dalam memandang hakikat manusia REBT memiliki sejumlah asumsi tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan dinamika pikiran dan perasaan (Ellis 1994). Asumsi tentang hakikat manusia adalah sebagai berikut :

  • Pada dasarnya individu itu unik, uang memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irrasional. Ketika berfikir dan berperilaku rasional, dia efektif, bahagia dan kmpeten. Namun ketika dia berfikir dan berperilaku yang irrasional dia tidak efektif.
  • Reaksi “emosional” seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari oleh individu.
  • Hambatan psikologi atau emosional adalah akibat dari cara berfikir yang tidak logis dan irrasional. Emosi menyertai individu yang berfikir dengan penuh prasangka, sangan personal dan irrasional.
  • Berfikir secara irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam proses pertumbuhannya, akan terus berfikir dan merasakan denagn pasti tentang dirinya dan tentang yang lain. “ini adalah baik” dan “yang itu adalah jelek”. Pandangan seperti ini akan terus membentuk cara pandangan selanjutnya.
  • Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berfikir yang tepat. Dalam kaitannya dengan hal ini, tujuan konseling adalah (1) menunjukkan pada klien bahwa verbalisasi diri telah menjadi sumber hambatan emosional. (2) membenarkan bahwa verbalisasi diri adalah tidak logis dan irrasional. (3) meluruskan cara berfikir dengan verbalisasi diri yang lebih logis dan efisien dan tidak berhubungan dengan emosi negatif dan perilaku penolakan diri (self-defeating).
  • Perasaan, berfikir negatif dan penolakan diri harus dilawan denagn cara berfikir yang logias dan rasional yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

5 Tujuan Konseling

Tujuan koseling dalam konstek teori kepribadian, konseling merupakan efek (E) yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor atau (desputing)/ D. karena itu teori REBT tentang kepribadian dalam fprmula A-B-C dilengka[I oleh Ellis sebagai teori konselng yaitu menjadi A-B-C-D (antecendent event, belief, emotional consequenceal, desputing, dan effect). Efek yang dimaksud adalah  keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.

Menurut Ellis, tujuan konseling pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional dengan jalan mengganti cara-cara berpikir yang irasional. ellis mengemukakan pengertian cara berpikir rasional mencakup meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri (self defieting) dan mencapai kehidupan yang realistic, falsafah hidup yang toleran, termasuk didalamnya dapat mengarahkan diri, menghargai diri, fleksibel, berpikir secara ilmiah, dan menerima diri.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai dalam REBT, yaitu:

  1. pemahaman insight
  2. pemahaman terjadi ketika konsellor atau terapis membantu klien untuk memahami bahwa apa yang mengganggu klien pada saat itu adalah keyakinan yang irasional.
  3. pemahaman dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ke tiga, yaitu tidak ada cara lain kecuali melawan keyakinan yang irasional.

6 Tahapan Konseling

Menurut George dan Cristiani, tahap-tahap konseling REBT sebagai berikut:

  1. proses untuk mneunjukakann kepada klien bahwa dirinya tidak tidak logis.
  2. membantu klien meyakini bahwa berpikir da[pat ditantang dan diubah
  3. memebantu klien lebih mnedebatkan (disputing) gangguan yang tidak tepatatai irasional yang dipertahankan selama ini menuju cara berpikir yang lebih rasional dengan cara reinduktrinasi yang rasional termasuk bersikap secara rasional.

7 Peranan Konselor

Konselor REBT diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya dengan Unconditional Self-Acceptance (USA) yaitu penerimaan diri tanpa syarat, bukan dengan syarat (conditioning regard). Penggunaan USA (penghargaan positif tanpa tanpa syarat  kepada klien) dalam

konseling, menurut Ellis akan membantu klien untuk menerima dirinya secara penuh, dan akhirnya akan meningkatkan high frustration tolerance (HFT). Orang yang selalu melakukan penilaian terhadap dirinya (self-rating) akan menimbulkan masalah besar bagi dirinya sendiri.

Untuk mencapai tujuan konseling, yaitu memberikan efek psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling, konselor rational emotive behavioral therapy memiliki peran yang sangat penting. Menurut REBT adanya peran para konselor diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal
  2. Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung
  3. Menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri
  4. Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien
  5. Mengkondisikan klien afgar menggunakan kemampuan rasional (rational power) daripada menggunakan emosinya
  6. Menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis
  7. Menggunakan humor dan “menggojlok” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irrasional.

8 Aplikasi Konseling

Rational Emotive Behavioral Therapy dapat diterapkan dalam berbagai jenis konseling, termasuk didalamnya konseling individual, konseling kelompok encounter marathon, terapi singkat, terapi keluarga, terapi seks, dan situasi kelas.

Terapi Rational Emotive Behavioral sangat cocok diberikan kepada klien yang mengalami gangguan kecemasan pada tingkat moderat, seperti, gangguan neurotik, gangguan karakter, problem psikosomatik, gangguan makan, ketidakmampuan dalam hal interpersonal, problem perkawinan, ketrampilan dalam pengasuhan, adiksi, dan disfungsi seksual. Semua itu dapat ditangani oleh Rational Emotive Behavior Therapy dengan catatan tidak terlalu serius tingkat gangguannya.

Sejalan dengan pandangannya, REBT ini menggunakan pendekatan yang komprehensif dan integrative, yang mencakup: penggunaan emotif, kognitif, dan behavioral. Ketiga aspek inilah yang hendak di ubah melalui Rational Emotive Behavior Therapy.

Adapun beberapa macam gangguan yang tidak dapat diberikan oleh REBT diantaranya adalah (Ellis, 1991) :

  1. Anak-anak, khususnya yang mengalami autisme
  2. Gangguan mental grade bawah
  3. Schyzophrenia jenis katatonik atau gangguan penarikan diri yang berat
  4. Mania depresif.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s