Study Diagnosis

Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)

A. PENDAHULUAN
Berbagai peristiwa alam yang terjadi di sepanjang wilayah Indonesia telah menimbulkan berbagai pengalaman traumatik bagi ribuan warga, baik itu berupa gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, kecelakaan pesawat terbang, bahkan sampai pada aksi kekerasan dan terorisme. Bila dilihat beberapa peristiwa dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, terdapat puluhan peristiwa traumatik yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Di antaranya yang sangat membekas adalah kerusuhan era reformasi, tsunami aceh, lumpur lapindo sidoarjo, peristiwa bom bali I dan II, gempa di Sumatera Barat, gunung meletus di Jawa Tengah, serta yang masih sangat segar di pikiran kita adalah kecelakaan pesawat Shukoi milik Rusia di Bogor.
Sejatinya, hal ini tidak bisa disesali serta tidak bisa dihindari, karena bila dilihat dari segi letak geografis, Indonesia terletak pada jalur yang disebut ring of fire dan berbagai pertemuan lempengan bumi yang sangat rawan mengalami patahan. Cuaca yang ekstrem dan tidak menentu juga sering terjadi saat ini yang kerap menimbulkan berbagai kecelakaan maut yang menyisakan trauma.
Ribuan warga Indonesia yang mengalami dan selamat dari berbagai bencana tersebut kini hidup dalam ketakutan yang irasional sehingga mengganggu keefektifan hidup dalam kesehariannya. Secara kasat mata mereka telah sembuh dari berbagai luka fisik akibat bencana tersebut, namun secara psikis mereka masih membawa luka yang tidak tahu kapan sembuhnya. Kehidupan keluarganya menjadi terganggu, pendidikannya terganggu, serta karirnya juga terganggu.
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda dalam menghadapi peristiwa luar biasa ini, ada yang cukup mampu untuk menghadapinya, namun ada juga yang sulit untuk menghadapinya. Mereka mengalami benturan psikis yang berakibat pada luka psikis yang berefek jangka panjang karena ketidakmampuan dirinya melakukan defence terhadap tekanan emosional yang terjadi. Kondisi inilah yang disebut dengan gangguan stress pasca trauma atau posttraumatic stress disorder (PTSD).
Solusi dari semua masalah ini adalah bagaimana mempersipakan diri untuk menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi serta menangani dengan tepat kondisi-kondisi traumatik yang terjadi pada peristiwa tarumatik yang mereka alami. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan salah satu pendekatan yang dapat menjadi alternatif dalam menangani individu yang mengalami gangguan stress pasca trauma (PTSD).

B. Post Traumatik Stress Desoorder (PTSD)
Sebelumnya kami akan memaparkan terlebih dahulu konsep Post traumatic stress disorder :
1. Definisi Post Traumatic Stress Desorder (PTSD)
Beberapa sumber mendefinisikan post traumatic stress disorder sebagai berikut
a. Posttraumatic stress disorder adalah gangguang kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan di mana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam. (American Psychologi Assosiation).
b. Sebuah trauma psikis merupakan kejutan emosional yang memiliki efek jangka panjang. Ini terjadi ketika seseorang terkena suatu peristiwa luar biasa sementara tak berdaya dan tidak mampu menggunakan mekanisme pertahanan yang ada pada diri dalam menghadapi bahaya yang mengancamnya (Eth & Pynoos:1995 dalam Kadison)
c. Suatu peristiwa yang dialami atau disaksikan dan mengancam jiwa, cedera serius, dan ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain yang menyebabkan rasa takut, tidak berdaya, atau mencekam. (Carlos Blanco, 2011).
Orang dewasa yang menderita PTSD sering menghidupkan kembali pengalaman melalui mimpi buruk dan kilas balik, sulit tidur, dan merasa terlepas atau terasing, dan gejala ini dapat cukup parah dan bertahan cukup lama untuk secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang (Kadison,2006).
Berdasarkan pendapat berbagai pakar di atas dapat dipahami bahwa PTSD merupakan kondisi trauma yang memiliki efek jangka panjang serta menyebabkan terganggunya kehidupan efektif sehari-hari.
2. Kelompok PTSD
Menurut Diagnostik and statistic manual Disorder (DSM-IV-1994) (Zuliani:2011) terdapat 3 bentuk Posttraumatik stress disorder yaitu :
a. Intrusive-Re-Experiencing yaitu selalu kembalinya peristiwa traumatik dalam ingatan. Gejala-gejalanya adalah sebagai berikut :
1). Berulang-ulang muncul dan mengangu perasaan mengenai peristiwa yang pernah terjadi;
2). Muncul kembali dalam mimpi mengenai peristiwa;
3). Pikiran-pikiran mengenai peristiwa traumatik selalu muncul, termasuk perasaan hidup kembali pengalaman traumatik, ilusi, halusinasi, dan mengalami flashback mengenai peristiwa;
4). Ganguan psikologis yang sangat kuat ketika menyaksikan sesuatu yang mengingatkan tentang peristiwa traumatik;
Terjadi reaktivitas fisik, seperti mengigil, jantung berdebar keras atau panic ketika bertemu dengan sesuatu yang mengingatkan peristiwa.
b. Avoidence yaitu selalu menghindari sesuatu yang berhubungan dengan trauma dan perasaan terpecah. Gejala-gejala yaitu :
1). Berusaha menghindar situasi, pikiran-pikiran atau aktivitas yang berhubungan dengan peristiwa traumatik;
2). Kurangnya perhatian atua partisipasi dalam berbagai kegiatan sehari-hari;
3). Merasa terpisah atau perasaan terasing dari orang lain;
4). Membatasi perasaan-perasaan, termasuk untuk memiliki rasa kasih saying
5). Perasaan menyerah dan takut pada masa depan, termasuk tidak mempunyai harapan terhadap karir, pernikahan, anak-naka atau hidup normal.

c. Arousal, yaitu kesadaran secara berlebihan. Gejala lainya antara lain :
1). Mengalami ganguan tidur atau bertahan untuk selalu tidur
2). Mudah marah dan meledak-ledak
3). Kesulitan memusatkan kosentrasi
4). Kesadaran berlebihan
5). Gugup dan mudah terkejut

3. Ciri-ciri utama PTSD
Menurut Rice (zuliani:2011) reaksi stress bagi individu dapat digolongkan pada menjadi beberapa gejala yaitu sebagai berikut:
a. Gejala fisiologis, berupa keluhan sakit kepala, sembelit, diare, sakit pinggang, urat tegang pada tengkuk, tekanan darah tinggi, kelelahan, sakit perut, maag, berubah selera makan, susah tidur, dan kehilangan semangat.
b. Gejala emosional berupa keluhan seperti gelisah, cemas, mudah marah, gugup, takut, mudah tersinggung, sedih dan depresi.
c. Gejala kognitif berupa keluhan seperti susah berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, mudah lupa, melamun secara berlebihan, dan pikiran kacau.
d. Gejala interpersonal, berupa sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan, apatis, agresif, minder, kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, dan mudah menyalahkan orang lain.
e. Gejala organisasional, berupa meningkatnya keabsenan dalan bekerja/ kuliah, menurunnya produktifitas, ketegangan dengan rekan kerja, ketidakpuasan kerja, dan menurunnya dorongan untuk berpresasi.

4. Jenis-jenis
Jenis peristiwa traumatic yang menyebabkan terjadinya PTSD (Carlos Blanco, 2011) yaitu :
a) Peristiwa perang,
b) Bencana alam,
c) Serangan fisik,
d) Pelecehan seksual atau kekerasan,
e) Ancaman dengan senjata,
f) Kecelakaan yang serius,
g) Penyakit
h) Kematian tak terduga orang yang dicintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s