Uncategorized

KERAHASIAAN DALAM KONSELING DI ERA GLOBAL (Isu Etik Antara Hak dan Kewajiban) 1) Oleh: Helma 2)

1) Makalah disampaikan pada seminar nasional Revitalisasi Keilmuan Bimbingan dan Konseling, UPI-Bandung, Mei 2010
2) Staf Pengajar Program Studi Bimbingan Konseling, STKIP PGRI SUMBAR

FENOMENA DUNIA GLOBAL

Abad 21 dikenal juga dengan era global. Derasnya arus informasi akibat kemajuan teknologi informasi membuat dunia semakin menglobal , artinya tidak ada batas waktu ataupun tempat. Micklethwait & Wooldridge (2000:xxviii) menyatakan bahwa “teknologi baru membuat dunia terasa menjadi lebih kecil “. Ungkapan ini semakin nyata dengan adanya pembauran teknologi: computer, telepon dan televisi, bergabung menjadi satu industri telekomunikasi; yang melahirkan alat komunikasi pribadi seperti Personal Digital Assistants, atau Personal Communication Devices (PCD),atau Picocomputers,dan Apple Personal Interactive Electronics, IBM-PC radio, dan lain-lain, yang memiliki kemampuan mengerjakan berbagai hal dalam pekerjaan sehingga kita dapat meletakkan kantor di telapak tangan (Naisbitt, 1995:72). Disamping itu apa yang terjadi di belahan dunia sana, dalam waktu yang hampir bersamaan dapat dinikmati dan diketahui manusia di belahan dunia lain. Jaringan internet yang mendunia, membuat dunia menjadi suatu perkampungan global. Disadari atau tidak, harus diakui bahwa percepatan penyebaran arus imforamsi ini memberikan dampak yang positif dan negatif yang tak bisa dihindari.
Dampak positif dari kemudahan mengakses informasi global antara lain adalah terjadinya percepatan penyerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, terfasilitasinya beragam aspek perkembangan anak (kognisi, emosi, bahasa, agama, dan lain-lain) seperti anak yang usianya di bawah dua tahun yang baru saja belajar bicara sudah kenal dengan istilah matematika, anak usia TK dan SD sudah menggunakan kata peka atau sensitif, empati, gigantisme, sadisme, dan lain-lain dalam percakapan kesehariannya. Di samping itu terfasilitasinya proses akulturasi budaya antar bangsa, kesempatan untuk menunjukkan identitas budaya dengan peningkatan budaya daerah dan nasional pada tataran global. Supriadi (2001:64) mengatakan bahwa salah satu implikasi dari gejala global adalah adanya tarikan yang kuat antara kehendak setiap bangsa untuk mempertahankan identitasnya di satu pihak dengan dorongan untuk ikut serta dalam arena global serta mengambil manfaat daripadanya. Dengan kata lain, terjadinya paradok antara dua kutup yakni menjadi lokal di satu pihak dan menjadi global di pihak lain. Semakin kuat desakan ke arah menjadi global semakin kuat pula kehendak untuk kembali kepada identitas lokal. Naisbitt (1995:21) mengatakan bahwa manusia sekarang berfikir lokal dan bertindak global. Di beberapa tempat, di mana terjadi konflik karena masalah tribalisme (etnis, agama, kelompok dll.) seperti terjadi di Bosnia Herzegovina, Iran, Sudan, Tibet, Irak, Papua Nugini, Banglades, dan Fiji. Di tempat tersebut terjadi kekerasan karena konflik berbagai kepentingan akibat tribalisme. Micklethwaite & Wooldridge (2000:xviii) mengatakan bahwa terjadinya krisis kepercayaan tidak hanya sekedar persoalan ekonomi, globalisasi sering membantu membangkitkan perasaan nasionalis yang terpendam atau dorongan-dorongan yang mengarah pada fundamentalis. Dalam beberapa kasus, seperti di Quebec dan Scotland, kebangkitan-kebangkitan ini tidak mengenakkan. Di tempat lain, kebangkitan ini justru melahirkan dendam dan kemarahan seperti kasus Mei 1998 di Indonesia.
Untuk itu diperlukan suatu “kode tata laku global baru” yang dapat melindungi hak azazi manusia, di mana semua masyarakat memiliki standar perilaku yang sama, sehingga dapat hidup saling toleran (Naisbitt, 1995 :23). Sehubungan dengan ini, untuk kawasan Asia-Pasifik, “Laporan UNESCO”menyatakan bahwa kita sekarang ini harus memandang ke depan , merancang dan membangun masa depan kita bersama; melalui konsep pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan sekarang harus menghadapi masalah ini lebih dari pada sebelumnya karena masyarakat dunia sedang berjuang dengan susah payah untuk lahir: pendidikan merupakan jantung pembangunan pribadi dan masyarakat, misinya adalah memberdayakan atau memampukan setiap orang tanpa kecuali, untuk mengembangkan semua talentanya sepenuhnya dan mewujudkan potensi kreatif, termasuk tanggung jawab untuk kehidupan dan teraihnya tujuan-tujuan pribadi. Dalam konteks ini dapat dilihat bahwa segala sesuatu memperoleh tempatnya, apakah itu persyaratan ilmu dan teknologi, pengetahuan tentang diri sendiri dan tentang lingkungan, atau pembangunan keterampilan yang memberdayakan setiap orang berfungsi secara efektif dalam keluarga, sebagai warga negara, atau sebagai anggota masyarakat yang produktif. Adapun visi dari konsep pendidikan ini adalah “belajar untuk hidup bersama”, dengan mengembangkan suatu pemahaman tentang orang lain beserta latarbelakang mereka, tradisi dan nilai-nilai spiritual, atas dasar ini dibuatlah suatu semangat baru yang dibimbing oleh ingatan saling ketergantungan dan membuat suatu analisa tentang resiko dan tantangan masa depan. Hal ini membantu manusia menangani konflik-konflik yang tak bisa diabaikan dengan cara yang bijaksana dan aman. Tentunya tidak mengabaikan tiga pilar pendidikan yang lain yakni: learning to know, learning to do, and learning to be, yang sebenarnya ikut membantu kesuksesan visi belajar hidup bersama. (UNESCO, 1996:15-23). Adapun isi dari visi ini dijelaskan secara rinci dalam buku UNESCO-APNIEVE untuk Pendidikan Guru dan Jenjang Pendidikan Tinggi, yang menekankan pada tiga hal utama: 1) makna belajar untuk hidup bersama; 2) nilai-nilai inti yang terkait yang diperlukan untuk hidup bersama dengan berhasil dan damai; 3) pengembangan pengalaman-pengalaman belajar yang akan membantu para calon guru yang sedang berlatih dan para mahasiswa umumnya untuk mewujudkan nilai-nilai seperti itu. (UNESCO-APNIEVE, 2000: 3). Adapun isi dari pendidikan hidup bersama itu adalah untuk memperkuat pembentukan nilai-nilai dan kemampuan-kemampuan seperti solidaritas, kreativitas, tanggungjawab warganegara, kemampuan untuk menyelesaikan pertikaian dengan cara ”tanpa menggunakan kekerasan, dan dengan kecerdasan yang kritis”.
Mencermati fenomena diatas, pertanyaan yang muncul adalah: peluang dan tantangan apakah yang mungkin dihadapi profesi konseling di era global?. Bagaimana pengelolaan kerahasiaan dalam konseling sesuai dengan peluang dan tantangan global tersebut ?. Jawaban atas ke dua pertanyaan tersebut akan disajikan berikut ini:

PELUANG DAN TANTANGAN PROFESI KONSELING di ERA GLOBAL

Setelah perang Dunia II, tepatnya setelah munculnya aliran client – centered therapy yang dipelopori Carl Rogers sekitar tahun 1950-an, orientasi pekerjaan konseling bergerak dari medis ke non medis. Orientasi yang tidak bertolak dari pendekatan medis ini mendorong konseling ke arah diferensiasi status dan fokus sehingga orang mulai melihat perbedaan antara konseling dan psikoterapi; di mana konseling lebih terfokus ke pada : pengembangan persepsi individu, membantu individu mencapai keharmonisan dengan lingkungan, dan mendorong masyarakat untuk mendukung perkembangan individu, dan mengakuai adanya perbedaan individual. Dalam arah perkembangan ini konseling tidak mengutamakan fungsi remedial/ rehabilitasi melainkan lebih menekankan kepada fungsi preventif dan edukatif serta pengembangan. Model psychoeducation yang dikembangkan oleh Guerney,1971 (Kartadinata, nd:2) menekankan pekerjaan konseling sebagai suatu proses mengajar individu tentang sikap dan keterampilan interpersonal yang akan diterapkannya dalam memecahkan masalah-masalah psikologis pada masa kini maupun masa akan datang serta untuk meningkatkan kepuasan kehidupannya. Dalam pandangan ini konseling lebih berorientasi kepada kehidupan individu – masyarakat sebagai suatu kesatuan interaktif .
Sehubungan dengan model Guerney di atas; apa yang dikemukakan oleh: Naisbitt, 1995:23 ; Micklethwait & Wooldridge, 2000: Xviii; dan laporan UNESCO 1996 & 2000, tentang “Kode Tata Laku Global”, Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat dan Belajar Hidup Bersama Dalam Damai”, merupakan berbagai upaya yang dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dimunculkan oleh globalisasi dan tribalism seperti yang dikemukakan di atas, merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pemantapan identitas profesi dan unjuk kerja bimbingan dan konseling di era global.
Perkembangan ilmu dan teknologi di era global menuntut kompetensi khusus yang mendorong lahirnya kebijaksanaan baru dalam pendidikan dengan akibat munculnya pemain-pemain baru sebagai pesaing pemain tradisional di bidang pendidikan. Di samping itu globalisasi menuntut agar warganegara, baik di negara maju maupun di negara berkembang, untuk mendapat pendidikan yang lebih baik agar dapat memperoleh kompetensi yang diperlukan untuk bersaing. Sehubungan dengan ini Davis & Meyer, (2000 :4) mengatakan bahwa fondasi ekonomi kita sekarang sedang berubah secara dramatis, demikian pula halnya mengenai aturan-aturan yang kita miliki tentang kekayaan. Modal manusia berupa kecerdasan dan kepandaian, serta daya temu ilmu pengetahuan dan pengalaman, merupakan mata uang bagi kekayaan di masa depan. Semua ini juga merupakan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan umumnya dan profesi bimbingan konseling khususnya dalam mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing dalam tataran nasional dan global
Tantangan tersebut menyentuh seluruh level pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah bahkan perguruan tinggi, dimana tantangan yang dihadapi perguran tinggi saat ini adalah ciri mahasiswa yang berubah, konsep belajar sepanjang hayat, dan tekanan pasar terhadap system pendidikan tinggi. Disamping itu perluasan dalam pendaftaran dan dalam jumlah lembaga , telah memerlukan peningkatan pengeluaran untuk perguruan tinggi, yang berhadapan dengan masalah-masalah pembangunan perguruan tinggi massal yang sangat berat.
Terjadinya revolusi telekomunikasi, ada empat ide basar yang sedang berjuang untuk terwujud Yaitu: 1) pembauran teknologi antara computer, telepon, dan televisi sebagai suatu hibrida yang memiliki kemampuam komunikasi satu dengan yang lainnya; 2) Aliansi strategi yang mempertemukan berbagai kebutuhan antara costumer dan penggerak informasi , dengan demikian tidak ada satu negara tunggal yang dapat menjadi pemain sukses dalam permainan global baru; 3) Penciptaan jaringan global yang memungkinkan setiap orang di dunia terhubungkan satu dengan lainnya; 4) Telekomputer pribadi untuk setiap orang yang dapat mengirim dan menerima informasi mengenai beberapa hal melalui suara, data, gambar dan video di mana dan kapan saja (Naisbitt, 1985 : 62-64). Ini semua juga merupakan tantangan sekaligus peluang bagi bimbingan konseling untuk melaksanakan bimbingan konseling kapan dan di mana saja. Gejala ini mengindikasikan bahwa konseling di era global tidak hanya dilakukan secara face to face, melainkan juga bisa dilaksanakan dengan @ – Counseling (Cybercounseling).
Di banyak bagian dunia yang sedang berkembang, pendidikan tinggi sudah berada dalam krisis selama dasawarsa yang lalu. Coombs, (1985: 4-5) mengatakan bahwa krisis pendidikan meskipun berbeda-beda tingkat keparahan dan keragamannya, disebabkan oleh kombinasi dari factor-faktor yang hampir sama di semua negara yakni: “hubungan antara tiga kata – change,- adaptation and-deversity (perubahan, adaptasi dan perbedaan). Sebagaimana dijelaskan berikut ini: Sejak tahun 1945, semua Negara telah mengalami perubahan cepat yang fantastis, yang disebabkan oleh revolusi-revolusi besar – dalam ilmu dan teknologi , dalam ekonomi dan politik, dalam struktur demokrafis dan social yang terjadi di dunia. Sistem pendidikan juga berkembang dan berubah secara cepat dari sebelumnya. Tetapi adaptasi pendidikan terhadap kejadian di sekitarnya, yang berubah secara cepat sangatlah lambat. Konsekuensi perbedaan antara system pendidikan dan lingkungannya, yang dapat terwujut dalam beberapa cara, merupakan inti dari krisis yang mendunia dalam pendidikan.
Kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pendidikan tinggi sudah terkikis, karena pengangguran lulusan dan pengurasan otak ke luar negeri. Bias yang hebat terhadap ilmu pengetahuan sosial membuat ketakseimbangan dalam katagori-katagori lulusan yang memasuki pasar kerja, mengakibatkan kekecewaan , baik bagi para lulusan maupun para majikan mengenai kualitas tentang hal-hal yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi (UNESCO, 1996:130). Hal ini juga merupakan tantangan sekaligus peluang bagi lembaga bimbingan konseling di perguruan tinggi agar dapat membatu perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusannya untuk mampu bersaing baik dalam tataran nasional maupun internasional.
Misi perguruan tinggi secara umum adalah melakukan pendidikan , penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat, khususnya untuk melanjutkan pendidikan berkesinambungan dan kemaslahatan masyarakat secara umum. Disamping itu perguruan tinggi juga menyebarkan nilai-nilai budaya nasional dan universal. Globalisasi membawa nilai-nilai baru yang perlu diterjemahkan oleh perguruan tinggi agar nilai-nilai itu dapat mendorong terwujudnya masyarakat madani yang sejahtera. Oleh sebab itu tugas utama pendidikan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pelayanan masyarakat, harus tetap dipertahankan, bahkan disempurnakan dan diperluas agar perguruan tinggi dapat mengahasilkan lulusan yang bermutu, warga Negara yang bertanggungjawab, serta dapat memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikannya sepanjang hayat (Tajudin, 2002 :1) Untuk mewujudkan misi ini Unit Pelayanan Teknis Bimbingan Konseling di Perguruan Tinggi sebagai sub system Perguruan Tinggi harus berperan aktif dan proaktif
UU NO. 2/89 beserta perangkat Peraturan Pemerintah- nya, serta SK Menpan NO. 26/89 merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pemantapan identitas profesi dan unjuk kerja bimbingan dan konseling. Sistem pendidikan yang menganut dua jalur pendidikan, yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah mengandung implikasi bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas lagi pada tatanan pendidikan sekolah melainkan juga dalam tatanan pendidikan luar sekolah. Ini berarti bahwa populasi layanan bimbingan dan konseling menjadi sangat luas dan beragam; layanan bimbingan dan konseling manjadi harus berorientasi pada individu-masyarakat sebagai suatu keterpaduan. Prinsip ekologis menjadi dasar dalam membantu perkembangan individu (Kartadinata, nd: 3).
Redefinisi dan Reorientasi Konseling
Merujuk pada model psychoeducation yang dikembangkan Guerney 1971 , dan fenomena global yang melahirkan konsep belajar sepanjang hayat dan belajar hidup bersama dalam damai seperti dikemukakan di atas, konseling hendaknya didefinisikan sebagai proses pemberian bantuan konselor kepada individu atau sekelompok individu baik secara face to face maupun melalui media tertentu dalam upaya mencapai perkembangan optimal sesuai dengan potensi dirinya dalam lingkungan social, budaya, dan religinya, yang berlangsung sepanjang hayat dalam rangka mewujudkan hidup bersama dalam damai di era global.
Salah satu pergeseran yang menonjol dalam definisi konseling di atas adalah adanya pergeseran konsep dari orientasi kuratif ke arah preventif-perkembangan, dari prilaku sakit ke arah prilaku berkembang, dari berorientasi pada individu ke arah Individu dalam system. Disamping itu konsep bimbingan konseling bertolak pada paradigma pendidikan terbuka, sehingga target intervensi adalah individu di dalam system dengan interaksi individu dalam system sebagai focus utama intervensi, di mana konselor berfungsi sebagai psychoeducator yang memfasilitasi keberfungsian system melalui transaksi dan relasi yang mendorong terjadinya belajar sepanjang hayat. Sesuai dengan konsep ini maka kemampuan ideal yang harus dimiliki konselor adalah: sebagai psychoeducator, perekayasa lingkungan, menguasai pengetahuan tentang perkembangan manusia, menguasai beragam teknik asesmen prilaku dan lingkungan , serta memiliki kemampuan untuk mengantisipasi sosok perkembangan manusia (Kartadinata, 2002: 2 & 4).
Jenis (forms) Konseling
Sebagaimana dikatakan di muka, bahwa prinsip ekologis menjadi dasar dalam membantu perkembangan individu di era global. Untuk ini terjadi pergeseran pendekatan dari yang bersifat mekanis ke arah pendekatan yang dinamis, teknologis sesuai dengan isu-isu yang muncul dalam perkembangan manusia. Disamping itu kemajuan di bidang teknologi informasi dan tuntutan gejala global, mendorong bergesernya bentuk konseling dari face to face ke arah technology- assisted distance counseling. Sehubungan dengan ini ada berbagai macam jenis/ bentuk konseling seperti yang diutarakan oleh National Board for Certified Counselor, Inc and Center for Credentialing and Education, Inc. seperti terlihat pada tabel berikut:

A Taxonomy of Face-To-Face And Technology-Assisted Distance Counseling
Face-To-Face Technology-Assisted Distance Counseling
Tele-Counseling Internet Counseling
• Individual counseling
• Couple counseling
• Group counseling • Telephone Based Individual Counseling
• Telephone Based Couple Counseling
• Telephone Based Group Counseling
• Mail-Based Individual Counseling
• Chat-Based Individual Counseling
• Chat-Based Couple Counseling
• Chat-Based Group Counseling
• Video-Based Individual Counseling
• Video-Based Couple Counseling
• Video-Based Group Counseling

Adapun pemilihan bentuk konseling ini didasarkan pada kebutuhan dan kecedrungan klien. Disamping itu halangan-halanagan berupa jauhnya jarak antara pusat pelayanan dan klien, keadaan geografis yang terpisah, atau keterbatasan mobilitas fisik, bisa menjadi alasan pentingnya pemberian konseling jarak jauh.
Ada empat hal yang dapat membedakan bentuk/jenis konseling yakni: partisipan, lokasi, media komunikasi yang digunakan, dan proses interakasi. Berdasarkan partisipan konseling bisa berlangsung dalam bentuk: individuals, couples atau kelompok. Berdasarkan lokasi/ tempat, konseling berlangsung dalam bentuk Face to face atau pada jarak jauh. Berdasarkan media komunikasi yang digunakan, konseling dapat berlangsung dalam bentuk teks tertulis , dalam bentuk di dengar lewat radio, atau melalui penglihatan dan pendengaran melalui T.V dan Video. Sedangkan berdasarkan proses interaksi; konseling bisa berlangsung dalam bentuk synchronous dan asynchronous. Demikian beragam bentuk pendekatan konseling di era global; bagaimana penanganan kerahasiaan pada sitiap jenis tersebut berikut penjelasannya:
PENGELOLAAN KERAHASIAAN DALAM KONSELING DI ERA GLOBAL
a. Isu Etik antara Hak dan Kewajiban
Salah satu isu yang sangat penting bagi konselor dalam hubungan konling adalah “kerahasiaan”.Banyak problem yang muncul tentang fakta konseling dan psikoterapi selalu terjadi dalam konteks sosial yang melibatkan konselor dan klien dalam suatu kerangka hubungan antar pribadi.
Bagaimanapun, kewajiban etik untuk kerahasiaan selalu berisfat relative daripada abstrak. Hak individu untuk memperoleh kerahasiaan selalu muncul dalam konteks /hubungan nilai-nilai dan hak orang lain. Para professional selalu meyakini fakta bahwa kesucian (sanctity) lebih berarti daripada suatu janji. Sebagai contoh bahwa seorang konselor yang diharapkan untuk memegang rahasia dalam hal mana seorang klien baru saja meletakkan sebuah bom waktu di sebuah auditorium yang penuh orang. Dalam hal ini Paul, 1977 ; (Bigg & Blocher, 1986: 136) mengatakan bahwa dalam keadaan tertentu, seorang konselor atau terapis mempunyai suatu kewajiban untuk memperingatkan orang lain dari suatu ancaman yang dibuat klien.
Sehubungan dengan pengelolaan kerahasiaan ini Bigg & Blocher, (1986: 137-144) mengemukakan tiga level kerahasiaan yang bisa diterapkan dalam situasi klinis: Tingkat Pertama. Pada level ini dasar yang penting sekali adalah bahwa semua informasi mengenai individu, organisasi, yang menyangkut harga diri, rahasia pribadi dan nilai-nilai, di handel /ditangani secara professional. Jenis rahasia ini bukan hanya diterapkan pada klien yang ditandai, tapi juga para individu lain atau organisasi lain seperti teman, keluarga, sekolah , agen-agen keamanan dan lain-lain yang mungkin memberikan informasi, dijaga kerahasiaannya sebagai bagian dari proses klinis. Para professional menyimpan informasi tersebut yang tidak akan pernah dibocorkan secara sembrono kepada siapapun.
Jenis kerahasiaan ini meliputi semua informasi tentang hubungan konseling, bahkan sekalipun klien sudah dialihtangankan. Data interview klinis dipelihara, pembicaraan telepon, janji-janji dan sebagainya, semuanya harus dijaga kerahasiaannya. Dan file-file yang mudah diakses hanya bagi /oleh professional atau pegawai-pegawai yang dipercaya, termasuk dalam urusan administrasi hanya bagi pegawai yang dipercya mampu menjaga kerahasiaan, dimana mereka dipilih dan dilatih untuk itu dan secara rutin diawasi.
Tentu saja jenis kerahasiaan ini diterapkan oleh semua professional dalam setiap situasi. Hal ini merupakan suatu bentuk perhatian yang mendasar dan merupakan dasar dari semua hubungan professional.
Tingkat Kedua. Ciri yang menonjol dari tingkat kerahasiaan ini adalah bahwa informasi-informasi hanya akan dibocorkan untuk kebaikan klien. Dalam banyak situasi informasi tentang klien dipertukaran (shared) di antara para profsionl. Di banyak waktu, pertukaran informasi juga terjadi dengan pasangan suami/istri, orang tua, guru dan orang lain yang bermakna bagi klien.
Konseling dengan anak-anak sering menghasilkan situasi-situasi dalam hal mana pertukaran informasi dengan orang tua merupakan bagian yang penting dari treatmen. Tretmen bagi orang dewasa untuk berbagai masalah seperti alkoholik, penggunaan obat terlarang melibatkan anggota keluarga. Yang jelas pertukaran informasi ini akan selalu dilakukan hanya demi kebaikan klien dan secara penuh diketahui oleh klien, dengan kata lain seizin klien. Namun dalam hal tertentu, konselor tetap memegang teguh data klien walaupun klien sendiri yang memintanya , seperti data tentang hasil tes kepribadian , konselor tidak memberikannya kepada praktisi lain yang dianggap konselor tidak kualified untuk menginterpretasikannya.
Dipihak lain, kadang-kadang kesulitan muncul dalam suatu institusi atau perwakilan ketika kepala atau yang lainnya mencari informasi tentang klien yang mungkin terlibat dalam perlanggaran disiplin,akademik, atau kesulitan-kesulitan legal. Konselor secara etik di batasi untuk melayani keinginan yang paling baik dari klien dalam menghandal informasi. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan kebijakan –kebijakan etis harus secara jelas dipahami oleh seorang perwakilan, sekolah dan organisasi lain dalam situasi sulit.
Tingkat Ketiga. Dalam tingkat ini kerahsiaan akan dibocorkan hanya dalam situasi yang ekstrim seperti membahayakan orang lain.
Isu etik dalam kerja klinik merupakan hal yang kompleks. Tentu saja secara simpel bisa diditeksi, bahwa level pertama dipraktekkan pada semua waktu. Konseling secara professional bisa dipraktekkan pada tingkat ke dua atau ke tiga sepanjang klien benar-benar menyadari tentang kebijakan konselor dalam tingkat tinggi (advance). Yang jelas konselor yang membatasi komitmennya pada level kedua akan menjadi tidak mampu untuk bekerja secara produktif dengan beberapa klien dan beberapa situasi.
Konselor harus tegas, bahwa sekali suatu tanggungjawab etik dihancurkan atau sekali konselor berprilaku tidak etik, hal ini tidak bisa diterima. Dalam beberapa situasi yang ekstrim, konselor mungkin harus meninggalkan setting, yang pasti dalam rangka memelihara integritas etis mereka.

b. Kode Etik Sebagai Penengah
Untuk menjembatani kekuatan tarik menarik antara hak dan kewajiban baik dilihat dari sudut klien maupun dari sisi konselor diperlukan adanya kode etik.
1. Sejarah Perlunya Kode Etik
Kasus Tarasoff versus Dewan Penyantun Universitas California, merupakan pemicu perlunya kode etik tentang kerahasiaan (Corey, 1991: 103-104 terjemahan) yang kisahnya sebagai berikut: Pada bulan Agustus 1969 Prosenjit Poddar, seorang pasien luar yang datang dengan kemauan sendiri kepada pelayanan kesehatan mahasiswa dikampus universitas Berkeley, memberitahu psikolog yang memberikan konseling bahwa ia akan membunuh teman kencan wanitanya. Si terapis kemudian menghubungi polosi kampus dan menyampaikan ancaman itu. Dia meminta memeriksa Poddar untuk kemudian dirumahsakitkan atas dasar pertimbangan bahwa ia termasuk orang yang berbahaya. Memang Poddar akhirnya diamankan polisi kampus untuk dimintai keterangan, tetapi akhirnya dilepas kembali setelah ia mampu memberikan keterangan yang rasional. Si psikolog menindaklanjuti himbauannya dengan mengirim surat permohonan resmi kepada wakil kepala polisi kampus. Beberapa waktu kemudian supervisor psikolog minta agar surat surat permohonan itu ditarik kembali, dan meminta agar semua surat dan catatan terapai yang berhubungab dengan kasus itu dihancurkan dan minta agar tidak dilakukan lagi tindakan lanjutan. Perlu dicatat bahwa tidak pernah diberikan peringatan baik pada calan orban maupun pada orang tuanya.
Dua bulan kemudian, Poddar membunuh Tetiana Tarasoff. Orang tua Tarasoff mengajukan tuntutan pengadilan kepada Dewan Penyantun dan pegawai-pegawai unuversitas karena tidak memperingatkan mereka akan adanya ancaman pembunuhan itu. Pengadilan tingkat pertama menolak tuntutan tersebut, akhirnya Pengadilan Tinggi California menerimanya dan pada tahun 1976 memutuskan bahwa tidak memberi peringatan kepada calon koraba merupakan perbuatan yang tidak bertanggungjawab.
Bagi praktisi, implikasi yang paling signifikan dari keputusan pengadilan tersebut adalah bahwa mereka dianggap bertanggungjawab atas perbuatan tidak memperingatkan orang lain yang secara potensial bisa menjadi calon korban tindakan kekerasan. Pada keputusannya pengadilan menegaskan prinsip bimbingan yang merupakan dasar dari keputusan: “Kebijakan public yang mendukung adanya jaminan perlindungan terhadap kerahasiaan dari komunikasi pasien-terapis harus bisa dilanggar apabila dianggap perlu untuk mengungkapkan data yang ada demi keselamatan oranglain dari bahaya yang bisa menimpanya. Tindakan melindungi akan hapus pada saat bencana tiba.
Implikasi keputusan Tarasoff bagi terapis adalah :pertama-tama terapis mendiagnosis secara akurat kecendrungan prilaku klien untuk berbuat sesuatu yang bisa membahayakan orang lain. Apabila klien memperlihatkan tanda-tanda kekerasan terhadapa orang lain, ia wajib berjaga-jaga yang wajar untuk melindungi calon korban potensial dari bahaya itu. Bagaimanpun, assessment professional sangat perlu sehubungan dengan isu kerahasiaan ini.
2 Kode Etik yang Berhubungan dengan Hak Klien
Ada beberapa kode etik yang berhubungan dengan hak dan kewajiban klien seperti yang tertera dalam ACA Code of Etics and Standars of Praktice ( Adaptasi by CACD 1996) sebagai berikut:
a. Mengungkapkan pada Klien. Dalam proses konseling, konselor perlu mengimformasikan kepada klien tentang tujuan, teknik, prosedur, keterbatasan-keterbatasan, resiko, dan manfaat pelayanan terdahulu serta informasi-informasi lainnya yang berhubungan dengan itu. Konselor menjamin bahwa klien memahami implikasi diagnosis, penggunaan tes dan laporan, keuangan dan permintaan. Klien berhak akan adanya: kerahasiaan (konfidential) dan diberikan penjelasan tentang itu, termasuk treatmen tim profesional; untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang catatan kasus mereka; partisipasi dalam proses konseling sesuai dengan rencana; dan untuk menolak nasehat dan pelayanan yang direkomendasikan dari konsekuensi penolakan tersebut (Lihat E.5.a dan G.2).
b. Kebebasan memilih. Konselor menawarkan pada klien untuk bebas memilih apa yang terjadi dalam suatu hubungan konseling dan menentukan profesional yang akan memberikan konseling. Batasan pilihan klien ini perlu dijelaskan (Lihat A.1.c).
c. Ketidak-mampuan untuk memberikan izin (kesempatan). Bila dalam konseling seseorang tidak mampu memberikan informasi secara sukarela, konselor dapat mengikuti minat klien (Lihat B.3).

3. Kode etik yang berhubungan dengan Kerahasiaan pada Face to Face Counseling
Ada beberapa kode etik yang berhubugan dengan kerahasiaan pada konseling tatap muka seperti yang tertulis pada ACA Code of Etics and Standars of Practice (Adapted by CACD 1996; diterjemahkan):
1. Hak untuk privasi (kebebasan pribadi).
a. Menghormati kebebasan. Konselor menghormati hak klien untuk bebas dan menghindarkan hal-hal yang illegal dan yang tidak masuk akal dari kerahasiaan informasi.
b. Surat melepaskan tuntutan klien (klien waiver). Hak untuk kebebasan mungkin dituntut oleh klien atau diakuinya secara legal.
c. Eksepsi (pengecualian). Syarat umum bahwa konselor menjaga kerahasiaan informasi tidak digunakan bila diperlukan untuk mencegah dan berbahaya bagi klien atau bagi yang lain atau bila persyaratan legal diperlukan bahwa kerahasiaan informasi ditunjukkan. Konselor berkomunikasi dengan profesional yang lain bila meragukan validitas eksepsi.
d. Penularan, penyakit fatal (contagious, fatal deseases). Seorang konselor yang menerima informasi bahwa seorang klien penyebar suatu penyakit dapat dikomunikasikan dan diidentifikasi pihak ketiga, orang yang berhubungan dengan klien beresiko tinggi terkena penularan. Sebelum membuat suatu pernyataan, konselor harus memastikan bahwa klien belum siap diberitahu pihak lain tentang penyakit menularnya dan bahwa klien tidak bermaksud untuk menginformasikan kepada pihak lain dengan segera.
e. Pengadilan-Perintah Pengungkapan (Court-Orderd Disclosure). Bila pengadilan diperintahkan untuk membuka kerahasiaan informasi tanpa persetujuan klien, konselor meminta kepada pengadilan bahwa penyingkapan tidak akan merugikan klien atau hubungan konseling.
f. Pengungkapan minimal. Bila diperlukan penyingkapan kerahasiaan informasi hanya untuk informasi yang penting saja. Untuk kemungkinan diperluas, klien diinfomasikan sebelum informasi rahasia dibuka.
g. Ekplanasi (penjelasan) keterbatasan-keterbatasan. Bila konseling dilakukan dan merupakan proses yang penting, konselor menginformasikan pada klien keterbatasan kerahasiaan dan mengidentifikasi situasi di mana kerahasiaan harus dilanggar .
h. Subordinates (bawahan). Konselor mengupayakan agar privasi dan kerahasiaan klien dijaga oleh bawahan seperti pekerja, pengawas, pembantu-pembantu administrasi, dan sukarelawan-sukarelawan
i. Treatmen tim (treatment teams). Bila klien ditreatmen dan dilanjutkan dengan review oleh tim treatmen, klien diinformasikan tentang keberadaan dan komposisi tim.
2. Kelompok dan Keluarga
a. Kerja Kelompok. Dalam kerja kelompok, konselor menetapkan secara jelas kerahasiaan dan parameter-parameter spesifik keberadaan kelompok, menjelaskan pentingnya kerahasiaan dan parameter-parameter itu, dan mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kerahasiaan yang ada dalam kerja kelompok. Fakta bahwa kerahasiaan tidak dijamin dijelaskan secara jelas kepada anggota-anggota kelompok.
b. Konseling keluarga. Dalam konseling keluarga, informasi tentang anggota-anggota keluarga tidak dibuka kepada anggota-anggota lain tanpa izin. Konselor melindungi hak-hak privasi masing-masing anggota keluarga .
3. Minor atau Klien yang tidak kompeten. Bila konseling klien minor atau individu tidak mampu memberikan dengan sukarela, diminta kesediaan orang tua atau wali mungkin dilibatkan dalam proses konseling. Konselor berbuat sesuai dengan minat klien dan melindungi kerahasiaan .
4. Records (catatan)
a. Keperluan records. Konselor memelihara pentingnya record untuk kepentingan pelayanan profesional terhadap kliennya dan sebagai persyaratan hukum, aturan, atau prosedur institusi.
b. Records kerahasiaan. Konselor bertanggung jawab untuk keselamatan dan kerahasiaan suatu records konseling yang ia lakukan, pemeliharaan, pentransferan, dan penyimpanan.
c. Izin untuk mencatat (merecords) atau mengobservasi. Konselor terlebihdahulu memperoleh izin dari klien untuk mencatat secara elektronik atau mengobservasi. .
d. Akses (peluang) klien. Konselor menghormati bahwa catatan konseling dipelihara untuk kepentingan klien, dan oleh karenanya peluang untuk mencatat dan mengkopi catatan bila diminta oleh klien yang berkompeten, kecuali kalau records berisi informasi yang mungkin ada kekeliruannya dan merugikan klien. Dalam situasi terdapat sejumlah klien, akses kepada records dibatasi hanya pada bagian-bagian yang tidak mengandung kerahasiaan yang berhubungan dengan klien yang lain.
e. Pengungkapan atau transfer. Konselor memperoleh izin tertulis dari klien untuk membuka atau mentransfer records kepada orang ketiga (third parties) kecuali bila eksepsi terhadap keberadaan konfidensial dicatat dalam bagian B.1. Langkah-langkah yang ditempuh menjamin bahwa penerima records konseling sensitif terhadap hakekat konfidensial mereka.

5. Riset dan Latihan
a. Data samaran yang diperlukan. Penggunaan data yang diperoleh melalui hubungan konseling untuk tujuan latihan, riset, atau publikasi dibatasi penggunaannya untuk menjamin kerahasiaan individu.
b. Rencana untuk identifikasi. Identifikasi sesorang klien dalam suatu presentasi atau publikasi dapat diizinkan hanya bila klien telah mereview materinya dan ia setuju untuk oipresentasikan dan dipublikasikan.

6. Konsultasi
a. Menghormati privasi. Informasi yang didapat dari suatu hubungan konseling didiskusikan untuk keperluan profesional hanya dengan orang-orang tertentu sehubungan dengan kasus. Tulisan dan laporan lisan menggambarkan data yang berhubungan dengan tujuan konsultasi, dan setiap usaha yang dibuat harus melindungi identitas klien dan menghindarkan infasi privasi (penjajahan kebebasan pribadi).
b. Kerjasama dengan agen (perwakilan). Sebelum membagi informasi, konselor berusaha meyakinkan bahwa ada ketentuan-ketentuan dari perwakilan lain yang melindungi secara efektif kerahasiaan informasi.
7. Tenologi Komputer.(Kode etik tele counseling)
a. Penggunaan komputer. Bila aplikasi (daftar isian) komputer digunakan dalam layanan konseling, konselor menjamin/yakin bahwa; 1) klien secara intelektual, emosional, dan secara fisik dapat menggunakan aplikasi komputer; 2) aplikasi komputer sesuai dengan kebutuhan klien; 3) klien paham maksud dan mengoperasikan aplikasi komputer; dan 4) penggunaan aplikasi komputer dapat membetulkan konsepsi yang keliru, menghilangkan ketidak-tepatan, dan menentukan kebutuhan-kebutuhan berikut.
b. Ekplanasi (menjelaskan) keterbatasan. Konselor yakin bahwa klien diberi informasi sebagai bagian dari hubungan konseling yang menjelaskan keterbatasan teknologi.
c. Akses ke aplikasi komputer. Konselor menyediakan akses yang sama ke aplikasi komputer dalam layanan konseling.
4 Kode Etik tentang Kerahasiaan yang Berhubungan dengan Tele Counseling
Dalam National Board for Certified Counselors, In. ,& Center for Credentialing and Education, Inc, dijelaskan bahwa kode etik tentang kerahasiaan dalam tele counseling khususnya internet Counseling, didasarkan pada prinsip-prinsip praktek etik dalam NBCC code of ethics. Disini diterakan ada tiga kode etik yang berhubungan dengan kerahasiaan dalam konseling lewat internet :
1. Konselor internet harus menginformasikan pada klien internet tentang metode-metode encryption yang digunakan untuk membantu menjamin keamanan komunikasi tentang klien/konselor/ supervisor.
Metode encryption harus digunakan bila mungkin. Jika itu tidak mungkin bagi klien, klien harus diinformasikan tentang potensi yang berbahaya bagi ketidak nyamanan komunikasi pada intenet. Bahaya meliputi tidak sahnya monitoring tentang transmisi dan atau catatan-catatan dari sessi internet konseling.
2. Internet konselor harus menginformasikan pada kliennya tentang bagaimana dan berapa lama data sessi itu dipelihara.
3. Internet konselor mengikuti prosedur berikut yang pantas mengarah pada pelepasan informasi untuk shering dengan sumber-sumber elktronik lain. Karena kemudahan relative dalam mana pasan-pesan e-mail bisa diarahkan pada sumber-sumber referral formal dan casual, Internet konselor harus bekerja secara hati-hati sehubungan dengan kerahasiaan hubungan konseling internet.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Gejala global memberikan dampak positif dan negative bagi kehidupan manusia, yang perlu diantisipasi dan ditangani secara baik agar tidak membahayakan terhadap perkembangan individu.
Disamping itu gejala global juga memberikan beberapa tantangan sekaligus peluang bagi unjuk kerja profesi konselor seperti dikemukakan di atas yang membawa konselor untuk meninjau kembali tentang definisi, konsep dan kemampuan yang harus dimilikinya dalam rangka menjawab tantangan global tersebut.
Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan berubahnya ciri klien sesuai dengan tuntutan global, memungkinkan bentuk pelayanan konseling bergeser dari “face to face ke arah konseling jarak jauh” . Hal ini menuntut pengelolaan kerahasiaan yang tentunya berbeda dari sebelumnya sesuai dengan jenis konseling yang digunakan.
Suatu hal yang bisa direkomendasikan untuk penelitian adalah sehubungan dengan: Sejauh manakah keterbukaan klien dalam konseling jika dia diiformasikan tentang penanganan kerahsiaan seperti pemberi tahuan tentang tiga level pengelolaan kerahasiaan dalam konseling?.

KEPUSTAKAAN

Biggs. A Donald & Blocher. H Donald, (1986). The Cognitive Approach To Ethical Counseling. New York. University At Albany.

Corey, Gerald, (1984). Issues & Ethics in the Helping Professions . California, Brooks/ Cole Publishing Company.

(Corey, Gerald , (1991). Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi: Terjemahan Mulyarto. California, Brooks/ Cole Publishing Company.

Combs. H Philip , (1985). The World Crisis in Education the View from the Eighties . New York, Oxford University Press.

Mayer, Christoper & Davis Stan, (2000). Future Wealth, Boston, Harvard Business School Press.

Micklethwait, John & Wooldridge, Adrian. (2000). A Future Perfect: The Essentials of Globalization. New York . Crown Publishers.

Naisbitt, John (1985) , Global Paradox, New York: Avon Books.

National Board for Certified Counselors dan Center for Credientialing and Education. 2001) The Practice of Internet Counseling. Dalam Sunarya Kartadinata (2001). Isu Etik Dan Moral Dalam Konseling. Bandung: Program Pascasarjana UPI.

Kartadinata, Sunaryo, ( n.d), Tantangan dan Arah Profesionalisasi Bimbingan Dan Konseling. Bandung: UPI

————————–, (2002), Bimbingan Dan Konseling berbasis Perkembangan: Suatu Strategi Intervensi Pengembangan Life Skills. Bandung: UPI.

Tajudin, (2002) Pendidikan Tinggi di Zaman Globalisasi . Jakarta.

Unesco of the International Commission on Education for the Twenty- First Century. (1996). Treasure Within France. United Nations Educational.

Unesco-Apnieve. (2000). Belajar Untuk Hidup Bersama Dalam Damai dan Harmoni: Pendidikan Nilai untuk Perdamaian, Hak-Hak Asasi Manusia. Demokratisasi dan Pembangunan Berkelanjuta untuk Kawasan Asia- Fasifik. Bangkok dan Jakarta. Kantor Prinsipal Unesco untuk Kawasan Asia-Pasifik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s