Study Diagnosis

Aspirasi Karir

a. Definisi Aspirasi Karir
Masa remaja adalah masa yang penting untuk memiliki aspirasi, karena dengan memiliki aspirasi siswa menjadi lebih percaya diri dan bangga akan dirinya, dan tentu saja ia sudah merencanakan masa depan dan memiliki harapan untuk meraih cita-citanya (Dorji, 2008).
Aspirasi dapat diartikan keinginan yang sungguh-sungguh atau ambisi kearah yang baik. Aspirasi merupakan harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang, selain itu aspirasi menunjukkan pada kerinduan akan hal yang lebih baik atau tinggi tingkatannya dengan tujuan mencapai kemajuan tertentu (Purnawati 2005:18).
Dari penjelasan dari beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa aspirasi adalah keinginan atau harapan, cita-cita, ambisi, mimpi yang ada yang realistis individu terhadap prestasi tertentu di masa depan yang berhubungan dengan keinginan utama individu, dan keinginan tersebut merupakan prestasi yang ingin diusahakan agar tercapai.
Penelitian telah menemukan bahwa aspirasi mempengaruhi kerja individu untuk mengejar kesempatan pendidikan dan pekerjaan. (Lent, Brown, & Hackeett.. 1994: Schoon and Parsons, 2002: Webb. Lubbinski. & Benbow.2002). Dalam psikologi sosial, aspirasi karir dipandang sebagai refleksi dari self efficacy dan mediator penting dari motivasi dan pengembangan karir (David Baker, 2009:336).
Sepanjang tahun, aspirasi karir telah diuraikan secara berbeda oleh beberapa penulis. Gottfredson (1981:548) menulis sebuah artikel tentang perkembangan aspirasi karir dan dia telah mengidentifikasi ada empat tahapan perkembangan karir sejak usia dini, yaitu : Tahap pertama (usia 3 -5) adalah tahap perkembangan karir yang berorientasi pada ukuran dan kekuasaan, tahap kedua (usia 6-8) berorientasi oleh peran jenis kelamin, Tahap ketiga adalah orientasi terhadap penilaian sosial yang diterapkan pada usia 9-13, dan Tahap keempat atau tahap terakhir adalah perkembangan yangg berorientasi pada internal diri, dan keunikan diri sendiri, mulai dari usia 14 tahun. Gottfredson juga mengidentifikasi bahwa ada dua komponen aspirasi karir, yaitu aspirasi realistis dan aspirasi idealis.
Menurut Danziger dan Eden (2006:115), dijelaskan bahwa aspirasi karir adalah membina seseorang untuk mewujudkan tujuan karir yang diinginkan. Mereka juga berpendapat bahwa aspirasi karir yang terkait dengan harapan karir seseorang dan persepsi individu adalah gagasan dan penilaian, yang merupakan produk yang terdiri dari proses pengorganisasian mental, pengintegrasian, dan pengakuan terhadap kenyataan yang ada. Danziger dan Eden menjabarkan dari teori Gottfredson bahwa aspirasi karir idealis adalah tujuan karir yang diinginkan dan pengembangan aspirasi karir yang dilakukan merupakan proses mental. Perbedaan persepsi antara kedua jenis aspirasi ini oleh Danziger dan Eden disebut sebagai “kesenjangan harapan “.
Litzky dan Greenhaus (dalam A. Smulders, 2007:10) menyatakan bahwa komponen aspirasi karir adalah komponen sikap dan komponen perilaku. Komponen sikap dapat diartikan sebagai motivasi untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan komponen perilaku aspirasi karir terdiri dari rencana aktual dan strategi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Nauta, Epperson dan Kahn (A. Smulders, 1998:10) mendefinisikan aspirasi karir sebagai “sejauh mana orang bercita-cita untuk posisi kepemimpinan atau lanjutan dalam pilihan pekerjaan mereka”, karena ada perbedaan antara orang yang memiliki aspirasi karir di organisasi dengan orang yang memiliki aspirasi karir di lapangan. Sedangkan Litzky dan Greenhaus (A. Smulders, 2007:10) memiliki definisi yang hampir sama bahwa aspirasi karir menekankan pada kemajuan ke tingkat yang lebih tinggi (yaitu tingkat manajemen senior) dalam organisasi berbeda dengan aspirasi untuk lapangan pekerjaan tertentu.
Caroline (2005:79) mendefinisikan bahwa aspirasi karir merupakan tujuan yang ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri dalam suatu pekerjaan atau tugas yang memiliki arti penting bagi seseorang, dengan kata lain secara umum aspirasi karir dapat diartikan sebagai suatu harapan dalam pemilihan karir.
Rojewski (Paton,dkk. 2005:132) juga menyatakan bahwa aspirasi karir adalah cita-cita atau harapan karir yang menimbulkan usaha untuk pencapaian harapan tersebut. Aspirasi karir merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kematangan vokasional. Individu harus membentuk aspirasi karir dalam konteks kemampuan. potensi atau kapasitas, serta penerimaan terhadap situasi dan kenyataan di sekitar individu untuk mencapai kematangan karir. Aspirasi karir mengarahkan tingkah laku individu untuk mencapai karir yang menjadi harapan atau cita-citanya.
Annete Smulders (2007:15) menyimpulkan dari beberapa pendapat ahli (Gottfredson, Litzky dan Greenhaus, Nauta, Epperson dan Kahn), terdapat dua kandungan dalam aspirasi karir. Pertama, aspirasi karir mencakup dua komponen, yaitu komponen sikap dan komponen perilaku, dimana komponen sikap mewakili ide-ide dan impian (aspirasi karir idealis) dan komponen perilaku merupakan tindakan yang di ambil untuk mewujudkan impian tersebut (aspirasi realistis). Kedua, aspirasi karir adalah suatu perkembangan yang terjadi pada masing-masing individu yang berbeda-beda yang merangsang individu untuk bekerja keras dan berdedikasi dalam mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli berkenaan dengan aspirasi karir yang dikemukakan diatas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa ada dua komponen dasar yang terkandung dalam aspirasi karir, yaitu komponen sikap dan komponen perilaku. Aspek yang terkait pada komponen sikap adalah impian, harapan atau cita-cita, ambisi dan ide-ide. Sedangkan aspek yang terkait dengan komponen perilaku adalah perencanaan aktual, strategi, kerja keras dan dedikasi dalam mencapai tujuan karir yang diinginkan.

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aspirasi Karir
Proses pemilihan karir untuk setiap individu adalah unik, karena antara individu satu dengan yang lain tidaklah sama, menurut Jigmi Dorji (2008:1) orientasi aspirasi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin (Hotchkiss & Borow, 1996), status ekonomi (Blau & Duncan, 1967; Schnabel, Alfeld, Eccles, Koller, & Baumert, 2002), latar belakang keluarga (Helwig & Myrin, 1997), harapan orangtua (Savickas, 2002), dan usia (Canaff, 1997), serta kebijakan dan dukungan sekolah terhadap siswa (Dorji dengan Kinga, 2005; Herr, 1990; Herr & Cramer 1996) juga dapat mempengaruhi aspirasi pemilihan karir seseorang.
Menurut Herr, Cramer & Niles (2004:398) “levels of parental support, styles and levels of parental attachment, work saliance, gender and racial background, and health and physical development”, dukungan orang tua, gaya dan kasih sayang orang tua, gengsi atau prestise, jenis kelamin dan ras, serta kondisi fisik. Sementara, Gottfredson (dalam Leung, Conoley & Scheel, 1994: 298) menyatakan bahwa the acceptability of career alternatives to an individual is determined by three factors: occupation prestige, gender traditionality (or sex type) of occupations and occupational field, dapat dikatakan ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap aspirasi karir dan pendidikan individu, yaitu: gengsi atau prestise, jenis kelamin dan minat pada lapangan pekerjaan tertentu. Gottfredson menegaskan bahwa ketiga faktor tersebut merupakan prinsip dalam proses yang dikenal ”circumscription”, di mana awalnya aspirasi individu dipengaruhi oleh jenis kelamin (umur 6-8 tahun), kemudian beralih berdasarkan gengsi atau prestise (umur 9-13 tahun) dan terakhir berdasarkan minat pada jenis pekerjaan tertentu (umur 14 tahun ke atas).
Lihong Huang (2009:338) menyatakan bahwa banyak faktor yang ditemukan dapat mempengaruhi pembentukan dan pengembangan aspirasi karir, yang agak berkorelasi dengan kepribadian, minat dan banyak variabel psikologis dan sosiologis lainnya. Berdasarkan hasil studi, telah menemukan bahwa perkembangan proses aspirasi karir dijelaskan oleh kombinasi variabel latar belakang sosial-ekonomi, faktor psikologis pribadi dan pengaruh sosiologis atau lingkungan. Lebih khusus lagi, sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi, hubungan anak dan orang tua, gaya orangtua, kecemasan, tekanan atau dorongan dan ukuran keluarga hanyalah beberapa dari penentu aspirasi karir (Rehberg & Wetsby, 1967. ; Vignoli, Croity Beltz, Chapeland, de Fillipis & Gareia, 2005; Jacobs et al., 2006) Faktor-faktor lain seperti jenis kelamin (Davey & Stoppard,1993; Frome, Alfeld, Eccles & Barber,2006; Schoon, Martin, & Ross, 2007) etnis (Carter, 1999), jenis institusi (Brint & Karabel, 1989), lingkungan sekolah (Smart & Thompson, 2001; Sax & Bryant, 2006), bidang studi (Nauta, Epperson, & Kahn, 1998) dan biaya dan metode pembiayaan studi (Huang, 2005) juga ditemukan memiliki dampak pada aspirasi karir siswa. Selain itu, aspirasi karir ditampilkan untuk mencerminkan pengaruh bias dan diskriminasi, sikap sosial, harapan budaya dan stereotip berdasarkan jenis kelamin, ras dan/atau status sosial-ekonomi (Hotchkiss & Borrow, 1996; Perna,2000).
sumber :
Didi T. 2010. Teori Perkembangan Karir (Intisari dari Zunker, Vernon G. (1986). Career Counseling: Applied Concepts of Life Planning. Second Edition. Chapter 2: Theories of Career Development. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company)
Zunker, Vernon G. 1986. Career Counseling: Applied Concept of Life Planning. California: Brooks/Cole
Brown, Duane, Brooks, Linda et. Al. 1985. Career Choice and Development. San
Fransisco: Jessey Bass Publishers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s