Dasar-dasar BK

Motivasi

a. Pegertian Motivasi
Sebelum membicarakan tentang motivasi belajar, terlebih dahulu kita menelaah pengidentifikasian kata motif dan kata motivasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008: 930), “motif adalah kata benda yang artinya pendorong, sedangkan motivasi adalah kata kerja yang artinya mendorong”. Menurut Sardiman (2008:73) kata motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sementara kata motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telak aktif.
Menurut Alex Sobur (2003:266) pada dasarnya motif merupakan pengertian yang melingkup penggerak. Motif manusia merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak lainnya, yang berasal dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Jadi, istilah motif sangat erat kaitannya dengan gerakan yang dilakukan oleh manusia yang dapat diamati melalui perbuatan atau tingkah laku.
Menurut pendapat Berelson dan Steiner (dalam Alex Sobur, 2003:267) motif is an inner state that energizes, activates, or moves (hence ‘motivation’), and that directs or channels behavior toward goals”. pendapat tersebut mengemukakan bahwa motif adalah sesuatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan, yang menggiatkan atau yang menggerakkan, sehingga disebut penggerak atau motivasi, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku ke arah tujuan-tujuan.
Menurut Mc. Donald (dalam Djamarah, 2008:148) motivasi merupakan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi individu akan mengawali terjadinya perubahan energi pada diri individu tersebut yang secara nyata dapat kita amati melalui kegiatan fisiknya. Motivasi merupakan potensi yang dimiliki oleh seorang individu sebagai kodratnya untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Kegiatan-kegiatan tersebut dilandasi adanya motif yang terkait dengan kebutuhan, sehingga individu terdorong untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan timbul dan berkembangnya motif-motif tersebut yang direalisasikan ke dalam bentuk motivasi.
Menurut Oemar Hamalik (2001:158) “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Selanjutnya Hamzah B. Uno (2009:9) mengemukakan bahwa:
Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/ aktivitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat berperan penting terhadap perilaku yang ditampilkan individu, sehingga apabila individu tidak memiliki motivasi maka kecil kemungkinan dia akan mencapai tujuan. Hal itu sesuai dengan pendapat Handoko (1986:252) bahwa “Motivasi diartikan sebagai keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan”.
Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Bisa juga dikatakan bahwa motivasi berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan.

b. Fungsi Motivasi
Setiap individu memiliki alasan dan tujuan tertentu dalam melaksanakan kegiatanya. Tujuan-tujuan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kepuasan yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Menurut Maslow (1994:36) tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu dan kebutuhan-kebutuhan tersebutlah yang mampu memotivasi tingkah laku individu.
Giddens (2001:67) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan tujuan. Individu yang memiliki tujuan untuk menjadi seseorang yang sukses maka dia akan termotivasi untuk giat bekerja. Tujuan akan menentukan seberapa aktif individu akan betingkah laku. Jika tujuannya menarik, maka individu akan lebih aktif bertingkah laku.
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 2008:74) motivasi berfungsi sebagai energi penggerak dalam diri individu yang mengawali terjadinya perubahan-perubahan dana dapat diamati dari kegiatan fisik manusia tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, Oemar Hamalik (2002:175) mengemukakan bahwa fungsi motivasi, yaitu: 1) mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, 2) sebagai pengarah dan 3) sebagai penggerak. Dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak bagi individu dalam melakukan suatu kegiatan.
Menurut Oemar Hamalik (2002:174) motivasi memiliki dua komponen utama, yakni: komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam merupakan kebutuhan-kebutuhan yang hendak dipuaskan sedangkan komponen luar merupakan tujuan yang hendak dicapai. Komponen dalam dari motivasi berfungsi sebagai penggerak terjadiya perubahan dalam diri seseorang. Perubahan-peruabahan tersebut muncul sebagai akibat adanya perasaan belum puas dan ketegangan-ketegangan psikologis lainnya. Keinginan-keinginan untuk mengadakan perubahan tersebut akan menciptakan aktifnya komponen luar motivasi, sehingga akan timbul tujuan-tujuan yang menjadi arah kelakuannya.
Sebagai individu yang menjalani proses pendidikan di sekolah, siswa memiliki berbagai tujuan. Dalam usaha mencapai tujuan-tujuan tersebut tidak jarang siswa mengalami permasalahan-permasalahan yang akan menjadi penghambat bagi terwujudnya tujuan yang diinginkan. Idealnya setiap individu yang memiliki permasalahan memiliki kebutuhan dan tujuan-tujuan untuk segera mengentaskan permasalahan ataupun membntuk tingkah laku baru.
Bimbingan dan konseling memiliki peran yang sangat besar bagi terwujudnya tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Salah satu layanan yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mencapai usaha pemenuhan kebutuhan, tujuan dan pengentasan masalahnya adalah layanan konseling perorangan. Menurut Patterson (1980:8) layanan konseling perorangan berupaya mempengaruhi terjadinya perubahan tingkah laku secara sadar pada diri klien. Melalui layanan konseling perorangan, siswa diajak untuk ikut berfikir mengenai cara-cara atau solusi dari pengentasan permasalahannya.
Siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk memperoleh tujuannya akan memanfaatkan pelayanan bimbingan dan konseling secara optimal. Motivasi tersebut terwujud dengan terlihatnya keaktifannya secara sukarela datang meminta bantuan kepada guru pembimbing untuk memanfaatkan layanan konseling perorangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prayitno (2004:11) yang menyatakan bahwa kesukarelaan siswa datang kepada guru pembimbing untuk meminta bantua sangat berpengaruh positif terhadap capaian keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s