Metodologi penelitian

PENGUKURAN, PENILAIAN, ASESMENT

A. Pengukuran
1. Pengertian pengukuran
Apabila ada orang yang memberikan sebuah pensil kepada kita, dan kita disuruh memilih antara dua pensil yang tidak sama panjangnya maka kita akan memilih yang panjang. Kita tidak akan memilih yang pendek kecuali ada alasan khusus. Dari contoh di atas dapat kita simpulkan bahwa sebelum kita memilih suatu benda maka kita mengukur terlebih dahulu. Jika ada pengaris maka kita akan mengukur terlebih dahulu mana yang lebih panjang dan itulah yang kita ambil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran atau pengukuran yang bersifat kuantitatif.

Untuk dapat lebih memahami pengertian pengukuran, berikut ini di kemukakan oleh beberapa ahli :
a. Measurement is the assignment of numbers to attributes of object, event or people according too rules (Hill, 1981:16)
b. Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono, 1996: 3).
c. Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuntitas sesuatu ( Zaenal Arifin,2009).
d. Hopkins dan Antes (1990) mengartikan pengukuran sebagai “suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu objek, orang atau peristiwa.
e. .Menurut Akmad Sudrajat pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu

Dari beberapa pendapat ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa pengukuran membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran. Namun ada satu hal yang perlu diingat bahwa pengukuran in bukan hanya dapat mengukur hal-hal yang tampak saja namun dapat juga mengukur benda-benda yang dapat di bayangkan seperti kepercayaan konsumen , ketidak pastian dll.

2. Macam-macam Pengukuran
Menurut suharsimi arikunto (2009;2) ada dua macam bentuk pengukuran yaitu sebagai berikut:
a. Pengukuran yang terstandar yaitu ukuran yang memiliki satuan standar seperti meter, kilogram, takaran, dan sebagainya.
b. Pengukuran yang tidak terstandar yaitu ukuran yang berdasarkan perkiraan dari hasil pengalaman seperti ketika memilih buah jeruk yang manis orang akan memilih jeruk yang kuning, besar, dan halus kulitnya.

Sedangkan menurut Anas Sudijono (1996: 4) pengukuran ada tiga macam yaitu :

a. pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota.
b. Pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta
c. pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa dalam pengukuran terdapat bentuk yang terstandar dan yang belum terstandar.

3. Langkah-langkah pengukuran

Menurut Muri Yusuf (2005:12) ada tiga langkah yang perlu dilalui dalam melaksanakan pengukuran, yaitu :
a. Mengidentifikasi dan merumuskan atribut atau kualitas yang akan diukur.
b. Menentukan seperangkat operasi yang dapat digunakan untuk mengukur atribut tersebut.
c. Menetapkan seperangkat prosedur atau definisi untuk menerjemahkan hasil pengukuran kedalam pernyataan data kuantitatif.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses pengukuran perlu adanya pengidentifikasian, menentukan alat dan menetapkan prosedur.

4. Konsep pengukuran

Menurut Muri Yusuf (2005:11) ada tiga konsep yang perlu diperhatikan dalam pengukuran yaitu:
a. Angka atau simbol yang dapat diolah secara statistik atau dimanipulasi secara tematis seperti 1,2,3 dan seterusnya.
b. Penerapannya. Ini berarti bahwa angka atau symbol diterapkan terhadap objek atau kejadian tertentu yang dimaksudkan.
c. Aturan. Aturan itu dimaksudkan sebagai patokan tentang benar atau tidaknya tindakan yang dilakukan atau suatu kejadian.
Jadi dapat disimpulkan bahwa konsep pada pengukuran perlu adanya angka, penerapan dan aturannya.

B. Penilaian
1. Pengertian Penilaian
Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Bagi siswa sendiri, sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya.

untuk dapat memahaminya berikut ini merupakan beberapa pendapat ahli tentang definisi penilaian.
a. Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran.
b. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Oleh karena itu, langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai.
c. Menurut Suharsimi Arikunto penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
d. Dalam buku, “Bimbingan Dan Konseling Disekolah”, terbitan Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, departemen Pendidikan Nasional (2008:27) dijelaskan bahwa Penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan.
e. Dalam PP.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab I pasal 1 ayat 17 dikemukakan bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”.
Dari beberapa pendapat ahli tadi dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah pengambilan suatu keputusan atas pengukuran yang telah dilaksanakan dan bersifat kualitatif.
2. Makna dari Penilaian
Menurut suharsimi arikunto ada beberapa makna dari proses penilaian antara lain sebagai berikut:
a. Makna Bagi siswa
Dengan diadakannya penilaian maka siswa dapt mengetahui sejauh man telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh oleh siswa ada 2 kemungkinan :
1). Memuaskan. Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan siswa akan memiliki motvasi yang cukup besar agar dapat belajar lebih giat.
2). Tidak Memuaskan. Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya, maka ia akan beruaha agar lain kali tidak seperti itu lagi.
b. Makna bagi guru
1). Dengan hasil penilaian guru dapat mengetahui siswa mana saja yang berhak melanjutkan pelajaran.
2). Guru dapat mengetahui apakah pelajaran yang ia sampaikan tepat sasaran kepada siswa.
3). Guru akan mengetahui apakah metode yang ia gunakan sudah dapat maksimal atau belum.
c. Makna Bagi Sekolah
1). Apabila guru-guru mangadakan penilaian akan diketahui hasil siswa, maka dapat diketahui pula apakah kondisi belajar disekolah sudah sesuai harapan atau belum.
2). Akan ada informasi tentang tepat tidaknya kurikulum sekolah
3). Akan ada informasi hasil penilaian dari tahun ke tahun yang bias digunakan sebagai pedoman dari tahun ke tahun.

3. Fungsi Penilaian

Dengan diketahuinya makna dari penilaian, maka dapat dikatakan bahwa fungsi penilaian adalah sebagai berikut:

a. Penilaian berfungsi selektif.
Dengan cara penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksiatau penilaian terhadap siswanya.

b. Penilaian berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi syarat, maka dengan melihat hasilnya guru dapat mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu akan diketahui pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian guru sebanarnya melakukan diagnosis kepada siswanya.

c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Setiap siswa sejak lahir telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga belajar akan lebih efektif jika di sesuaikan dengan pembawaan yang ada. Untuk dapat menentukan dengan pasti kelompok mana yang sesuai dengan kemampuan siswa, maka digunakan suatu penilaian.

d. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Funsi ini dimaksudkan untuk mengetahui suatu mana suatu program berhasil diterapkan kepada siswa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian berfungsi sebagai alat ukur keberhasilan dalam proses belajar.

4. Ciri-ciri penilaian dalam pendidikan

Untuk dapat menentukan kepandaian seseorang, bukan kepandaian yang diukur. Namun kita dapat melihat dari gejala-gejala yang tampak atau memancar dari kepandaianya. Salah satu contohnya adalah bahwa anak yang pandai biasanya dapat menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh gurunya.

Ciri-ciri penilaian antara lain sebagai berikut:
a. Ciri pertama yaitu bahwa penilaian dilakukan secara tidak langsung. Dalam contoh ini kita menilai kepandaian melalui ukuran menyelesaikan soal.

b. Ciri kedua yaitu pengunaan ukuran kuantitatif. Penilaian bersifat kuantitatif artinya mengunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu diinterpretasikan ke bentuk kualitatif. Contoh : dari hasil pengukuran tia mempunyai IQ 126 sedangkan budi 89. Maka tia dapat dikatagorikan sebagai anak pandai sedangkan budi anak dibawah rata-rata.

c. Ciri ketiga yaitu bahwa penilaian pendidikan mengunakan, unit-unit atau satuan-satuan yang tetap misalnya, IQ 126 menurut unit pengukurannya termasuk anak yang pandai sedangkan 89 termasuk anak dibawah rata-rata.

d. Ciri keempat yaitu bersifat relatif artinya tidak selalu tetap dari waktu ke waktu yang di sebabkan banyak faktor. contoh nilai ulangan MTK pertama tia adalah 90 namun ulangan keduanya hanya 40.

e. Ciri kelima bahwa dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun kesalaan-kesalahan itu ditinjau dari berbagai faktor yaitu:
1). Terletak pada alat ukurnya.
Alat yang digunakan untuk mengukur haruslah baik namun sering kali terjadi kesalahan di alat ukurnya.
2). Terletak pada orang yang melakukan pengukurannya.

Hal ini dapat berupa:
a). kesalahan pada waktu penilaian karena factor subjektif penilai yang telah terpengarus oleh hasil pengukuran, misalnya tulisan jelek atau tidak jelas itu sering mempengaruhi subjektif penilaian.
b). kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara murah atau mahal. Ada guru yang mudah memberikan nilai ada yang sulit untuk memberikan nilai.
c). Adanya Hello-effect, yakni adanya kesan penilai terhadap siswa.
d). adanya pengaruh dari hasil sebelumnya.
e). kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka-angka hasil penilaian.

3). Terletak pada anak yang dinilai.

a). siswa adalah manusia yang berperasaan dan bersuasana hati. Suasana hati sangat berpengaruh terhadap hasil penilaian.
b). keadaan fisik ketika siswa sedang dinilai.
c). nasib siswa kadang-kadang mempunyai peranan terhadap hasil penilaian.

4). Terletak pada situasi dimana penilaian berlangsung

a). suasana pada saat terjadinya penilaian. Keadaan yang gaduh akan mempengaruhi penilaian yang sebenarnya karena siswa tidak dapat konsenterasi.
b). Pengawasan dalam penilaian. Bentuk pengawasan yang tidak sesuai akan berpengaruh pada keobjektifan hasil dari pengukuran yang ada.

5. Acuan Dalam Penilaian

Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu sebagai berikut :

a. acuan norma
Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda. Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu, maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut

b. Acuan kriteria.
Dalam acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda. Acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. Acuan kriteria, ini biasanya dipergunakan untuk ujian-ujian praktek. .
Dengan adanya acuan norma atau kriteria, hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. Misalnya, kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil.

C. Asesment
1. Pengertian Asesment

Pada awalnya istilah assessment banyak digunakan dalam evaluasi untuk mengambl keputusan dan kebijakan dan perencanaan pendidikan seperti need assessment tentang pendidikan. Dalam perkembangannya assessment digunakan terhadap semua aspek dalam bidang pendidikan, karena banyak informasi yang dibutuhkan, tetapi tidak dapat dikumpulkan melalui pengukuran. Assessment dapat diartikan sebagai proses pengumpulan informasi yang diambil untuk mengambil keputusan tentang kebijakan pendidikan, mutu pendidikan, mutu program pendidikan dan mutu input pendidikan.
Sejalan dengan perkembangan dalam bidang penelitian, para ahli mulai meningalkan dikotomi kuantitatif dan kualitatif karena banyak instrumen yang ada tidak dapat menyediakan informasi secara cukup bermakna. Para ahli mulai menguakan bermacam pendekatan dan instrument yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, assessment memberikan informasi lebih konferensif dan lengkap dari pada pengukuran, sebab tidak hanya mengunakan instrument tes saja, tetapi juga mengunakan tekhnik non tes lainya. Secara umum dapat dikatakan bahwa assessment adalah suatu prosedur pengumpulan informasi tentag orang yang mencakup kuantitas dan kualitasnya.

Untuk dapat lebih memahami tentang assessment berikut beberapa definisi menurut para ahli sebagai berikut :
a. Menurut Hill (1993)
Assessment is the process of gathering evidence and documenting a child’s lerning and growth
Assessment adalah proses mengumpulkan peristiwa dan mendokumentasikan pertumbuhan dan pembelajaran anak.

b. Menurut Robert M Smith (2002)
Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.

c. Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.

d. Menurut sumarno (2003). Assessment adalah proses sistematis untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa assessment adalah proses pengumpulan informasi untuk merancang proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

2. Prinsip-prinsip assessment
Choite (1992) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar assessment terdiri dari sepuluh poin, yaitu sebagai berikut:

a. Pengaturan dengan assessmen harus efesien dan berdasarkan maksud tertentu. Jadi assessment harus efisien dalam penyajiannya dan memilki maksud dan tujuan yang sudah terencana.
b. Hubunga assessment dengan keperluan kurikulum melakukan asesmen hanya pada saat kemampuan actual sedang diajarkan.
c. Perioritas pengaturan asesmen ketika kurikulum inti gagal maka kemampuan baru harus diperkenalkan.
d. Hanya mengunakan peralatan dan tekhnik yang layak.
e. Berproses melalui kemampuan yang besar kemudian pada kemampuan yang spesifik.
f. Menganalisis seluruh kesalahan.
g. Menentukan strategi untuk siswa yang digunakan untuk mengerjakan tugas.
h. Membenarkan penemuan asesment.
i. Merekan dan melaporkan hasil asesment.
j. Secara terus menerus memperbaiki pelaksanaan asesment.
Jadi dapat disimpulkan bahwa proses asesmen secara terus menerus dilaksanakan dan secara berkesinambunagan.

3. Fungsi Asesment.
Menurut chirtendden (1991) fungsi assessment adalah sebagai berikut:
a. Keeping track (melacak kemampuan siswa)
b. Checking up (mengecek ketercapaian kemampuan siswa)
c. Finding out (mendeteksi kesalahan)
Menurut horgrove dan poteot (1984) terdapat tiga fungsi assessment antara lain sebagai berikut:
a. Screening
Proses penyaringan untuk membedakan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Seorang anak yang memiliki perbedaan ketika diobservasi maka pihak sekolah harus memberikan perhatian khusus.

b. Determining eligibility for special education
Menetapkan persyaratan bagi pendidikan khusus artinya bahwa melalui proses assessment, sekolah akan mendasra antara masing-masing siswa. Jika sekolah mengetahui terdapat siswa yang memiliki kebutuhan khusus maka sekolah kan menindaklanjutkan kepihak lebih lanjut.

c. Intruction.
Maksudnya adalah sekolah setelah mengetahui terdapat siswanya yang memeliki kebutuhan khusus harus segera menetapkan starategi pembelajaran yang sesuai dengan target kemampuan siswa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi assessment adalah mendeteksi kemampuan siswa dan melakukan tindak lanjut setelah diketahui sebabnya.

4. Tujuan Asesment
Tujauan assessment Menurut Robb ( 1992) adalah sebagai berikut :
a. Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
b. Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
c. Untuk merancang individualisasi pendidikan
d. Untuk memonitor kemajuan anak secara individu
e. Untuk mengevaluasi kefektifan program.
Sedangkan Menurut Sumardi dan Sunaryo (2006) tujuan assessment yaitu:
a. Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini
b. Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
c. Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.
Berdasarkan hasil kajian dari teori-teori diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa asesmen dilakukan untuk mengetahui keadaan anak pada saat tertentu (Waktu dilakukan asesmen) baik potensi-potensinya maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak sebagai bahan untuk menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan layanan yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

A.Muri Yusuf. 2005. Evaluasi Pendidikan.Padang.Universitas Negeri Padang.
Mahyudin nenny.2008.Asesmen anak usia dini.Padang;UNP Pres.
http://www.elook.org/dictionary/assessment.htm

http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/pengukuran-penilaian-dan-
evaluasi.html

http://pendidikan.anekanews.com/2010/04/pengertian-hubungan-perbedaan-dan-
etika.html
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/pengukuran.html
Suharsimi Arikunto.2009.Dasar-dasar evaluasi pendidikan.Jakarta.PT. Bumi
Aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s