Study Diagnosis

Tipe – tipe gangguan kecemasan

1. Gangguan Panik
Panic Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan panic yang tidak diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi orang lain bukan merupakan masalah luar biasa. Maksudnya adalah bahwa umumnya orang melihat keadaan-keadaan itu sebagai situasi yang tidak menakutkan. Ada beberapa symptom yang menandakan kondisi panic tersebut yaitu nafas yang pendek, palpilasi (mulut yang kering) atau justru kerongkongan tidak bisa menelan, ketakutan akan mati, atau bahkan takut gila.
Beberapa orang dengan gangguan panic mengalami beberapa serangan dalam periode waktu yang singkat, seprti setiap hari dalam seminggu dan kemudian berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Namun selanjutnya tidak mengalami serangan sama sekali.
2. Gangguan Kecemasan Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)
Tidak seperti pola neurotic lainnya, Generalized Anxiety Disorder (GAD) ini tidak melibatkan mekanisme menghindari rasa cemas dalam perilakunya. Jadi, meskipun tujuan dari gangguan-gangguan itu bersatu dengan rasa cemasnya, perasaan terancam atau cemas merupakan gambaran pusat dari gangguan ini. Gangguan ini ditandai oleh adanya rasa khawatir yang eksesif dan kronis, yang dalam istilah lama disebut Free Floating Anxiety.
Berbagai bentuk phobia dan agoraphobia termasuk ke dalam periode dari anxiety yang akut dan pada umumnya hidup sebentar (short-lived) atau kurang spesifik terhadap situasi-situasi tertentu. Beberapa orang selalu merasa cemas, dalam banyak atau berbagai bentuk situasi. Orang-orang ini dapat didiagnosis dengan Generalized Anxiety Disorder. Orsng dengan gangguan GAD khawatir terhadap berbagai hal dalam kehidupannya, seperti kecemasan dan kekhawatiran yang eksesif, kesulitan dalam mengendalikan kekhawatiran, sangat mudah menjadi lelah, sulit berkonsentrasi dan pikiran menjadi kosong, mengalami gangguan tidur, dan irritalibility (mudah tersinggung). Keluhan fisik yang lazim antara lain adalah jantung berdebar-debar, macam-macam sakit kepala, kepeningan, kelelahan, dll. (Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi, 1991).
Orang-orang dengan GAD mungkin juga khawatir mengenai kinerja mereka dalam pekerjaan, mengenai jalannya hubungan persahabatan, dan mengenai kesehatan mereka sendiri. GAD merupakan tipe gangguan anxiety yang paling sering.
3. Gangguan Fobia
Gangguan-gangguan Phobia yang tercatat dalam DSM IV
• Agoraphobia
Ketakutan terhadap tempat-tempat dimana pertolongan mungkin tidak akan diperoleh ketika berada dalam kondisi emergency (berbahaya/genting).
Misalnya, Seseorang jadi mengurung diri di rumah karena setiap tempat lain dibandingkan dengan rumah orangnya, menimbulkan symptom-symptom anxiety (tanda-tanda ekstrem yang mencemaskan)
• Specific Phobias
Ketakutan terhadap obyek-obyek, tempat-tempat atau situasi-situasi yang spesifik.
Misalnya, Ada orang yang takut terhadap biji buah salak atau pada barang yang terbuat dari bahan karet.
• Animal Type
Takut pada binatang atau serangga tertentu.
Misalnya, Orang memiliki rasa takut yang sangat ekstrem terhadap anjing, kucing atau laba-laba.

• Natural Environtment Type
Kejadian-kejadian atau situasi-situasi di lingkungan alami.
Misalnya, Orang memiliki rasa takut yang sangat ekstrem terhadap badai, ketinggian atau air.
• Situasional Type
Takut terhadap transportasi umum, terowongan, jembatan, elevator, terbang atau mengemudi.
Misalnya, Orang menjadi sangat takut terhadap ruangan yang sempit, seperti dalam elevator.
• Blood Injedion Injury Type
Takut terhadap darah, cedera atau luka dan suntikan.
Misalnya, Orang menjadi takut ketika melihat anak kecil menggenggam pisau.
• Sosial Phobia
Takut dinilai, dihakimi atau dipermalukan oleh orang lain.
Misalnya, Orang menjauhi semua situasi sosial dan menjadi mengurung diri karena takut dalam menghadapi penilaian orang lain.
4. Obsessive-Compulsive
Berdekatan dengan phobia adalah obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive). Obsesif menyangkut soal pikiran, sedangkan kompulsif menyangkut tindakan, dan obsesif-kompulsif menyangkut pikiran dan tindakan. Obsesif adalah suatu pikiran yang terus menerus secara patologis muncul dalam diri seseorang, sedangkan kompulsif adalah tindakan yang didorong impuls yang berulang kali dilakukan. Obsesif adalah pikiran, bayangan (image), gagasa atau impuls-impuls yang menetap (terus menerus), yang dirasakan individu mengganggu hingga kesadarannya kehilangan control dan secara signifikan menyebabkan anxiety dan distress. Kompulsif adalah pengulangan perilaku atau tindakan mental dimana individu merasa harus melakukannya. (Susan Noelan-Hoeksema, 2006)
Obsesif kompulsif menggambarkan peranan dimana seseorang memikirkan sesuatu hal yang ia kehendaki secara terus menerus, atau yang menyebabkan dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat ritualistic. Tindakan ini bersifat ritualistic. Tindakan ini bersifat pula irrasional, namun orang tersebut tidak dapat mengendalikannya.
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) diklasifikasikan sebagai sebuah gangguan anxiety karena orang dengan OCD mengalami kecemasan sebagai hasil pikiran-pikiran mereka Yang bersifat obsesif dan ketika mereka tidak dapat menangani perilkau kompulsif mereka. Gangguan ini dapat menyerang anak-anak atau pun orang yang baru menginjak dewasa. OCD sering dimulai ketika seseorang masih dalam usia muda. Puncak usia dari permulaan serangan bagi laki-laki adalah 6-15 tahun dan untuk perempuan adalah 20-29 tahun (Rapoport, 2000).
OCD cenderung berubah menjadi gangguan yang kronis jika tidak segera diobati atau ditangani. Pikiran-pikiran obsesif dirasakan sangat menyiksa (distressing) bagi orang-orang dengan OCD. Sesuatu yang menarik bagi munculnya perilaku obsesif dapat menjadi urusan besar berkaitan dengan waktu dan dapat menjadi hal yang berbahaya, misalnya terlalu lama dan sering mencuci tangan, menyebabkan tangan luka dan berdarah.
Simtom dari gangguan obsesif-kompulsif berdasarkan DSM-IV
Gangguan obsesif-kompulsif diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan, tetapi berbeda dengan gangguan kecemasan lainnya dalam banak cara atau tampilan.
Orang harus menunjukkan salah satu dari obsesi atau kompulsi, dimana mereka mengakui bahwa mereka sangat berlebihan (eksesif) atau tidak masuk akal (unreasonable).
Obsesi digambarkan sebagai :
1. Pikiran yang diulang-ulang dan menetap atau terus-menerus, impuls atau bayangan (images) yang dialami sebagai hal yang bersifat mengganggu dan tidak pantas. Hal tersebut menimbulkan anxiety atau distress.
2. Pikiran-pikiran, impuls-impuls atau bayangan (images) tersebut adalah hal yang tidak mudah menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dalam masalah kehidupan nyata.
3. Pikiran-pikiran, impuls-impuls atau bayangan (images) yang mereka coba abaikan atau mereka suppress atau untuk dinetralisir dengan pikiran atau tindakan lainnya.
4. Pikiran-pikiran, impuls-impuls atau bayangan (images) yang mereka akui adalah hasil dari pikiran mereka sendiri.
Kompulsi digambarkan sebagai :
1. Pengulangan perilaku (seperti mencuci tangan, keteraturan, memeriksa) atau tindakan mental (mental ads), seperti berdoa, menghitung, atau mengulang kata-kata (secara diam-diam) yang mereka merasa dikendalikan untuk menampilkan dalam respon terhadap sebuah obsesi atau sesuai dengan aturan yang harus ditampilkan dengan sangat rigid (kaku).
2. Perilaku atau tindakan mental dengan maksud penceghan atau pengurangan distress atau pencegahan kejadian atau situasi yang menakutkan. Bagaimanapun, perilaku atau tindakan mental ini, atau salah satunya tidak dihubungkan dengan cara-cara yang realistic dengan apa yang mereka bangun untuk mencegah atau mengurangi atau menyelesaikan sikap berlebihan.
5. Gangguan Stres Akut dan Gangguan Stres Pascatrauma
Gangguan Stres Akut (Acute stress disorder/ASD) adalah suatu reaksi maladaptive yang terjadi pada bulan pertama sesudah pengalaman traumatis. Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic stress disorder/PTSD) adalah reaksi maladaptive yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. ASD adalah faktor resiko mayor untuk PTSD, karena banyak orang dengan ASD yang kemudian mengembangkan PTSD (Harvey & Bryant, 1999, 2000; Sharp & Harvey, 2000).
PTSD adalah pengalaman mengalami kembali suatu peristiwa yang sangat traumatis disertai dengan meningkatnya keterangsangan dan penghindaran yang diasosiasikan dengan peristiwa tersebut. PTSD biasanya berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa decade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis (Zlotnick dkk.,2001). Pada ASD dan PTSD peristiwa traumatis tersebut dapat melibatkan kematian atau ancaman kematian, cedera fisik yang serius dan juga ancaman terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain. Respon terhadap ancaman tersebut mencakup perasaan takut yang intens, perasaan tak berdaya, atau rasa ngeri. Pada anak-anak yang mengalami PTSD biasanya menunjukkan kebingungan atau agitasi.
Suatu sampel acak dari orang Amerika, menunjukkan bahwa 72 % melaporkan pernah berhadapan dengan pengalaman traumatis seperti pemaparan terhadap bencana alam, kematian seorang anak, kecelakaan mobil yang serius, menjadi saksi kekerasan, atau mengalami serangan fisik, perkosaan, atau penganiayaan fisik atau seksual (Elliot, 1997). Para peneliti percaya bahwa sekitar 8% dari orang Amerika dewasa mengalami PTSD pada suatu masa dalam hidup mereka (Kessler dkk., 1995). Sekitar 2% orang dewasa Amerika sekarang ini menunjukkan bukti mereka dapat didiagnosis sebagai PTSD. Prevalensi ASD pada masyarakat umum tidak diketahui.
Meskipun pria lebih sering mengalami pengalaman traumatis, perempuan lebih banyak mengalami PTSD sebagai respon terhadap trauma (Ehlers, Mayou, & Bryan, 1998). Secara keseluruhan perempuan dua kali lebih banyak yang mengembangkan gangguan ini disepanjang hidup mereka dibandingkan dengan laki-laki. Resiko PTSD pada perempuan juga terkait dengan riwayat dalam kekerasan rumah tangga dan penganiayaan seksual masa kanak-kanak (Astin dkk.,1995;Rodriguez dkk.,1997). Perempuan yang menderita PTSD juga cenderung untuk mempunyai resiko yang tinggi untuk menderita gangguan depresi mayor dan pengguanaan alcohol (Breslau dkk.,1997b).
ASD dan PTSD biasa terjadi pada tentara-tentara di medan perang, korban perkosaan, korban kecelakaan kendaraan bermotor atau kecelakaan lainnya, dan orang-orang yang telah menjadi saksi dari hancurnya rumah-rumah dan lingkungan hidup mereka oleh bencana alam (gempa bumi, banjir, tsunami,dll).
6. Perbedaan Etnik dalam Gangguan Kecemasan
The National Comorbidity Survey (NCS), yang didasarkan pada suatu sampel yang hamper menggambarkan populasi umum orang dewasa Amerika, menemukan bahwa gangguan-gangguan kecemasan pada umumnya dan gangguan kecemasan spesifik, tidak lebih sering orang Afrika Amerika di bandingkan dengan orang kulit putih Amerika non Hispanik (Eaton dkk.,1994). Gangguan panic lebih jarang terjadi pada orang Afrika Amerika pada rentang umur 45 sampai 54 tahun dibandingkan dengan orang kulit putih Amerika non Hispanik. Gangguan panik juga lebih jarang terjadi diantara orang Hispanik dibandingkan dengan orang putih non Hispanik pada rentang usia 35-44 tahun. Maka dapat disimpulkan pula bahwa frekuensi gangguan kecemasan bisa dikatakan sama dilihat dari pengelompokan ras dan etnik.
Taraf PTSD yang tinggi ditemukan pada suku Indian di barat daya Amerika dan diantara orang-orang yang selamat dari gempa bumi di Cina, yang selamat dari badai topan di Nikaragua, pengungsi-pengungsi Khmer yang selamat dari “lading pembantaian” (killing field) Polpot sekitar tahun 70-an di Kamboja, pengungsi Bhutan yang disiksa (van Ommeren dkk.,2001), dan mereka yang selamat dari konflik Balkan pada tahun 90-an (Cardozo dkk.,2000; Mitka,2000; Mutler,2000; Sack Clarke,&Seeley,1996;Wang dkk.,2000;Weine dkk.,2000). Faktor budaya mungkin memegang peran dalam menentukan bagaimana orang menghadapi dan menanggulangi trauma seperti halnya kerentanan mereka terhadap reaksi stress traumatis dan bentuk spesifik dari gangguan semacam itu (de Silva,1990).

Daftar Pustaka

Alloy, L.B., Acocella, J., and Bootzin, R. (1996), Abnormal Psychology: Current Perspectives (seventh edition), New York: McGraw-Hill, p. 584.
Atkinson, Rita L. 1983 Introduction to psychology / New York : Harcourt Brace Jovanovich
Breslau, N., Davis, G. C., Andreski, P., Peterson, E. L., & Schultz, L. R. (1997). Sex differences in posttraumatic stress disorder. Archives of General Psychiatry, 54, 1044–1048.
Bryant, R. A., Harvey, A. G., Guthrie, R. M., & Moulds, M. L. (2000). A prospective study of psychophysiological arousal, acute stress disorder, and posttraumatic stress disorder. Journal of Abnormal Psychology, 109, 341–344.
Davison G. and Neale J. 2001 Abnormal Psychology. New York : Wiley and Sons
de Jong, J. T., Komproe, I. H., Van Ommeren, M., El Masri, M., Araya, M., Khaled, N., et al. (2001). Lifetime events and posttraumatic stress disorder in 4 postconflict settings. JAMA, 286, 555–562.
Ehlers, A., Mayou, R. A., & Bryant, B. (1998). Psychological predictors of chronic posttraumatic stress disorder after motor vehicle accidents. Journal of Abnormal Psychology, 107, 508–519.
Elliot, A. J. , & Church, M. A. 1997 A hierarchical model of approach and avoidance achievement motivation. Journal of Personality and Social Psychology, 72, 218-232.
Ironson, G., Wynings, C., Schneiderman, N., Baum, A., Rodriguez, M., Greenwood, D., et al. (1997). Posttraumatic stress symptoms, intrusive thoughts, loss, and immune function after Hurricane Andrew. Psychosomatic Medicine, 59, 128-141.
Kessler, R. C., Sonnega, A., Bromet, E., Hughes, M., & Nelson, C. B. (1995). Posttraumatic stress disorder in the National Comorbidity Survey. Archives of General Psychiatry, 52, 1048–1060.
Lopes Cardozo, B., Vergara, A., Agani, F., & Gotway, C. A. (2000). Mental health, social functioning, and attitudes of Kosovar Albanians following the war in Kosovo. JAMA, 284, 569–577.
McGee, R., Feehan, M., Williams, S., Partridge, F., Silva, P. A., & Kelly, J. (1990). DSM-III disorders in a large sample of adolescents. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 29, 611–619.
Nevid, J.S. dkk. (2003). Psikologi Abnormal. Jakarta : Erlangga.
Susan Noelan_Hoeksema, 2004 Abnormal Psychology. Paperback, 3rd edition
Wiramihardja, S.A. (2005). Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung : Reflika Aditama.
Zlotnick, C., Johnson, S., Miller I., Howard M., Pearlstein, T. (2001). Postpartum depression in women on public assistance: Pilot study of an interpersonally-oriented group. American Journal of Psychiatry, 158, 638-640.

One thought on “Tipe – tipe gangguan kecemasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s