Pendekatan Konseling

keterampilan mendengarakan (listening)

A. Pengertian Mendengarkan (Listening)
Mendengarkan (Listening) adalah keterampilan performansi. Anda dapat melakukannya dengan baik jika Anda berusaha untuk berbicara banyak. Siswa dalam kelas bahasa asing terkadang mengalami kesulitan mendengarkan dan berbicara karena mereka takut membuat kesalahan. Tidak apa-apa berbuat salah. Santai saja dalam berbicara. Mendengarkan adalah proses yang terjadi setelah ada rangsangan suara menyentuh lapisan pendengaran di otak ( Rost, 2007:7-8 ).
Keterampilan mendengarkan adalah kemampuan pembimbing atau konselor menyimak atau memperhatikan penuturan klien selama proses konseling berlangsung. Pembimbing atau konselor harus bisa jadi pendengar yang baik selama sesi konseling berlangsung. Tanpa keterampilan ini, pembimbing atau konselor tidak akan dapat menangkap pesan pembicaraan.

B. Keterampilan Inti Konseling
Keterampilan inti dalam konseling adalah dengan mendengar aktif (listening). Konseling adalah mendengar aktif agar klien memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri, dapat mengatasi lingkungan hidup agar lebih konsultif.Untuk memperoleh atau menjadi pendengar aktif diantaranya membiasakan diri dengan hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal adalah melibatkan dua orang dalam komunikasi yang intim, bertujuan memberikan penguatan-penguatan pada orang yang diajak bicara. Untuk menjadi dan membina hubungan interpersonal dengan baik, ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu:
a. Sering bergaul dengan orang
b. Memahami berbagai cara bagaimana membuka diri untuk berbicara dan membuka diri pada orang lain.
c. Berbagi perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran dengan orang lain.

Mendengarkan Aktif Melibatkan 4 aspek:
Mengapa mendengarkan dengan aktif itu sangat penting dalam konseling? Karena konseling menggunakan kemampuan mendengarkan, maka bukanlah mendengarkan yang biasa yang diperlukan untuk dapat memahami klien atau orang yang akan meminta bantuan kita untuk mendapatkan konseling. Men-dengarkan aktif meliputi empat intensi (niat) yang ada dalam diri orang yang mendengarkan:
a) Mengerti Seseorang: pendengar yang baik akan mendapatkan kesan (impresi) sebagai tahap awal pemahaman tentang orang yang diajak bicara. Semakin sungguh-sunggu kita mendengarkan semakin banyak hala yang kita mengerti tentang orang tersebut.
b) Menikmati Percakapan: keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan jadi menyenang-kan untuk dinikmati, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.
c) Belajar Sesuatu: ternyata, tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, sebagai konselorpun anda dapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien anda.
d) Memberikan Bantuan: ketika seseorang mendengar-kan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat membantu orang yang didengar. Bantuan ini bisa berupa dukungan dan tentunya yang penting adalah kesediaan anda untuk mendengarkannya.

C. Tahapan Listening
Dalam proses pembelajarannya, mendengarkan memiliki 3 prosedur, seperti yang disampaikan oleh Underwood (1989:30-45) :
1. Pre Listening Stage (tahap sebelum proses mendengarkan)
Pada tahap ini peserta didik melakukan beberapa aktifitas sebelum mendengarkan. Misalnya, membaca soal yang diberikan.
2. While Listening Stage (tahap selama mendengarkan)
Tahapan dimana peserta didik diminta untuk melakukan aktifitas-ktifitas selama mereka menengarkan. Tujuannya adalah membantu peserta didik meningkatkan kemampuan untuk memperoleh pesan dari bahasa lisan. Contoh: mencocokakan gambar, pilihan ganda, betul atau salah dan mendikte.
3. Post Listening Stage (tahap setelah proses mendengarkan)
Aktifitas yang berkaitan dengan kertas soal yang dikerjakan setelah mendengarkan. Disini peserta didik mempunyai waktu untuk berfikir, diskusi dan menulis jawaban.

Dari penjelasan tersebut, kita tahu bahwa proses mendengarkan terjadi secara psikologis setelah rangsangan suara menyentuh lapisan di otak yang berhubungan dengan pendengaran. Proses mendengarkan seperti yang telah dijelaskan oleh Rivers dan Temperley yang dijelaskan oleh Nicolas (1988:19) adalah melalui beberapa tahap:
1. Setelah seseorang mendengar suara atau getaran suara, reaksi pertamanya adalah menentukan apakah suara tersebut terorganisasi atau suara acak sederhana. Oleh karena itu, sebelum dia mencoba untuk memahami suara tersebut atau gagal memahaminya, seseorang harus merasakan apakah suara tersebut sistematik atau tidak.
2. Menentukan struktur dari getaran suara tersebut, sebagai contoh dengan memisahkannya menjadi kata, kalimat jika itu adalah bahasa atau unit lain yang sama jika getaran tersebut berupa musik.
3. Menganalisa suara tersebut di otak, memilih yang penting. Informasi yang terpilih diingat atau membedakannya dari yang lain dan menyimpannya dalam memori otak untuk penggunaan masa datang.

Sebagai tambahan, Brown (1994) membagi proses mendengarkan menjadi 8, yaitu:
1. Pendengar memproses suara mentah (frase, klausa, kumpulan tanda baca, intonasi dan penekanan) dan menjadikannya sebagai memori pendek.
2. Pendengar menentukan tipe suara yang telah diproses sebelumnya dan memberikan warna.
3. Pendengar menyimpulkan tipe dari suara tersebut, isinya, apakah pembicara membujuk, meminta, menukar, menyetujui, membantah dan yang lainnya.
4. Pendengar mengingat kembali informasi sebelumnya (schemata) umruk membantu menginterpretasikan pesannya.
5. Pendengar menandai artinya. Proses ini meliputi interpretasi semantic dari permukaan gendang telinga.
6. Pendengar menandai arti tadi. Kesalahan pemahaman arti suara menyebabkan kekacauan dalam pembicaraan.
7. Pendengar menentukan apakah informasi tersebut harus disimpan dalam memori singkat.
8. Pendengar menghapus bentuk orisinil dari pesan tersebut yang telah diubah dalam bentuk memori singkat.

R. Sinurat dalam bukunya “Ketrampilan Komunikasi 2: Tanggapan Empatik dan Asertif“ (Seri Pastoral 313: 2000, hal 7-8) menekankan pula pentingnya ketrampilan mendengarkan aktif model Gordon ini. Agar model mendengarkan aktif menjadi efektif dalam praksisnya, konselor harus memiliki sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap tersebut adalah:
1. Sikap mempercayai kemampuan konseli untuk mengatasi perasaan-perasaannya dan mencari penyelesaian terhadap masalahnya. Konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya.
2. Sikap menerima perasaan konseli secara sungguh-sungguh, apa pun perasaan itu.
3. Kesadaran murni bahwa perasaan hanyalah sementara (labil), tidak tetap. Perasaan-perasaan konseli tidak akan selamanya berada dalam diri orang yang bersangkutan.
4. Kesediaan konselor meluangkan waktu untuk mendengarkan.
5. Konselor harus sungguh-sungguh mau menolong konseli menghadapi masalahnya pada saat yang bersangkutan.
6. Sikap melihat konseli sebagai pribadi yang unik, yang terpisah, yang mempunyai kehidupan sendiri, dan memiliki perasaan-perasaannya sendiri.
7. Kesadaran konselor bahwa tidak setiap orang dapat langsung mengungkapkan masalah yang sesungguhnya dihadapi.
8. Konselor harus mengedepankan privacy konseli dan merahasiakannya.

Banyak ahli konseling mengungkapkan bahwa model mendengarkan aktif ini efektif dan banyak bermanfaat dalam prakteknya. Pada tataran praksis model mendengarkan aktif memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut yaitu:
1. Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang atau hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka).
2. Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif.
3. Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
4. Memudahkan pemecahan masalah.
5. Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan pendapat orang lain.
6. Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Untuk menjadi pendengar yang baik (active listener), seseorang juga perlu mengindentifikasi sejumlah hambatan (blocks) dalam mendengarkan. Berikut akan disajikan daftar hambatan dalam mendengarkan yang secara sengaja maupun tidak sengaja sering dilakukan namun berpengaruh pada kemampuan atau latihan untuk menjadi pendengar yang baik.
1. Membandingkan: mendengarkan menjadi sulit ketika kita sibuk membandingkan: “Siapa yang lebih cerdas?”, “Siapa yang lebih beruntung?”, “Siapa yang lebih bekerja keras? Kamu atau saya?”, dst.
2. Membaca pikiran: Seorang pembaca pikiran tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian pada orang yang diajak bicara bahkan pada pa yang dibicarakan oleh orang tersebut. Dia mencoba mencari tahu apa yang sungguh-sungguh dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut.
3. Mengulang-ulang: Anda tidak akan punya waktu untuk mendengarkan ketika anda mengulang/melatih apa yang akan anda katakan. Pikiran anda mempersiapkan komentar anda selanjutnya.
4. Menyaring: tidak ada pesan yang utuh diterima jika pendengar menyaring isi pembicaraan.
5. Mendakwa: hambatan ini adalah kecenderungan yang paling sering dilakukan karena ada stereotype tertentu pada orang yang kita ajak bicara.
6. Berimajinasi: masukkan tag tebal pendengar yang tidak sungguh-sungguh mendengarkan biasanya akan cepat dan mudah untuk melamun dan berimajinasi tentang hal-hal lain sementara pembicaraan terus berlangsung.
7. Mengindentifikasi: beberapa pokok pembicaraan se-ring sama dengan identitas pembicara dan seringkali mengganggu pendengar jika dia dengan sengaja mengindentifikasikan hal tersebut dengan dirinya.
8. Menasehati: dalam hal ini pendengar bertindak seolah-olah sebagai `problem solver’ yang paling hebat, selalu siap dengan saran, masukan, tips dsb tanpa mendengarkan baik-baik karena pendengar sibuk menyiapkan nasehat jitu. Anda tidak dapat mendengarkan perasaan-perasaan klien jika hanya terdorong memberikan nasehat.
9. Bertengkar: kadangkala, karena tidak mendengarkan sungguh-sungguh kita cenderung untuk mengajak orang lain berdebat bahkan bertengkar. Ini berarti kita tidak bersedia membuka hati untuk mendengarkan apa maksud si pembicara.
10. Membenarkan diri: masih ada kaitannya dengan bertengkar, kecenderungan untuk mendengarkan diri sendiri berakibat pada keinginan untuk membenarkan diri dan akhirnya kehilangan momentum untuk menangkap inti pesan yang sesungguhnya dari orang yang sedang diajak bicara.
11. Mengalihkan topik: karena kita tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh maka kita akan bosan, kebosanan tersebut akan semakin mem-buat kita mudah untuk mengalihkan topik.
12. Mendamaikan: artinya, menghibur orang yang kita ajak bicara dengan cepat supaya tidak masuk ke inti pembicaraan yang lebih dalam karena kita tidak ingin mendengarkan lebih jauh.

sumber :
Carkhuff, Robert R. (1985). The Art of Helping. U.S.A.: Human Resource Development Press.Inc.
Willis, Sofyan S. (2010). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s