Pendekatan Konseling

Dasar Teori Assertive Training

Kajian dari berbagai literatur konseling dan psikoterapi, program assertive training (AT) ditempatkan sebagai salah satu teknik atau strategi bantuan dari pendekatan terapi perilaku (behavior therapy). Behavior therapy menjelaskan bahwa terapi ini merupakan suatu pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan metode eksperimental pada proses bantuan. Walaupun demikian AT bukanlah sebuah terapi, khususnya bukan psikoterapi wawasan. Fokus AT adalah pada pembelajaran teknik, bukan pada penjelasan tentang bagaimana, atau mengapa orang berperilaku (Rees, 1991: 8).
Assertive Training merupakan pendekatan behavioral yang cepat mencapai popularitas. Assertive Training ini bisa diterapkan pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar (Corey, 2007: 213). Asumsi dasar yang melandasi latihan asertif adalah setiap orang mempunyai hak (tetapi bukan kewajiban) untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat yang diyakini, serta sikap. Salah satu sasaran dari latihan ini adalah untuk meningkatkan keteramprilan behavioral, sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak (Corey, 2007: 429).
Sebagai suatu strategi terapi, AT digunakan atau direkomendasikan untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan kecemasan dan meningkatkan kemampuan (kompetensi) interpersonal individu. Teknik ini dapat digunakan untuk kelompok maupun individu dan teknik ini bertujuan bukan hanya pada memungkinkan orang untuk merasa tegas menyampaikan tentang pendapatnya terhadap patner bicarany, tetapi juga untuk mengungkapkan perasaanya tanpa agresif (Degleris: 2008).

Mousa dkk, (2011: 7) menjelaskan bahwa tujuan dari teknik AT adalah untuk mengajarkan kepada konseli agar bertindak atau berbuat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dengan tetap menghormati hak dan kepentingan orang lain.
Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan. AT direkomendasikan untuk individu yang mengalami kecemasan interpersonal, tidak mampu menolak tindakan orang lain, dan memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.
Teori AT didasarkan pada suatu asumsi bahwa banyak manusia menderita karena perasaan cemas, depresi, dan reaksi-reaksi ketidakbahagiaan, karena tidak mampu untuk mempertahankan atau membela hak atau kepentingan pribadinya, Bruno (Nursalim, 2005). Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s