Uncategorized

Ebook dan Artikel Jurnal

Bagi yang ingin berkonsultasi untuk mencari ebook terkait Guidence and Counseling silahkan tulis judul dan pengarang atau tema bahasan kirimkan ke sofwanadiputra@gmail.com. Insya Allah akan saya coba bantu mencarikan…

Bagi yang ingin berkonsultasi untuk mencari Jurnal terkait Guidence and Counseling silahkan tulis Jurnal/ judul dan pengarang atau tema bahasan kirimkan ke sofwanadiputra@gmail.com. Insya Allah akan saya coba bantu mencarikan…

Iklan
Standar
Pendekatan Konseling, Uncategorized

Social Cognitive Career Theory (SCCT)

Salah satu pendekatan konseling karir adalah Social Cognitive Career Theory (SCCT), merupakan  merupakan teori karir yang berdasarkan teori self efficacy Bandura yang menyatakan hubungan yang saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungannya. Teori ini beranggapan bahwa tujuan, kepentingan dan pilihan karir sangat berkaitan dengan keyakinan diri dan harapan seseorang. SCCT menjelaskan tiga model dalam pengembangan karier seseorang yaitu (a). pengembangan akademik dan minat jurusan, (b) bagaimana individu membuat pilihan pendidikan dan karier, dan (c) kinerja dan stabilitas diri. Ketiga model ini memiliki penekanan berbeda yang berpusat pada tiga variabel utama yaitu self efficacy, harapan dari pelaksanan karir, dan tujuan pribadi. (Alvin Leung:2008).

SCCT berasal terutama dari teori kognitif Sosial Albert Bandura  yang  menekankan interaksi antara diri pemikiran dan proses sosial dalam membimbing perilaku manusia, SCCT telah terbukti sangat heuristik, menemukan aplikasi dalam berbagai domain psikososial seperti prestasi pendidikan, perilaku kesehatan, manajemen organisasi, dan reaksi afektif. Dalam merumuskan SCCT berupaya untuk beradaptasi, menguraikan, dan memperluas aspek-aspek teori Bandura yang tampaknya paling relevan dengan proses pembentukan minat, pemilihan karir, dan kinerja.. ( Lent, Brown, dan Hackett;2002)

SCCT terkait dengan dua cabang penyelidikan karir yang telah berevolusi dari kerangka umum Bandura: teori belajar social, dan  teori Krumboltz tentang pengambilan keputusan karir menurut Krumboltz; Krumboltz, Mitchell, & Jones; Mitchell & Krumboltz (dalam Lent Brown, dan Hackett;2002)

SCCT merupakan teori yang relative dinamis dan mengutamakan kekhasan dalam diri seseorang, yang melibatkan secara konseptual mempengaruhi hubungan sebab akibat. SCCT membayangkan orang-orang dan lingkungan saling mempengaruhi satu sama lain, tetapi mereka melihat perilaku sebagai hasil dari interaksi seseroang dengan lingkungan (Bandura, dalam Lent, Brown, dan Hackett;2002).

Untuk mengenali hubungan tersebut, pengaruh interaksi antara orang-orang, lingkungan mereka, dan perilaku, subscribes SCCT mengikuti triadic-timbal balik Bandura, atau timbal balik sepenuhnya, model kausalitas (Bandura, dalam Lent, Brown, dan Hackett;2002).

sumber:

Alvin Leung. 2008. The Big Five Career Theories. J.A. Athanasou, R. Van Esbroeck (eds.) International Handbook of Career Guidance. China: Business Media B.V.

Lent, Robert. W., Brown, Steven D. 2002. Social Cognitive Career Theory. Duena Brown etl (Eds).  Career Choice and Development Fourth Edition). New York: Wiley Campany.

 

Standar
Study Diagnosis

Konsep Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa atau mental seseorang. Karena, banyak orang yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, disebabkan ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya.
Penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang diutarakan oleh Charles Darwin, bahwa penyesuaian diri adalah: “Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and in animals, raise off spring this process is called adaptation” (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002 dalam Mutadin 2002).
Dalam memberikan pengertian penyesuaian diri, di kalangan para ahli ada perbedaan. Perbedaan ini dikarenakan dalam memberikan definisi berangkat dari titik tekan yang berbeda, ada yang menitikberatkan perspektif psikologis dan sosiologis. Menurut Lazarus (Zakiyah, 2010:2), bahwa penyesuaikan berasal dari kata”to adjust” berarti untuk membuat sesuai atau cocok, beradaptasi, atau mengakomodasi. Penyesuaian merupakan proses bagaimana individu mengatur berbagai ”demands” atau permintaan. Permintaan yang dimaksud adalah permintaan yang dikehendaki seseorang dengan fenomena yang ada di dalam masyarakat. Siswa yang dapat menyesuaikan diri dengan permintaan lingkungannya diharapkan tidak mengalami permasalahan dalam proses pencapaian prestasi akademik
Sedangkan menurut Schneiders (1964:51) yang memberi definisi dengan pendekatan psikologi, bahwa penyesuaian diri (adjustment atau personal adjustment) pada prinsipnya merupakan suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku individu, yang berusaha keras untuk berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam diri, ketegangan-ketegangan, konflik dan frustrasi yang dialaminya, sehingga tercapai keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan-tuntutan dari dalam diri sendiri dengan tuntutan dari lingkungan tempat hidupnya.
Menurut Yusuf (2005: 27) memberikan pengertian dari perspektif sosiologis, bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan di mana seseorang hidup.
Pengertian Yusuf di atas, sejalan dengan Chaplin (2006:11), bahwa penyesuaian diri sebagai variasi dalam kegiatan organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan memuaskan kubutuhan-kebutuhan, dan menegakkan hubungan yang harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial. Sehingga secara tidak langsung terdapat adanya situasi pemecahan masalah dan organisme merasakan adanya kebutuhan yang tidak dapat dipuaskan dengan cara-cara biasa.
Pengertian dari perspektif sosiologis lainnya juga diberikan Calhoun & Acocella (1995:14), bahwa penyesuaian diri sebagai interaksi yang kontinyu dengan diri sendiri, dengan orang lain dan lingkungan. Dengan diri sendiri artinya adalah total kesiapan tubuh, tingkah laku, pikiran dan perasaan diri sendiri dalam menghadapi segala sesuatu setiap saat. Adapun dengan orang lain artinya bahwa secara nyata berpengaruh besar terhadap individu. Sedangkan dengan lingkungan adalah penglihatan dan penciuman serta suara di sekitar di saat seseorang dengan orang lain dan lingkungannya yang bersifat timbal balik dan secara konstan bisa saling berpengaruh dalam menyelesaikan urusan dengan individu.
Definisi ini selaras dengan Willis (2008:55) bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungan. Pendapat ini juga selaras dengan Satmoko (Ghufron, 2010:50), bahwa penyesuaian diri dipahami sebagai interaksi seseorang yang kontinyu dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya. Oleh karena itu, seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang berhasil apabila dapat mencapai kepuasan dalam memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan, bebas dari berbagai symptom yang mengganggu dirinya.

Standar
Pendekatan Konseling

Dasar Teori Assertive Training

Kajian dari berbagai literatur konseling dan psikoterapi, program assertive training (AT) ditempatkan sebagai salah satu teknik atau strategi bantuan dari pendekatan terapi perilaku (behavior therapy). Behavior therapy menjelaskan bahwa terapi ini merupakan suatu pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan metode eksperimental pada proses bantuan. Walaupun demikian AT bukanlah sebuah terapi, khususnya bukan psikoterapi wawasan. Fokus AT adalah pada pembelajaran teknik, bukan pada penjelasan tentang bagaimana, atau mengapa orang berperilaku (Rees, 1991: 8).
Assertive Training merupakan pendekatan behavioral yang cepat mencapai popularitas. Assertive Training ini bisa diterapkan pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar (Corey, 2007: 213). Asumsi dasar yang melandasi latihan asertif adalah setiap orang mempunyai hak (tetapi bukan kewajiban) untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat yang diyakini, serta sikap. Salah satu sasaran dari latihan ini adalah untuk meningkatkan keteramprilan behavioral, sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak (Corey, 2007: 429).
Sebagai suatu strategi terapi, AT digunakan atau direkomendasikan untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan kecemasan dan meningkatkan kemampuan (kompetensi) interpersonal individu. Teknik ini dapat digunakan untuk kelompok maupun individu dan teknik ini bertujuan bukan hanya pada memungkinkan orang untuk merasa tegas menyampaikan tentang pendapatnya terhadap patner bicarany, tetapi juga untuk mengungkapkan perasaanya tanpa agresif (Degleris: 2008).

Mousa dkk, (2011: 7) menjelaskan bahwa tujuan dari teknik AT adalah untuk mengajarkan kepada konseli agar bertindak atau berbuat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dengan tetap menghormati hak dan kepentingan orang lain.
Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan. AT direkomendasikan untuk individu yang mengalami kecemasan interpersonal, tidak mampu menolak tindakan orang lain, dan memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.
Teori AT didasarkan pada suatu asumsi bahwa banyak manusia menderita karena perasaan cemas, depresi, dan reaksi-reaksi ketidakbahagiaan, karena tidak mampu untuk mempertahankan atau membela hak atau kepentingan pribadinya, Bruno (Nursalim, 2005). Menurut Wolpe (Fensterheim, 1980: 22) AT digunakan untuk mengurangi kecemasan antar pribadi dan rasa takut yang menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan. Penekanan dari AT adalah pada “keterampilan” dan penggunaan keterampilan tersebut dalam tindakan.

Standar
Pendekatan Konseling

keterampilan mendengarakan (listening)

A. Pengertian Mendengarkan (Listening)
Mendengarkan (Listening) adalah keterampilan performansi. Anda dapat melakukannya dengan baik jika Anda berusaha untuk berbicara banyak. Siswa dalam kelas bahasa asing terkadang mengalami kesulitan mendengarkan dan berbicara karena mereka takut membuat kesalahan. Tidak apa-apa berbuat salah. Santai saja dalam berbicara. Mendengarkan adalah proses yang terjadi setelah ada rangsangan suara menyentuh lapisan pendengaran di otak ( Rost, 2007:7-8 ).
Keterampilan mendengarkan adalah kemampuan pembimbing atau konselor menyimak atau memperhatikan penuturan klien selama proses konseling berlangsung. Pembimbing atau konselor harus bisa jadi pendengar yang baik selama sesi konseling berlangsung. Tanpa keterampilan ini, pembimbing atau konselor tidak akan dapat menangkap pesan pembicaraan.

B. Keterampilan Inti Konseling
Keterampilan inti dalam konseling adalah dengan mendengar aktif (listening). Konseling adalah mendengar aktif agar klien memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri, dapat mengatasi lingkungan hidup agar lebih konsultif.Untuk memperoleh atau menjadi pendengar aktif diantaranya membiasakan diri dengan hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal adalah melibatkan dua orang dalam komunikasi yang intim, bertujuan memberikan penguatan-penguatan pada orang yang diajak bicara. Untuk menjadi dan membina hubungan interpersonal dengan baik, ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu:
a. Sering bergaul dengan orang
b. Memahami berbagai cara bagaimana membuka diri untuk berbicara dan membuka diri pada orang lain.
c. Berbagi perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran dengan orang lain.

Mendengarkan Aktif Melibatkan 4 aspek:
Mengapa mendengarkan dengan aktif itu sangat penting dalam konseling? Karena konseling menggunakan kemampuan mendengarkan, maka bukanlah mendengarkan yang biasa yang diperlukan untuk dapat memahami klien atau orang yang akan meminta bantuan kita untuk mendapatkan konseling. Men-dengarkan aktif meliputi empat intensi (niat) yang ada dalam diri orang yang mendengarkan:
a) Mengerti Seseorang: pendengar yang baik akan mendapatkan kesan (impresi) sebagai tahap awal pemahaman tentang orang yang diajak bicara. Semakin sungguh-sunggu kita mendengarkan semakin banyak hala yang kita mengerti tentang orang tersebut.
b) Menikmati Percakapan: keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan jadi menyenang-kan untuk dinikmati, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.
c) Belajar Sesuatu: ternyata, tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, sebagai konselorpun anda dapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien anda.
d) Memberikan Bantuan: ketika seseorang mendengar-kan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat membantu orang yang didengar. Bantuan ini bisa berupa dukungan dan tentunya yang penting adalah kesediaan anda untuk mendengarkannya.

C. Tahapan Listening
Dalam proses pembelajarannya, mendengarkan memiliki 3 prosedur, seperti yang disampaikan oleh Underwood (1989:30-45) :
1. Pre Listening Stage (tahap sebelum proses mendengarkan)
Pada tahap ini peserta didik melakukan beberapa aktifitas sebelum mendengarkan. Misalnya, membaca soal yang diberikan.
2. While Listening Stage (tahap selama mendengarkan)
Tahapan dimana peserta didik diminta untuk melakukan aktifitas-ktifitas selama mereka menengarkan. Tujuannya adalah membantu peserta didik meningkatkan kemampuan untuk memperoleh pesan dari bahasa lisan. Contoh: mencocokakan gambar, pilihan ganda, betul atau salah dan mendikte.
3. Post Listening Stage (tahap setelah proses mendengarkan)
Aktifitas yang berkaitan dengan kertas soal yang dikerjakan setelah mendengarkan. Disini peserta didik mempunyai waktu untuk berfikir, diskusi dan menulis jawaban.

Dari penjelasan tersebut, kita tahu bahwa proses mendengarkan terjadi secara psikologis setelah rangsangan suara menyentuh lapisan di otak yang berhubungan dengan pendengaran. Proses mendengarkan seperti yang telah dijelaskan oleh Rivers dan Temperley yang dijelaskan oleh Nicolas (1988:19) adalah melalui beberapa tahap:
1. Setelah seseorang mendengar suara atau getaran suara, reaksi pertamanya adalah menentukan apakah suara tersebut terorganisasi atau suara acak sederhana. Oleh karena itu, sebelum dia mencoba untuk memahami suara tersebut atau gagal memahaminya, seseorang harus merasakan apakah suara tersebut sistematik atau tidak.
2. Menentukan struktur dari getaran suara tersebut, sebagai contoh dengan memisahkannya menjadi kata, kalimat jika itu adalah bahasa atau unit lain yang sama jika getaran tersebut berupa musik.
3. Menganalisa suara tersebut di otak, memilih yang penting. Informasi yang terpilih diingat atau membedakannya dari yang lain dan menyimpannya dalam memori otak untuk penggunaan masa datang.

Sebagai tambahan, Brown (1994) membagi proses mendengarkan menjadi 8, yaitu:
1. Pendengar memproses suara mentah (frase, klausa, kumpulan tanda baca, intonasi dan penekanan) dan menjadikannya sebagai memori pendek.
2. Pendengar menentukan tipe suara yang telah diproses sebelumnya dan memberikan warna.
3. Pendengar menyimpulkan tipe dari suara tersebut, isinya, apakah pembicara membujuk, meminta, menukar, menyetujui, membantah dan yang lainnya.
4. Pendengar mengingat kembali informasi sebelumnya (schemata) umruk membantu menginterpretasikan pesannya.
5. Pendengar menandai artinya. Proses ini meliputi interpretasi semantic dari permukaan gendang telinga.
6. Pendengar menandai arti tadi. Kesalahan pemahaman arti suara menyebabkan kekacauan dalam pembicaraan.
7. Pendengar menentukan apakah informasi tersebut harus disimpan dalam memori singkat.
8. Pendengar menghapus bentuk orisinil dari pesan tersebut yang telah diubah dalam bentuk memori singkat.

R. Sinurat dalam bukunya “Ketrampilan Komunikasi 2: Tanggapan Empatik dan Asertif“ (Seri Pastoral 313: 2000, hal 7-8) menekankan pula pentingnya ketrampilan mendengarkan aktif model Gordon ini. Agar model mendengarkan aktif menjadi efektif dalam praksisnya, konselor harus memiliki sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap tersebut adalah:
1. Sikap mempercayai kemampuan konseli untuk mengatasi perasaan-perasaannya dan mencari penyelesaian terhadap masalahnya. Konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya.
2. Sikap menerima perasaan konseli secara sungguh-sungguh, apa pun perasaan itu.
3. Kesadaran murni bahwa perasaan hanyalah sementara (labil), tidak tetap. Perasaan-perasaan konseli tidak akan selamanya berada dalam diri orang yang bersangkutan.
4. Kesediaan konselor meluangkan waktu untuk mendengarkan.
5. Konselor harus sungguh-sungguh mau menolong konseli menghadapi masalahnya pada saat yang bersangkutan.
6. Sikap melihat konseli sebagai pribadi yang unik, yang terpisah, yang mempunyai kehidupan sendiri, dan memiliki perasaan-perasaannya sendiri.
7. Kesadaran konselor bahwa tidak setiap orang dapat langsung mengungkapkan masalah yang sesungguhnya dihadapi.
8. Konselor harus mengedepankan privacy konseli dan merahasiakannya.

Banyak ahli konseling mengungkapkan bahwa model mendengarkan aktif ini efektif dan banyak bermanfaat dalam prakteknya. Pada tataran praksis model mendengarkan aktif memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut yaitu:
1. Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang atau hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka).
2. Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif.
3. Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
4. Memudahkan pemecahan masalah.
5. Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan pendapat orang lain.
6. Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Untuk menjadi pendengar yang baik (active listener), seseorang juga perlu mengindentifikasi sejumlah hambatan (blocks) dalam mendengarkan. Berikut akan disajikan daftar hambatan dalam mendengarkan yang secara sengaja maupun tidak sengaja sering dilakukan namun berpengaruh pada kemampuan atau latihan untuk menjadi pendengar yang baik.
1. Membandingkan: mendengarkan menjadi sulit ketika kita sibuk membandingkan: “Siapa yang lebih cerdas?”, “Siapa yang lebih beruntung?”, “Siapa yang lebih bekerja keras? Kamu atau saya?”, dst.
2. Membaca pikiran: Seorang pembaca pikiran tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian pada orang yang diajak bicara bahkan pada pa yang dibicarakan oleh orang tersebut. Dia mencoba mencari tahu apa yang sungguh-sungguh dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut.
3. Mengulang-ulang: Anda tidak akan punya waktu untuk mendengarkan ketika anda mengulang/melatih apa yang akan anda katakan. Pikiran anda mempersiapkan komentar anda selanjutnya.
4. Menyaring: tidak ada pesan yang utuh diterima jika pendengar menyaring isi pembicaraan.
5. Mendakwa: hambatan ini adalah kecenderungan yang paling sering dilakukan karena ada stereotype tertentu pada orang yang kita ajak bicara.
6. Berimajinasi: masukkan tag tebal pendengar yang tidak sungguh-sungguh mendengarkan biasanya akan cepat dan mudah untuk melamun dan berimajinasi tentang hal-hal lain sementara pembicaraan terus berlangsung.
7. Mengindentifikasi: beberapa pokok pembicaraan se-ring sama dengan identitas pembicara dan seringkali mengganggu pendengar jika dia dengan sengaja mengindentifikasikan hal tersebut dengan dirinya.
8. Menasehati: dalam hal ini pendengar bertindak seolah-olah sebagai `problem solver’ yang paling hebat, selalu siap dengan saran, masukan, tips dsb tanpa mendengarkan baik-baik karena pendengar sibuk menyiapkan nasehat jitu. Anda tidak dapat mendengarkan perasaan-perasaan klien jika hanya terdorong memberikan nasehat.
9. Bertengkar: kadangkala, karena tidak mendengarkan sungguh-sungguh kita cenderung untuk mengajak orang lain berdebat bahkan bertengkar. Ini berarti kita tidak bersedia membuka hati untuk mendengarkan apa maksud si pembicara.
10. Membenarkan diri: masih ada kaitannya dengan bertengkar, kecenderungan untuk mendengarkan diri sendiri berakibat pada keinginan untuk membenarkan diri dan akhirnya kehilangan momentum untuk menangkap inti pesan yang sesungguhnya dari orang yang sedang diajak bicara.
11. Mengalihkan topik: karena kita tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh maka kita akan bosan, kebosanan tersebut akan semakin mem-buat kita mudah untuk mengalihkan topik.
12. Mendamaikan: artinya, menghibur orang yang kita ajak bicara dengan cepat supaya tidak masuk ke inti pembicaraan yang lebih dalam karena kita tidak ingin mendengarkan lebih jauh.

sumber :
Carkhuff, Robert R. (1985). The Art of Helping. U.S.A.: Human Resource Development Press.Inc.
Willis, Sofyan S. (2010). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Standar
Pendekatan Konseling

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY

A. Sejarah Perkembangan

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) sebagai salah satu pendekatan dalam konseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh Alber Ellis sejak tahun 1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg, Pensylvania tahun 1913. Sebagai pakar psikologis klinis, ia memulai karirnya di bidang konseling perkawinan, keluarga dan seks. Rational Emotive Behavior Therapy lahir dari ketidakpuasan Ellis terhadap praktek konseling tradisional yang dinilai kurang efisien, khususnya psikoanalitik klasik yang pernah ditekuni. Berdasarkan temuan-temuan eksperimen dan klinisnya, Ellis memperkenalkan pendekatan baru yang lebih praktis, yaitu Rational Emotive Behavior Therapy. Pendekatan ini menjadi popular bersamaan dengan dipublikasian buku perdanya ”Reason an Emotion in Psychotherapy” pada tahun 1962. Albert Ellis (2 September 1913 – 24 Juli 2007) adalah seorang psikolog Amerika, ia dilahirkan dari keluarga Yahudi dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah Ellis adalah seorang pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis dan kurang memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dalam otobiografinya, Ellis menyebutkan ibunya sebagai perempuan yang tenggelam dalam kesibukannya sendiri dan merupakan pengoceh yang tidak pernah mendengar orang lain. Seperti ayahnya, ibunya mempunyai jarak emosional dari anak-anaknya. Ellis mengatakan bahwa pada saat dia pergi sekolah, ibunya masih tidur dan pada saat pulang sekolah ibunya sudah tidak ada di rumah. Kepahitan tentang kedua orang tuanya itu, Ellis harus mengambil tanggung jawab untuk mengurus saudara-saudaranya. Sebagai anak-anak, Ellis sering sakit dan menderita berbagai masalah kesehatan pada masa remajanya. Pada umur 5 tahun, dia dirawat di rumah sakit karena penyakit ginjal, kemudian juga karena penyakit amandel yang menyebabkan infeksi kerongkongan yang parah sehingga memerlukan operasi. Orang tuanya hampir tidak memberikan dukungan emosional dan jarang sekali menjenguknya. Ellis mengatakan bahwa dia belajar berkonfrontasi dengan penderitaannya itu. Pada tahun 1947 Ellis memperoleh gelar Doktor kehormatan di Columbia dan pada saat itu dia meyakini bahwa psikoanalisis merupakan bentuk terapi yang sangat mendalam dan sangat efektif. Seperti halnya dengan para psikolog di saat itu, dia sangat tertarik dengan teori Sigmund Freud. Kemudian lama kelamaan kesetiannya kepada psikoanalisis memudar. Dalam formasi awalnya, Ellis menekankan terapi rasional, yaitu unsur kognitif dari perilaku manusia, asumsi ini sangat bertentangan dengan asumsi yang popular pada pertengahan tahun 1950-an. Kemudian pendekatannya itu diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur kognitif. Modifikasi selanjutnya Rational Emotive Behavior Therapy ini mencakup teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal, latihan menyerang perasaan malu. Dengan demikian, Rational Emotive Behavior Therapy ini dapat dipandang sebagai model terapi perilaku yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini telah mengalami evolusi sedemikian rupa, yang pada akhirnya menjelma menjadi pendekatan yang komprehensif dan ekletik yang menekankan unsur-unsur berpikir, menimbang, memutuskan dan melakukan. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini merupakan salah satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan (education) dan pengajaran (teaching) dengan mempertahankan dimensi pikiran daripada perasaan. Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi, semula Ellis menekankan unsur rasional-kognitif, kemudian diperluas dengan memasukkan unsur perilaku. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif-sejajar dengan konseling realitas yang dikembangkan oleh Glesser-dengan beberapa ciri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif, direktif, menekankan situasi sekarang dan berfikir yang lebih rasional serta menekankan pada segi aksi konseli. Dari situlah maka Rational Emotive Behavior Therapy tak ubahnya merupakan proses pemerolehan pemahaman yang sekaligus tampak pada perbuatan atau perilaku konseli.

B. Hakikat Manusia

Menurut Corey (2009: 276) Rational Emotive Behavior Therapy memandang manusia pada dasarnya adalah memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Manusia memiliki kecenderungan untuk self-preservation, kebahagiaan, berpikir dan mengucapkan dengan kata-kata, mencintai, berkumpul dengan yang lain, tumbuh dan aktualisasi diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk self-destruction, menghindari buah pikiran, prokantinasi, memiliki kepercayaan di luar kenyataan, perfeksionis dan mencela diri sendiri, kurang bertoleransi, menghindari potensi aktualisasi diri. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir rasional adalah sebagai berikut: – Flexible preferences (saya ingin diakui, tetapi saya tidak terlalu menginginkan) – Anti-awfulizing beliefs (ini buruk untuk tidak diakui, tetapi ini bukanlah akhir dari dunia) – High frustration tolerance beliefs (ini sulit untuk menghadapi bahwa saya tidak diakui, tetapi saya dapat menoleransinya) – Acceptance beliefs (contohnya self-acceptance: saya menerima diri saya jika saya tidak diakui ; other-acceptance: saya dapat menerima anda jika anda tidak mengakui saya ; life-acceptance: hidup adalah perpaduan kebaikan, keburukan, dan kejadian netral. Selanjutnya Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir irrasional adalah sebagai berikut: – rigid demands (saya harus diakui). – awfulizing beliefs (jika saya tidak diakui, ini adalah akhir dari dunia) – low frustration tolerance beliefs (saya tidak dapat menoleransi bahwa saya tidak diakui). – depreciation beliefs (contohnya self-depreciation: saya tidak berharga jika saya tidak diakui ; other-depreciation: anda mengerika jika tidak mengakui saya ; life-depreciation: hidup semuanya buruk jika saya tidak diakui). Ellis (dalam Flanagan & Flanagan, 2004: 260) menyatakan lima komponen dasar teori konseling, yaitu sebagai berikut: – Manusia secara dogmatis menuruti gagasan irasional dan filosofi personal. – Gagasan irasional menyebabkan manusia mengalami kesedihan yang hebat dan kesengsaraan. – Gagasan ini dapat mendidih hingga sampai kategori dasar. – Konselor dapat menemukan kategori gagasan irasional ini dengan cukup mudah dalam logika konseli. – Konselor dapat mengajarkan konseli dengan sukses bagaimana bangun dari kesengsaraan yang disebabkan oleh kepercayaan irasionalnya.

C. Perkembangan Perilaku

1. Struktur kepribadian Pandangan pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Menurut Ellis (2002: 9) ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event atau Adversities (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Menurut Dryden & Branch (2008: 4) antecedent event (A) biasanya aspek situasi individu yang berpotensi mampu memicu keyakinannya (B). Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) perbedaan utama antara pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy dan lainnya untuk terapi kognitif-perilaku adalah dalam penekanannya pada belief (B). Dalam Rational Emotif Behavior Therapy, belief (kepercayaan) adalah inti dari emosi dan perilaku individu. Keyakinan tersebut adalah satu-satunya kognisi yang merupakan B dalam teori ABC di Rational Emotif Behavior Therapy. Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief). Keyakinan yang rasional memiliki karakteristik a) fleksibel atau non-ekstrim, b) konsisten dengan kenyataan, c) logis, d) sebagian besar fungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) Sebagian besar membantu individu dalam mengejar tujuan dasar dan tujuan. Keyakinan yang tidak rasional memiliki karakteristik a) kaku atau ekstrim, b) tidak konsisten dengan kenyataan, c) tidak masuk akal, d) sebagian besar disfungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan e) sebagian besar merugikan individu dalam mengejar tujuan dasar. Menurut Dryden & Branch (2008: 20) emotional and behavioral consequence (C) merupakan konsekuensi dari akibat antecendent event (A). Konsekuensi ini bisa berupa emosi, perilaku dam pemikiran. Konsekuensi ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang keyakinan rasional maupun keyakinan irasional. Menurut Corey (2009: 278) disputing (D) merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan kepercayaan-kepercayaan irasional yang dimiliki individu. Terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu sebagai berikut: a. Detecting irrational beliefs Konselor menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri. b. Debating irrational beliefs Kemudian konseli berdebat dengan kepercayaan disfungsionalnya dengan belajar bagaimana berpikir secara logis dan empiris. Selain itu juga dengan cara belajar bagaimana berargumen dengan kuat dan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. c. Discriminating irrational beliefs Kemudian yang terakhir adalah konseli belajar membedakan kepercayaan irasional (self-defeating) dan kepercayaan rasional (self-helping). Menurut Corey (2009: 279) hasil akhir dari proses A-B-C-D berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi efektif yang memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan efektif terdiri dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan pemikiran yang sehat. Jika berhasil melakukan hal tersebut maka akan timbul new feeling (F) yaitu satu perangkat perasaan yang baru.

2. Pribadi sehat dan bermasalah

a. Pribadi bermasalah

Ellis & Dryden (1997: 15-16) menyatakan pribadi bermasalah adalah sebagai berikut: – All-or-none thinking: “Jika saya gagal dalam beberapa tugas penting, saya mengalami kegagalan total.” – Jumping to conclusions and negative non sequiturs: ”Sejak mereka melihat saya muram, mereka akan melihat saya sebagai ulat yang tidak kompeten.” – Fortune-telling: ”Karena mereka menertawakan kegagalan saya, mereka akan membenci saya selamanya.” – Focusing on the negative: ”Karena saya tidak dapat bertahan pada hal yang salah, saya tidak dapat melihat sesuatu yang baik yang terjadi pada hidup saya.” – Disqualifying the positive: ”Ketika mereka memuji saya dalam kebaikan yang telah saya lakukan, mereka hanya bersikap ramah kepada saya dan melupakannya.” – Allness and neverness: “Karena kondisi kehidupan seharusnya baik dan sebetulnya buruk dan sangat tidak dapat ditoleransi, mereka akan selalu menempuh jalan ini dan saya tidak akan pernah merasa bahagia.” – Minimization: “Kebaikan saya dibidik dalam permainan yang bersifat keberuntungan dan tidak penting. Tetapi keburukanku dibidik, yang mana saya secara mutlak tidak pernah dibuat.” – Emotional reasoning: “Karena saya pernah tampil buruk, saya merasa seperti orang tolol, dan kekuatan perasaan saya membuktikan bahwa saya tidak ditakdirkan baik.” – Labeling and overgeneralization: “Karena saya harus tidak gagal dalam pekerjaan penting dan harus selesai, saya adalah pecundang.” – Personalizing: “Sejak saya bertindak jauh lebih buruk bahwa saya secara mutlak harus bertindak dan mereka menertawakan, saya yakin mereka hanya menertawakan saya, dan ini sangat mengerikan.” – Phonyism: ”Ketika saya tidak melakukan sebaik yang seharusnya saya lakukan dan mereka masih memuji dan menerima saya, saya yakin itu palsu.” – Perfectionism: ”Dalam menyelesaikan pekerjaan, saya harus menyelesaikannya secara sempurna.”

b. Pribadi sehat

Ellis & Dryden (1997: 18-19) menyatakan pribadi sehat adalah sebagai berikut: – Self-interest: Pribadi sehat cenderung bijaksana dan menyenangkan untuk diri mereka sendiri dan menaruh diri mereka sendiri menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. – Social interest: Manusia memilih hidup dan menikmati diri mereka sendiri dalam kelompok sosial atau komunitas. Jika mereka tidak bertindak secara moral, menyembunyikan kebenaran orang lain, dan menghasut kelompok masyarakat, hal ini tidak akan disukai. Mereka akan menciptakan dunia yang ramah yang mana mereka dapat hidup dengan nyaman dan senang. – Self-direction: Pribadi yang sehat cenderung mengasumsikan tanggung jawab untuk kehidupan mereka ketika secara simultan mengutamakan kerja sama dengan yang lain. Mereka tidak membutuhkan atau menuntut banyak dukungan dari yang lain, meskipun mereka mungkin mengutamakan dan bekerja untuk ini. – High frustration tolerance: Pribadi yang sehat adalah mereka yang dapat mengubah kondisi yang memuakkan pada diri mereka, menerima hal yang tidak bisa mereka lakukan, dan memiliki kebijaksanaan dalam mehamai dua perbedaan. – Flexibility: Pribadi yang sehat dan matang cenderung fleksibel dalam berpikir, terbuka terhadap perubahan, dan tidak berprasangka buruk dan pluralistik dalam pandangan mereka terhadap orang lain. – Acceptance of uncertainty: Pribadi yang sehat cenderung mengakui dan menerima gagasan bahwa kita tampak hidup di dunia yang penuh dengan kemungkinan dan perubahan dimana kepastian mutlak tidak bisa dipastikan dan kemungkinan tidak pernah akan terus ada. – Commitment to creative pursuits: Kebanyakan manusia cenderung menjadi pribadi sehat dan senang ketika mereka secara krusial dapat berbaur dengan kelompok sosial atau komunitas dan sedikitnya satu kreasinya dapat menjadi minat perhatian dari kelompok sosial atau komunitas, seperti halnya kebanyakan manusia, bahwa mereka menganggap penting mereka bisa menjadi bagian dari struktur yang baik dari kehidupan disekitarnya. – Scientific thinking: Pribadi yang sehat memiliki kecenderungan menjadi lebih objektif, realistis, dan ilmiah. – Self-acceptance: Pribadi yang sehat biasanya senang hidup dan menerima diri mereka sendiri karena mereka hidup dan memiliki kapasitas untuk menikmati diri mereka sendiri. – Risk-taking: Emosi pribadi yang sehat memiliki kecenderungan berani mengambil resiko dan mencoba melakukan apa yang ingin dilakukan. Mereka menganggap itu adalah kesempatan baik meskipun mungkin mereka gagal. Mereka memiliki kecenderungan menjadi petualang tetapi tidak gegabah. – Long-range hedonism: Pribadi yang sehat mencari ketenangan hidup untuk saat sekarang dan masa depan, dan itu tidak didapatkan secara instan. – Nonutopianism: Pribadi yang sehat menerima fakta bahwa tempat yang sempurna mungkin tidak dapat dicapai dan mereka tidak pernah suka mendapatkan segala apa yang mereka inginkan dan menghindari semua rasa sakit. – Self-responsibility for own emotional disturbance: Pribadi yang sehat cenderung bertanggung jawab atas kekacauan yang mereka buat daripada bertahan dengan tuduhan dan hujatan orang lain.

D. Hakikat Konseling

Rational Emotive Behavior Therapy dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut: 1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. 3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.

E. Kondisi Pengubahan

1. Tujuan konseling Menurut Corey (2009: 279) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah mengajari konseli bagaimana cara memisahkan evaluasi perilaku mereka dari evaluasi diri – esensi dan totalitasnya – dan bagaimana cara menerima dengan segala kekurangannya. Sedangkan tujuan dasarnya adalah mengajarkan konseli bagaimana merubah disfungsional emosi dan perilaku mereka menjadi pribadi yang sehat. Selain itu dua tujuan terpenting Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 279) adalah a) membantu konseli dalam proses mencapai unconditional self-acceptance dan unconditional other acceptance, dan b) melihat bagaimana kedua hal itu saling berkaitan. Sedangkan menurut Ellis (dalam Sharf, 2012: 339) tujuan umum Rational Emotive Behavior Therapy adalah membantu konseli dalam meminimalisir gangguang emosi, menurunkan self-defeating self-behaviors, dan membantu konseli lebih mengaktualisasikan diri sehingga mereka bisa menuju ke kehidupan yang bahagia. Sedangkan tujuan khususnya adalah membantu konseli berpikir lebih bersih dan rasional, memiliki perasaan yang lebih layak, dan bertindak efisien dan efektif dalam mencapai tujuan hidup yang bahagia.

2. Sikap, peran dan tugas konselor Menurut Corey (2009: 280) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy memiliki tugas spesifik. Tahap pertama adalah konselor menunjukkan pada konseli bahwa dalam pikirannya saat ini terlalu banyak pikiran-pikiran yang irasional seperti “harus”, sebaiknya”, dan “seharusnya”. Konselor mendorong dan sering membujuk konseli agar melakukan aktivitas yang akan menyembunyikan keyakinan pengalahan diri mereka. Tahap kedua adalah mendemonstrasikan bahwa konseli mempertahankan gangguan emosi mereka aktif dengan meneruskan berpikir secara tidak logis dan realistis. Tahap ketiga adalah membantu konseli memodifikasi pemikiran dan mengabaikan gagasan irrasional mereka. Konselor membantu konseli memahami pikiran irasional yang menyalahkan diri sendiri dan juga mengubah perilaku menyalahkan diri. Tahap keempat adalah menantang konseli untuk mengembangkan filosofis hidup yang rasional sehingga di masa depan mereka mampu menghindari diri agar tidak menjadi korban keyakinan irasional yang lain.

3. Sikap, peran dan tugas konseli Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 280-281) sesekali konseli mulai menerima bahwa keyakinan mereka merupakan penyebab utama emosi dan perilaku mereka, maka mereka akan mampu berpartisipasi secara efektif dalam proses restrukturisasi kognitif. Dalam sekala besar, peran konseli dalam proses konseling adalah sebagai pembelajar dan pelaksana. Konseling dipandang sebagai proses reedukatif di mana konseli belajar cara menerapkan pemikiran logis, latihan eksperimental dan perkerjaan rumah perilaku untuk memecahkan masalah dan perubahan emosi. Proses terapeutik berfokus pada pengalaman konseli di masa kini. Rational Emotive Behavior Therapy utamanya menekankan pada pengalaman dan kemampuan konseli saat ini untuk mengubah pola pemikiran dan emosi yang telah mereka konstruksi sebelumnya. Konseli diharapkan untuk berpartisipasi aktif di luar sesi konseling. Konseli belajar bahwa dengan melaksanakan pekerjaan rumah dapat meminimalisir pemikiran yang salah. Pekerjaan rumah dirancang secara cermat dengan tujuan untuk membuat konseli agar melaksanakan tindakan yang mendorong perubahan emosi dan perilaku. Di akhir konseling, konseli mengulas kemajuan mereka, membuat rencana dan mengidentifikasi strategi mengatasi masalah potensial yang berkelanjutan.

4. Situasi hubungan Menurut Corey (2009: 281) pada dasarnya Rational Emotive Behavior Therapy merupakan proses kognitif dan direktif, maka tidak perlu membutuhkan hubungan yang kuat antara konselor dan konseli. Para praktisi Rational Emotive Behavior Therapy secara tanpa syarat menerima semua konseli dan mengajari konseli untuk menerapkan penerimaan tanpa syarat pada diri sendiri dan orang lain. Ellis (dalam Corey, 2009: 281) meyakini bahwa hubungan yang terlalu hangat dan pemahaman yang terlalu banyak akan berakibat kontra produktif, memunculkan rasa ketergantungan dan persetujuan dari konselor. Praktisi Rational Emotive Behavior Therapy menerima konseli sebagai makhluk yang tidak sempurna yang bisa ditolong dengan menunjukkan bahwa konselor peduli kepada konseli, tanpa membuat konseli merasa didekte dan juga dengan menggunakan beragam teknik semisal mengajar, biblioterapi, dan memodifikasi perilaku. Ellis membangun hubungan dengan konselinya dengan cara menunjukkan pada mereka bahwa mereka memiliki keyakinan yang besar akan kemampuan mereka mengubah diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka mempunyai cara untuk membantu mereka melakukannya. Menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 281) konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy sering terbuka dan mengarah dalam menyikap keyakinan dan nilai mereka. Beberapa terapi berkeinginan berbagai kekurangan mereka sebagai cara mempertanyakan gagasan tidak realistis konseli bahwa terapis merupakan orang yang “lengkap”. Transference tidak didorong, dan apabila tidak ada, konselor cenderung menghadapinya. Konselor ingin menunjukkan bahwa hubungan transference didasarkan pada keyakinan irrasional bahwa konseli harus disukai dan dicintai oleh konselor atau figur orang tua.

F. Mekanisme

Pengubahan 1. Tahap-tahap konseling Menurut Froggatt (2005) tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy secara umum adalah sebagai berikut. a. Membantu konseli memahami bahwa emosi dan perilaku disebabkan oleh kepercayaan dan pikiran. b. Menunjukkan bagaimana kepercayaan dan pikiran seseorang mungkin tertutup. Format ABC sangat berguna di sini. Konselor meminta konseli bercerita tentang Antecedent event (A) seperti apa, Belief (B) seperti apa, dan Emotional consequence (C) seperti apa. c. Mengajarkan konseli bagaimana melawan dan merubah kepercayaan irasional, menggantinya dengan kepercayaan yang lebih rasional. d. Membantu konseli mengubah perilaku konseli. Sedangkan tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy yang lebih rinci dan operasional menurut Froggatt (2005) adalah sebagai berikut. a. Melibatkan konseli – Membangun hubungan dengan konseli. Ini dapat dicapai menggunakan empati, kehangatan dan respek. – Melihat permasalahan yang dialami dan datang karena ingin dibantu penyelesaian permasalahannya. – Mungkin cara terbaik adalah melibatkan konseli dalam proses konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy. b. Asesmen masalah, pribadi, dan keadaan – Diawali dari apa yang salah dalam pandangan konseli. – Memeriksa beberapa gangguan sekunder: bagaimana perasaan konseli memiliki masalah? – Membawa ke asesmen umum: menentukan kemunculan gangguan secara klinis, menggali cerita pribadi dan sosial, asesmen kedalaman suatu masalah, mencatat beberapa faktor kepribadian yang berhubungan, dan memeriksa faktor kausatif non-psikologis seperti kondisi fisik, obat-obatan, gaya hidup/faktor lingkungan. c. Menyiapkan konseli dalam proses konseling – Klarifikasi tujuan perlakuan untuk memastikan tujuan perlakuan konkrit, spesifik, dan disetujui oleh konselor dan konseli serta menganalisis motivasi konseli untuk berubah. – Mengenalkan kaidah dasar tentang Rational Emotive Behavior Therapy. – Mendiskusikan pendekatan yang digunakan dan implikasinya dalam perlakuan, kemudian membangun kontrak. d. Implementasi program perlakuan – Menganalisis masalah spesifik yang mana menjadi target masalah yang akan diselesaikan, memastikan kepercayaan yang dilibatkan, merubahnya, dan mengembangkan home work. – Mengembangkan perilaku yang fungsional untuk mengurangi kekhawatiran atau memodifikasi cara berperilaku. – Menambah strategi dan teknik yang sesuai seperti relaksasi, dan pelatihan keterampilan interpersonal. e. Evaluasi Sebelum berakhirnya proses intervensi biasanya konselor melakukan evaluasi terhadap perlakuan yang diberikan. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi peningkatan yang signifikan tentang perubahan konseli dalam berpikir. f. Menyiapkan pengakhiran untuk konseli Sesi konseling diakhiri jika konseli sudah merasa lebih baik terkait permasalahan yang sedang dialaminya. Konselor juga akan mengakhiri konseling jika konseli sudah benar-benar terentaskan masalahnya dan jika masalah itu hadir kembali, konseli bisa dengan mandiri mengentaskan masalahnya sendiri. 2. Teknik-teknik konseling Menurut Corey (2009: 281) konselor yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy harus menguasai berbagai macam metode dan bersifat integratif. Pendekatan ini menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. a. Teknik-teknik Kognitif – Disputing irrational beliefs Metode kognitif dalam Rational Emotive Behavior Therapy yang paling umum adalah konseling secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselor mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya. – Doing cognitive homework Konseli diharapkan membuat daftar masalah mereka, mencari keyakinan absolut mereka, dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan tersebut. Doing cognitive homework merupakan cara melacak dimensi “keharusan” dan “sebaiknya” yang ada pada kognisi konseli. Doing cognitive homework juga bisa terdiri dari penerapan teori ABC terhadap permasalahan yang dialami oleh konseli. Dengan cara yang perlahan dan yang dibagi ke dalam beberapa sesi, konseli belajar mengatasi kecemasan dan mempertanyakan pemikiran tidak rasionalnya yang mendasar. – Changing one’s language Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahasa yang tidak tepat adalah salah satu bentuk penyebab proses pemikiran yang terdistorsi. Konseli mempelajari bagaimana menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku yang disfungsional. – Psychoeducational methods Program Rational Emotive Behavior Therapy dan sebagian besar konseling kognitif behavior mengenalkan memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen pendidikan. Konselor membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan mereka dan bagaimana proses mengatasinya. Konseli lebih suka bekerja sama dengan program perlakuan jika mereka memahami pentingnya teknik yang digunakan. b. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) – Rational emotive imagery Dalam rational emotive imagery konseli didorong untuk membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya. Misalnya ditolak oleh seorang wanita yang benar-benar diinginkannya. Konseli mebayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya. Setelah itu konseli didorong untuk menjalin hubungan dengan konsekuensi emosional negatif yang tidak diinginkan yang dipicu oleh kesulitan tersebut. Misalnya cemas, depresi, dan membenci diri. Konseli merasakan secara spontan apa yang dirasakannya dan tetap bertahan dengan perasaan itu dalam beberapa saat. Setelah itu konseli berusaha mengubah perasaan terganggu yang tidak sehat tersebut dengan konsekuensi perasaan negatif yang sehat. Misalnya sedih, kecewa, menyesal dan tidak senang. Cara melakukannya adalah dengan mengatakan keyakinan rasionalnya yang masuk akal kepada dirinya dengan kuat dan berulang-ulang. Misalnya, “Ya dia memang belum bisa menerima saya dan itu sangat menyakitkan bagi saya. Dia belum bisa menerima saya mungkin karena dia belum mengenal saya”. Konseli seharusnya tetap dalam bayangan rasionalnya itu sampai konseli bisa mengubah perasaan negatif tidak sehatnya menjadi pernyataan negatif yang lebih sehat. – Using humor Penggunaan humor dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating. Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahwa gangguan emosi sering disebabkan oleh terlalu seriusnya seseorang menanggapi sesuatu. Humor bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap terlalu serius masalah hidup. – Role playing Terdapat komponen emosi dan perilaku dalam teknik bermain peran. Konselor sering menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak sehat menjadi perasaan yang lebih sehat. Fokusnya adalah pada keyakinan yang tidak rasional yang berhubungan dengan perasaan yang tidak menyenangkan diubah menjadi keyakinan yang lebih rasional. – Shame-attacking exercises Ellis mengembangkan latihan untuk membantu orang mengurangi perasaan malu dalam melakukan sesuatu. Ellis berpikir bahwa kita bisa dengan keras kepala menolak rasa maludengan berkata pada diri kita sendiri bahwa bukan hal yang menyedihkan jika seseorang menganggap kita bodoh. Tujuan utama latihan ini yang secara khusus melibatkan komponen emosi dan perilaku, konseli bekerja agar tidak malu ketika orang lain tidak sependapat dengan konseli. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan dengan cara mereka mengenali kenyataan. – Use of force and vigor Ellis menyarankan penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual menjadi berwawasan emosional. Konseli juga ditunjukkan caranya melakukan dialog memaksa diri dimana mereka bisa mengekspresikan keyakinan irasional dan kemudian mempertanyakan keyakinan tersebut. Konselor akan melakukan permainan peran terbalik dengan secara keras berpegang teguh pada filosofi pengalahan diri konseli. Selanjutnya konseli diminta untuk memperdebatkan dengan konselor dalam upaya untuk membujuknya meninggalkan gagasan disfungsional tersebut. c. Teknik-teknik Behavioristik Dalam teknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral standar, seperti pengkondisian operant, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan.

G. Hasil-Hasil Penelitian

Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Rational Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Tayabeh Najafi, Shahrir Jamaluddin, dan Diana Lea-Baranovich yang berjudul “Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dalam seting kelompok dapat menurunkan kepercayaan irasional pada dua kelompok remaja iran yang hidup di kuala lumpur. 2. Penelitian yang dilakukan oleh G. Venkatesh Kumar yang berjudul “Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD)” pada tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dapat mengatasi perilaku bermasalah pada remaja. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Christos Papalekas yang berjudul “The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan rasional dan irasional dapat menentukan kemarahan yang tidak sehat dan kemarahan fungsional dan disfungsional. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Fryer yang berjudul “Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?” pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor adalah adalah teknik yang baik dan efektif digunakan dalam psikoterapi pada umumnya dan Rational Emotive Behavior Therapy pada khususnya. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Zakiah Muhamad yang berjudul “Rational Emotive Behavior Therapy: To Reduce Emotional Disturbance” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sesi konseling yang telah dilakukan sangat berguna untuk konseli. Konselor menggunakan teori Rational Emotive Behavior Therapy cocok untuk memecahkan masalah konseli yang mengalami gangguan emosional. Kesimpulan dari teori ini ditemukan cocok sebagai terapi singkat dan mudah digunakan karena sederhana dan berlaku untuk berbagai pengaturan, termasuk sekolah dasar dan menengah. Seperti kita ketahui, remaja dan siswa selalu memiliki keyakinan irasional ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka. Terapi ini juga cepat mengajarkan konseli bagaimana mengatasi masalah praktis kehidupan. Konseli diajarkan untuk memahami diri mereka sendiri, untuk memahami orang lain, untuk bereaksi secara berbeda, dan untuk mengubah pola kepribadian dasar dan filosofi mereka dengan memperbaiki pemikiran yang salah.

H. Kelemahan dan Kelebihan

1. Kekuatan

a. Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan konseli hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi Rational Emotive Behavior Therapy. b. Pendekatan ini dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klian mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi. c. Pendekatan ini relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu. d. Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini. e. Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki. f. Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan

2. Kelemahan

a. Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia, dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat. b. Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis. c. Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat konseli seideal yang semestinya. d. Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu konseli mengubah emosinya.

Daftar Pustaka

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA : Thomson Brooks/Cole.
Dryden, W. & Branch, R. 2008. The Fundamentals of Rational Emotive Behaviour Therapy : A Training Handbook. USA : John Wiley & Sons, Ltd.
Dryden, W. & Neenan, M. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy : 100 Key Points & Techniques. London & New York : Routledge Taylor & Francis Group
Ellis, A. 2002. Overcoming Resistance : A Rational Emotive Behavior Therapy Integrated Approach. New York : Springer Publishing Company, LLC.
Ellis, A. & Dryden, W. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. New York : Springer Publishing Company
Flanagan, S. J., & Flanagan, S. R. 2004. Counseling and Psychotherapy Theories in Context and Practice. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
Froggatt, W. 2005. A Brief Introduction To Rational Emotive Behaviour Therapy. Journal of Rational-Emotive and Cognitive Behaviour Therapy, 3 (1): 1-15.
Fryer, D. 2011. Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 63-72.
Kumar, G. V. 2009. Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on Adolescents with Conduct Disorder (CD). Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 35 : 103-111.
Muhamad, Z. 2012. Rational Emotive Behavior Therapy :To Reduce Emotional Disturbance. Journal of Educational Psychology & Counseling, 6 : 119-122.
Najafi, T., Jamaluddin, S., & Lea-Baranovich, D. 2012. Effectiveness of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in Kuala Lumpur. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 3 (12) : 312-322.
Papalekas, C. 2011. The effects of Rational and Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 7-30.
Sharf, R. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases. USA : Brooks/Cole.

 

 

Standar