Bimbingan dan konseling sebagai program yang bertujuan untuk dapat membantu konseli mencapai perkembangan optimal dapat dilaksanakan secara sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram. Diharapkan dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengembangkan potensi hidup peserta didik melalui psiko-edukatif. Hal ini memerlukan sistem layanan pendidikan yang tidak didapatkan dari proses pembelajaran bidang studi (Permendikbud No.111 Tahun 2014).
Pelaksanaan program layanan BK hendaknya dapat dikembangkan secara menyeluruh di setiap satuan pendidikan baik di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun di Sekolah Menengah Atas (SMA). Setiap peserta didik satu dengan lainnya berbeda dalam hal kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisik dan latar belakang keluarga serta pengalaman belajarnya. Perbedaan tersebut menggambarkan adanya variasi kebutuhan pengembangan secara utuh dan optimal melalui layanan bimbingan dan konseling. Begitu juga dengan tahapan perkembangan yang dijalankan peserta didik terdapat perbedaan sehingga media yang digunakan untuk pencegahan, perbaikan dan penyembuhan, pemeliharaan dan pengembangan peserta didik dari setiap satuan pendidikan berbeda-beda.
Pelaksanaan program layanan di SD untuk saat ini masih menjadi tugas bersama untuk dapat dikembangkan secara komprehensif, mengingat pelaksanaan layanan BK di SD masih belum memiliki payung hukum yang tegas. Dalam Permendikbud No.111 Tahun 2014 tentang bimbingan dan konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan penegasan bahwa layanan BK di SD memiliki kesamaan dalam penyusunan program dan bidang layanan. Serta menekankan bahwa pelaksanaan layanan BK di SD harus dilaksanakan oleh konselor/guru bimbingan dan konseling. Hal ini merupakan angin segar bagi upaya pengembangan BK di SD, meskipun belum ada ketetapan yang jelas kapan pelaksanaan BK di SD dapat mulai direalisasikan.
Untuk dapat mengembangkan program BK di SD, diperlukan analisis kebutuhan siswa yang tepat digunakan di SD. Fokus analisis kebutuhan perkembangan peserta didik terletak pada jabaran dari kebutuhan-kebutuhan yang memfasilitasi berlangsung dan tercapainya tugas-tugas perkembangan mereka. Brown & Trusty (2005: 126) menyebut tugas-tugas perkembangan (developmental tasks) sebagai kebutuhan-kebutuhan perkembangan (developmental needs), yang secara tradisional telah dijadikan sebagai dasar penyusunan pelayanan BK pada banyak sekolah. Oleh karena itu dalam penyusunan program BK di SD harus sesuai dengan tugas perkembangan siswa SD.
Secara khusus, Brown & Trusty (2005: 129-130) mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan perkembangan yang menjadi muatan pelayanan BK di SD (elementary school years) 1). Mengembangkan konsep yang ada pada diri 2). Belajar membangun hubungan dengan teman sebaya. 3). Bersikap toleransi terhadap orang lain dan perilaku positif terhadap kelompok. 4). Belajar berperilaku sesuai dengan peran jenis kelamin. 5). Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar yang digunakan dalam bidang akademik. 6). Mengembangkan keterampilan- yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. 7). Mengembangkan kata hati, moralitas, dan nilai-nilai sebagai pedoman berperilaku: 8). Belajar mengembangkan pribadi mandiri.
Kebutuhan tersebut dapat dikembangkan dengan menyusun program BK di SD dengan menggunakan layanan klasikal, pribadi maupun kelompok. Pelaksanaan layanan BK untuk siswa SD sangat berbeda jika dibandingkan dengan siswa SMP atau SMA mengingat kognitif yang dimiliki siswa SD masih dalam proses perkembangan. Dalam memberikan layanan tersebut dibutuhkan berbagai macam pendekatan, teknik dan media yang harus sesuai untuk digunakan siswa SD. Salah satu pendekatan yang cocok untuk siswa SD adalah play therapy.
Play therapy adalah sebuah pendekatan untuk konseling anak-anak dengan menggunakan mainan, permainan, dan media bermain lainnya untuk berkomunikasi kepada konseli dengan menggunakan “bahasa” anak. Anak-anak di bawah usia 12 memiliki kemampuan yang relatif terbatas untuk memverbalkan perasaan dan pikiran mereka, kebanyakan dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk datang ke sesi konseling, duduk, dan menggunakan kata-kata untuk memberitahu konselor tentang masalah mereka. Anak-anak cenderung tidak memiliki keterampilan interaksi melalui konseling verbal. Mereka menggunakan perangkat, seni, cerita, dan alat-alat menyenangkan lainnya untuk berkomunikasi dengan konselor (Kottman: 2011).
Dalam perkembangannya play therapy memiliki berbagai pendekatan di antaranya: 1). Psychoanalytic play therapy oleh Anna Freud (1946), dan Klein (1955). 2). Non-Directive Play Therapy yang dikembangkan Axline tahun (1947). 3). Client-centered play therapy oleh Landreth (2002) 4). Directive Play Therapy oleh Jones, Casado and Robinson (2003) 5). Cognitive behavioral play therapy oleh Knell (1993) 6). Gestalt play therapy oleh Oaklander (2001) 7). Adlerian play therapy oleh Kottman (2001). 8). Jungian play therapy oleh Green (2008) dengan menetapkan Jungian analytical play therapy (JAPT).
Dari berbagai teori dan pendekatan play therapy tersebut, menggunakan permainan sebagai media therapy. Selama ini media yang digunakan dalam play therapy lebih banyak berdasarkan pemahaman dan permainan yang sulit dipahami masyarakat Indonesia.
Penggunaan media permainan tradisional ini digunakan mengingat di dalam permainan tradisional terdapat nilai-nilai pembentukan karakter anak. Menurut Cahyono (dalam Fajrin: 2015) karakter yang terdapat dalam permainan tradisional yang dapat membentuk karakter anak adalah Pertama, permainan tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di lingkungan tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi, seperti: memanfaatkan tumbuhan, tanah, genting, batu, atau pasir. Kedua, permainan tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak. Sebab, selain mendahulukan faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antar pemain (potensi interpersonal). Ketiga, permainan tradisional memiliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (jika kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan.
Berdasarkan hal tersebut penulis mencoba mengembangkan media play therapy dengan menggunakan permainan tradisional sebagai media permainannya. Desain pengembangan dalam penelitian ini mengikuti model Plomp (1999) yang mendeskripsikan tahapan siklus R & D dalam lima tahapan, yaitu (1) fase investigasi awal; (2) fase desain; (3) fase realisasi/konstruksi; (4) fase tes, evaluasi, dan revisi; dan (5) fase implementasi.
DAFTAR RUJUKAN
Axline, V. (1947). Play therapy. New York, NY: Ballantine Books.
Brown, D. & Trusty, J. (2005). Designing and leading comprehensive school counseling programs, promoting student competence and meeting student needs. USA: Thomson Brools/Cole
Fajrin, Okky Rachma. (2015). Hubungan Tingkat Penggunaan Teknologi Mobile Gadget dan Eksistensi Permainan Tradisional Pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Idea Societa Vol. 2 No. 6 Hlm. 1- 33.
Freud, A. (1946). The psycho-analytical treatment of children. (N. Procter-Gregg, Trans.) London, England: Imago Publising Co. Ltd.
Green, E. (2008). Reenvisioning Jungian analytical play therapy with child sexual assault survivors. International Journal of Play Therapy, 17(2), 102-121.
Jones, K., Casado, M., & Robinson, E. (2003). Structured play therapy: A model for choosing topics and activities. International Journal of Play Therapy, 12(1), 31-47.
Klein, M. (1955). The psychoanalytic play technique. American Journal of Orthopsychiatry, 25, 223-237.
Knell, S. (1993). Cognitive-behavioral play therapy. Northvale, NJ: Jason Aronson.
Kottman, T. (2001). Adlerian play therapy. International Journal of Play Therapy., 10(2), 1-12.
Kottman, Terry. (2011). Play Therapy Basics and beyond. Alexandria: American Counseling America.
Landreth, G. (2002). Play therapy the art of the relationship (2nd ed.). New York, NY: Routledge.
Oaklander, V. (2001). Gestalt play therapy. International Journal of Play Therapy, 10(2), 45-55.
Permendikbud No.111 Tahun (2014) Tentang Bimbingan Dan Konseling Pada Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Plomp,T. (1999). Design methodology and developmental research in/on education and training. Twente University. Netherlands